Yongtae memasang dasi pada kerah kemejanya, seraya berjalan ke ruang tengah. Mata Yongtae langsung terarah pada gadis bersurai hitam kemerahan yang masih terlelap di sofa. Yongtae berdecak, kemudian menendang sofa dengan cukup kuat, membuat gadis yang tidur di sana tersentak dan sontak terbangun.
‘’Hei! Pemalas!’’ Hardik Yongtae. ‘’Istri itu harusnya bangun lebih awal! Bukannya malah suami yang bangun lebih dulu!’’ Yongtae berujar dengan nada membentak.
Han Rae buru-buru beranjak duduk dengan kepala menunduk dalam.
‘’Maafkan aku, aku kelelahan kemarin, sehabis acara pernikahan kita selesai, aku langsung membereskan rumah.’’ Ujar Han Rae. Yongtae berdecak sembari berjalan mendekati Han Rae.
‘’Jangan buat alasan. Tugasmu sebagai istri harusnya tetap berjalan. Buat sarapan sana!’’ ucap Yongtae.
***
Han Rae memotong-motong sayuran dengan tidak bersemangat. Memasakan makanan untuk orang yang sudah bersikap kasar terhadapmu, pasti jadi malaskan rasanya?
‘’Hei!’’ Yongtae tiba-tiba menghardik Han Rae dari belakang, membuat gadis itu tersentak. ‘’Cepatlah kalau masak, aku hampir telat ini, atau jangan-jangan kau tidak bisa masak?’’ Oceh Yongtae, membuat Han Rae memutar kedua bola matanya, tanpa pria itu tahu.
Yongtae membuka jas kerjanya, menyampirkannya pada sandaran kursi meja makan, menyisakan kemeja hitamnya. Ia kemudian berjalan mendekati Han Rae, dan mendorong gadis itu agar menjauh dari meja dapur. ‘’Buang waktu aku menunggumu selesai memasak.’’
Setelah menggulung lengan kemejanya ke atas sampai sesikunya. Yongtae mengambil alih pekerjaan Han Rae memotong-motong sayuran. Dia memotong sayuran dengan cepat layaknya Chef, ditambah potongannya yang juga rapih. Han Rae hanya dapat mematung seraya memperhatikan Yongtae yang akhirnya memasak.
Dalam kurun waktu beberapa menit, Yongtae sudah selesai memasak, ia meletakan masakannya ke dalam dua piring. Han Rae mencoba untuk tidak percaya diri jika Yongtae juga membuatkan sarapan untuknya sekaligus.
‘’Buka mulutmu.’’ Ucap Yongtae. Han Rae mengerjapkan matanya mendengar titah Yongtae.
‘’Apa?’’ Gumam Han Rae. Yongtae mengabaikan pertanyaan Han Rae, yang lebih tepatnya seperti reaksi terkejut. Ia menyumpit makanan di salah satu piring, kemudian menyodorkannya pada Han Rae. Han Rae dengan ragu membuka mulutnya. Yongtae menyeringai kecil, sebelum akhirnya memasukan makanan tersebut ke dalam mulut Han Rae, dengan menyodokan sumpit ke dalam tenggorokan Han Rae, hingga membuat Han Rae tersedak dan hampir muntah. ‘’Kau kira bisa seenaknya tinggal makan? Kkk…’’
Han Rae hanya dapat terdiam sembari memegangi tenggorokannya yang terasa sakit, ia menatap sengit punggung Yongtae, saat pria itu berbalik dengan membawa salah satu piring dan duduk di salah satu kursi meja makan.
Han Rae mendengus. Dia pria terkekanakan sepanjang hidupnya yang pernah ia kenal. Bagaimana bisa ia melakukan hal seperti tadi? Padahal Han Rae yakin pria itu tahu perbuatannya sangat berbahaya. Apa pria itu berniat membunuhnya?
