Jervan menatap tajam foto yang baru saja seseorang kirimkan ke ponselnya. Dalam foto itu terdapat foto pradana yang sedang melakukan meeting bersama Mr.Mono untuk membahas proyek pembangunan Mall. Seharusnya proyek itu adalah proyek yang dikerjakan perusahaan Mr.Mono dengan perusahaannya namun karena fitnahan yang dilakukan pradana membuat Mr.Mono membatalkan kerjasamanya begitu saja dengan perusahaannya.
Beberapa waktu lalu, jervan juga sudah meminta marvel menemui pradana untuk menyampaikan undangan makan siang dari nya namun dengan tidak tahu dirinya pradana tidak datang dalam acara itu. Sepertinya pradana sudah benar-benar meremahkannya sekarang.
"Pria b******k ! Aku tidak akan membiarkanmu menang. Aku akan membuatmu menangis bahkan bertekuk lutut didepanku," gumam Jervan kemudian menyambar ponselnya yang berada diatas meja kerjanya.
Pria itu mengetikkan beberapa digit nomor di ponsel nya sebelum menekan tombol panggil.
"Cari tahu semua info pribadi tentang pradana. semuanya! Cari juga titik lemah pria itu, aku tunggu secepatnya" ucap jervan pada sambungan tlp nya.
Brak!
Ponsel yang baru saja jervan gunakan untuk menghubungi seseorang itu langsung ia lempar hingga terpecah belah. "Tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu, pradana wijaya," geramnya dengan sorot mata yang memerah menahan amarahnya.
,,,,,,,,
Marvel menatap wanita paruh baya yang tengah tertidur pulas didepannya. Pria itu masih berada di penginapan tempat nyonya carlona berada. Jika boleh jujur , marvel sangat cemas dengan keadaannya. Tadi pagi nyonya carlona sempat mengalami kejang membuat marvel langsung panik seketika. Dokter yang diminta untuk memeriksanya meminta untuk membawa nyonya carlona kerumah sakit karena kondisi nya yang semakin memburuk.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus membawanya kerumah sakit,"
Dengan cepat Marvel keluar dari kamar nyonya carlona untuk meminta bantuan anak buahnya membawa wanita paruh baya itu ke rumah sakit.
Kali ini Marvel benar-benar nekat , dia tetap akan membawa nyonya carlona kerumah sakit meskipun Jervan sudah melarangnya bahkan mengancamnya jika dia berani membawa nyonya carlona kerumah sakit. Soal urusan larangan itu , Marvel tidak peduli , dia siap menerima hukuman apapun atas apa yang dia lalukan yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa nyonya carlona.
,,,,,,,,
"Dimana Marvel ? sejak tadi aku tidak melihatnya," tanya Jervan pada salah satu anak buahnya.
Saat ini pria itu sedang dalam perjalanan pulang. Mood nya hari ini benar-benar kacau, dia memilih pulang kerumah dari pada tetap di kantor namun suasana hatinya sangat kacau.
"Saya tidak tahu tuan. Tadi tuan Marvel hanya bilang ada urusan pribadi,"
Jervan mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban dari anak buahnya itu. Setahunya Marvel tidak pernah pergi tanpa meminta izin dari nya , lagi pula urusan pribadi apa ? Dia tidak pernah merasa memberi tugas apapun pada Marvel.
"Suruh dia menemuiku nanti,"
"Baik tuan,"
,,,,,,,,,
Bibi mirna menatap sedih tubuh Leona yang penuh dengan luka lebam. Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika majikannya melakukan hal kejam itu pada Leona. Selama dia bekerja disini , jervan tidak pernah melakukan kekerasan pada wanita kecuali jika wanita itu bukanlah wanita baik-baik tapi kenapa dia melakukan kekerasan pada Leona ? Walaupun bi mirna baru pertama kali bertemu dengan Leona, dia bisa merasakan jika Leona adalah gadis yang baik.
"Nyonya butuh bantuan ?" tanya bi mirna pada Leona yang sedang kesusahan menyisir rambutnya.
"Tidak bi, saya bisa sendiri,"
"Biar saya bantu nyonya,"
Tanpa menunggu izin dari Leona, bi mirna langsung mengambil alih sisir dari tangan gadis itu kemudian menyisir rambut itu dengan sangat pelan.
Melihat bagaimana lembutnya bibi mirna menyisir rambutnya membuat Leona seketika meneteskan air matanya , tiba-tiba dia merindukan ibunya. Dulu saat saat masih kecil, ibunya sering membantunya menyisir rambutnya.
"Nyonya kenapa ? Kenapa nyonya menangis ? Apa bibi terlalu kasar menyisir rambutnya ?" tanya bi mirna panik saat melihat Leona menangis.
Bukannya menjawab pertanyaan bi mirna, Leona justru semakin terisak membuat bi mirna semakin panik.
"Nyonya kenapa ? Nyonya bisa cerita sama bibi. Mungkin bibi bisa membantu jika nyonya sedang dalam masalah,"
Mendengar ucapan bi mirna membuat tangis Leona perlahan terhenti. Gadis itu menatap lekat wajah wanita paruh yang berada didepannya itu. Jika dilihat dari sorot matanya, terlihat sorot mata ketulusan dari mata bi mirna.
"Aku rindu ibu,"
"Ibu ? Memangnya kemana ibu nyonya?"
Leona menggeleng tak tahu, air matanya kembali menetes mengingat fakta jika ibunya sedang dalam bahaya. "Hiks. Ibu, dia disekap oleh pria kejam itu,"
"Pria kejam ? Siapa maksud nyonya?"
"Jervan, dia yang sudah menyekap ibuku. Hiks aku tidak tahu dia membawa ibuku kemana yang jelas ibuku sedang dalam bahaya hiks. Bi aku harus bagaimana ? Hanya ibu satu-satunya yang aku punya di dunia ini hiks. Aku tidak ingin kehilangannya,"
Bi mirna terkejut mendengar apa yang baru saja Leona katakan. Jika boleh jujur bi mirna tidak bisa percaya jika jervan melakukan hal sejahat itu. Namun tidak bisa dipungkiri juga jika pria itu memang melakukan hal jahat itu karena bi mirna tahu betul bagaimana sifat majikannya . Jervan tidak suka jika ada yang mengusik hidupnya.
"Apa ibu nyonya melakukan kesalahan sehingga tuan jervan menyekap ibu nyonya ? Sebelumnya saya minta maaf jika mungkin yang saya ucapkan salah. tapi saya sudah sangat lama menjadi pelayan disini, bahkan sejak tuan jervan belum lahir jadi saya sangat hafal sifat tuan jervan. Dia tidak akan melakukan kejahatan jika tidak ada penyebabnya,"
"Maksud bibi, bibi tidak percaya padaku ? Hiks asal bibi tahu saja, pria kejam itu sudah membunuh ayahku ! Ayahku bahkan tidak punya salah apapun dengannya tapi dia membunuh ayahku begitu saja. Tidak hanya itu, dia bahkan menyekap ibuku dan juga membunuh tetanggaku tepat didepan mataku. Apa bibi masih tidak percaya ? Bibi lihat luka yang ada ditubuhku ? Dia yang membuat luka-luka ini bi hiks dia pria kejam !! Dia sangat b******k !!" teriak Leona dengan amarah yang menggebu-gebu.
Bi mirna yang mendengar ucapan Leona semakin terkejut. Apa benar majikannya melakukan itu semua ? Jika benar , apa alasannya ?.
"Maafkan saya nyonya. Saya tidak bermaksud. Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu nyonya ?"
"Tidak bi. aku tidak jadi butuh bantuan bibi. sebaiknya bibi keluar , aku ingin istrahat,"
Setelah mengatakan itu , Leona langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi membelakangi bi mirna. Bi mirna yang merasa bersalah karena tidak percaya dengannya itu memutuskan untuk keluar dari kamar, mungkin majikannya itu butuh waktu untuk istirahat.
Saat baru saja keluar dari kamar dan hendak menutup kembali pintu kamar, bi mirna dikejutkan dengan keberadaan jervan yang sudah berdiri didepan . "Bi mirna ? Apa yang bibi lakukan di kamar ku ?"
"Oh tuan jervan? Maaf tuan , saya baru saja mengobati luka nyonya Leona,"
"Dimana dia?"
"Nyonya Leona sedang istirahat didalam, tuan. Kalau begitu saya permisi,"
Jervan hanya mengangguk menanggapi ucapan bi mirna. Tepat setelah bi mirna pergi, pria itu langsung masuk ke dalam kamar. Benar apa kata bi mirna , dia melihat Leona yang tengah berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.