Meragukan Rani

1134 Words
Rani POV Benar dugaanku, entah mengapa firasatku tidak enak saat Kak Romi berpamitan padaku ingin menemui Arka. Pasti akan terjadi hal-hal mengerikan, sebab aku sudah mengenal Arka selama bertahun-tahun. Sifat emosiannya tentu masih melekat padanya. Arka lelaki ceroboh, suka bertindak tanpa berpikir padahal dia adalah lelaki yang pintar. Entahlah, saat ini aku hanya mengkhawatirkan Kak Romi. Aku baru saja mendapat kabar bahwa dia terlibat pertikaian di sebuah club malam dan mengakibatkan kepalanya terluka karena botol minuman. Tanpa mengganti piyamaku, aku langsung bergegas pergi menuju rumah sakit di mana Kak Romi sedang dirawat. Di sebelahku ada mama, yang terus-terusan menangis mengkhawatirkan Kak Romi. Sedangkan aku hanya diam, merasa bersalah. Karena ini semua memang salahku. "Maafkan Rani, Ma." Ku ambil satu tangan calon mertuaku itu, ku genggam lembut dan aku terus menatap ke arahnya. Aku tahu bagaimana rasa pilunya mendengar anak semata wayang terluka dan harus dirawat di rumah sakit. "Bukan salah kamu," jawab mama. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arahku. "Mama udah ingatin Romi, supaya mengabaikan aja apapun yang akan menghambat pernikahan kalian. Ya seperti ini contohnya." "Ma, kita berdo'a semoga Kak Romi baik-baik aja, ya?" Meski aku tidak menangis seperti yang dilakukan mama, tapi kini aku cukup khawatir dan gelisah. Perjalanan malam ini pun terasa lambat sekali, padahal jarak dari rumah ke rumah sakit kata sopir yang mengantar kami, tidaklah terlalu jauh. "Aamiin," sahutku, dan tetap masih menggenggam tangan mama. Aku dan mama bisa bernapas lega, saat pemandangan yang pertama kulihat ketika memasuki ruangan tempat Kak Romi dirawat adalah dia yang sedang duduk bersandar, dengan kepalanya yang masih di balut perban. "Kamu itu udah berapa kali mama ingatkan! Itulah kenapa calon pengantin harus dipingit, nggak dengar sih kata orang tua." Tak ada lagi tangis dari mama untuknya, yang ada hanya omelan dan disambut tawa oleh Kam Romi. "Aku nggak apa-apa Ma. Biasa kalau laki-laki sejati menyelesaikan masalah dengan kekerasan," ucapnya santai sekali. Aku hanya diam sambil menatapnya, dan aku masih berdiri di belakang mama tanpa berani maju karena dia sedang diomeli mama. Aku juga mengalah pada mama, yang pasti sangat mengkhawatirkannya. Kak Romi terlihat menatap ke arahku sambil tersenyum. Aku tak kuasa membalas senyum itu. Dia memanggilku dengan gerakan tangannya. Ekspresiku kini pasti sulit ditebaknya, antara merasa bersalah dan marah padanya karena aku juga sudah mengingatkan berulang kali bahwa dia harus berhati-hati. Entah berapa kali aku mengingatkannya, sama halnya seperti mama. Aku mengayunkan dua langkahku agar lebih mendekat kepadanya. "Kamu nggak ikutan ngomel?" Dia terkekeh. Sesekali wajahnya tampak meringis seperti menahan sakit. Aku masih diam menahan geram, orang-orang sudah pada panik, sedangkan yang dikhawatirkan justru masih santai tanpa beban. "Atau kamu nggak khawatir sama sekali?" Tanyanya lagi. Aku menggeleng. "Udah aku bilang jangan sampai berantem sama Arka!" Cetusku. Dia meraih jemari tanganku, digenggamnya pelan. "It's okay Ran, aku nggak apa-apa. Demi kamu, aku begini demi kamu." "Tapi akhirnya kakak terluka." Tanganku terulur untuk mengusap pipinya, tak peduli ada mama di sana. Percayalah, interaksi kami saat ini seperti sepasang kekasih yang sudah lama jadian, padahal kami baru mengenal beberapa hari lalu. Romi POV Aku menatap gemas pada wanita yang sedang menatap iba ke arahku. Ya, aku yakin itu adalah tatapan iba. Dia tampak lucu dengan piyama tidur yang dikenakannya. Rani melangkah malu-malu ketika aku memanggilnya, ku raih jemarinya. Apa yang terjadi padaku saat ini, ku lakukan ini semua demi dia. Aku tak sudi mantan kekasihnya itu jelas-jelas masih ingin merebutnya dariku, yang