FINALLY ... I FOUND YOU

1954 Words
Tahun berganti tahun sejak Jimin dan Y/N berpisah karena kejadian di villa. Meskipun tidak bisa melupakan cintanya pada Y/N, namun Jimin mulai bangkit dari keterpurukannya berkat bantuan Seulgi. Dia yang membantu Jimin dalam kuliah nya, dan juga merawat papa Jimin saat beliau kritis. Jimin juga mulai konsentrasi dengan kuliahnya agar bisa cepat kembali ke Jeju untuk melanjutkan usaha papanya.  Tidak terasa, 3 tahun berlalu sejak Jimin benar benar berpisah dari Y/N dan merampungkan kuliahnya. Jimin memang mahasiswa yang rajin dan pintar, dia mampu mneyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun dengan nilai yang bisa dikatakan tinggi.  "Jimin oppa ... selamat ya" Seulgi memberi selamat pada Jimin sambil memeluknya.  "Makasih ya Seulgi" kata Jimin.  "Kamu cepetan diselesaiin kuliahnya" kata Jimin lagi.  "Jimin... keren udah selesai nich" kata Yoona menepuk bahu Jimin.  Mama dan papa Jimin juga hadir di acara kelulusan Jimin. Mereka begitu bangga pada Jimin. Mereka juga begitu lega karena Jimin bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Tapi sesungguhnya bukan itu kelegaan yang terbesar... akhirnya Jimin bisa lepas dari Y/N... Tapi bukan seperti itu yang sesungguhnya terjadi. Y/N tidakpernah lepas dari pikiran Jimin. Dia bahkan mencari cari Y/N dimana mana. Bahkan di saat kelulusannya, Jimin masih mencari cari sosok Y/N.  "Besok kalo Jimin lulus, aku pasti datang. Ingat ya... dan kamu pasti bakalan bisa menebak hadiahnya...hehehehe" kata Y/N ke Jimin 3 tahun yang lalu.  Kamu dimana Y/N? Aku lulus sekarang.. Acara ini untukmu... aku menunggumu ... aku menyelesaikannya agar bisa bertemu denganmu. "Jimin ... ini ada kiriman bunga buat kamu.. Selamat ya" ucap seorang kawannya.  Semua keluarga Jimin dan juga Seulgi saling bertatapan. Mereka heran, siapa yang mengirim bunga. Mereka semua yakin bahwa Y/N tidak akan hadr lagi di hidup Jimin saat Yoona mengatakan sebuah kebohongan pada Y/N beberapa tahun yang lalu. " Jimin baik baik saja Y/N. Dia sudah bisa menerima Seulgi. Mereka sudah bertunangan sekarang. Selepas kuliah, mereka akan melangsungkan pernikahan" kata Yoona pada Y/N.  Jimin berlari tanpa menghiraukan yang lain. Dia menyerahkan ijazah dan hadiah yang lain pada Yoona. Hanya bunga  lily putih itu yang dia bawa lari. Dia berlari mencari di sekitar aula, sekitar kampus, di taman belakang .. dimana mana ... namun Jimin tidak bisa menemukannya.  Y/N ku .. kamu dimana?  Keluarlah .. aku tahu kamu disini .... Keluarlah .. aku merindukanmu .... Di sisi lain, di belakang Jimin, Y/N melihatnya dengan senyum puas. Dia bisa melihat Jimin mengenakan toga kelulusannya. Dia bisa melihat Jimin mengangkat ijazah kelulusannya. Di akhirnya, dia bisa memberikan hadiah kelulusan untuk Jimin.  "Y/N ku .. keluarlah... aku tahu kamu disini" teriak Jimin.  Y/N ku .... sudah 3 tahun aku tidak mendengarnya ... Itulah yang dirindukan Y/N selama 3 tahun ini. Beberapa kali tanpa sengaja dia melihat dan hampir berpapasan dengan Jimin di kampus, tapi Y/N selalu menghindarinya.  Aku merindukanmu Jim.. banget ... Jimin terduduk bersimpuh atas lututnya. Dia menundukkan kepalanya sambil memandang bunga lily itu.  "Jimin.. tau gak apa bunga kesukaanku?" tanya Y/N.  " Bunga rafflesia pasti ..." canda Jimin membuat Y/N manyun.  "Udah akh ... malas ngomong sama kamu" Y/N mengambek " Lily putih kan?" Jimin mencoba merayu Y/N yang marah.  "Lho .... koq bisa tahu? " tanya Y/N kaget.  Seketika hilang marahnya Y/N. Dia langsung berubah ceria dan manja. Begitulah Y/N, dia tidak pernah bisa marah lama lama dengan Jimin. Cara inilah yang membuat Jimin merasa bahwa hidupnya selalu berwarna setiap kali dia bersama Y/N.  "Dari dulu setiap kali kita melewati toko bunga, kamu selalu melihat ke arah bunga lily. Beberapa kali, aku memberimu bunga lily, hanya bunga lily putih yang bisa membuatmu tersenyum lebar. " kata Jimin menjelaskan sombong. "Sok tahu..." kata Y/N mencoba berbohong.  Jimin mencoba menggoda...dia mengernyitkan alisnya sambil tersenyum menggoda. "Iya iya iya ...." kata Y/N menyerah.  Bunga lily putih selalu menjadi kesukaan Y/N dari pertama kali dia menyukai bunga. Bunga lily melambangkan kesetiaan, dan bunga lily putih sendiri melambangkan kemurnian dan kesuciaan. Y/N selalu mengumpamakan hidupnya layaknya bunga lily putih. Bunga yang tidak perlu banyak bantuan untuk bisa tumbuh dengan baik, begitu juga Y/N. Dia selalu bisa menjaga dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Bunga lily harus ditanam berkelompok agar bisa tumbuh dengan baik. Y/N pun selalu menjadi pusat perhatian di tengah komunitasnya. Y/N juga ingin memiliki hidup dan kebahagiaan yang panjang, layaknya bunga lily yang bisa bertahan lama meskipun diletakkan di dalam vas bunga di dalam rumah.  "Y/N maafkan aku... keluarlah!!.. Aku mohon!!!!" tangis Jimin.  "Maafkan aku Jim.. kita akan baik baik saja.. bukankah kita hanya TTm saja?" Y/N berbohong dengan dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya sendiri, bahwa semua akan baik baik saja.  Tidak lama.. Y/N meninggalkan tempat dimana dia mengamati Jimin. Hatinya sudah terlalu sakit untuk melihat Jimin menangis. Ini pertama kalinya dia melihat Jimin menangis.  ===== Setelah acara kelulusan, Jimin memutuskan untuk pulang ke Jeju. Dikarenakan kesehatan papanya yang tidak memungkinkan untuk mengurusi usahanya, akhirnya Jimin memutuskan untuk menggantikan posisi papanya. Dia mulai memperbaiki beberapa manajemen yang sudah ketinggalan jaman. Dia membawa pembaruan yang luar biasa untuk usaha papanya. 1 tahun sejak kepulangan Jimin ke Jeju, usahanya bisa melebihi target yang sudah ditetapkan oleh papanya. Seulgi pun menyusul Jimin ke Jeju. Dia memutuskan untuk tinggal di sana, dan mendapat pekerjaan yang bagus di sana. Seiring dengan intensitas pertemuan mereka berdua, Jimin mulai ada perasaan simpati untuk Seulgi. Dia juga mulai membuka diri dan hati untuk Seulgi. Namun tidak sepenuhnya ..... Meskipun terlihat baik baik saja, sesungguhnya Jimin tidak akan baik baik saja. Meskipun setiap hari Jimin bersama dengan Seulgi, dan dia mulai membuka diri dan hatinya, tapi tidak sepenuhnya. Dia masih tertambat pada kenangan dan bayangan Y/N. Dia mencari keterangan tentang Y/N setiap malam, di semua media sosial. Bahkan dia mencari keterangan tentang Y/N ke Busan, ke Seoul, dan dimanapun yang sekiranya akan didatangi Y/N. Jimin juga menghubungi teman teman mereka di Seoul. Tapi tetap nihil, tidak ada berita atau info apapun tentang Y/N.  4 tahun sudah Jimin mencari semua tentang Y/N. Meskipun belum menyerah, namun, Jimin tidak bisa menolak keinginan papa mamanya untuk segera menikahi Seulgi.  "Mau berapa lama kamu akan menunda pernikahanmu, Jim?" tanya mamanya suatu malam.  "Kenapa sich Ma?" tanya Jimin balik.  "Apa kamu masih menunggu Y/N itu?" tanya mama nya lagi. Jimin hanya menoleh ke mamanya sebentar dan kemudian kembali ke laptop lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mama Jimin masih terus mendesak Jimin terus menerus tanpa henti. Sampai saat dimana Jimin menyerah, karena kesehatan papanya memburuk.  "Papa hanya ingin kamu bahagia Jim" kata papa Jimin ketika papanya berada di rumah sakit.  "Tapi pa .. " Jimin berusaha mengulur waktu.  Dia berusaha mengulur waktu, karena beberap ahari sebelum papanya masuk rumah sakit, Jimin mendapatkan sedikit info tentang Y/N. Salah satu temannya di Seoul pernah bertemu dengan Y/N, dan mereka sempat bertukar kontak. Bahkan mereka berteman di salah satu media sosial.  " Ini nomer Y/N, Jim" kata Mina, teman Jimin.  "Thanks ya Min" kata Jimin antusias.  Jimin mencoba menelpon nomer tersebut, namun dialihkan ke kotak suara.  "Kenapa tidak aktif?" tanya Jimin dalam hati.  Dia mencoba sekali.. dua kali .. dan berkali kali selama beberapa hari. Namun tetap saja, terhubung ke kotak suara. Hingga akhirnya Jimin merasa menyerah dan menuruti keinginan papanya yang sedang sakit. "Baiklah.. Jimin akan menikahi Seulgi" kata Jimin putus asa.  Jimin melakukan itu hanya agar papanya bisa segera sembuh dan dia tidak merasa terbebani.  Akhirnya, hari pernikahan Jimin dan Seulgi ditetapkan. Semua persiapan dilakukan dengan baik dan antusias, bahkan mama Jimin turun tangan sendiri mempersiapkan pernikahan tersebut. Semua merasa bahagia dan lega. Kecuali Jimin.  Di malam sebelum pernikahannya, Jimin menyendiri di sebuah pantai. Dia merasa kesepian meskipun di rumahnya banyak sekali saudara yang datang. Entah kenapa, di waktu waktu terakhir, Jimin justru ragu. DIa merasa bahwa keputusan yang di ambil itu salah. Terbayang sesaat bagaimana kehidupannya dengan Seulgi tanpa cinta dalam hatinya.  Mampukan aku membuat semuanya jadi lebih baik? Dia membuka FILE Y/N KU di handphonenya ... dan muncullah wajah wajah Y/N dan kenangan kenangan tentang mereka. Seketika, Jimin merasa dia tidak berdaya dan seluruh kekuatannya hilang. Dia merasakan tubuhnya terasa lemas, dan tanpa dia sadari, Jimin sudah terduduk di pasir putih basah di dekat pantai. Tanpa sadar, jari jarinya mengusap senyum Y/N dalam foto itu, mengelus pipi Y/N. Sebulir air mata menetes membasahi layar handphonenya.  Jimin menekan angka 1 di handphonenya, nomor Y/N yang diberikan Mina, salah satu temannya.  Tuut .. tuuut .. tuuut .... Seketika wajah Jimin begitu bahagia. Nada sambung terdengar di ujung teleponnya.  "Halo ..." terdengar suara di seberang sana.  Jimin kaget dan hampir menutup handphonenya. "Mengapa suara laki laki?"  pikir JImin. "Apa ini nomor Y/N?" Jimin meneguhkan niatnya.  "Iya.. tapi dia tidak ada. Siapa ini?" tanya laki laki itu. "Ok.. nanti saja saya telpon lagi." kata Jimin sambil menutup teleponnya. Jimin masih terheran dengan itu.  Siapa itu? Pacar? Suami?  teman? kakak?  Siapa dia? Y/N orang yang paling tidak suka ada orang yang berani memegang handphonenya. Apakah dia istimewa? Siapa dia? Pemikiran pemikiran yang mulai mengacaukan pikiran Jimin.  