PENGAKUAN

1971 Words
Dinginnya malam itu membuyarkan lamunan Kim Y/N. Lamunan tentang cintanya yang tak pernah tersampaikan sampai 20 tahun ini. Dia beranjak dari jendela tempatnya melamun, dan berjalan menuju perapian. Dia menambahkan arang di perapian itu.  Sesaat dia berhenti sejenak ketika dia melihat diarynya .... Park Jimin... Apa kabarmu?  Tidak biasanya dia begitu berat untuk menulis tentang kehidupannya di buku diary itu ... Biasanya dia akan sangat mudah menuliskan keluh kesahnya di buku kesayangannya itu. Keluh kesah tentang bagaimana dia bertahan hidup di tengah pernikahan yang kurang bahagia. Pernikahan yang masih dia pertahankan karena ke tiga malaikat cantiknya. Pernikahan yang awalnya begitu dia banggakan dan dia impikan menjadi kehidupan yang bisa membantunya melupakan cinta sejatinya.  Cinta sejati .... Masih adakah?  Pikiran itu membuat Y/N tersenyum sinis. Seandainya saja dia bisa merubah masa 20 tahun yang lalu. Masa dimana dia menjadi dirinya sendiri. Masa dimana dia begitu bahagia dengan dunianya. Masa dimana dia bisa mempunyai banyak impian dan harapan. Masa dimana dia memiliki Park Jimin seutuhnya.  Ting .... Bunyi notifikasi dari handphonenya berbunyi. Biasanya jam jam seperti ini selalu ada notifikasi tentang para customernya. Atau mungkin mereka yang mengajukan pertemanan di sebuah media sosial. Memang, Kim Y/N adalah enterpreneur yang sukses lewat dunia online. Dia juga mempromosikan semua produknya di media sosial tersebut.  Matanya terbelalak saat dia melihat notifikasi itu.  Park Jimin mengajukan permintaan pertemanan.  Seriuskah?  Dia masih terpaku ketika dia melihat nama itu. Awalnya dia tidak percaya, namun dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia mencoba mencari tahu tentang orang tersebut.  Iya.. itu dia.. Park Jimin ku.... "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Y/N. Dia masih memegang handphonenya. Dia berjalan mondar mandir, sambil sesekali memandang wajah orang itu. Wajah yang masih sama dengan 20 tahun yang lalu. Tampan, manis, senyum yang hangat, rahang tegas di wajahnya. Senyum itu tidak bisa dia lupakan, senyum yang selalu membuatnya nyaman untuk berada di pelukannya. Senyum yang bisa membuatnya melupakan bahwa dia tidak akan pernah kesepian. Senyum itu masih sama.  Namun, Y/N tidak lagi melihat sorot mata hangat yang selalu bisa menghangatkan Y/N saat dia merasa sedih. Dia justru melihat kesedihan yang luar biasa di matanya. Kesedihan yang bahkan bis amembuat Y/N yang kuat langsung merasa lemas dan sedih. Mata itu terlihat lelah. Mata itu terlihat membutuhkan banyak istirahat. Mata yang seolah olah telah terjaga selama bertahun tahun.  Konfirmasi Akhirnya Y/N memutuskan untuk menerima pertemanan Park Jimin.  "Aku harap aku melakukan hal yang benar" gumam Y/N meyakinkan dirinya sendiri.  Tidak berselang lama, muncul pesan pribadi melalui media sosial itu. Y/N sudah menduga kalau pesan itu pasti dari Park Jimin, dia hanya tidak menduga bahwa akan secepat itu. Dia mencoba menata hatinya agar dia tidak terlihat gugup. Padahal itu bukan sebuah telepon, itu hanya sebuah pesan, dan Y/N tetap gugup. Ini pertama kali dia berkomunikasi dengan seseorang yang sudah lama tidak dia ajak bicara. Orang yang sebenarnya dia harapkan sejak 20 tahun yang lalu.  Haii... Y/N ku .... Apa kabar?  "Mengapa sama dengan yang aku tanyakan untuknya" Y/N bergumam sendiri.  dan Y/N ku??? Mengapa dia masih mengatakan itu? Mengapa dia masih memanggil dengan panggilan itu? Panggilan khususnya untuk Y/N. Panggilan yang dulu membuatnya salah sangka dan berlanjut hingga bertahun tahun. Panggilan yang sebenarnya tidak ingin dia dengar lagi. Panggilan yang sesungguhnya ingin dia dengar tapi juga yang membuatnya semakin sakit.  "Apa yang harus aku jawab?" tanya Y/N ragu untuk menjawab pesan tersebut.  "Tenang Y/N ... itu hanya pesan!" kata Y/N menenangkan dirinya sendiri. Akhirnya dia memantapkan hati untuk menjawab pesan tersebut.  Haii.... Aku baik ... apa kabar Jim?  Akhirnya perbincangan melalui pesan online itu terus berlanjut. Banyak yang mereka bicarakan, mulai dari kabar mereka sekarang, dimana mereka sekarang, apa yang mereka lakukan sekarang, dan masih banyak lagi.  Y/N baru mengetahui bahwa Jimin sekarang sudah menikah dan memiliki 2 anak. Mereka sekarang tinggal di Jeju dan memiliki usaha yang sukses disana. Y/N mengira bahwa Jimin sudah bisa mencintai Seulgi, dan sudah memiliki keluarga yang dia impikan. Y/N mengira bahwa Jimin sudah melupakan dia, tapi semua itu hanya perkiraan Y/N saja. Dia tidak tahu kenyataan yang sesungguhnya sampai beberapa malam sesudahnya sebuah pengakuan yang mengejutkan mengguncang hidupnya, dan membuat penyesalan di sisa hidup mereka berdua.  Begitu juga dengan Jimin, dia juga baru mengetahui semua tentang kenyataan hubungan mereka setelah dia membuat pengakuan beberapa malam setelah pertemuan kembali mereka di online.  "Y/N... maafkan aku ya" kata Jimin suatu malam di telepon.  Iya... mereka sudah bertukar nomor telepon dna berjanji jika mereka akan saling bertelepon ketika tidak ada Kim Namjoon atau Seulgi. Semacam percakapan rahasia, dan biasanya berlangsung saat malam hari.  "Kenapa harus minta maaf?" tanya Y/N.  "20 tahun yang lalu, aku tidak berani memperjuangkan cinta kita" kata Jimin menyesal.  Serasa ada petir menyambar dan menghancurkan dunia Y/N. Cinta kita... kupikir dulu kamu tidak pernah mencintai ku.... Kupikir hanya aku yang mencintaimu .... Kupikir kamu hanya menganggap kita TTM yang saling membutuhkan..... "Halo.. Y/N ku?" terdengar suara Jimin di ujung telepon.  Y/N tersadar dari lamunannya. Dia berusaha memegang handphonenya dengan sedikit sisa tenaga yang masih ada. Dia tidak menyangka akan mendengar pengakuan cinta seperti ini. Pengakuan yang dia ingin dengar 20 tahun yang lalu, namun tidak pernah dia dengar sampai 20 tahun kemudian.  "Eeh .. ya, kenapa?" tanya Y/N berusaha untuk tetap tenang. "Kamu dengar yang aku bilang?" tanya Jimin sedikit ragu ragu. "Coba katakan sekali lagi" pinta Y/N untuk memastikan. "Maafkan aku karena aku tidak memperjuangkan cinta kita" kata Jimin lebih mantap kali ini.  "Maafkan aku karena aku jadi pengecut dan tidak berani mengatakan langsung padamu" kata Jimin lagi.  "Apa maksudmu?" tanya Y/N ragu. "Y/N ku... aku mencintaimu.. " kata Jimin. Aku mencintaimu ..... Kenapa tidak 20 tahun yang lalu ..... " Hehehehehee ... kamu aneh aneh saja Jim" Y/N tertawa palsu meskipun tidak ada hal yang lucu. "Aku benar benar mencintaimu Y/N. Saat pertama kali bertemu denganmu, aku sudah meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus punya cerita denganmu. Aku merasa bahwa kita sudah terhubung satu sama lain. Entah kenapa aku tidak bisa memalingkan pandanganku darimu sejak pertama kali melihatmu" Jimin mencoba meyakinkan Y/N. "Tapi kamu kan tahu sendiri aku seperti apa pertama kali kita bertemu?" Y/N mengatakan sesuatu yang lebih mirip sebuah pertanyaan.  "Aku tahu .. justru karena kamu seperti itulah yang membuat aku jatuh cinta" kata Jimin.  "Aku suka kesederhanaan kamu, keceriaan kamu, dan juga manja kamu" kata Jimin menambahkan.  "Tapi koq bisa? Aku kan cerewet?" tanya Y/N meyakinkan dirinya sendiri.  "Justru karena kamu seperti itu. Kamu begitu nyaman dengan duniamu. Kamu tidak perduli dengan perkataan orang orang. Kamu menikmati duniamu sendiri, dan membuatku merasa bahwa aku juga bisa melakukan hal yang sama sepertimu. Kamu selalu membuat aku melupakan semua masalah aku. " kata Jimin menjelaskan dengan antusias.  "Kamu tidak pernah mengatakan hal itu? kamu bilang bahwa kita hanya TTM?" tanya Y/N yang masih belumpercaya dengan apa yang dia dengar. "Karena aku tidak berani menghadapi kenyataa bahwa mungkin saja aku akan kehilanganmu jika aku menyatakan perasaanku, sampai ...." Jimin menghentikan perkataannya.  " Sampai apa?" tanya Y/N. "Sampai saat dulu aku tahu bahwa kamu juga mencintaiku. Saat dimana kamu begitu khawatir sama aku. Di hari ulang tahunku, pertama kali kita merayakannya bersama. Saat itu aku menyadari bahwa kamu juga mencintaiku. Saat dimana kamu takut dengan keadaanku. Saat itu aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahw akita punya perasaan yang sama." kata Jimin. "Tapi saat aku mulai yakin dengan perasaanku, Yoona mengatakan bahwa kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Apalagi muncul mantanmu.. aku pikir kamu baikan sama dia. " kata Jimin lagi.  "Aku tidak pernah kembali dengan Jin" kata Y/N. "Aku tahu.. dan itulah sebabnya, awalnya aku ingin mengajakmu berkenalan dengan mama, tapi kamu harus pulang ke Busan. Di saat yang sama, mama juga menyatakan bahwa dia tidak akan menerima siapapun kecuali Seulgi sebagai pacar dan tunanganku. Malam saat kamu pulang ke Busan pertama kali, aku mabuk dan ingin mengatakan padamu tentang pertunanganku yang sudha direncanakan. " suara Jimin terdengar berat.  "Tapi kamu tidak pernah mengatakannya?" Y/N ragu ragu untuk meyakinkan dirinya seperti itu.  "Aku tahu.. aku masih berfikir bahwa aku akan bisa menyatakan perasaanku. Tapi semua seperti petir tanpa mendung, ketika kamu mengatakan bahwa kita baik baik saja meskipun aku berpacaran dengan Seulgi. Aku mulai ragu, apakah benar kamu mencintaiku" kata Jimin.  Seandainya saja kamu tahu Jim .. aku tidak baik baik saja Jim.... Seandainya kamu tahu betapa aku sangat tersiksa saat itu.  "Aku akhirnya harus menyerah ketika keadaan jadi semakin berantakan" kata Jimin seolah dia ingin menangis.  "Kejadian di villa waktu itu, sesungguhnya aku sudah putus asa Y/N" kali ini terdengar Jimin sedikit terisak.  "Dulu, ketika aku menciummu dan aku mencoba untuk berhubungan s*x denganmu..." Y/N mendengar hela nafas Jimin.  "Saat itu aku sudah habis akal .. dan .. aku berfikir jika saja aku menghamilimu... mung..mungkin saja mau tidak mau aku akan bisa menikah denganmu" suara Jimin mulai terdengar tidak mantap dan gugup. "Apa maksudmu? " tanya Y/N kaget.  Bukan seperti itu yang dipikirkan Y/N. Bukan seperti itu.... 