***
‘’Bagaimana malammu?’’ Yongtae melirik sinis Yuto yang baru melontarkan pertanyaan tersebut. ‘’Kami tidak satu kamar.’’ Jawaban singkatpun keluar dari mulut Yongtae. Yuto seketika melebarkan matanya.
‘’Tidak satu kamar?’’ Tanya Yuto dengan ekspresi tidak percaya.
‘’Biasa saja mukamu.’’ Ucap Yongtae. ‘’Dia tidur di sofa dan aku di kamar.’’ Yongtae kemudian melanjutnya ucapannya dengan enteng.
‘’Apa-apaan kau itu? Tidak gentle sama sekali. Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi kenapa kau tidak memanfaatkannya untuk bersenang-senam semalam? Kau kan belum pernah melakukannya,’’ Yuto berceloteh panjang lebar, membuat Yongtae mendengus malas.
‘’Dia tidak membuatku tertarik. Ditambah, aku juga tidak minat hal-hal seperti itu, aku tidak tertarik.’’ Ucap Yongtae dengan menatap Yuto lurus-lurus.
‘’Yang benar saja tidak tertarik? Pendusta. Di zaman yang sudah hancur ini, anak-anak saja sudah mengerti bahkan banyak yang sudah melakukannya.’’ Johnny yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bicara. ‘’Oke, aku tahu itu mengerikan. Kita yang dewasa seharusnya melindungi mereka. Tapi untuk pria-pria yang sudah menikah seperti kita. Tidak masalahkan? Namanya juga sudah menikah.’’ Yongtae memutar kedua bola matanya malas mendengar perkataan Johnny.
‘’Ya itu mereka, dan kalian. Aku tidak. Aku lebih penasaran bagaimana caranya untuk meningkatkan kemajuan dan saham perusahaanku, lagi dan lagi.’’ Giliran Yuto yang memutar kedua bola matanya malas.
‘’Dasar gila kerja. Sekali-sekali bersenang-senanglah bung.’’ Yongtae memilih tidak merespon perkataan temannya lagi. Ia memilih memfokuskan pandangannya pada berkas yang ada di tangannya, seraya melanjutkan acara makan siangnya. Yongtae beserta kedua temannya, Johnny dan Yuto memang sedang makan siang saat ini, di ruangan kerja Yongtae. Sebagai teman dekat, sekaligus pegawainya, Yongtae selalu mengajak keduanya untuk makan siang bersama di ruangannya. Hanya saja dia masih sempat-sempatnya bekerja di sela makan siangnya. Membuat kedua temannya merasa agak terganggu.
Johnny pun berinisiatif untuk mengganggu Yongtae, ia mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Yongtae, kemudian berbisik. ‘’Heii… itu menyenangkan.’’
Yongtae segera mendelik tajam pada pada Johnny yang langsung memberi cengiran. Johnny kemudian berdehem, mencoba membuat suasana kembali seperti semula, tanpa aura hitam yang dikeluarkan Yongtae.
‘’Tapi sebenarnya jika hanya untuk bersenang-senang, tidak menyenangkan sih, jujur. Diakan istrimu sendiri. Akan lebih berkesan kalau dilakukan dengan cinta.’’ Ujar Johnny. Entah untuk yang keberapa kali Yongtae harus memutar kedua bola matanya, sebagai tanda ia benar-benar muak dengan perbincangan ini.
‘’Memangnya aku mencintai gadis itu apa? Lebih baik aku melakukannya pertama kali dengan wanita yang aku cintai, tidak peduli sudah menikah atau belum. Di banding melakukannya dengan gadis itu, meskipun dia adalah istriku saat ini.’’ Ujar Yongtae seraya menggembrak berkas yang ada di tangannya pada meja.
***
Han Rae melepas sepatunya dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia sehabis pulang bekerja, dan rasanya benar-benar lelah. Han Rae hanya bekerja sebagai pegawai kantor biasa. Jadi tidak terlalu sibuk, hanya sesekali ia akan lembur. Ia hanya akan bekerja dari jam 8 sampai jam 9 malam. Berbeda dengan Yongtae yang akan mulai bekerja dari jam 7 pagi sampai tengah malam mungkin. Han Rae tidak tahu pasti jam berapa Yongtae biasa pulang kerja. Ia tinggal dengan pria itu juga baru semalam.
Setelah melepas blazer berwarna hitamnya, menyisakan hanya kemeja abu-abu, juga rok span berwarna hitam. Han Rae bergegas pergi ke taman belakang untuk mengangkat jemuran. Baju Yongtae sangat banyak, dia memang fashionable, ditambah kebanyakan pakaian Yongtae itu berupa jaket dengan berbagai model, yang memiliki bahan yang tebal dan berat.
Setelah mengangkat semuanya, Han Rae bergegas ke ruang cuci, ia harus menyetrika semua pakaian dan melipatnya serapih mungkin. Ibu Yongtae pernah bilang, Yongtae orangnya sangat rapih dan bersih, dia bisa mengomel kalau melihat sesuatu yang berantakan. Pembantu di rumah sering ganti karna tidak kuat terus menerus menerima kritikan Yongtae, meskipun mereka sudah bekerja semaksimal mungkin.
Kaki Han Rae sebenarnya masih gemetaran karna jalan dari kantor menuju halte bus, yang jaraknya lumayan jauh, kemudian jalan dari halte bus menuju rumah, yang jaraknya juga tidak bisa dibilang dekat. Ditambah ia pakai sepatu dengan hak tinggi. Sekarang ia tidak bisa langsung beristirahat, Han Rae takut Yongtae tiba-tiba pulang dan menemukan pekerjaan rumah belum beres.
Dia mana mau mengerti jika Han Rae masih lelah bekerja. Seharusnya Han Rae tidak perlu susah-susah bekerja lagi karna sudah menikah, apa lagi menikah dengan pria sukses seperti Yongtae. Hanya saja Yongtae tidak mungkin mau memberikannya uang untuk keperluan pribadinya. Dia hanya memberi uang belanja kebutuhan makan dan rumah. Han Rae juga sebenarnya lebih suka membeli kebutuhan pribadinya, dengan uangnya sendiri.
Hampir sejam Han Rae menyetrika dan melipat pakaian, akhirnya pekerjaannya selesai. Ia segera memasukan baju-baju yang sudah ia lipat rapih itu ke dalam keranjang, membawanya ke kamar untuk di susun di lemari.
"Kamarnya wangi dan bersih sekali." gumam Han Rae saat baru memasuki kamar Yongtae.
Ia berjalan menuju lemari kayu besar dengan cat berwarna hitam, lalu membukanya, ia mulai menyusun baju-baju Yongtae di lemari, sesuai tipe-tipe pakaiannya. Karna dari yang Han Rae lihat, di lemari pria itu, baju-bajunya memang tersusun seperti itu.
Selesai menyusun pakaian, Han Rae hendak beranjak dari kamar Yongtae, namun pandangannya malah fokus pada ranjang yang dialasi sprai berwarna baby blue dan putih.
"Pasti nyaman sekali disana." gumam Han Rae.
Ia melirik jam tangannya, sudah jam 10. Han Rae menggembungkan pipinya. Rasanya sangat ingin ia berbaring disana, namun masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Membersihkan rumah dari debu dan menyiapkan makan malam.
"Aku menjadi istri atau jadi pembantu sih? tapi kalau pembantukan dibayar, sedangkan aku tidak." Sungut Han Rae. ‘’Akh! Aku ingin jadi istri yang baik, tapi seharusnya yang aku dapatkan setimpal dengan apa yang aku kerjakan sekarang. Minimal dia bersikap baik padaku sedikit.’’
***
Yongtae memasuki rumahnya seraya menyusun sepatunya pada rak sepatu yang berada di samping pintu. Matanya kemudian menelusuri rumah, memastikan rumah bersih dan rapih. Kakinya kemudian melangkah ke arah dapur. Ia lapar, seharusnya ia makan malam di kantor, namun pekerjaan lebih mengguggah baginya dibanding makanan yang ada di kantin kantornya. Jadi dia mengesampingkan rasa laparnya.
Begitu ia sampai di dapur, ia bisa melihat seorang gadis yang tertidur di kursi meja makan, dengan kepala bertumpu di kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Di atas meja makan, sudah terhidang berbagai makanan, membuat perut Yongtae semakin mengerang lapar. Yongtae berjalan mendekati meja makan, ia duduk di samping Han Rae, seraya mengambil nasi sebelum akhirnya ia letakan di atas piring, yang sudah disiapkan oleh Han Rae sebelumnya.
Yongtae makan dengan tenang, bahkan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hingga Han Rae tidak terusik dari tidurnya. Sesekali Yongtae melirik Han Rae, ia baru menyadari Han Rae menggunakan pakaian formal.
"Kau bekerja rupanya?" gumam Yongtae.
Mata Yongtae menelusuri Han Rae, dimulai dari wajahnya sampai pada kakinya, namun Yongtae jadi lebih fokus pada lekuk tubuh Han Rae yang tercetak karna rok span yang ia kenakan. Yongtae berdehem pelan, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan melanjutkan acara makannya dengan agak terburu-buru.
"Punya istri itu dimanfaatkan, hanya untuk bersenang-senang."
"Tapi akan lebih menyenangkan jika dilakukannya dengan cinta, jadi lebih berkesan."
Yongtae mendengus karna perkataan Yuto dan Johnny tiba-tiba terngiang dibenaknya.
***
Yongtae langsung mencuci piring setelah selesai makan. Ia tidak bisa meninggalkan dapur dengan piring kotor di cucian piring. Han Rae masih betah tidur, bahkan terdengar sesekali gadis itu mendengkur. Yongtae jadi merasa sedikit iba padanya. Gadis itu pasti sudah sangat lelah hari ini. Pria itu kemudian menghela napasnya.
Akhirnya setelah ia selesai mencuci piring, Yongtae dengan hati-hati mengangkat tubuh Han Rae dari kursi meja makan, Yongtae hendak membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar ia membaringkan tubuh Han Rae dengan hati-hati di ranjang. Ia memperhatikan sejenak Han Rae yang masih terlelap tanpa terlihat terganggu sedikit pun. Gadis itu hanya tiba-tiba bergumam, kemudian mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, hingga lipstick yang ia kenakan meleber kemana-mana. Yongtae menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya terulur untuk membuka kancing rok span Han Rae, namun ia terdiam sejenak.
'Bukankah aku terlalu baik menggantikan bajunya? Tapi dia akan sakit pinggang pakai rok span semalaman. Ya sudah aku ganti saja, lagi pula aku tidak akan tertarik.' batin Yongtae.
Setelah membuka kancing dan resleting rok Han Rae, dengan hati-hati ia menurunkannya kebawah. Yongtae menarik napasnya yang tiba-tiba terasa berat, ia kemudian membuka satu persatu kancing kemeja Han Rae. Saat seluruh pakaian Han Rae sudah ia lepas, Yongtae melempar pakaian Han Rae tersebut ke keranjang pakaian kotor yang berada di depan kamar mandi. Ia kemudian bergegas ke lemarinya, untuk mencari piyama yang ukurannya paling kecil yang ia miliki. Setelah mendapatkannya, Yongtae kembali ke ranjang dan mengenakan Han Rae piyama berwarna biru dongker tersebut. Selesai mengenakan Han Rae pakaian, Yongtae mengambil tisu basah yang biasa ia gunakan untuk membersihkan wajahnya saat kotor. Sekarang Yongtae mengenakan tisu itu untuk membersihkan makeup Han Rae. Ia harus membersihkan wajah gadis itu, karna Yongtae tidak mau tidur dengan seseorang yang wajahnya kotor. Ya, hanya untuk malam ini, mereka akan tidur bersama.
‘Dia harus berterimakasih padaku setelah ini.’
***
Han Rae membuka matanya perlahan, keningnya mengkerut saat melihat pemandangan pertama yang ia lihat. Seorang pria dengan rahang tajam, hidung kecil dengan ujung yang agak lancip, bibir tipis… seolah pria bersurai coklat di depannya sekarang adalah pahatan sempurna. Matanya yang terpejam tidak mengurangi keinginan Han Rae untuk berdecak kagum.
'Aku ada di surga ya? kenapa ada pria tampan di depanku? apa dia malaikat?' batin Han Rae seraya tersenyum tipis, ia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya rupanya. Han Rae menyadari jika ada sebuah lengan yang melingkar di pinggangnya, ia mendaratkan tangannya di atas lengan tersebut, meraba urat-urat yang menonjol dari lengan tersebut.
Setelah beberapa saat, setelah seluruh nyawa Han Rae sudah terkumpul semua, senyuman Han Rae seketika memudar. ia menutup mulutnya untuk tidak berteriak karna terlalu terkejut.
‘I-ini Yongtae! Bukan malaikat! Astaga! Bagaimana bisa?!’ Han Rae berteriak di dalam hatinya.
Han Rae segera mencoba menyingkirkan tangan Yongtae dari pinggangnya, namun pria bersurai merah itu malah semakin menarik Han Rae ke dalam pelukannya.
"Hwaaaaa.... apa yang sudah terjadi?!" akhirnya Han Rae mengeluarkan suaranya juga.
"Semalam kita melakukannya, kau lupa?" Tanpa disangka, Yongtae menjawab perkataan Han Rae, menandakan jika pria itu sudah bangun.
"Apa?! tidak mungkin!" Han Rae berteriak histeris, membuat Yongtae menyeringai kecil.
"Itu benar, lihat bajumu sudah ganti, aku menggantikannya semalam, setelah kita selesai melakukannya. Kau sudah tidur, jadi tidak tahu saat aku membersihkan tubuhmu dan menggantikan bajumu." ujar Yongtae.
Han Rae menatap tidak percaya Yongtae, ia beranjak duduk dan menge cek pakaiannya. Sontak ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Hwaaaaaaa!" teriak Han Rae dengan nada merengek sembari menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya yang tertetuk.
Yongtae mengulum senyum jail seraya merubah posisi berbaringnya jadi menyamping. Ia kemudian menopang kepalanya dengan kepalan tangannya, seraya menatap Han Rae yang bahunya tampak bergetar.
"Memangnya kenapa kalau kita melakukannya? kitakan suami istri, apa salahnya melakukan itu?" kata Yongtae. Han Rae seketika mengangkat kepalanya, dan menatap Yongtae. "Tapi kan....." gumam Han Rae.
"Tapikan apa?" tanya Yongtae. "Semalam kau sangat panas, aku tidak menyangka gadis sepertimu bisa seperti itu. Kau harus siap jika tiba-tiba hamil ya?’’ Han Rae hanya diam mendengar ocehan Yongtae. Sedangkan Yongtae semakin menyeringai lebar melihat wajah Han Rae yang tampak memerah. Yongtae jadi berniat semakin menjaili Han Rae.
"Oh ya, semalam kau terus memanggil-manggil namaku dan memujaku, juga memintanya lagi dan lagi. Seolah lupa segalanya.’’ Napas Han Rae memburu mendengar Yongtae kembali mengoceh, ia merasa benar-benar malu.
Han Rae akhirnya memilih beranjak dari ranjang, namun Yongtae tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Hingga tubuh Han Rae serasa ditarik, karna gadis itu mempertahankan posisi salah satu kakinya menapak di lantai, meskipun Yongtae sudah menarik tangannya.
"Tidak mau melakukannya di pagi hari?" tanya Yongtae.
"Apa-apaan kau ini?!" teriak Han Rae.
Yongtae tanpa terduga melepas cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Han Rae, hingga Han Rae langsung terhempas jatuh ke lantai.
Brak
"Hahahaha," tawa Yongtae. "Hei bodoh, coba kau cek tubuhmu lagi, aku mana mungkin melakukannya dengan gadis sepertimu? tidak usah sok jual mahal. Aku juga tidak mau melakukannya denganmu."
***
Han Rae antara merasa lega, namun kesal, marah juga merasa malu setelah kejadian tadi. Ia lega karna ia ternyata tidak benar-benar melakukan itu dengan Yongtae, namun ia kesal dan marah karna rupanya Yongtae mengerjainya dan berujung mengatainya. Ia juga merasa malu, karna semalam Yongtae tetap saja sudah melihat tubuhnya, saat menggantikan bajunya. Untuk apa juga Yongtae menggantikan bajunya? dan membiarkan ia tidur di kamarnya? Apa semalam Yongtae tengah mabuk?
Han Rae menghela napasnya, ia memilih tidak ambil pusing lagi dan melanjutkan acaranya membuat sarapan. Ia tidak menyadari jika Yongtae tengah memperhatikan memasak sedari tadi. Han Rae belum mandi atau mengganti baju piyamanya dengan bajunya sendiri. Jadi sesekali gadis itu kesulitan menggunakan tangannya atau berjalan karna lengan baju juga celananya yang agak kepanjangan. Entah kenapa itu terlihat lucu di mata Yongtae. Yongtae mendengus dan menggelengkan kepalanya. Pikirannya jadi aneh sejak semalam.
Yongtae memilih mengambil gelas dan menuangkan air mineral di sana, sebelum akhirnya duduk di kursi meja makan dan menegak air yang sudah ia ambil.
"Hei, bisa cepat sedikit tidak membuat sarapannya? Aku sudah lapar." kata Yongtae.
"Iya, tunggu sebentar lagi." balas Han Rae.
Tak lama ia mematikan kompor dan menuangkan masakannya ke dalam piring, sebelum akhirnya meletakannya di depan Yongtae.
"Kau tidak ikut sarapan?" tanya Yongtae saat melihat Han Rae hendak keluar dari dapur.
"Eung itu, aku harus ke kantor lebih awal hari ini, ada penyambutan untuk Ceo yang baru di kantorku." balas Han Rae.
"Oh.’’ Gumam Yongtae. ‘’Oh ya, jangan pakaian yang terlalu ketat, adakan rok span yang tidak seketat seperti yang kau pakai kemarin? Atau kau memang sengaja mau pamer tubuh huh?’’
Han Rae otomatis menggelengkan kepalanya cepat mendengar penuturan Yongtae, ia kemudian menganggukan kepalanya, sebelum akhirnya keluar dari dapur.
***
"Itu dia, astagaaa... tampan sekali."
"Tampan? memangnya dia masih muda?"
"Aish, tentu saja. Ceo kita sekarang itu, anak dari Ceo sebelumnya. tentu saja dia masih muda. Lihatlahh… masak kau tidak bisa melihat kalau dia masih muda dan tampan."
Han Rae jadi merasa penasaran dengan sosok Ceo baru mereka, saat mendengar perbincangan pegawai lain. Akhirnya ia mendongakan kepalanya untuk melihat Ceo mereka yang baru saja memasuki kantor, karna sebelumnya Han Rae terus menundukan kepalanya. Matanya seketika melebar.
"Woojung?" gumam Han Rae, dengan mata yang seketika tak dapat lepas dari seorang pria bersurai kecoklatan dan memiliki wajah lembut juga ramah tersebut. Ia tersenyum seraya mengamati karyawan-karyawan yang menyambutnya satu persatu. Sampai pada akhirnya, matanya bertemu pandang dengan mata Han Rae. Mata pria itu seketika melebar, sama seperti saat pertama kali Han Rae melihatnya tadi.