“Udahlah Nay, bersedih itu secukupnya,” ucap Nayna pada dirinya sendiri di depan cermin. Sudah cukup bagi Nayna membatasi diri dari dunia luar selama seminggu ini. “Aku yakin kak Gibran juga udah bisa move on.” Nayna menyisir rambut panjangnya yang hitam dan tebal. Tiba-tiba sisirnya tertahan di tengah rambut, dia teringat saat Gibran bilang, ‘rambut kamu kenapa nggak pernah diiket?’ Nayna menghela napas. Hatinya kembali berdesir. Senyum tipisnya kembali terukir. Nayna sudah ikhlas, dia akan selalu menyimpan kenangan indahnya bersama Gibran dalam hatinya. Tak ada rasa kecewa dalam dirinya untuk Gibran. Baginya dekat dengan Gibran adalah hadiah terindah dari Tuhan. Nayna berlari kecil. Hangatnya mentari mengajaknya untuk menari. Dia tidak ingin lama-lama menyendiri. Ada banyak hal yang ha

