Bohong jika mengatakan bahwa perpisahan itu jalan terbaik....
Bohong jika mengatakan bahwa perpisahan tidak akan melukai perasaan orang ...
Bohong jika kita akan mengatakan bahwa kita tidak bersedih ....
Bohong jika mengatakan kita baik baik saja ....
Tidak ....
Perpisahan itu menyedihkan ...
Tidak ada alasan untuk tidak menangis....
Perpisahan memang bukan jalan yang terbaik, tapi seharusnya kita bisa lebih berusaha ...
Berusaha lebih lagi .. sampai kita bisa katakan kita TIDAK MENYESAL!
Angin pantai sepoi sepoi menyambut kedatangan Jimin dan teman temannya. Suara mesin mobil yang berurutan seakan memecah keheningan pantai itu siang ini. Angin sepoi sepoi seakan ingin menjadituan rumah yang ramah untuk Jimin dan teman temannya. Namun keramahan itu tk, idak tampak di tengah wajah wajah yang baru saja turun dari mobil Jimin.
Yups ... terjadi ketegangan di dalam mobil Jimin selama perjalanan.
"Lho.. kenapa Seulgi bisa ikut sich noona?" tanya Jimin ketika dia melihat Seulgi turun dari taksi.
"Noona yang mengajaknya.. kamu tidak lupa perintah mama kan?" tanya Yoona mencoba memastikan.
Jimin hanya tersenyum kecut, berjalan meninggalkan Yoona dan menghampiri Y/N. Dia tahu bahwa Y/N pasti akan merasa tidak nyaman. Dia mendatangi Y/N dan mengambil tas dari tangan Y/N. Awalnya Y/N menolak, namun Jimin memaksanya. Dia juga menarik tangan Y/N untuk masuk ke dalam mobil. Jimin membuka pintu penumpang di samping sopir, dna memaksa Y/N untuk masuk.
"Aku duduk di belakang saja bareng sama teman teman yang lain" kata Y/N seolah mencoba menghindari suasana canggung yang akan teradi di antara mereka.
Tatapan Jimin yang tegas dan tajam membuat Y/N mengurungkan niatnya. Dia tahu pasti seperti apa Jimin jika sudha menunjukkan tatapan itu. Akhirnya Y/N menurut pada Jimin.
"Kita mampir ke toko bentar ya" pinta Y/N setelah mobil menempuh 15 menit perjalanan.
"Apa yang gak buatmu?" canda Jimin.
Jimin melirik Seulgi dan Yoona sekilas melalui kaca spion dalam. Senyum smirk nya membuat Yoona semakin jengkel di dalam hatinya.
"Jim, mau nitip apa?" tanya Y/N saat mereka tiba di sebuah supermarket.
"Aku ikut saja" kata Jimin.
Di dalam supermarket, Jimin tidak mau melepaskan sebentar saja gandengan tangannya dengan Y/N. Dia bahkan tertawa begitu santai ketika mereka berdua berbelanja. Banyak mata melihat bagaimana mereka berdua terlihat begitu nyaman satu sama lain. Tidak sedikit dari para pengunjung yang tersenyum kecil saat melihat kebersamaan Jimin dan Y/N. Mereka mengira bahwa Jimin dan Y/N adalah sepasang kekasih. Jimin menyadari hal itu, dan sesungguhnya terbersit kebahagiaan di dalam hatinya.
"Ayo berangkat" ajak Jimin saat semuanya sudah selesai dengan belanjaan mereka.
"Eonnie Y/N .. aku boleh tukar tempat duduk di depan tidak?" tanya Seulgi sambil pura pura malu.
"Tidak bisa" tolak Jimin tanpa melihat reaksi Y/N.
"Kamu mabuk ya? " tanya Y/N diikuti anggukan Seulgi.
Y/N mengangguk dan mempersilakan Seulgi duduk di kursi penumpang samping Jimin. Jimin hampir mambanting pintu mobilnya ketika Y/N masuk ke bagian tempat duduk belakang. Dia mengambil tempat duduk tepat di belakang Jimin. Dia tersenyum manja saat Jimin memperlihatkan muka cemberutnya.
"Jimin oppa mau minum?" tanya Seulgi sedikit merayu.
"Y/N mana minumanku tadi?" tanya Jimin ke Y/N saat mereka berhenti di sebuah lampu merah.
"Wah .. nyusahin aja dech... nich" kata Y/N jengkel smabil menyodorkan sekaleng minuman bersoda. Jimin hanya tertawa terkekeh.
"Lha salah sendiri kamu duduk di belakang.. ribet kan?" goda Jimin.
Sepanjang perjalanan, Jimin selalu melirik ke arah Y/N setiap kali ada kesempatan. Tidak jarang juga mereka saling meledek melalui kaca spion dalam. Jimin merasakan kenyamanan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa bahwa dia tidak ingin melepaskan moment moment ini.
"Waah .... Pantainya keren bener ya?" kata Soohyun.
"Enak nich buat berenang.." tambah Young MIn.
"Y/N sini ... " teriak Jimin saat dia melihat Y/N hanya terduduk di depan mobilnya.
Y/N hanya menggeleng. Entah kenapa ada perasaan yang tidak nyaman dalam hatinya. Dia melihat senyum Jimin tidak seperti biasanya.
Senyum itu terlalu nyaman..
Senyum itu terlalu hangat....
Senyum itu bukan senyumnya Jimin..
Ada apa?
Pertanyaan itu terus berkecamuk di pikiran Y/N, namun dia berusaha menepiskannya dengan beraktivitas bersama Jimin. Jimin juga merasa bahwa ada yang salah dengan dirinya. Entah kenapa dia merasa ingin hanya memperhatikan Y/N. Inilah yang dia sukai dari seorang Kim Y/N, keceriaannya, manjanya, senyum lepasnya dan kebebasan hidupnya yang seolah olah dia merasa bahwa dia bisa mengalahkan dunia ini. Terbersit iri pada Y/N, dia seolah berani menghadapi apapun yang ada di depannya. Sedangkan dia hanya seorang pengecut yang entah kapan bisa mengucapkan " Y/N Aku menyayangimu".....
"Jimin oppa..." sapa Seulgi membuyarkan kekaguman Jimin pada Y/N.
"Ada apa Seulgi?" tanya Jimin sedikit menjauh dari Seulgi.
Tanpa mereka sadari, Y/N melihat Jimin dan Seulgi bersama.
"Maafkan Seulgi .. Seulgi tidak berniat membuat hubungan oppa dan eonnie Y/N jadi rusak" kata Seulgi lirih.
"Apa maksudmu? " tanya Jimin tidak percaya dengan yang dia dengar.
" Bukankah ini memang rencanamu?" tanya Jimin lagi.
"Gak oppa.. bukan begitu ...Aku tidak tahu kalo ada orang lain di hati oppa" kata Seulgi meyakinkan Jimin.
Namun sepertinya Jimin tetap tidak percaya dengan semua penjelasan Seulgi. Dia merubah pandangannya ke arah Y/N. Dia tersenyum lagi, seolah olah tidak ada Seulgi.
Malam ini terasa lebih dingin dari malam malam biasanya. Y/N memilih berjalan di pinggir pantai sendirian dibandingkan berada di kerumunan teman temannya. Itu selalu jadi hobinya sejak SMA, berjalan di pinggir pantai untuk menenangkan pikirannya. Dia suka menikmati ketenangan air di pantai, merasakan hembusan angin malam, melihat pancaran sinar bulan di atas air pantai. Sebenarmya, itulah salah satu alasan dia ikut di acar kali ini. Entah kenapa, pikirannya tentang perubahan Jimin membuatnya tidak tenang sejak kedatangan mereka tadi siang.
"Eh..." Y/N kaget dan berbalik.
"Apa apaan sich Jim?" tanya Y/N sambil memukul kecil d**a Jimin.
"Kenapa gak pakai jaket tebal sich? " tanya Jimin sambil memeluk Y/N dari belakang dan memasukkannya ke dalam jaket tebalnya.
"Hush .. nanti ada yg lihat lho.." kata Y/N sambil berbalik menghadap Jimin.
Jimin pun melingkarkan syal putih ke leher Y/N. Syal yang sama dengan milik Jimin, hanya saja namanya berbeda di ujungnya. Jimin menggunakan nama Y/N di ujung syalnya, sedangkan Y/N menggunakan nama Jimin di ujungnya. Mereka selalu menggunakan barang yang sama dan memberikan nama di masing masing barang miliknya itu.
"Masih mikir gitu?" tanya Jimin heran.
"Bukankah semua juga udah tahu kalo kita ini TTM?" kata Jimin lagi.
TTM....
" Jadi ternyata benar, kamu hanya menganggap kita ini sebagai TTM saja... Teman Tapi Mesra..." pikir Y/N.
"Harusnya aku tidak berharap banyak" pikir Y/N lagi sambil sedikit menjaga jarak dari Jimin.
Jimin semakin bingung dengan sikap Y/N.
"Apa ada yang salah?" tanya Jimin mencoba meyakinkan pikirannya.
Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?
Apakah aku menyakitinya?
Apakah mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri semuanya?
MENGAKHIRI??????
Entah mengapa, rasa sakit itu tertanam langsung jauh ke dalam hatinya. dadanya terasa sesak, bahkan untuk beberapa saat dia tidak mampu untuk bernafas dengan baik.
Uhhuk... ukkh.... terdengar suara batuk Jimin karena mencoba menahan rasa sakit itu.
Mengapa terasa sakit sekali?
Apakah sudah benar keputusanku?
Entahlah ....
Rasa sakit itu mulai mereda, saat Jimin melihat wajah khawatir Y/N.
Apakah Y/N memang mencintaiku?
Haruskah aku mempertahankannya?
"Kamu kenapa? kedinginan?" tanya Y/N khawatir.
Jimin hanya tersenyum dan melambaikan tangannya saja, pertanda dia baik baik saja. Dia lalu membalikkan badannya Y/N dan memeluk dia dalam jaket tebalnya. Hampir semalamaan, mereke berdua menikmati pemandangan indah itu. Mereka banyak bercerita. Namun ada yang berbeda dari percakapan mereka malam itu. Biasanya mereka suka membicarakan tentang angan angan, cita cita, dan tidak jarang suka meledek dan mengerjai satu sama lain. Malam itu, mereka justru banyak mengingat masa masa indah mereka. Mereka bernostalgia tanpa menghiraukan yang lain, bahkan tanpa mereka sadari Seulgi melihat kemesraan mereka.
"Kenapa aku tidak bisa berada di sisimu Jimin oppa? " gumam Seulgi dari jendela villa.
Tidak terasa ada rasa kasihan terbersit di hati Seulgi. Dia tahu pasti seberapa besar rasa cinta Jimin untuk Y/N. Dia juga tahu pasti bahwa dia mungkin tidak akan pernah memiliki cinta Jimin sepenuhnya.
"Y/N ..." ucapan Jimin terpotong ketika dia melihat Y/N tertidur di pelukannya.
Dia menyandarkan kepalanya di d**a Jimin. Sesekali membenarkan posisinya.
"Mengapa kamu begitu cantik?" kata Jimin sambil menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Y/N.
"Apakah aku bisa hidup tanpamu Y/N?" kata Jimin lagi sambil merapatkan pelukannya.
"Apakah aku bisa ...." ucapan Jimin terputus saat sebulir air mata menetes membasahi punggung telapak tangannya.
Tanpa berkata kata lagi, Jimin hanya memeluk Y/N lebih erat, dan meletakkan kepalanya di wajah Y/N.
"Selamat pagi princess" sapa Jimin di keesokan paginya.
"Jim... koq aku bisa disini? kamu gendong aku kemarin?" tanya Y/N sambil membetulkan letak posisi duduknya.
Jimin hanya mengangguk sambil meletakkan se nampan sarapan lezat. Y/N tersenyum melihat keromantisan Jimin. Selama ini, meskipun hanya berstatus sebagai TTM, Jimin selalu memberi perhatian yang berlebihan untuk Y/N. Itulah yang membuat semua temannya tahu pasti bahwa Jimin punya perasaan untuk Y/N. Mungkin hanya Y/N yang mengira bahwa Jimin dan dirinya hanya saling memanfaatkan agar tidak sama sama kesepian, karena mereka sama sama jauh dari rumah dan keluarga masing masing.
"Makanlah ... semalaman kamu kena angin malam... takutnya nanti kamu sakit" kata Jimin lembut.
"Thanks" balas Y/N sambil menyuap sesendok nasi goreng.
" Kamu mesti diet ... gila berat banget , tahu...." canda Jimin sambil mencubit pipi Y/N.
Jimin terkekeh melihat muka manyun Y/N dan mulutnya yang penuh dengan nasi goreng.
"Apanya yang berat? kamu aja yang kurang olahraga..." protes Y/N.
"Lihat tuch .. badan kerempeng gitu ... " balas Y/N sambil meminum jus jeruknya.
Jangan sampai berakhir. Aku ingin seperti ini selamanya... pikir Y/N.
Jimin memperhatikan Y/N yang sedang menikmati sarapan dengan lahapnya. Hal seperti inilah yang selalu membuat Jimin tidak bisa menahan rasa cintanya untuk Y/N. Dia selalu bahagia setiap kali dia melihat Y/N menikmati dunianya sendiri, seolah olah dia ingin mengajak semua orang masuk ke dalam dunianya.
Tanpa dia sadari, Jimin mendekati Y/N. Entah apa yang ada di pikirannya, namun dalam hitungan detik, bibir Jimin sudah mendarat di bibir Y/N. Dia mengecup bibir Y/N lembut, dan di luar perkiraan, Y/N pun menyambut kecupan lembut Jimin. Di awalnya Y/N mencoba menolaknya, tapi entah apa yang ada di pikirannya Y/N justru menikmati ciuman selamat pagi itu..
"Eeehmm...." desahan kecil Y/N saat tangan Jimin mulai membuka kancing teratas baju Y/N.
Tidak seberapa lama, Jimin melepaskan ciuman dan tangannya dari baju Y/N. Dia beranjak dari kasur Y/N. Dia tersadar ketika dia mendengar desahan Y/N. Otak jernihnya kembali ke tempatnya. Dia melihat Y/N yang masih terbengong sambil menutup bagian atas bajunya.
"Sorry .. sorry Y/N ..." kata Jimin sambil beranjak keluar kamar Y/N.
"Bodohnya aku... " umpat Jimin saat dia sudah keluar kamar.
Jimin memukul sendiri kepalanya. Di dalam kamar, Y/N menangis pelan. Dia tidak ingin teman yang lain mendengar tangisannya. Y/N tidak keluar kamar sampai sore harinya mereka meninggalkan villa tersebut.
Sepanjang perjalanan, suasana canggung terlihat jelas di mobil Jimin. Y/N memilih duduk di kursi paling belakang. Dia hanya menyandarkan kepalanya di jendela, sedangkan Jimin lebih memilih diam dan konsentrasi menyetir. Dia tidak menolak ketika Seulgi meminta ijin untuk duduk di kursi penumpang. Sesekali dia melirik Y/N dari kaca spion dalam. Dia melihat wajah sedih Y/N, dan dia tahu dengan pasti betapa hancur hati Y/N.
Maafkan aku Y/N ku....
Maafkan aku ....
Y/N lku ....
Hanya kalimat itu yang terucap terus menerus di otak Jimin.
Seminggu berlalu sejak kejadian di villa waktu itu. Y/N sedang mengepak barang barangnya. Dia memutuskan untuk pindah rumah. Dia ingin pindah ke rumah bersama salah satu sepupunya. Alasan sebenarnya karena dia ingin menghindari Jimin. Seminggu ini, Y/N bermain "petak umpet" dengan Jimin. Untungnya dia tahu jadwal kuliah Jimin, jadi dia bisa mengatur jadwalnya sendiri juga. Apabila ternyata ada yang bersamaan, Y/N akan memilih untuk memundurkan jadwal pulangnya.
"Kamu yakin mau pindah Y/N?" tanya Soohyun.
"Iya, kasihan sepupuku gak ada kawan. Apalagi dia baru pindah juga ke seoul. " Y/N mencoba berbohong.
"Kita kan masih bisa ketemu di kampus kan?" Y/N menambahkan sambil memeluk Soohyun.
"Sampaikan maaf dan salamku untuk Yoona dan Young Min ya" pamit Y/N sambil melangkah keluar rumah.
Aku akan merindukan kalian. Aku akan merindukan Jimin....
Sejak kejadian di villa itu, Jimin menyesali dirinya sendiri. Dia selalu minum minum tiap malam. Dia mencoba melupakan semuanya.. melupakan senyum Y/N, melupakan manjanya Y/N.. melupakan dunianya yang hilang.. Y/N...
"Mengapa aku melakukan itu?" tanya Jimin pada dirinya suatu malam.
"Betapa bodohnya aku...!!!!!" teriak Jimin lagi.
"Selesai sudah.. aku akan kehilangan dia untuk selamanya" Jimin menunduk sambil meneguk botol minuman yang sudah dia minum setengahnya.
Selesai sudah .....