You looks so beautiful in white ...
Kalimat itu yang melekat tajam di telinga Jimin saat dia duduk di sudut sebuah kafe. Dia meneguk langsung gelas kecil soju nya. Mendengar lagu itu, tanpa dia sadari dia tersenyum sembari bermain dengan pikirannya.
Kamu terlihat cantik dalam gaun putih. Panjang dan bersih. Rambut terurai dan tertiup angin. Aku akan jadi cowok paling beruntung jika aku menggandengmu. Kita akan menghabiskan waktu bersama, nonton bersama, makan bersama, bepergian bersama, dan menua bersama.
Tanpa Jimin sadari, kilasa foto foto Y/N dan foto foto mereka berdua terekam di otaknya. Foto foto itu membuat Jimin melamunkan hal hal yang indah. Malam ini, setelah kepergian Y/N, Jimin merasa malas untuk melakukan apapun selain duduk sendiri dan minum minuman keras untuk mengenang kenangan indahnya.
"Baru beberapa jam Y/N pergi, aku tidak bisa melakukan apa apa. Bagaimana seandainya dia meninggalkanku?" tanya Jimin ragu ragu pada dirinya sendiri.
"Itu tidak boleh terjadi" pikir Jimin.
===
"Mama apa kabar? " tanya Yoona saat mamanya datang ke rumahnya.
"Tante ... waah .. tambah cantik aja. Tante apa kabar?" tanya Soohyun juga.
"Kalian ini bisa aja lho" balas Ny. Young Ae, mama Yoona dan Jimin.
"Tante baik baik saja" tambahnya sambil memeluk Young Min yang baru saja datang.
Sesaat sesudah temu kangen itu, Jimin meminta undur diri untuk pulang. Moodnya sudah berantakan saat dia tahu bahwa mamanya datang untuk membahas perjodohannya dengan Seulgi.
"Bagaimana hubunganmu dengan Seulgi, Jim?" tanya Young Ae saat di perjalanan.
"Apa maksud mama? Aku tidak ada hubungan apa apa." kata Jimin malas.
"Apa gara gara Y/N?" tanya mamanya agak emosi.
"Apa maksud mama?" tanya Jimin heran.
"Kakakmu sudah cerita semuanya. Tentang perasaanmu, tentang siapa Y/N, tentang hubungan kalian... " sesaat Young Ae diam.
"Mama tidak akan menyetujuinya Jim.. apalagi setelah tahu seperti apa Y/N. Jangan harap Jim" suara Young Ae meninggi.
Jimin tidak ingin mengatakan apa apa di dalam mobil. Dia sedang berkonsentrasi menyetir. Apalagi kepalanya masih belum sepenuhnya sembuh dari pengarnya semalam. Meskipun tidak mabuk yang berlebihan, tapi tetap saja, pengar itu menyiksanya. Dia tidak ada mood untuk bertengkar dengan mamanya. Apalagi dia selalu tahu, Yoona kakaknya adalah satu satunya anak yang paling dipercaya mamanya. Jadi seperti apapun Jimin menjelaskan siapa dan bagaimana Y/N, itu akan buang buang tenaga. Di satu sisi, Jimin tidak bisa memperkenalkan Y/N karena dia mendadak harus pulang.
"Kamu mau kemana Jim?" tanya mamanya saat Jimin membuka pintu rumah Yoona.
"Kampus" bohong Jimin. Dia terpaksa berbohong sebelum mamanya membahas lebih panjang tentang perjodohannya.
"Apa apaan sich mama.. maen jodoh jodohan aja .. AKu dikuliahin tinggi tinggi, tapi endingnya dinikahkan juga ...huuh" Jimin mengeluh kesal. Dia lalu mengendarai mobilnya dan berkeliling kota entah sampai jam berapa.
Beep beep ..
Gimana kabarnya Y/N ku?
Sebuah pesan yang seharusnya membuat Y/N bahagia dan merasa bahwa dunia itu miliknya, namun kenyataannya dia justru semakin sakit. Dia hanya bisa mengenang betapa menyenangkannya hari hari mereka berdua dijalani sama sama. Meskipun tanpa kejelasan, Y/N masih berharap bahwa Jimin akan menyatakan perasaannya suatu hari nanti. Dia berharap bahwa dia akan bisa berjalan bergandengan bersama selamanya. Paling tidak sampai kuliahnya berakhir.
Y/N ku apanya?
Tidak lama terdengar suara ringtone hape Y/N berbunyi. Y/N pun mengangkat teleponnya ragu ragu.
"Apaan sich?" tanya Y/N ketus.
"Lha kan aku yang harusnya marah. Kenapa malah kebalik sich?" tanya Jimin balik.
"Jimin mau apa sich? " tanya Y/N lagi sedikit kesal.
"Kenapa pulang gak bilang bilang? Kenapa gak telepon juga kalo udah sampai di sana? Kenapa tahu tahu pulang?" berondong Jimin dengan nada kesal tapi meledek Y/N.
" Udah? panjang bener nanyanya. Aku pulang karena mama telpon dan bilang kalo kangen. Kamu kan tahu aku gimana kalo urusannya sama mama. Aku terburu buru soalnya aku hanya punya wkatu 2 hari disini. Udah kan?" jawab Y/N sekenanya.
"Kamu udah makan? Kamu sehat? Kamu jangan capek capek disana. Mama baik baik aja?' tanya Jimin lagi.
Ada perasaan aneh ketika dia menanyakan mama Y/N dengan sebutan mama. Ada perasaan hangat dan nyaman.
"Mama..? mama siapa?" ledek Y/N.
"heheheehe.. mama baik koq" jawab Y/N sambil tertawa.
"Kapan kamu pulang?" tanya Jimin mengalihkan perhatian Y/N.
"Besok aku pulang" jawab Y/N.
Jimin menutup telepon setelah dia menggoda Y/N dengan memberikan kecupan singkat di layar hape. Y/N tertawa sambil berpura pura muntah.
Jimin menjalani hari ini dengan tidak semangat. Apalagi setelah dia tahu bahwa Seulgi juga akan datang pada acara makan malamnya bersama mamanya dan Yoona.
"Jim, kamu udah datang?" tanya Young Ae.
Jimin hanya mengangguk sambil duduk di sebelah Seulgi. Dia menarik kursi dengan malas. Lebih malas lagi ketika dia melihat bagaimana Seulgi memandangnya. Makan malam hari ini tidak meninggalkan kesan sama sekali untuk Jimin. Dia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dikatakan mamanya.
"Jimin, mulai sekarang, kamu harus menjaga Seulgi" kata Young Ae.
"Emang dia tidak bisa jaga diri sendiri? Lagipula dia juga belum kuliah disini kan?" jawab Jimin seenaknya. Seandainya bukan karena permintaan Y/N untuk bersikap baik pada mamanya dan menghadiri acara makan malam membosankan ini. Dia sudah berjanji pada Y/N untuk bersikap layaknya seorang anak yang baik. Tapi Jimin tidak berani menceritakan tentang pertunangannya dengan Seulgi. Sesungguhnya dia ingin membatalkan pertunangan itu.
"Kalian sudah dijodohkan sejak lama. Bukankah kalian berteman baik sewaktu kecil?" tanya Young Ae.
"Iya tante" jawab Seulgi sambil tersenyum malu.
"Mama punya hutang budi sama papanya Seulgi, dan beliau bilang bahwa hutang itu tidka perlu dibayar. Itu sebabnya mama ingin menjalin hubungan keluarga dengan papanya Seulgi" Young Ae seolah sedang menjelaskan situasi pertunangan Jimin dan Seulgi.
"Apa acara ini sudah selesai ma?" tanya Jimin memotong penjelasan mamanya.
"Jimin... "teriak Young Ae.
"Mama .. Jimin sudah paham. Tidak perlu dijelaskan lagi" kata Jimin sambil berdiri dari kursinya.
"Tapi Jimin katakan sekali lagi, Jimin tidak akan menikah dengan Y/N. " tambah Jimin.
"Meskipun kamu tahu bahwa papamu bisa terserang penyakit jantung kapan saja? " Young Ae terlihat memelas. Jimin tidak mampu melakukan apa apa jika itu menyangkut kesehatan papanya. Memang papa Jimin memiliki riwayat penyakit jantung, dan dia tidak bisa mendapat tekanan yang besar.
Jimin melangkah keluar restoran dengan muka kesal. Dia mengendarai motornya dan berkeliling tanpa tujuan. Bahkan dia tertidur di taman di dekat Sungai Han hingga fajar menyingsing. Ketika bangun, dia melihat jam di tangannya, dan bergegas pulang ke rumahnya.
Kereta dari Busan memasuki lintasan 3.
Pengumuman dari speaker itu membuat Jimin tersenyum. Dia tahu bahwa belahan hatinya akan pulang pagi ini.
Belahan hati?
Jimin tertawa kecil ketika dia mengulang panggilan itu dalam otaknya. Dia tahu bahwa mungkin sekarang waktunya untuk dia mengungkapkan semuanya. Setidaknya, dia tahu bahwa kalau Y/N punya perasaan yang sama untuknya. Besok malam akan jadi malam pengakuannya.
"Y/N... " Jimin berteriak sambil melambaikan tangannya ketika dia melihat Y/N.
Y/N membalas lambaian tangan Jimin. Dia begitu senang melihat Jimin menjemputnya hari ini. Dia berlari kecil mendatangi Jimin. Tanpa dia duga, Jimin memeluknya saat Y/N mendekat padanya.
"EEh .. kenapa nich?" tanya Y/N heran.
Sepanjang dia dekat dengan Jimin, baru kali ini Y/N merasakana kerinduan Jimin yang besar. Entah dia merasakan kerinduan Jimin, atau dia juga merasakan hal yang sama, tapi yang jelas, Y/N seolah tidak ingin melepaskan pelukan itu.
"Gak apa apa.. cuma ingin peluk aja gak papa kan?" tanya Jimin sambil melepaskan pelukannya.
"Ayo sarapan.. " Jimin mengajukan tawaran yang tidak akan mungkin ditolak Y/N.
Sepanjang jalan, Jimin memegang tangan Y/N. Meletakkannya di setir mobil, memainkan jari Y/N. Tidak berpaling dari wajah Y/N.
"Kamu kenapa sich?.. kesambet setan?" selidik Y/N sambil memperhatikan dirinya sendiri.
"Kenapa habis pulang dari Busan, kamu keliatan beda ya?" goda Jimin.
"Apanya yang beda?" tanya Y/N.
"Kelihatan gendut ya?"goda Jimin.
Y/N marah dan memukul bahu Jimin. Dia berharap kesenangan seperti ini jangan sampai berakhir. Dia hanya ingin seperti ini, meskipun dia tidak pernah yakin apakah Jimin benar benar menyukainya atau tidak. Dia sudah puas dengan keadaan seperti ini.
Mereka menikmati sandwich dan segelas s**u coklat di bangku taman di pusat kota.
"Besok kita akan ke pantai. Cuma teman teman dekat aja sich. Kamu ikut ya?" tanya Jimin.
"Serius? "tanya Y/N kegirangan.
Pantai selalu jadi tempat favorit Y/N, Dia selalu bisa merasa tenang jika sudah berjalan di tepi pantai. Pikirannya yang kalut bisa terurai dengan mudahnya ketika dia sudah melihat ketenangan air laut.
"Tapi.. itu kan teman temanmu... " kata Y/N ragu ragu.
"Kamu selalu welcome koq" kata Jimin membersihkan saus di ujung mulut Y/N.
Y/N kaget ketika jari Jimin menyentuh ujung bibirnya, dan mulai membersihkan sendiri juga.
"Selamat istirahat ya" teriak Jimin saat mengantarkan Y/N sampai di depan rumahnya. Dia tidak turun dari mobil, karena dia harus buru buru mengantar mamanya ke bandara.
Knock knock ..
Pintu kamar nomer 312 dibuka dan muncullah sosok wanita setengah baya yang masih cantik. Young Ae mengajak Jimin untuk masuk. Dia menawarkan sarapan pada Jimin tapi Jimin menolaknya.
"Jimin udah sarapan ma" kata Jimin.
"Jam berapa pesawat mama? " tanya Jimin basa basi.
"2 jam lagi. Mama selesaikan sarapan, setelah itu kita berangkat ya?" kata Young Ae.
Jimin hanya mengangguk. Dia membuka buka galeri foto handphonenya. Dia melihat album Y/N dan tersenyum. Dia mengingat kembali masa masa dia mengambil foto foto itu. Saat Y/N tertawa lepas saat dia melihat Jimin mengenakan pakaian badut. Y/N cemberut ketika Jimin mengoleskan sedikit es krimnya ke hidung Y/N. Ketakutan yang menyenangkan ketika Jimin mengajaknya menaiki puncak tebing. Atau foto mereka berdua di saat mereka menaiki motor berdua dan berkeliling kota Seoul di pagi buta hanya untuk melihat sunrise. Tapi foto yang selalu terpampang di wallpaper handphonenya... wajah tersenyum Y/N saat dia mengulurkan tangannya dan digandeng Jimin. Setiap kali Jimin melihat foto itu, dia selalu menjadi lebih optimistis. Dia merasa bahwa ada sedikit harapan untuknya.
Young Ae hanya melihatnya dengan wajah sedikit penasaran. Namun, dia tidak berani menanyakan hal itu pada Jimin. Dia tahu bahwa sebenarnya kebahagiaan Jimin ada di Y/N, tapi Young Ae tidak bisa mengorbankan keluarga dan kesehatan suaminya.
"Ayo Jim berangkat" ajak Young Ae.
Jimin menutup handphonenya dan beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah keluar sambil membawa koper mamanya.
"Jim, ingat benar benar kata mama" Young Ae mengingatkan Jimin tentang Seulgi.
"Mama sudah mengatakan hal itu sejak masuk mobil sampai bandara" jawab Jimin malas.
"Perlakukan Seulgi dengan baik" kata YOung Ae sambil berjalan masuk ke terminal.
Jimin melambaikan tangannya pada Young Ae, dan dia duduk di ruang tunggu itu untuk beberapa saat. Dia merasa sangat putus asa. Dia mulai merasa kehilangan harapan. Entah bagaimana, foto foto Y/N yang sebelumnya bisa menenangkan hatinya dan memberinya kekuatan, saat ini terlihat seperti siksaan untuk Jimin.
Papamu tidak bisa bertahan lama.
Dokter mengatakan bahwa penyakit jantungnya bisa kambuh kapan saja.
Beberapa minggu ini, dia mengatakan bahwa rasanya seperti mau mati.
Itu sebabnya mama datang, beliau ingin membayar hutangnya terlebih dulu sebelum dia mati. Makanya mama datang untuk meyakinkanmu agar bisa menerima pertunangan itu.
Tinggal hutang itu yang terbesar, karena itu hutang nyawa, Jim.
Jimin merasa bahwa waktunya untuk menyerah hampir datang. Waktu dimana dia tidak bisa melakukan apa apa, dan hanya melakukan apa yang diinginkan orang tuanya.
"Y/N maafkan aku...." pikir Jimin sambil mengusap air matanya.