Tak lama Aksa datang. Dia mengernyit melihat Nayna tertidur pulas dengan kepala yang berada di atas paha Gibran. “Nggak salah nih?” Mata tajamnya menyoroti Nayna dengan paha yang di umbar. Gibran menoleh. “Eh elu. Apa yang salah?” “Dari kemaren baju dia kayak gini?” tanya Aksa sembari mendaratkan bok*ngnya di sofa. “Nggak lah Men, ini pake baju gue, baru diganti barusan.” Gibran meletakkan buku di atas meja. “Kenapa lu nggak kasih yang gede aja sekalian? “Ini udah kegedean.” Gibran memarik ujung lengan baju Nayna. “Celananya maksud gue.” Aksa mendelik, tidak suka melihat Nayna memakai celana sependek itu. “Ini dia yang potong,” ucap Gibran. Kemudian tersenyum saat bi Sum, menyelimuti Nayna. “Makasih bi.” “Iya, Den." Bi Sum mengangguk ramah. "Bibi mau bikin kopi dulu buat ma

