03

2284 Words
"Jadi kau bekerja di perusahaan Ayahku?" Han Rae hanya tersenyum simpul sebagai tanggapan dari pertanyaan Woojung. Dia pria bersurai kecoklatan dengan wajah lembut tadi, dan Ceo baru di perusahaan. Woojung mengajak Han Rae untuk makan siang bersama di ruangannya, setelah selesai acara penyambutan tadi. "Aku tidak tahu jika Tuan Kim itu adalah Ayahmu." Ucap Han Rae. "Selama kita berkencan aku tidak pernah mengenalkanmu pada orang tuaku, maaf." Ujar Woojung dengan raut wajah bersalah. "Haha, tidak apa-apa. Lagi pula kitakan masih SMA waktu itu. Untuk apa mengenalkanku pada orang tuamu? Seperti akan menikahiku saja, kkk…’’ "Aku memang berniat begitu, setelah selesai kuliah dan aku sudah mulai berkecimpung di perusahaan Ayah. Aku sudah sangat berniat untuk menikahimu. Jika saja orang tuaku tidak memaksaku kuliah di luar negri, dan membuat kita harus putus. Sekarang sudah terlambat." Han Rae seketika terdiam, dan menatap Woojung dengan tatapan tidak percaya saat mendengar perkataan pria itu. "Kau banyak membantuku di masa lalu. Kau tahu aku anak yang kurang kasih sayang, karna orang tuaku terlalu sibuk. Tapi sejak kau hadir dihidupku, aku merasa lebih baik. Aku… sejujurnya masih… masih belum bisa menghilangkan perasaanku padamu." Han Rae terpaku untuk beberapa saat mendengar kalimat terakhir Woojung, ia kemudian tersenyum tipis. "Yah tapi mau bagaimana lagi? sekarang aku sudah menikah." Tutur Han Rae kemudian. "Eum boleh aku tahu, siapa suamimu?" Tanya Woojung. "Lee Yongtae." Balas Han Rae singkat. "Lee Yongtae?" Woojung mengulangi kalimat yang dilontarkan Han Rae seraya mengernyitkan keningnya. Woojung seketika melirik arlojinya. "Ah, aku akan ada meeting dengannya jam 10 siang nanti. Jadi kau istri Lee Yongtae? Woah, bukankah dia sudah sangat sukses? Kenapa kau harus susah-susah bekerja?’’ Han Rae tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya mendengar penuturan Woojung. "Karna... aku ingin mandiri." Ucap Han Rae kemudian. Woojung mengulum senyuman lebar. "Kau tidak berubah. hah... tapi perasaanmu pasti sudah berubah padaku." Han Rae tertawa kecil mendengar ucapan Woojung. "Kau ini bicara apa?" gumam Han Rae. "Berapa lama kau berkencan dengan Yongtae? sampai akhirnya menikah?" tanya Woojung penasaran. "Tidak, kami tidak berkencan. Kami menikah, karna perjodohan. Belum lama juga pernikahan kami berlangsung." Balas Han Rae. Woojung seketika mengerjapkan matanya. Ia kemudian menatap Han Rae dengan kening mengkerut dan khawatir, entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak setelah mendengar ternyata Han Rae menikah karna hasil perjodohan. "Ahh, begitu ya? tapi pernikahanmu baik-baik sajakan?" Woojung kembali bertanya dengan nada terkesan khawatir. "Ba-baik, sangat baik." Ucap Han Rae seraya mengulas senyum terpaksa. *** Woojung duduk di salah kursi yang tepat berdampingan dengan seorang pria bersurai coklat terang. Woojung mengumbar senyuman lebarnya, berbeda dengan pria bersurai coklat terang itu yang hanya memasang ekspresi datar. Setelah berbasa-basi sedikit, meeting pun dimulai. Woojung bisa melihat bagaimana ambisi Yongtae dalam menyampaikan presentasinya untuk memajukan perusahaannya. Padahal saat ini mereka seharusnya membicarakan dua perusahaan yang mau dimajukan bersama, merekakan sedang menjalin kerja sama. Inti dari presentasi Yongtae, memajukan perusahaannya, dengan bekerja sama dengan perusahaan Woojung. Padahal sudah jelas perusahaan Yongtae jauh lebih besar dari perusahaan Woojung, namun Woojung mencoba biasa saja dan terlihat menerima semua yang Yongtae katakan. Setelah pria bersurai coklat terang itu selesai dengan presentasinya, barulah Woojung maju untuk menyampaikan ide dan pendapatnya. Sesekali Woojung akan menyindir secara halus tentang presentasi Yongtae tadi, namun sepertinya pria itu tidak pekak. Terlihat dari cara pria itu berekspresi dan