Jimin mulai merasakan ketakutan dan putus asa. Entah kenapa pertanyaan tentang siapa yang mengangkat teleponnya membuat sakit yang sangat dalam di hatinya. Terasa sesak. Terasa perih. Jimin merasa begitu berat untuk bisa mengakui bahwa dia sudha kehilangan Y/N.  Entah pemikiran apa lagi yang merasuki pikiran Jimin, tiba tiba dia menuliskan pesan yang ditujukan untuk Y/N/  Y/N apa kabar? Ini Jimin.  AKu harap kamu baik baik saja. Sudah lama ya kita tidak bertemu.  Aku hanya ingin bilang kalau besok aku akan menikah. Doain ya!! SEND ... dan terkirim sudah.  Tidak berapa lama, balasan pun datang.  Oya? Semoga kamu berbahagia ya. Selamat.... Dan... hanya itu saja. Sesaat setelah membaca pesan Y/N, Jimin merasakan hatinya begitu hampa. Dia merasa bahwa dia benar benar telah kehilangan orang yang dia cintai selama ini. Orang yang dia tunggu. Orang yang dia cari. Orang yang dia taruh harapan besar kepadanya. Orang  yang ..... Jimin tidak dapat meneruskan kata kata yang dia tanam sendiri di dalam hatinya.  OYA? Semoga kamu berbahagia ya. Selamat .... Kata kata itu dia baca sekali lagi, dan semakin sesak di dalam hatinya.  Tanpa terasa, Jimin menangis dan menangis sekeras kerasnya. Penyesalan, kehilangan, putus asa, patah harapan, dna semua perasaan menyakitkan yang tidak dapat dia ungkapkan lagi. Smeua bercampur dalam hatinya. Terlambat..... Itulah kata yang saat ini menguasai hati dna pikirannya.  Kata kata yang selalu ingin dia hindari, tapi mau tidak mau, dia harus menghadapinya kali ini. . Dan malam itupun berlalu dengan kekecewaan dalam hati Jimin.  Kekecewaan yang tidak akan bisa menghalangi pernikahan hari ini. "Aku sahkan kalian sebagai suami dan istri" kata pendeta.  Akhirnya suara tepuk tangan meriah terdengar di gereja saat pendeta mensahkan Jimin dan Seulgi sebagai suami istri. Senyum dan tawa kecil Seulgi dan keluarga serta teman teman dekat pengantin menjadi pengantar mereka berdua memasuki kehidupan rumah tangga.  Seharusnya ini jadi hari bahagiaku... tapi mengapa?  Mengapa hati ini kosong rasanya? Mengapa hati ini seperti kehilangan segala galanya?  Mengapa .. mengapa ... Pikiran pikiran ini hanya Jimin yang merasakannya. Dia mencoba menutupi kesedihannya dengan senyum palsu yang terlihat dipaksakan. Bahkan matanya pun terlihat berkaca kaca meskipun dia tersenyum. Seulgi menyadari hal itu.  Di tengah pesta perayaan pesta, Seulgi mendekati Jimin dan mencoba menghiburnya. Tapi, Jimin justru meninggalkan pesta dan mencari ketenangannya sendiri. Dia bahkan tidak kembali ke hotel di malam pertamanya.  "Apakah aku mengambil keputusan yang salah?" tanya Jimin ragu ragu pada dirinya sendiri. Sekali lagi, Jimin menekan angka 1 di handphonenya. Namun, tidak ada nada tersambung seperti malam sebelumnya. Hanya suara operator yang membuatnya semakin jengkel. Dia membanting hapenya ke lantai. Kesedihan Jimin menambah rasa dingin yang menjalar ke lantai villa Jimin. Jimin bahkan merebahkan tubuhnya di lantai yang dingin itu.  Malam pertamanya sebagai seorang suami justru dia habiskan untuk menangisi kekasih hati yang tidak pernah tahu betapa Jimin sangat mencintainya.  Y/N ku ... tunggu aku.... Aku akan mencari mu ... setidaknya untuk satu kali, kamu harus tahu betapa aku mencintaimu... Tidak peduli sampai kapanpun .. kamu harus tahu ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD