Hari Pernikahan

1181 Words
Rani Kupikir, Kak Romi terlalu berlebihan jika memikirkan bahwa aku akan melarikan diri di hari pernikahan. Tentu saja aku tidak senekat dan segila itu. Meski perasaanku belum penuh kuserahkan untuknya, tapi aku bersedia menjadi pengantinnya hari ini. Ya, hari ini adalah hari yang dia nanti-nanti. Hanya dia? Tentu saja tidak, aku juga menantikan hari ini. Berkali-kali aku meyakinkan diri pada pernikahan ini, dan aku yakin Kak Romi memang ditakdirkan menjadi imamku. Aku sudah mengenakan sebuah kebaya cantik nan mewah pilihan mama dan juga sudah dirias secantik putri di negeri dongeng, oh tidak… bolehkah aku lebih percaya diri bahwa aku lebih cantik dari mereka? Tangan ajaib dua orang MUA telah menyulapku, menjadi secantik ini. Aku sedang duduk di tengah-tengah antara para hadirin yang merupakan keluarga dan kerabat dekat Kak Romi, sebuah meja yang telah didekorasi menjadi sangat cantik, menjadi tempat akad nikah dilangsungkan, aku duduk tepat si sebelah Kak Romi. Harus ku akui lelaki yang sebentar lagi akan sah menjadi suamiku ini sangatlah tampan dan gagah. Pasti di luar sana cukup banyak wanita yang mengidamkan dirinya, tak hanya fisiknya yang sempurna, tapi… tentu saja hartanya. Tapi dia memilih aku, si gadis kampung tamatan SMA, pernah berprofesi menjadi seorang pembantu pula. Terkadang takdir dan rencana Yang Maha Kuasa, memang tidak ada yang tahu. Aku merasa beruntung, tentu saja. Setelah mendapat sakitnya penghianatan, aku ditemukan oleh pria yang lebih baik dan lebih segalanya dari Arka. Ya, semoga saja. Suasana hening mulai tercipta saat penghulu akan membuka arcara dan memulai kegiatan yang dinanti-nantikan pagi ini. Semua mata tertuju pada kami, dan yang bisa aku lakukan hanya menunduk sambil meletakkan kedua tanganku di atas paha. Aku berusaha duduk seanggun mungkin, sesuai arahan yang diberikan oleh pihak WO. Jangan gugup Ran, kamu cantik sekali. Duduk senyaman mungkin, tapi tetap terlihat layaknya pengantin yang anggun. Masih kuingat kata-kata mama. Berbeda dengan kalimat Ibu yang terdengar sedikit menyedihkan bagiku. Jangan bikin malu Ibu, ingat ya kita keluarga miskin. Nggak ada yang bisa kamu banggakan kecuali etika dan sopan santunmu, Nak. Berbaktilah pada suami, jangan mengecewakan. Memang benar tidak ada yang salah dari kata-kata Ibu. Kami memang dari keluarga yang tak berada, jika tidak menampilkam atitude dan etika yang baik, tentu tak ada yang bisa dipandang dari kami. Tapi aku bersyukur Allah menganugerahiku dengan paras cantik, meski wajahku tak terpoles make up. Apalagi saat ini, aku pasti lebih cantik. Bukannya aku terlalu percaya diri, hanya saja itulah fakta yang aku dapatkan. Di kampungku, aku juga merupakan kembang desa dan hanya Arkalah pemuda desa yang mampu mencuri hatiku, tapi… dia berhianat. Aku memejamkan mata, saat wali hakim akan memulai akad dan sudah berjabat tangan dengan Kak Romi. Aku gugup, dan juga panik, entah apa itu sebabnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Maharani Adhisty binti Purnawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Kak Romi menyambut kalimat dari wali, dengan tegas dan lugas. "Bagaimana para saksi, sah?" Semua saksi dan hadirin menyambut dengan kata sah dan alhamduliah secara bersamaan. Alhamdulillah. Begitu juga denganku, mengucap kata syukur itu sambil mengusap wajahku dengan ke dua tangan. Lalu aku beralih pada lelaki yang baru saja sah menjadi suamiku itu. Kusodorkan tanganku, dia menyambutnya dengan raut bahagia. Kucium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat, setelahnya aku merasakan kapalaku disentuh dan ternyata Kak Romi mencium keningku, dengan lembut sampai jantungku berdebar tak keruan. Ini bukan pertama kalinya seorang lelaki mencium keningnku. Ya, Kak Romi adalah yang kedua setelah Arka. Tapi entah mengapa rasa dan getarannya sangat berbeda, bisa jadi karena dia adalah lelaki halalku saat ini. Ternyata seindah ini, ya? Meski belum ada cinta yang bisa kupastikan untuknya, aku cukup bahagia saat ini. Romi Entah berapa kali aku mengucapkan rasa syukurku di dalam hati. Yang aku khawatirkan tidak terjadi. Rani tak ke mana-mana sampai akhirnya aku berhasil mengucapkan akad sakral atas namanya, aku tahu dengan terucapnya akad itu, artinya semua tanggung jawab akan dirinya baik di dunia maupun akhirat, berpindah sepenuhnya padaku. Aku adalah seorang suami dan seorang imam saat ini. Aku sadar, ilmu agama dan keimananku masih jauh dari kata baik, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya, membimbingnya dunia dan akhirat. Kami akan sama-sama belajar. "Terima kasih Ran, aku sayang kamu," ucapku, berbisik pelan setelah kucium keningnya. Rani terlihat salah tingkah saat ini, bisa jadi karena ungkapan sayangku atau karena gugup, kami diperhatikan banyak orang. Setelah menjalani prosesi akad nikah dan serangkaian kegiatan lainnya seperti penandatanganan buku nikah dan berfoto-foto, kami kembali harus berganti pakaian. Rani kini lebih cantik dengan gaun pilihan mama, aku tak salah pilih istri, Rani memang cantik dan pantas untuk kugandeng ke mana-mana. Kini kami berdiri di pelaminan, tubuhnya yang mungil menjadi sedikit lebih tinggi karena high heels yang dipakainya, dan yang membuat aku senang adalah Rani yang tak melepaskan tangannya dari lenganku, dia terus menggandengku tanpa melepas sedikitpun. Banyak ucapan selamat yang aku terima dari teman-teman kuliahku, rekan-rekan bisnis dan semua kerabat mereka menyalami kami berdua. Awalnya, semuanya berjalan baik-baik saja. Rani tak henti tersenyum ramah saat menyambut teman-temanku, tapi seketika aku melihat raut wajahnya yang berubah. Ku cari tahu sebabnya, ternyata mantan pacar sialannya itu hadir bersama Clara, istrinya. Ya, kupikir dia tak berani dan tak punya nyali menghadiri pesta ini, tapi ternyata kuakui mental Arka lebih kuat dari yang ku kira. Menyadari kehadiran mereka, dengan sengaja kurengkuh pinggang Rani dengan mesra, ku tatap wajahnya dengan lembut dan sesekali ku cium pipinya. "Kak, malu ih. Kita masih dilihatin banyak orang!" Protes Rani saat kucium pipinya. "Jadi nanti, kalau kita udah di kamar dan cuma ada kita berdua, boleh kan?" Sengaja kugoda Rani agar dia tidak gugup dan canggung karena kehadiran sang mantan. Dia mengangguk malu-malu. Aku dibolehkan? Artinya aku boleh menyentuhnya lebih dari sekadar kecupan. "Kalau lebih dari cium pipi, boleh?" Tanyaku lagi, dengan bisikan dan bersamaan dengan kedua tanganku mengerat di pinggangnya. "Boleh nggak ya?" Gantian Rani yang kini menggodaku. "Ehm, ehm." Kami berdua menoleh saat mendengar deheman seseorang. Saking asyiknya kami mengobrol, sampai tak menyadari kehadiran seseorang yang mendekat ke arah di mana kami berdiri. "Hai Clara," sapaku pada Clara, sepupuku. Kulihat sekilas wajah Rani, yang kian menegang karena kehadiran wanita itu. Clara, sepupu sekaligus istri sah Arka. "Nggak nyangka ya. Gue mau ngucapin makasih banyak sama lo Romi. Lo udah nyelamatin rumah tangga gue, ya ampun terharu banget deh dengan keberanian lo nikahin dia," sindir Clara. Aku tersenyum tipis menanggapi ucapan Clara yang jelas-jelas sedang menyindir Rani karena Rani sempat tergoda menjadi simpanan Arka selama menjadi pembantu di rumah mereka. "Rani pantas bahagia setelah patah hati, gue yang bakalan menyembuhkan lukanya, setelah pacarnya berhianat," balasku. Clara hanya mengangkat bahunya. "Whatever, selamat atas pernikahan kalian, dan pastikan kamu lupain Arka!" Kini tatapan Clara tampak menajam ke arah Rani. "Pastikan juga, jaga suami lo supaya nggak ngejar-ngejar Rani lagi," jawabku, tentu saja aku membela Rani istriku. "Karena kalau sampai itu terjadi, gue nggak segan bikin perhitungan." Jelasku padanya. "Akan gue jaga dan gue pastikan, dia nggak bakalan ke mana-mana karena sebentar lagi, di sini akan ada calon anak kami." Clara mengusap perutnya dengan percaya diri. Rani sedari tadi hanya diam, seperti orang kebingungan, dan setelah ini aku akan menenangkannya. "Selamat Clara!" Ujarku, berharap dia segera menjauh dari kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD