Nayna berjalan pelan sembari menyeret koper. Dia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, demi sebuah keinginan dan harapan. Nayna tahu ide konyolnya tak diterima begitu saja oleh anggota keluarganya, namun tekad sudah kuat, keputusan sudah bulat, kini dia menyamar jadi sosok Ayra. Satu unit indekos sudah dia pesan untuk beberapa bulan kedepan.
“Sebenarnya mama nggak setuju dengan keputusanmu itu.” Nova menunjukkan ekspresi tidak sukanya. Walaupun Nayna mengatakan akan menanggung segala akibatnya sendiri, tapi tetap saja ada kekhawatiran, apalagi setelah mendengar penjelasan Aksa.
“Iya.” Setelah semalam terjadi perdebatan dengan orang tua dan juga Aksa tentang ide gilanya. Tapi, akhirnya dia berhasil meyakinkan mereka, meski tak seratus persen. Aksa melipat kedua tangannya di bawah d*da. Dia yang paling menentang ide gila adiknya itu.
“Kasih aku waktu.”
“Ya udah iya, mama sama papa izinin kamu,” cakap Aydan sembari mengusap puncak kepala Nayna. Dia yakin anaknya bisa menjaga diri dan membedakan mana yang baik dan mana yang benar.
“Pa, mama belum kasih izin,” sergah Nova.
“Udah, izinin aja, lagian tujuan dia bagus, buat mencari ilmu baru, iya, ‘kan?”
Nayna tersenyum, “Makasih, Pa.” Dia tahu cuma ayahnya yang sejak semalam mendukung keputusannya.
“Ya udah deh, dengan berat hati,” tutur wanita berjilbab itu, yang langsung mendapat pelukan hangat dari Nayna. “Mama doakan aku ya, semoga semuanya lancar.”
“Iya, sayang.” Nova mengusap lembut punggung Nayna.
Nayna menatap Aksa. “Bang.” Nayna memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Aksa mengernyit sebelum akhirnya dia memeluk Nayna. “Jaga nama baik gue ya, Dek”
“Tenang aja, tujuan aku jelas kok”
“Ya udah kalau gitu gue doain, semoga si Gibran nerima elu dan mau bantuin elu sampai tugas akhir lu beres.”
“Aamiin, makasih ya.”
***
Nayna kembali ke Galeri dengan penampilan barunya. Senyum merekah dan rasa percaya diri terlihat jelas. Kemantapan hati akan semua tindakan sudah dia pikirkan dengan matang.
“Kartu mahasiswanya, Dek,” pinta pria berseragam putih.
“Hilang, pak. terbakar waktu rumah saya kebakaran, sekarang sedang diproses kampus untuk bikin yang baru, tapi saya punya surat rekomendasi dari kampus untuk datang ke galeri ini.” Kemarin Nayna meminta surat tersebut dari Rektor kampusnya.
Pria berkumis tebal itu mengangguk.
“Silahkan masuk.” Dia membuka pintu galeri dengan ramah.
“Berikan surat itu pada mas Gibran,” lanjutnya.
Nayna mengangguk. Langkah kaki mengiringinya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh galeri. Jantungnya berdebar tak karuan, rasa gugup yang wajar, karena di lubuk hati ada sebuah ketakutan, jika Gibran tidak menerimanya lagi. Pandangannya menyapu seluruh Galeri, mencari wanita dengan perut menyembul ke depan.
“Pasti cari saya.” Tiba-tiba Anya sudah berdiri di depannya.
Nayna tersenyum ramah sembari mengangguk, lalu memberikan amplop dengan logo kampus Galaksi kepadanya.
Anya menatap lekat gadis di depannya itu. Suaranya, bahkan senyumnya tidak asing di mata Anya. Namun, baru kali ini dia bertemu dengannya. Nayna segera tertunduk saat mendapat tatapan yang menelisik penampilannya, dia beberapa kali memasahi tenggorokannya, sungguh dia takut kalau Anya akan tahu siapa dirinya.
“OKe, Ayo saya antar kamu ke ruangan Gibran.”
Nayna menghela napas. Kini dia bisa bernapas lega karena sepertinya Anya tidak curiga terhadapnya. Maka dia pun segera mengangguk sembari mengikuti wanita hamil itu.
Setelah beberapa detik Anya berbicara di dalam kepada Gibran, akhirnya Anya meminta Nayna untuk masuk.
Bismillah, ya Allah jaga jantung Nayna agar tidak jatuh di sini, batinnya.
Nayna menormalkan debaran jantungnya, Untuk kali ini, kabulkanlah do’a bang Aksa ya Allah, batinnya lagi. Pintu diketuknya dengan perlahan, “Permisi kak.” Dia mengangguk ramah.
Gibran belum mengangkat wajah, dia masih sibuk membaca surat rekomendasi dari kampus Nayna. Sementara Nayna semakin tidak karuan, berulang kali dia menarik napas dan mengeluarkannya perlahan.
Cukup lama Gibran menatap sneakers putih milik Nayna. Tarikan napasnya panjang sebelum pandangannya menyapu ke atas. Dia kembali bernapas saat menatap kaki jenjang Nayna yang dibalut jeans robek berwarna biru, ujung cardigan menjuntai di seperempat betisnya, melengkapi kaos longgar v neck tanpa lengan yang dikenakannya.
Nayna menggaruk tengkuk lehernya, berharap Gibran tidak bereaksi seperti saat mereka beradu pandang di pertemuan pertama yang menyebabkan pria 27 tahun itu pingsan.
“Kalung etnik kamu bagus,” ucapnya sebagai pembuka perkenalan.
Nayna mengernyit, dia merasa heran karena sikap aneh Gibran. Tapi, dia tak terlalu memikirkan hal yang tak perlu. Dia merasa lega, karena reaksi Gibran biasa saja usai menatap wajahnya. Dia berhasil membuat semua orang tidak mengenalinya, sebuah kacamata semi kotak sangat cocok dengan bentuk wajahnya yang oval, bertengger menutupi kelopak mata yang sebelumnya telah dibuat sedikit gelap, seperti orang yang kekurangan tidur, dan itu berhasil memberi efek kusam pada kulit wajahnya. Tak hanya itu, tahi lalat yang cukup besar menempel di pipi kirinya, begitupun di dagunya. Alisnya kini terlihat tebal dengan ditambahkan alis palsu di atas alisnya yang tipis, belum lagi kawat gigi yang menempel di gigi rapinya sebagai penyempurna penyamarannya. Nayna beruntung memiliki sepupu seperti Dinda, karena dengan bantuannya kini dia bisa diterima Gibran, walaupun belum pasti, namun setidaknya Gibran tidak menampakan reaksi berlebih setelah melihatnya.
“Saya Ayra, Kak,” ucapnya ramah.
Pria berahang kokoh itu mengangguk, namun tak diiringi senyuman sedikitpun, tapi Nayna tak pedulikan itu. “Kakak sudah baca surat dari kampus saya?”
pria itu kembali mengangguk. Nayna kemudian menarik napas dalam, dan mengembuskannya perlahan.
“Jadi, gimana kak? Kakak mau kan bantu saya?” tanya Nayna hati-hati.
“Ya, saya akan bantu,” ucap Gibran sembari meletakkan kertas tersebut, kemudian mengarahkan pandangannya pada wanita yang mengaku sebagai Ayra.
“Apa saya bisa mulai hari ini, kak? soalnya deadline saya sudah dekat.”
“Boleh, apa kamu sudah punya konsepnya?”
“Sudah kak.”
“Mana saya lihat.” Telapak tangan Gibran terbuka. Sungguh Nayna sangat gugup melihatnya seperti ini. GIbran begitu ramah
Nayna mengambil proposalnya dalam drawstring bag dan memberikannya pada pria bergaya rambut pompadour fade itu.
Alis Gibran mengernyit. “Kamu menulis konsep kamu dengan gaya seperti ini?”
“Maaf kak, sebenarnya saya memang belum menyiapkannya seratus persen karena saya masih harus mencari konsep yang tepat.”
Gibran menarik napas. Namun, Nayna dapat mendengar kata “Oke” dari mulut Gibran diiringi napas yang berat. Seketika pupil mata Nayna membesar, dia kemudian tersenyum lebar. “Makasih kak.”
“Kalau kamu cocok kamu bisa ambil Conceptual Art dalam Karya Seni Lukis Anak.”
Kekaguman pada sosok Gibran tak dapat disembunyikan Nayna, tergambar jelas di wajah gadis berlesung pipit itu. “Siap kak saya cocok.”
Gibran menatap wanita itu sembari mengangkat alis.
Nayna tampak semakin gugup. Dia pun berdehem. “Mmmm ... itu menggambarkan konsep saya secara keseluruhan, walaupun mungkin nanti saya harus mencari media lain untuk merealisasikannya.”
“Media apa? Kamu bisa menyelesaikannya di sini.”
“Maksud kakak?” Nayna mengernyit.
GIbran bangkit, dia kemudian berjalan ke luar dari ruangannya. Tanpa banyak bertanya, Nayna segera mengikuti Gibran saat pria itu melewatinya. Gibran membawanya ke salah satu ruangan terbuka dengan aksen hijau-hijau dan taman kecil dibelakang galeri. Tangannya menunjuk beberapa anak yang sedang melukis di sana.
Nayna membuka mata lebar-lebar mulutnya sedikit terbuka, “Waaaww."
“Ini conceptual art," ucap Gibran.
"Ini beneran keren, Kak.”
Gibran tak menghiraukan pujian atau apapunlah yang baru saja ke luar dari mulut wanita dengan gigi berbehel itu. “Mau masuk?” tanyanya, ketika melihat Nayna hanya mematung di depan pintu.
Nayna mengangguk. “Tapi tunggu.” Tangannya mengambang di udara. “Kenapa kakak mau bantu saya? padahal saya tidak bisa memberi imbalan apapun pada kakak.” Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas begitu saja di benak Nayna..
Gibran tersenyum kaku dan Nayna kesulitan mengartikan senyum pria berkemeja biru pastel itu. “Kalau saya bisa bantu semua orang tanpa ada tekanan dalam diri saya, pasti saya akan bantu, karena saya juga ingin bermanfaat untuk orang lain,” tutur GIbran.
Nayna mengangguk paham. Seandainya dia bisa membantu Nayna tanpa Nayna harus menjadi orang lain seperti ini, tapi Nayna sadar jika itu tidak mungkin terjadi. Nayna menarik napas dalam. Mengayunkan kaki mengikutinya masuk ke dalam ruangan terbuka itu. Dia dapat melihat ada sekitar sepuluh anak yang berbeda-beda usia sedang belajar seni di bantu Ayna.
“Kenapa cuma anak kecil yang belajar seni di sini?” Nayna sudah memiliki jawaban sendiri atas pertanyaan tersebut, namun dia ingin mendengarnya langsung dari pemilik galeri ini.
“Saya suka, karena anak-anak mudah diarahkan.”
Nayna hanya mengangguk, dia yakin jawaban Gibran masih menggantung, sehingga dia menunggu kelanjutan dari perkataan GIbran, namun Gibran malah fokus pada anak-anak.
“Selamat pagi Anak-anak …,” sapaannya membuat anak-anak menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahnya.
“Kakak punya teman baru loh. Mau kenalan nggak?”
Nayna tersenyum malu-malu, dia menatap Gibran yang sedang tersenyum pada anak-anak.
“Mau kak,” teriak anak-anak bersamaan.
“Kenalin, ini kak Ayra mahasiswi Universitas Seni Galaksi, yang akan membantu kakak untuk mengajarkan seni pada kalian semua,” ucap Gibran ramah.
“Hallo anak-anak hebat … Nama kakak Ayra Farhana.” Sungguh akting Nayna benar-benar baik sekali, sehingga Anya pun tak mengenalinya dan hanya menaruh rasa kalau dia pernah melihat senyum dan mendengar suara itu.
“Hallo kak Ayra ….” Senyum tulus mereka membuat Nayna merasa diakui.
“Kalian senang nggak bisa belajar seni di sini?”
“Senang kak,” teriak mereka bersamaan sehingga membuat suasana menjadi riuh.
“Kalian beruntung ya, bisa diajarin seni, langsung oleh masternya, pasti diluaran sana banyak loh yang mau diajarin langsung sama kak Gibran, hanya saja tidak seberuntung kalian.”
“Iya kak.” Mereka kembali bersahutan.
“Sebenarnya kak Gibran salah, kakak kesini bukan untuk mengajari kalian justru kakak yang mau belajar dari kalian. Kalian mau nggak ngajarin kakak?”
Hening ….
Seketika mereka terdiam dan saling tengok.
Nayna tetap tersenyum mencoba menyembunyikan rasa kecewanya. Namun, satu anak berdiri dan berhasil membesarkan hatinya.
“Kita bisa belajar bareng kok kak dari kak Gibran, Acha yakin kak Gibran mau ngajarin kakak, dia kan baik,” suara cemprengnya menarik perhatian seisi ruangan.
“Hey.” Nayna mendekat lalu berjongkok, dia menyeimbangkan tubuhnya dengan tubuh kecil Acha. “Jadi nama kamu Acha, umur kamu berapa?” Nayna mengusap puncak kepalanya.
“Delapan tahun, ‘kak.”
“Waah … salam kenal ya, cantik.” Nayna menyentuh hidung Acha dengan telunjuknya, membuat anak itu tersipu malu. Dia kemudian berdiri kembali dan berjalan mendekati Gibran. Dia tersenyum lalu mengangguk.
“Kakak tinggal dulu ya, kalian selesaikan dulu tugas dari kakak.”
“Baik kak.”
Nayna kembali mengikuti Gibran, tak lupa dia melambaikan tangan pada anak-anak itu..
“Bagaimana?”
“Iya, Kak.”
“Besok kamu boleh mulai, tapi sebelumnya kamu susun dulu konsep kamu dengan judul yang saya berikan tadi, cari referensinya dari mana saja, kamu juga bisa konsultasi dengan Dosen pembimbing kamu.”
“Iya Kak. Terima kasih untuk hari ini dan untuk ketersediaan kakak membantu saya.”
Gibran mengangguk.
“Kalau gitu saya pamit.”
“Besok datanglah lebih awal, jam tujuh kamu harus sudah ada di sini sebelum anak-anak datang.”
Nayna mengangguk, “Baik kak.”