hanya mengiyakan. Rapat selesai pukul 11:27. Beberapa orang sudah keluar dari ruang rapat. Terkecuali Yongtae, dia hanya duduk di kursinya seraya bermain dengan ponselnya. Woojung pun mengurungkan niatnya untuk keluar juga dari ruangan rapat, ia ingin basa-basi dengan Yongtae atau sok akrab mungkin. Woojung hanya ingin tahu apa pernikahannya dengan Han Rae baik-baik saja. Karna jujur saja, perasaan Woojung sedikit janggal melihat bagaimana sayu dan murungnya wajah Han Rae, ia jadi merasa khawatir. Apa lagi setelah tahu pernikahan mereka hanya perjodohan. Woojung bingung harus bagaimana mengawali pembicaraan dengan Yongtae, jadi selagi ia mencari ide untuk memulai percakapan, matanya menelusuri jari-jari Yongtae. Ia menemukan sebuah cincin berwarna perak tersemat di jari tengah Yongtae, desainnya sama dengan cincin yang Han Rae pakai, bisa dipastikan itu cincin pernikahan mereka. Woojung berdehem pelan. "Apa kau sudah menikah?" akhirnya Woojung mengeluarkan pembicaraan pertama. Yongtae seketika mengalihkan pandangannya dari ponsel, jadi menatap Woojung. "Ahhh..." Yongtae bergumam sejenak sembari menatap telapak tangan kanannya. "Belum." Kening Woojung mengernyit mendengar jawaban Yongtae. "Belum? Lalu cincin di tanganmu?" Tanya Woojung. "Aku memang sudah menikah, tapi dengan seseorang yang tidak aku inginkan. aku dijodohkan, terdengar konyolkan? Pernikahan kami hanya sebatas yahhh... tidak resmi bagiku. Meskipun sah secara agama dan hukum." Ujar Yongtae enteng. Woojung sebenarnya terkejut, namun ia mencoba bersikap biasa saja, bahkan menyempatkan diri untuk tersenyum. "Oh begitu. tapi hubunganmu dengan istrimu baik-baik sajakan?" Woojungo kembali bertanya, membuat Yongtae jadi merasa agak terganggu. "Kenapa kau sangat ingin tahu?" Yongtae balik bertanya dengan nada sinis. "Maaf, bukannya aku mau mencampuri urusan orang. Hanya sajaa... aku penasaran, apakah pernikahan dari hasil perjodohan itu berjalan mulus?" Yongtae terdiam sejenak mendengar penuturan Woojung. "Jujur saja, aku tidak pernah menganggap gadis itu istriku, aku lebih menganggapnya, sampah." Woojung melebarkan matanya, ia tidak menyangka Yongtae akan berkata seperti ini. Ia rasanya ingin meninju pria itu karna sudah mengatai Han Rae sampah. Karna tidak tahu mau tersulut emosi, Woojung akhirnya memilih tidak berkomentar lagi. *** Woojung memasuki sebuah ruangan dimana meja-meja kerja karyawan biasa berada di sana. Kebanyakan karyawan sudah pulang, hanya tinggal beberapa orang lagi yang masih berada di kantor karna lembur. Woojung tersenyum dengan ramah kepada para karyawan yang tersisa. "Apa Nona Han Rae sudah pulang?" tanya Woojung pada salah satu karyawan. "Dia lembur, tapi ketiduran." balas karyawan itu seraya menunjuk meja kerja Han Rae. Woojung segera berjalan menghampiri meja kerja Han Rae, ia dapat melihat gadis itu tengah terlelap dengan laptop yang masih menyala. "Jangan sebarkan rumor aneh-aneh, aku dan Han Rae teman SMA, dan sekarang aku mau mengantarkannya pulang. oke?" Ujar Woojung pada para karyawan. Ke enam karyawan yang masih berada di kantorpun, hanya menganggukan kepalanya. Woojung dengan hati-hati meraih punggung dan kedua lutut Han Rae. "Siapa saja, nanti tolong save pekerjaan Han Rae, lalu matikan laptopnya ya?" Woojung kembali berkata pada karyawannya, sebelum akhirnya bergegas pergi dengan membawa Han Rae. *** Woojung memasuki kamar tamu, setelah Bibi asisten rumah selesai menggantikan baju juga membersihkan makeup Han Rae. Sesuai dengan perintah Woojung. Woojung membawa Han Rae ke rumahnya, karna ia tidak tahu dimana letak rumahnya yang sekarang. Lagi pula, Woojung pikir untuk apa Han Rae pulang? kalau suaminya tidak menghargai kehadiran Han Rae? Woojung merasa sakit hati saat Yongtae mengatai Han Rae sampah, meskipun Han Rae yang dikatai, ia yang merasa sakit hati. Sejauh ini, perasaannya pada Han Rae tidak pernah