"Selamat malam tuan," sapa Marvel pada boss nya yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Dimana wanita itu. Dia tidak kabur kan?" tanya Jervan sambil berjalan memasuki rumah mewahnya diikuti Marvel dibelakangnya.
"Nyonya sedang berada dikamar nya,"
Saat sampai didepan tangga menuju kamar nya , Jervan berhenti. Pria itu berbalik badan menghadap Marvel yang masih berdiri dibelakangnya. "Besok pagi datang lah ke kantor WJ Company , katakan pada pradana kalau aku menunggunya di cafe breaxa pukul 12 siang,"
Marvel yang mendapat perintah itu langsung mengangguk patuh "Baik tuan,"
"Hmm kembalikan ke tempatmu,"
"Baik tuan , selamat malam," pamit Marvel sebelum akhirnya kembali ke paviliun.
Jervan kembali melanjutkan langkahnya naik ke lantai atas , lebih tepatnya menuju kamar nya. Pria itu ingin melihat apa yang sedang gadis tawanannya itu lakukan. Saat sudah masuk kedalam kamarnya, Jervan tidak menemukan Leona didalam kamar itu. Kemana gadis itu ? Apa dia berhasil kabur dari sini ?.
Hingga tak lama kemudian pria itu menoleh begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang baru saja terbuka. Gadis yang beberapa detik lalu ia cari kini berdiri tegang didepan pintu kamar mandi. Sepertinya dia baru saja selesai mandi , terlihat dari rambutnya yang masih sedikit basah.
Dengan pelan Jervan berjalan menghampiri nya. Hingga saat sudah tepat berada didepan Leona , dia mulai mengamati tubuh gadis itu dari atas hingga bawah. saat ini Leona hanya menggunakan jubah mandinya. Dia belum sempat mengganti pakaiannya karena lupa membawa pakaian gantinya.
Mendapat tatapan aneh dari Jervan lantas membuat Leona sedikit bergedik ngeri. Gadis itu memundurkan tubuhnya kebelakang untuk membuat jarak antar keduanya.
"Kenapa?" tanya Jervan menyadari raut ketakutan Leona.
"Kenapa kamu mundur ? Kamu takut ?"
"Stop! Jangan mendekat !" Teriak Leona saat Jervan hendak melangkah maju kearahnya.
"Kenapa ? Kenapa kamu terlihat takut seperti itu sayang ?" Jervan terus mengikis jarak antar keduanya membuat tubuh mereka sangat dekat sekarang.
"A-apa yang kamu lakukan ? Menying--,,akh,"
Tiba-tiba saja Jervan menahan kedua tangan Leona saat gadis itu hendak mendorong tubuhnya. Jervan tersenyum sinis sebelum kemudian mendekatkan wajahnya semakin dekat. Leona berusaha mati-matian menahan nafasnya saat merasakan hembusan nafas Jervan yang terasa sangat jelas di lehernya. Melihat ketegangan gadis didepannya membuat Jervan semakin menyimpulkan senyum nya sinis.
"Kamu tidak akan bisa kabur dari sini. Ingat , nyawa ibumu berada ditanganku," Bisik Jervan kemudian memundurkan badannya sedikit menjauh dari Leona.
"Menyingkirlah , aku ingin mandi. Oh iya , siapkan pakaianku," lanjutnya mendorong tubuh Leona untuk menjauh dari pintu kamar mandi.
,,,,,,,,,
Marvel tidak bisa berhenti tersenyum mendengar celotehan seseorang dari dalam ponselnya. Sudah lebih dari 30 menit pria itu betah mengobrol dengan seseorang disambungan tlp itu.
"Kak marvel kapan jemput aku?"
Pertanyaan yang baru saja terdengar di telinga nya itu mampu membuat senyum marvel seketika pudar. Sudah sangat sering pria itu mendapat pertanyaan yang sama dari orang yang sama juga.
"Kak! Kak marvel dengar aku kan ? Kak marvel masih disana kan?"
"Oh iya aku dengar. Maaf hana, aku belum bisa menjemputmu. Maafkan aku"
Terdengar suara helaan nafas dari sambungan tlp itu membuat marvel merasa sangat bersalah dan juga sedih..
"Aku janji akan secepatnya menjemputmu"
"Kapan ? Kak marvel sudah sering mengatakan itu tapi nyatanya sampai sekarang kakak tidak menjemputku"
"Maafkan aku hana. Aku masih sibuk bekerja ,aku janji aku akan secepatnya menjemputmu"
"Terserah kakak saja..mau menjemputku atau tidak aku tidak peduli!!"
Sambungan tlp itu tiba-tiba terputus begitu saja. Marvel menghembuskan nafasnya kasar , seseorang yang baru saja dia panggil dengan sebutan 'hana' itu adalah adik kandung nya. Hana adalah satu-satunya keluarga yang marvel punya karena Kedua orang tua mereka sudah lama meninggal. Selama ini hana tinggal bersama bibi nya di suatu desa terpencil didaerah Kalimantan.
Ditempat bibi nya , hana sering sekali diperlakukan tidak baik. Bibi nya selalu saja memperlakukannya seperti pembantu. Hana yang sudah tidak kuat terus mendesak kakaknya untuk menjemputnya dan Membawanya pergi dari rumah bibi nya namun sampai sekarang kakaknya itu tidak juga menjemputnya membuat hana marah dan juga kesal.
