Pertikaian Di Club Malam

901 Words
Romi Aku melangkah dengan tergesa-gesa, karena harus pergi ke sebuah club malam untuk menemui Arka. aku ingin Rani selesai dengan masa lalunya, tanpa mengganggu rumah tangga kami nantinya. Selesai dari urusan fitting gaun dan membicarakan konsep pernikahan bersama pihak WO, aku kembali ke kantor karena ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Setelahnya, aku pulang ke rumah untuk bersiap. “Kak Romi!” aku terlonjak kaget mendengar suara itu, baru beberapa langkah aku berjalan menuju garasi mobil, aku mendapati Rani sedang berdiri di bawah cahaya remang-remang, sembari membawa sebuah kotak hadiah. Dia langsung menemuiku karena dia tidak bisa menghubungiku, sebab ponselnya sedang kusita, sampai aku membelikannya yang baru malam ini. Aku tak sudi Rani masih berkomunikasi dengan Arka, apalagi jelas-jelas Rani mengakui jika ponsel yang dipakainya selama ini adalah pemberian Arka. Aku tak ingin Rani masih terbelenggu di dalam kenangan bersama mantannya itu. “Ya? kamu ngapain di sini, malam-malam?” aku menghampiri wanita yang sudah mengenakan piyama tidur itu. Baru kali ini, aku melihat Rani memakai baju tidur, wajah polosnya tanpa polesan make up sedikitpun, masih terlihat sangat cantik. “Kakak jadi ketemu dengan Mas Arka?” tanya Rani dengan tatapan khawatir. Aku mengangguk pasti tanpa ragu. Jangan katakan, dia ingin ikut denganku. Tidak, tentu aku takkan mengizinkannya. “Kenapa? ini udah malam, Ran. Ada baiknya kamu istirahat,” jawabku sambil mengusap kepalanya. “Kalau jadi, aku mau titip ini Kak.” Dia menyodorkan gift box itu dari tanganku. Aku meraihnya tanpa ragu, aku sangat ingat ini adalah perhiasan mewah yang sempat Arka berikan padanya, dan terus saja menawarkan Rani untuk menjadi simpanannya. Dasar cowok nggak gentle. “Hanya ini, kan?” tanyaku lalu menutup box itu. Rani mengangguk yakin. “Ya Kak, nggak ada yang lain-lain.” dapat ku lihat wajahnya sangat sendu malam ini. Apa dia masih menyimpan rasa, rindu atau sejenisnya terhadap lelaki berengsek itu? “Nggak nitip salam rindu, kan?” tentu saja aku hanya bercanda, agar bisa menghiburnya. Aku bisa gila jika Rani sampai benar-benar melakukannya, menitip salam rindu pada mantannya itu. “Dih, nggak penting banget, Kak!” dia menolak mentah-mentah tawaranku. aku terkekeh, mengusap pipinya gemas. Entah mengapa tanganku selalu tak bisa tinggal diam setiap kali berbicara dengannya. Selalu ingin menyentuhnya, entah itu usapan di kepala, pipi, atau menggenggam tangan. Tentu saja saat ini aku hanya mampu melakukan sebatas itu. “Oke, aku pergi dulu ya, doakan aku-” “Kak, tolong jangan berantem, jangan baku hantam.” Rani menarik lengan kemejaku, sambil menatapku dengan tatapan memohon. Aku menunduk, untuk menseajarkan tatapanku dengannya, lalu kuarahkan bibirku tepat di telinganya. “Akan aku usahakan, tapi kupastikan aku nggak akan kalah dari Arka,” bisikku menggoda. “Ingat pernikahan kita tiga hari lagi, Kak!” sentaknya. “Ya, aku selalu ingat Ran, bahkan aku juga nggak sabar rasanya, tiga hari bagaikan tiga tahun," jawabku, kembali menggodanya. Rani tampak tersipu malu, "Hati-hati, Kak. Jangan pulang terlalu malam," ucapnya tanpa merespon gombalanku barusan. "Iya, masuklah ke dalam." Titahku padanya. Setelah kupastikan Rani benar-benar masuk ke dalam rumah, barulah aku menuju mobil dan melajukan dengan cepat, seakan tak sabar untuk bertemu dengan Arka. * Aku menuruti kemauan Arka yang meminta kami bertemu di sebuah club malam. Dia terlihat sedang meneguk minuman yang baru saja dituangkan oleh bartender di hadapannya. Aku tersenyum menang, lihatlah belum apa-apa, dia sudah kalah. "Udah berapa gelas?" Tanyaku padanya, sangat santai seakan tak ada apapun yang akan terjadi pada kami. Aku dan Arka saling mengenal sejak dia resmi menjadi suami dari sepupuku. Pernikahan mereka digelar sangat mewah, seakan ingin memperlihatkan bahwa Arka dan Clara adalah pasangan yang bahagia. Tanpa aku tahu, ternyata lelaki ini mengaku pada Rani, hanya terpaksa menikahi Clara. Apapun itu, semuanya sudah terjadi dan dia tak berhak mengejar Rani hanya untuk memenuhi keegoisannya. "Ada apa? To the point aja, di mana Rani? Kenapa lo sembunyikan dia dari gue? Kenapa lo ikut campur urusan gue dan Rani?" Dia menyodorkan kepadaku pertanyaan bertubi-tubi tanpa jeda, jika kulihat dari keadaannya, sepertinya dia sangat frustasi. "Rani ada di rumah gue." Aku tetap menjawab santai, "Gue nggak ikut campur dan nggak pernah mau tau, apapun itu tentang masa lalu kalian, gue hanya perlu menata masa depan bersama Rani-" Bugh. Sebuah pukulan kuat melayang tepat mengenai wajahku, kurasa perih dan nyeri di bagian sudut bibirku. Lelaki mabuk ini, menyerangku duluan. Ku lakukan hal yang sama padanya, toh dia yang memulainya, kan? Ku tarik kerah baju Arka, "seharusnya lo sadar diri, lo bersyukur bisa dapat istri sekaya Clara yang bisa mengubah hidup lo sekarang, karena lo cuma cowok miskin yang berasal dari kampung, sadar diri!" Sentakku lalu mendorongnya kuat hingga dia terjengkang bersamaan dengan kursi bar yang didudukinya. Lantas, aku berbalik meninggalkannya. Ku usap sudut bibirku yang masih berdarah perih, ku tinggalkan lelaki pengecut ini. Andai aku menuruti pinta Rani, untuk tidak bertengkar, pasti semua ini takkan terjadi. Tapi, Arka duluan yang memulainya. Aku hanya ingin bicara baik-baik dari hati ke hati, bahwa aku akan mempersunting dan menjaga Rani, dengan harapan Arka akan mengikhlaskannya. Tapi ternyata dia justru mengandalkan emosinya, dasar kampungan! Aku mengumpat. Dan… "Aarrgghh!!" Sebuah benda tajam berhamburan tepat mengenai kepalaku, "Oh s**t!" Umpatku, tak kusangka malam ini akan menjadi malam petaka untukku. Sambil memegangi kepalaku yang cukup sakit dan perih, aku menoleh ke belakang kupastikan itu adalah perbuatan Arka yang memukul kepalaku dengan botol minuman, dan belum sempat aku membalasnya kembali, tiba-tiba pandanganku kabur. Aku seakan tak mampu mengayunkan langkah, tubuhku melemah tak berdaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD