BAB 1 : Mitos Jalan Cempaka : Penumpang Terakhir
Jakarta adalah kota yang hidup dua puluh empat jam sehari. Hiruk-pikuk kendaraan, lampu neon, dan suara klakson adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemegahan itu, ada sudut-sudut gelap yang menyimpan misteri. Salah satunya adalah Jalan Cempaka di daerah Kramat, Senen.
Bagi warga sekitar, Jalan Cempaka bukan sekadar gang sempit biasa. Banyak cerita beredar tentang kejadian aneh yang menimpa orang-orang yang melewati jalan itu, terutama di malam hari. Ada yang mengaku melihat sosok hitam tinggi berdiri di ujung gang, ada yang mendengar suara langkah kaki mengikuti mereka meski tak ada siapa pun, dan yang paling menyeramkan—kisah tentang penumpang tanpa wajah.
Cerita ini hanyalah mitos bagi sebagian besar orang. Namun, bagi seorang pengemudi ojek online bernama Ridho, malam itu akan menjadi malam yang mengubah hidupnya selamanya.
---
Jam di ponsel menunjukkan pukul 23.45. Ridho baru saja menyelesaikan pesanan antar makanan di sekitar Menteng ketika notifikasi masuk di aplikasinya. Sebuah pesanan antar-jemput muncul dengan tarif yang lebih tinggi dari biasanya.
Lokasi penjemputan: dekat Pasar Senen.
Tujuan: Jalan Cempaka.
Ridho mengernyit. Jalan Cempaka? Nama itu terdengar tidak asing. Seketika ingatan tentang cerita-cerita menyeramkan dari forum daring dan obrolan warung kopi muncul di benaknya.
“Ah, paling cuma jalan kecil yang gelap. Nggak usah parno,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Ia menerima pesanan itu dan segera melajukan motornya menuju titik penjemputan. Saat tiba di lokasi, ia melihat seorang pria berdiri di bawah lampu jalan yang temaram.
Penampilannya mencolok—jaket kulit hitam yang mahal, sepatu boot tinggi, dan gaya seperti model yang baru keluar dari majalah mode. Ridho mengernyit. Orang sekeren ini mau ke Jalan Cempaka?
Pria itu menoleh dan tersenyum tipis. "Malam, Bang. Ridho, ya?"
Suara pria itu dalam dan ramah. Ridho mengangguk.
"Iya, betul. Ke Jalan Cempaka, ya?"
Pria itu mengangguk. "Benar. Makasih udah jemput."
Tanpa banyak bicara, pria itu naik ke motor. Begitu mesin menyala, pria itu menepuk bahu Ridho pelan.
"Terima kasih sudah mau jemput. Nggak banyak yang mau ambil order ke sana."
Ridho tertawa kecil. "Iya sih. Katanya angker. Tapi masa iya?"
Pria itu tersenyum samar. "Menurut abang gimana?"
Ridho hanya tersenyum dan menambah kecepatan motor.
---
Sepanjang perjalanan, pria itu menunjukkan kepribadian yang ramah. Mereka berbicara tentang banyak hal—tentang macetnya Jakarta, pekerjaan Ridho, dan kehidupan malam di kota.
Namun, ada satu hal yang membuat Ridho mulai merasa tidak nyaman.
Setiap kali mereka melewati kendaraan lain, klakson panjang terdengar. Awalnya Ridho mengira itu hanya kebetulan, tapi semakin mereka mendekati Jalan Cempaka, klakson-klakson itu semakin sering berbunyi.
Bahkan ada beberapa pengendara motor yang berusaha menepi di sampingnya, seolah ingin memperingatkan sesuatu. Tapi Ridho tidak memedulikannya.
"Mereka kayaknya nggak suka kita lewat sini, ya?" tanya pria di belakangnya dengan nada santai.
"Hahaha, iya ya. Tapi bodo amat lah," jawab Ridho sambil tetap fokus ke jalan.
Hingga akhirnya, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba menghentikan laju kendaraan di depan mereka secara mendadak.
Ridho mengerem mendadak. Motor hampir oleng. Jantungnya berdegup kencang karena kaget.
Ia mengangkat helmnya dan berteriak. "Pak! Kenapa ngerem tiba-tiba?! Bisa bikin celaka!"
Namun, yang ia lihat selanjutnya membuat bulu kuduknya berdiri.
Pengemudi mobil itu menatapnya dengan ekspresi ngeri. Wajahnya pucat, matanya membelalak, bibirnya gemetar.
"MUKAAA!! MUKAAA.. ASTAGHFIRULLAH…!"
Ridho mengernyit. "Hah? Maksud Bapak?"
Pengemudi mobil itu tidak menjawab. Ia hanya menginjak gas dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi.
Ridho memandangnya bingung. Ia menoleh ke belakang untuk bertanya kepada penumpangnya…
Tapi penumpangnya sudah tidak ada.
---
Jantung Ridho berdegup lebih cepat. Matanya menelusuri sekeliling, mencoba mencari pria yang tadi bersamanya. Tapi gang sempit itu kosong.
"Kemana dia?" gumamnya.
Meski perasaannya tidak enak, ia memutuskan untuk kembali menyalakan motor dan pergi dari sana. Namun, beberapa ratus meter ke depan, ia melihat mobil sedan tadi berhenti di pinggir jalan.
Pengemudinya masih ada di dalam.
Ridho, yang masih merasa penasaran, mendekat. Tapi begitu ia sampai di samping jendela mobil, pria itu terlihat ketakutan.
"Mas… beneran nggak sadar tadi?"
Ridho mengernyit. "Sadar apanya?"
Pria itu menelan ludah. "Saya… saya punya kamera dashboard di mobil. Kalau Mas nggak percaya, kita lihat rekamannya."
Dengan tangan gemetar, pria itu memutar rekaman kamera depan.
Ridho memperhatikan layar dengan seksama. Yang terlihat di rekaman adalah ia mengendarai motor sendirian.
Tidak ada penumpang di belakangnya.
Ridho merasakan dingin menjalar di tubuhnya.
Tapi rekaman kamera belakang lebih mengerikan.
Di layar, terlihat sesuatu menempel di belakang punggungnya.
Sebuah sosok besar, hitam, berbulu lebat dengan tangan panjang yang mencengkeram bahunya.
Yang paling menakutkan? Sosok itu tidak memiliki wajah.
Ridho membeku.
Pria di dalam mobil menatapnya dengan ekspresi ngeri.
"Saya nggak tahu gimana, Tapi waktu saya liat muka mas tadi…"
Ridho menelan ludah. "Muka saya kenapa?"
Pria itu berbisik dengan suara gemetar.
"Waktu saya lihat tadi… Muka Mas nggak ada. Kosong, mas. Sama seperti makhluk itu."
Udara terasa lebih dingin. Sunyi.
Ridho ingin menyangkal, tapi bagaimana mungkin?
Pikirannya kacau. Ia hanya bisa berdiri di sana, tubuhnya bergetar, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Namun, di sisi lain kota, di bawah cahaya redup lampu jalan, seorang pria berjaket kulit berdiri di pinggir trotoar.
Ia menunggu jemputan berikutnya.
Dan kali ini, ia tersenyum.