Gibran kembali mencelupkan sapu tangan ke dalam baskom berisi air hangat, meremasnya dan meletakkannya di kening Nayna, hanya itu yang bisa dia lakukan. “Sayang?” Hatinya teriris melihat kekasih hati terkulai lemah di atas ranjang dengan suhu badan yang tak kunjung turun. Gibran kebingungan saat ponsel Nayna kembali berdering. Apalagi di layar ponsel menunjukan deretan huruf yang terangkai menjadi kata “Mama My hero” Gibran takut disebut pria b******k, apalagi waktu menunjukan pukul satu malam. “Apa yang akan dipikirkan mamanya jika aku mengangkat ponsel seorang gadis di tengah malam seperti ini?!” Gibran gelisah. Seumur hidupnya belum pernah dia merawat orang sakit seperti saat ini. “Mama hug me please,” lirih Nayna sembari meracau yang tak jelas. “Sayang? Ini kak Gibran.” Gibran

