Plak!!
Untuk kesekian kalinya tamparan keras itu mendarat sempurna di pipi mulus Leona. entah itu sudah tamparan keberapa yang jelas kondisi wajah serta tubuh gadis itu sudah dipenuhi luka-luka lebam.
Srek!
"Akh,"
Gadis itu kembali merintih sakit saat Jervan menarik kuat rambutnya. Rasa nya sangat menyakitkan , bahkan rambutnya mulai rontok akibat jambakan pria itu.
"Kenapa ? Sakit ? Iya ? Ini balasannya karena kamu sudah membohongiku dan juga kamu sudah berani kabur dari sini,"
Pria itu tersenyum smirk , tatapannya begitu menakutkan seperti psikopat yang tengah menjalankan aksinya. Sudah lebih dari 30 menit Leona disiksanya tanpa ampun. ini bahkan jauh lebih kejam daripada hukuman yang pernah Leona terima beberapa waktu lalu. Jika waktu itu jervan hanya mengurungnya sebentar di ruang bawah tanah serta memukul dan juga mengguyurnya dengan air , kini hukuman pria itu terlihat lebih kejam. Dia tidak segan memukul , menampar , menjambak bahkan melayangkan pecutan ikat pinggangnya pada tubuh Leona hingga penuh dengan luka lebam dan darah.
"Kenapa tidak kamu bunuh aku sekalian ha ?!! Bunuh saja aku !!" teriak Leona yang sudah benar-benar tidak kuat hidup di rumah pria kejam itu.
Jervan kembali menyunggingkan senyum smirk nya mendengar apa yang baru saja terucap dari mulut Leona. Tangannya terangkat mencengkram wajah Leona dengan sangat kuat "Kamu ingin aku membunuhku ? Huh tanpa kamu suruh pun aku akan melakukannya. Tapi itu bukan sekarang , aku masih ingin bermain-main dulu denganmu," ucapnya tepat didepan wajah Leona.
"Ini adalah hukuman karena kamu sudah berani bermain-main denganku. Kamu tahu betul bagaimana sifatku bukan ? Jadi jika kamu berani melakukan ini lagi , aku tidak akan segan-segan melakukan yang lebih kejam dari apa yang aku lakukan tadi padamu. Bahkan jika perlu aku akan membunuh ibumu tepat di hadapanmu,"
Bruk!!
Jervan mendorong kuat tubuh Leona sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
"Hiks ayah hiks Leona sudah tidak tahan hiks Leona ingin ikut ayah saja hiks ayah,"
,,,,,,,,
Pukul 07.30 wib
Jervan menyantap sarapannya dalam hening. Semua pelayan dan anak buahnya yang berjaga disana hanya bisa diam tidak berani mengeluarkan suara sama sekali.
"Selamat pagi tuan Jervan," sapa marvel yang baru saja datang ke ruang makan mewah itu.
Jervan yang mendapat sapaan itu hanya diam tanpa berbuat membalasnya , bahkan hanya untuk sekedar menoleh kearah marvel pun enggan. Marvel yang mendapati sikap aneh boss nya itu sedikit mengerutkan keningnya bingung. Dia melirik kearah beberapa anak buah Jervan yang berdiri tidak jauh dari meja makan seolah bertanya apa yang terjadi, mereka hanya menggelengkan kepalanya namun langsung bisa marvel pahami arti anggukan itu.
"Saya akan menunggu tuan didepan,"
"Kita pergi sekarang !" sahut Jervan sambil beranjak berdiri.
"Cek keadaan gadis itu. Obati lukanya , jangan sampai dia mati," lanjutnya sebelum akhirnya berjalan lebih dulu meninggalkan ruang makan itu diikuti beberapa anak buahnya termasuk marvel.
Selama perjalanan menuju kantor suasana sangat hening. Marvel yang duduk di kursi depan samping kemudi sesekali melirik boss nya dari kaca depan mobil.
"Ada apa ?" tanya Jervan menyadari jika bawahannya itu memperhatikannya sejak tadi.
"Maaf tuan. Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan tuan Jervan,"
"Katakan,"
"Semalam saya mendapat kabar dari orang-orang suruhan saya, mereka bilang nyonya carlona terjatuh dari tempat tidur hingga pingsan. Dokter yang memeriksanya menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit,"
"Lalu kamu ingin membawanya ke rumah sakit ?" sahut Jervan.
"Saya menunggu izin dari tuan jervan terlebih dulu," jawab Marvel ragu. Sebenarnya dia takut mengatakan ini pada boss nya terlebih lagi tadi anak buah boss nya itu sempat bilang jika semalam jervan habis menghukum Leona karena gadis itu berencana kabur.
"Aku tidak mengizinkanmu membawanya ke rumah sakit,"
"Tapi tuan, dokter bilang nyonya carlona memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Dia bilang jik--,,
"Lalu apa peduli ku ? Dari awal dia hanyalah tawananku , aku berniat membunuhnya tapi kamu menahan ku. Kamu juga yang meminta untuk membawanya ke penginapkanmu disaat aku ingin menyekapnya di gudang. Dengarkan aku , aku memberimu izin membawanya pergi bukan berarti kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau padanya,"
"Maafkan saya tuan,"
Setelah percakapan itu suasana kembali hening , lebih tepatnya mencekam.
,,,,,,,,
"Sshh sakit,"
Leona merintih sakit saat salah satu pelayan jervan mengobati luka di wajah serta tubuhnya. Sejak tadi gadis itu tidak bisa menahan perih begitu handuk yang sudah direndam air hangat itu menyentuh pipinya yang penuh luka lebam.
"Maaf nyonya, apa ini sangat sakit ? Saya akan lebih pelan lagi,"
Leona menahan tangan pelayan itu saat hendak melanjutkan kegiatan mengobatinya. "Tidak perlu, aku bisa sendiri,"
"Ngomong-ngomong kamu ah maksud saya , anda siapa ? Saya baru melihat anda disini. Apa anda pelayan juga disini ?" lanjut Leona bertanya.
Walaupun Leona belum terlalu lama tinggal disini, dia sudah hafal wajah semua pelayan di rumah ini dan seingatnya dia belum pernah melihat pelayan yang sedang berada didepannya sekarang.
"Oh perkenalkan saya bi mirna, nyonya. Saya sudah cukup lama menjadi pelayan disini, bisa dibilang saya pelayan tertua disini," jawab perempuan paruh baya yang meyebut namanya dengan bi mirna itu.
"Tapi saya baru melihat bibi sekarang,"
"Kemarin saya mengambil cuti karena anak saya sedang melahirkan dan tadi pagi saya baru kembali nyonya,"
Leona hanya mengangguk menanggapi bi mirna. "Bi bisa minta tolong ? Tolong buatkan saya teh hangat. Kepala saya sedikit sakit,"
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi,"
Setelah bi mirna keluar dari kamarnya , Leona langsung merebahkan tubuhnya di ranjang untuk istirahat. Kepalanya benar-benar pusing saat ini ditambah seluruh tubuhnya juga masih sangat sakit.
,,,,,,,,,
"Kalian tahu tidak semalam Leona di hukum habis-habisan oleh tuan jervan. Haha aku sangat senang melihatnya , siapa suruh dia sok kecantikan,"
"Sttt jangan memanggil nyonya jervan dengan sebutan nama. Nanti kamu bisa dimarahi jika ketahuan,"
"Memangnya kenapa ? Leona kan dinikahi tuan jervan bukan karena cinta. Dia hanya alat balas dendam tuan jervan saja jadi dia bukan nyonya disini,"
Siska, salah satu pelayan disana hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar temannya yang bernama dewi terus menggosip tentang Leona. Sejak awal kedatangan Leona dirumah ini dewi memang tidak menyukai nya. alasan nya simple, gadis itu sebenarnya memiliki perasaan pada majikannya maka dari itu dia tidak menyukai siapapun dekat dengan majikannya.
"Kalian sedang apa?" tanya bi mirna memergoki siska , dewi dan beberapa pelayan lainnya sedang berkumpul di dapur.
"Ini bi dewi dari tadi terus saja mem--, akh sakit dewi !" teriak siska memekik sakit saat dewi dengan sengaja menginjak kakinya.
"Awas saja kalau kamu berani ngadu," bisik dewi pelan.
"Kalian kenapa ? Siska kamu kenapa ?" tanya bi mirna bingung melihat tingkah aneh keduanya.
Siska yang takut dengan dewi pun langsung menggeleng "tidak ada apa-apa bi. Hmm bibi dari mana saja ? Sejak tadi aku cari tidak ketemu,"
"Aku baru saja mengobati luka nyonya Leona. Oh iya aku harus membuatkan teh hangat untuknya,"
"Biar aku saja bi. Bibi tunggu sebentar," sahut dewi yang langsung berjalan menuju tempat penyimpanan teh.
Siska yang melihat sikap temannya itu hanya memutar bola matanya malas "dasar muka dua," gumamnya pelan , sangat pelan.