Bukan tanpa alasan kenapa marvel tidak kunjung menjemput adiknya itu. Dia belum siap memberitahu pekerjaan nya pada adiknya. Hana akan sangat terkejut saat mengetahui jika kakaknya bekerja sebagai tangan kanan seorang MAFIA. Marvel takut jika adiknya itu tidak menyukai pekerjaan nya atau lebih parahnya jika adiknya akan membencinya. Ditambah saat ini marvel masih tinggal di rumah jervan , tidak mungkin dia membawa hana untuk tinggal disini.
"Maafkan kakak han. kakak janji, kakak akan secepatnya menjemputmu. Kakak akan mengumpulkan uang untuk membeli rumah agar bisa kamu tinggali nantinya,"
,,,,,,,,,,
WJ Corp , 09.30 wib
Tok! Tok!
"Selamat pagi tuan. Ada yang ingin bertemu dengan tuan,"
"Siapa?"
"Tuan marvel. Dia bilang ada pesan dari tuan Jervan yang harus disampaikan pada tuan,"
Pradana mengerutkan keningnya bingung saat mengetahui jika orang suruhan musuh terbesarnya datang ke kantornya. Untuk apa jervan menyuruh orangnya untuk datang menemui nya ? Pikir pradana.
"Suruh masuk,"
"Baik tuan,"
Tidak lama kemudian Marvel masuk kedalam ruangannya. Pradana yang tadinya sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya langsung beranjak berdiri. Pria itu menyunggingkan senyum palsunya menyambut kedatangan orang suruhan dari musuh terbesarnyanya itu.
"Selamat pagi tuan pradana," sapa Marvel dengan sopan nya.
"Selamat pagi tuan marvel? Apa yang membuat seorang tangan kanan jervanos malvori datang ke kantorku ?"
"Saya diperintahkan tuan Jervan menyampaikan undangan makan siang untuk tuan pradana bersama dengan tuan Jervan di brexa cafe pukul 12 siang ini,"
"Undangan makan siang ? Kenapa tiba-tiba ?"
"Saya hanya diperintahkan untuk menyampaikan itu saja,"
Pradana mengangguk "Baiklah , saya akan usahakan datang. Sampaikan pada boss mu, terima kasih sudah ingin mengundangku untuk makan siang bersama,"
"Baik pesan anda akan saya sampaikan pada tuan Jervan. Kalau begitu saya permisi,"
Pradana hanya menganggunk sebelum akhirnya marvel melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
"Rencana apa lagi yang sedang dia rencanakan ?"
,,,,,,,,,
Leona baru saja selesai mengelilingi rumah mewah yang ia tinggali selama kurang lebih 2 minggu ini. Dia baru menyadari jika rumah ini benar-benar besar dan juga mewah. Ada begitu banyak fasilitas yang tersedia mulai dari kolam renang , mini bar , tempat karaoke , tempat golf dan masih banyak lagi.
Tidak hanya itu, ada begitu banyak ruangan rahasia yang tidak bisa ia buka sama sekali. Salah satu ruangan yang membuatnya penasaran adalah ruangan yang berada tidak jauh dari tempat dimana jalan menuju ruang bawah tanah tempat ia disekap beberapa waktu yang lalu.
Rasa penasaran yang besar membuat gadis itu ingin sekali masuk kedalam ruangan itu walaupun ia tahu sebesar apa usahanya untuk membuka pintu ruangan itu tidak akan berhasil.
"Ckkk memangnya ruangan apa sih ini ? Kenapa harus di kunci segala ?" gumamnya kesal.
Asal kalian tahu, Leona adalah tipe orang yang sangat kepo. Gadis itu suka sekali penasaran dengan hal yang baru pertama kali ia lihat. Dia akan berusaha sekeras mungkin untuk menuntaskan rasa penasaran nya.
"Sudahlah aku menyerah ! Lain kali aku akan mencobanya lagi,"
"Nyonya tidak akan bisa membuka nya,"
Hampir saja Leona terjatuh dari atas kursi yang ia naiki karena mendengar suara seseorang yang tiba-tiba datang. Dengan cepat gadis itu turun dari kursi tadi.
"Kamu ? Ngapain kamu disini ?" tanya Leona gugup.
"Seharusnya ak-- ah maksudnya saya yang seharusnya bertanya. Apa yang nyonya lakukan disini ?" tanya Marvel, orang yang baru saja mengejutkan nya.
"Aku ? Ah mm aku, aku hanya sedang berjalan-jalan saja. Hmm aku akan kembali ke rumah,"
Saat hendak pergi, marvel mencekal tangan Leona membuat gadis itu diam.
"Maaf, saya tidak bermaksud," ucap marvel melepas tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Leona.
"Hmm sebaiknya nyonya jangan pernah datang kesini lagi. Ini adalah ruangan yang sangat rahasia. Tuan jervan akan sangat marah jika tahu nyonya datang ketempat ini,"
"Sudah kubilang aku hanya jalan-jalan saja. Aku tidak sengaja istirahat disini karena lelah mengelilingi rumah ini," balas Leona yang masih berusaha menyangkal jika dirinya ingin masuk kedalam ruangan yang marvel bilang ruang rahasia itu.
"Saya hanya mengingatkan saja. Sebaiknya nyonya kembali kerumah sekarang. Perlu saya antar ?"
"Tidak ! Aku bisa sendiri," ucap Leona sebelum akhirnya pergi meninggalkan marvel yang masih berdiam diri disana.