benar saja. "Ini bukan masalah Ran, kepalaku yang terluka, aku masih sanggup menahannya, asal jangan hatiku," ucapku, lalu kusambut tangannya yang sedang membelai pipiku. Lalu ku kecup tanpa malu meski ada mama. "Gimana sih Kak? Kan tiga hari lagi, kita-" "Ssst… apa yang terjadi padaku sekarang, nggak akan menunda pernikahan kita, Ran. Aku tau kamu nggak sabar, tapi jangan terlalu kelihatan seperti ini. Aduh-" aku meringis, saat kalimat gombalan itu keluar dari mulutku, Rani mencubit lenganku. "Sakit, Ran." Aku mengeluh, padahal cubitannya tidak terlalu sakit, aku hanya berpura-pura. "Maaf Kak," ucapnya merasa bersalah pastinya. "Cubit aja Ran, mama juga kesal sama dia." Timpal mama. "Apa dokter udah memastikan nggak ada serpihan kaca yang tertinggal di kepalamu?" Aku tak mengerti pertanyaan mama ini, karena masih kesal atau khawatir? "Nggak ada Ma, lukanya nggak terlalu dalam, tapi pendarahannya lumayan banyak-" "Udah, udah. Mama nggak mau dengar apapun." Mama benar-benar tampak kecewa, dan memilih keluar dari ruangan. Aku tahu aku sudah dewasa, bukan anak kecil dan manja lagi seperti dua puluh tahun silam, tapi terkadang mama memang memeprlakukanku seperti anak kecil yang belum bisa memutuskan mana yang baik atau tidak. Sebagai lelaki, aku hanya ingin mempertahankan apa yang memang seharusnya aku miliki, dan Arka telah membuang sesuatu yang sangat berharga, maka aku siap menampungnya. Kini aku kembali beralih pada Rani, aku bergeser sedikit, agar sisi di sebelahku lebih lebar dan aku menepuk tepian ranjang meminta Rani naik dan duduk di sebelahku. "Kemarilah!" Titahku. Ada sesuatu yang kutangkap dari tatapan dan kegelisahan Rani. "Tanyakan apa yang mau kamu tanyakan," ucapku, aku mencoba menjadi seseorang yang pengertian, yang hanya bisa membaca sorot matanya. "Ya?" Rani terlihat bingung. "Maksud Kakak?" "Ehm." Aku berdehem, jujur saja enggan sekali membahas ini. Tapi aku tahu apa yang ada di dalam pikiran Rani saat ini. "Kamu udah melihat keadaanku seperti ini Ran, apa kamu penasaran dengan keadaan Arka?" Bukan tanpa alasan aku bertanya, mungkin saja Rani mengkhawatirkan mantan kekasihnya yang laknat itu. Dia menggeleng. "Aku nggak peduli, Kak. Yang aku khawatirkan cuma Kak Romi," jawabnya. Aku tahu dia gugup aku yakin itu, mungkin karena dugaanku langsung benar. "Dia nggak apa-apa, nggak luka sediktpun kecuali hatinya." Aku tertawa gemas melihat gugupnya Rani. "Lantas, kenapa Kak Romi bisa sampai begini?" "Urusan laki-laki. Naiklah kemari!" Aku masih memintanya naik dan duduk di atas ranjang yang aku tempati. Rani tampak menurut, dia sedikit kesusahan menaiki ranjang itu karena tubuhnya yang mungil. Ku raih lengannya untuk membantu. "Kapan Kakak dibolehin pulang sama dokter?" Kini Rani sudah duduk di sebelahku, dengan kedua kakinya berselonjor di atas selimut yang kukenakan. "Besok, aku juga nggak mau lama-lama di sini," jawabku. Rani tersenyum lega. "Syukurlah Kak." "Aku belum tenang Ran, kalau hari itu belum tiba." Aku mencoba mengungkapkan kekhawatiran yang menerpaku. "Aku belum tenang kalau kita belum sah," lanjutku lagi. "Beberapa hari lagi Kak-" "Bahkan ada mempelai wanita yang membatalkan pernikahan di hari H, karena belum move on dari mantan." Tegasku. Rani menghela napas berat. "Apa yang Kak Romi khawatirkan? Bahkan sekarang aku ada di sebelah kamu…" lirih Rani. "Ragamu memang di sini, aku bisa melihatnya, tapi aku nggak tau tentang hati dan jiwamu," ucapku miris. Katakanlah aku memang seperti lelaki lemah dan cukup pengecut saat ini, padahal aku bisa menaklukkan banyak wanita dengan pesona dan silaunya harta yang aku miliki. Tapi Rani, mengapa aku lemah di hadapannya dan begitu takut tak bisa mendapatkan cintanya? Rani sendiri terdiam, terlihat dia tak bisa menjawab dengan yakin apa yang aku tegaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD