Usai melakukan beberapa peregangan tubuh sebelum tidur, Nayna membaringkan tubuhnya di atas kasur, beberapa tarikan napas membuat lelahnya sedikit berkurang, otaknya sibuk memflashback kejadian satu hari penuh yang dia lalui untuk menyiapkan bahan skripsinya. Setelah Nayna keluar dari galeri, dia langsung ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya, juga mengunjungi beberapa tempat untuk mencari bahan referensi dan mempelajari konsep yang telah disepakatinya bersama Gibran. Tiba-tiba memori otaknya berhenti di sebuah kejadian saat Acha si anak kecil yang dua gigi depannya tanggal itu, mengucapkan satu kalimat yang berhasil membesarkan hati Nayna, sekilas bayangan wajah Gibran terbesit begitu saja dalam benaknya, dia tidak akan melupakan senyum itu. Nayna tak peduli entah itu senyum untu