'Iya ... aku memang ingin menghamilimu agar kamu tidak akan berpisah dari aku. Aku sudah putus asa dengan keadaan saat itu. Aku sudah habis akal" Jimin terdengar sangat menyesalinya.  "Tapi ... tapi ... waktu itu kamu membatalkannya?" tanya Y/N penasaran.  "Iya.. di saat aku melihatmu pagi itu, entah apa yang merasukiku... aku tersadar betapa aku sangat ingin menjagamu. Saat itu aku teringat betapa bahagianya kamu di dekat teman temanmu.. aku teringat betapa renyahnya kamu tertawa... dan di saat yang sama aku begitu bahagia melihatmu tersenyum .... dan seketika aku tidak ingin menghancurkan dunia itu. Aku tidak ingin kehilangan senyum itu. Aku tidak ingin melihatmu menangis" Jimin terdengar begitu bahagia saat menceritakan tentang Y/N saat itu.  Oh my God .... kenapa jadi seperti ini? Aku menginginkanmu saat itu Jim .... Aku menginginkanmu menyentuh saat itu .... Aku ingin kamu menjadikanku milikmu Jim .... Andai saja kamu tahu ... aku akan sangat bahagia jika saat itu kita menjadi satu .... Aku menantikan hal itu Jim .... Mengapa????? " Itu sebabnya aku membatalkan semuanya ... sesungguhnya aku sudah merencanakan semuanya, tapi aku tidak bisa." kata Jimin. "Saat kamu menghilang dan menghindariku, saat itu aku tahu bahwa aku pasti telah menyakitimu dengan melakukan hal itu. Meskipun aku tahu aku telah melakukan hal yang benar, aku tetap hampir melakukan hal yang salah. Aku paham bahwa kamu pasti kecewa denganku" kata Jimin berusaha tegar.  Iya Jim .. aku memang menghindarimu.  Tapi bukan karena kamu hampir melakukan sesuatu yang mungkin menghancurkan duniaku.. tapi karena aku berfikir bahwa aku tidak sesuai untukmu. Aku berfikir waktu itu  kamu pergi dari kamarku karena kamu kecewa denganku. AKu berfikir bahw akamu merasa aku hanya TTM untukmu dan tidak akan pernah cocok untuk menjadi pendampingmu.  Aku merasa harus meninggalkanmu.. karena aku takut aku akan semakin mencintaimu... Aku merasa harus meninggalkannmu karena aku berfikir bahwa kamu kecewa denganku .... "Kamu kemana saja Y/N?" tanya Jimin membuyarkan semua pikiran dan lamunan Y/N.  "Huh? ..." Y/N berusaha menata suaranya agar tidak terdengar gelisah dan menyesal.  "Ehh... aku ada di sekitarmu.. hanya saja, aku mencoba menghindarimu" kata Y/N.  "Kenapa?" tanya Jimin heran. "Gak apa apa. Aku hanya tidak nyaman jika aku melihatmu dengan Seulgi" kata Y.N memberanikan diri.  "Apa maksudmu?" tanya Jimin kaget. "Bukankah kamu bilang kalau kamu tidak apa apa jika aku bersama Seulgi?" tanya Jimin lagi lebih bingung.  "Iya ... tapi sesungguhnya aku tidak baik baik saja Jim" kata Y/N sambil berusaha membuat suaranya terdengar tegar.  "Apa maksudmu? Y/N ku ....?" tanya Jimin lagi.  "Jangan panggil aku seperti itu. Sudah cukup aku sakit melihat kamu bersama Seulgi saat itu. Sudah cukup aku menyimpan perasaanku untukmu Jim" kata Y/N agak keras. Jimin begitu terkejut dengan 1 kalimat pengakuan Y/N. Pengakuan itu membuat dunianya hancur. Seandainya saja waktu itu dia tahu tentang pengakuan ini, dia pasti akan memperjuangkan Y/N. Dunianya runtuh hanya dengan 1 kalimat dari Y/N. Y/N yang selalu menjadi dunianya selama berpuluh puluh tahun. Mengapa dulu kamu tidak mengatakan ini Y/N? Mungkin saja, itu tidak akan menjadi keruntuhanku .... Itu pasti akan jadi kekuatanku Y/N ... Mengapa???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD