"Dengar ya." Gibran menarik kedua tangan Nayna dan menatap gadis itu. "Cuma kamu satu-satunya cewek yang nggak bikin kak Gibran takut, tapi malah bikin kak Gibran bahagia. Ada disamping kamu membuat kak Gibran lupa kalau kak Gibran itu pasien. Bagi kak Gibran, kamu itu berbeda, kamu itu jelmaan bidadari yang bisa membuat kak Gibran merasa nyaman, senyaman-nyamannya." Nayna terharu, sampai air mata jatuh dengan indah dari sudut matanya. Ada rasa bahagia tapi ada rasa bersalah, hubungannya dengan Gibran terlalu beresiko, jika Gibran tahu siapa dirinya. "Kamu itu." Gibran mengusap sudut mata Nayna. "Cantik dari hati, lembut, pengertian, kak Gibran suka. Apalagi sorot mata kamu, yang selalu menyiratkan tentang cinta dan ketulusan." Nayna tertunduk. Dia benar-benar menangis. Gibran sege

