Za-ya-ng

1746 Words

Malam ini Nayna tak kembali ke tempat kosnya. Dia menikmati malam hujan bersama keluarganya. Keputusan Nayna tidak dapat diganggu gugat, Nayna tetap pada pendiriannya, apalagi kini dia mendapat dukungan penuh dari ibunya. Aksa menatapnya sinis, tapi Nayna acuh tak acuh, kebahagiaan dia hari ini tidak boleh ada bumbu apapun dari Aksa. Sudah hampir sebulan Nayna meninggalkan kamarnya, dia rindu tidur di kasur empuk, dengan selimut tebal dan lembut. Tiba-tiba ponsel keduanya berdering, dia tahu itu Telepon dari sang pujaan hati. “....” Nayna hanya mengangkatnya tanpa berbicara, seperti orang marah padahal hanya bingung harus memanggil Gibran dengan sebutan apa. [Ha-lo … za-ya-ng.] Suara bariton menyapa di seberang telepon. Nayna tertawa karena Gibran lebih terdengar seperti seorang anak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD