Nayna berjalan tergesa-gesa, kali ini dia datang lebih awal sebelum Gibran datang. Karena tak ingin dicap orang yang tidak disiplin, maka dia pun rela bangun lebih awal dari sebelumnya. “Pagi, Mbak,” sapa Nayna pada Anya yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan les lukis untuk anak-anak. “Pagi …,” ucap Anya sembari memegang kedua pelipisnya dengan satu tangan. “Astaga, Mbak Anya kenapa?” Nayna segera menangkap tubuh Anya yang hampir luruh ke lantai, lalu mengajaknya untuk duduk di kursi terdekat. “Minum dulu, Mbak.” Nayna membukakan botol mineral yang masih disegel. Namun dia sedikit kesulitan, “Kenapa ini susah sekali.” Giginya bergemeletuk, “Kenapa ini susah banget sih, lagi dibutuhin juga,” kesal Nayna. Satu tangan kekar terulur dan mengambil alih botol itu dari tangan Nayna. Membua