berubah. Woojung belum pernah menemukan gadis yang dapat mengusir rasa sedih juga kesepiannya. Seumur hidup Woojung hanya hidup dikelilingi harta, bukan kasih sayang, itu yang membuatnya merasa hampa. Woojung tersenyum kecil saat menatapi wajah Han Rae, salah satu tangannya terulur, dan punggung tangannya kemudian dengan lembut mengusap pipi kanan Han Rae. "Kenapa kau mau dijodohkan dengan Yongtae? dia pasti memperlakukanmu dengan tidak baik." Woojung bermonolog sendiri dengan nada pelan dan lembut, bermaksud tidak mengganggu tidur Han Rae. Woojung menghela napasnya seraya tersenyum kecil. Ia merundukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Han Rae. Hampir saja bibirnya bertemu dengan bibir Han Rae, kalau saja Woojung tidak dengan cepat menyadari apa yang hendak dilakukannya adalah kesalahan. Ia dengan cepat menjauhkan wajahnya dari wajah Han Rae. Woojung menggelengkan kepalanya. 'Bagaimanapun Han Rae sudah bersuami.' batin Woojung. Woojung akhirnya memilih menyelimuti Han Rae dan segera keluar dari kamar tamu. Ia tidak mau lupa diri dan kelepasan melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada Han Rae, meskipun hanya sekedar mencium keningnya. *** Yongtae melepas kancing teratas kemejanya seraya berdecak dan mengangkat kedua kakinya ke atas sofa. "Kemana sih si bodoh itu? ck, sudah jam 1 malam belum pulang juga? sialan, kalau dia pulang aku ikat dia agar tidak bisa kemana-mana lagi." sungut Yongtae. Ia menatap layar televisi dengan tidak minat. Meskipun layar televisi sedang menayangkan film dengan rating 21 keatas, namun rasanya sama sekali tidak menarik minat Yongtae. Yongtae meraih remote tv untuk mematikan televise, ia kemudian berbaring asal di sofa. Yongtae belum makan, mandi, bersih-bersih dan sebagainya. Menemukan rumah dalam keadaan kosong, membuat Yongtae entah kenapa jadi malas melakukan apapun, ia lebih memilih duduk di sofa menunggu Han Rae pulang. Hanya saja gadis itu tak kunjung pulang juga. Yongtae mengacak rambutnya. "Dia kemana sih sebenarnya?" gumam Yongtae. Untuk beberapa saat Yongtae tidak bisa menutup matanya, ia masih memikirkan Han Rae. Kemana dia? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia…. Baik-baik saja? Namun pada akhirnya, karna terlalu lelah dan mengantuk, Yongtae akhirnya tertidur juga. *** Han Rae terbangun dari tidurnya saat merasakan sinar mentari menerpa wajahnya. Matanya terbuka sedikit, keningnya mengernyit, saat melihat sekitarnya. Ia seketika beranjak duduk, dan mencoba memperjelas penglihatannya. Cklek. Terdengar suara pintu terbuka, membuat Han Rae sontak mengalihkan pandangannya kearah pintu. "Han, kau sudah bangun?" Han Rae tersentak saat melihat seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu, sembari mengulas senyuman lebar. "Aku ada dimana?" tanya Han Rae. "Kau ada di rumahku. Tenang saja aku tidak melakukan apapun, yang menggantikan bajumu semalam dan membersihkan makeup mu juga, asisten rumah ini kok. Bukan aku." jelas Woojung. Han Rae otomatis memeriksa pakaiannya saat mendengar penuturan Woojung. Ia bahkan tidak sadar jika pakaiannya sudah berubah jadi kaos kebesaran dan celana pendek selutut. "Ini bajumu ya?" tanya Han Rae. Woojung tersenyum kikuk sembari menggaruk kepala belakangnya mendengar pertanyaan Han Rae. "Maaf, aku tidak punya baju perempuan." balas Woojung. Han Rae tiba-tiba terkekeh, merasa konyol dengan ucapan permintaan maaf Woojung. "Untuk apa kau minta maaf?’’ Ujar Han Rae. ‘’Tapi… kenapa aku ada di rumahmu?" "Semalam kau ketiduran di kantor, aku sebenarnya mau mengantarmu pulang, tapi aku tidak tahu rumahmu yang sekarang ada di mana, yang kau tinggali bersama suamimu. Dan setelah aku pikir juga, untuk apa kau pulang kalau kau tidak dihargai oleh suamimu sendiri?" Mata Han Rae seketika melebar mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Woojung. Han Rae juga jadi mengingat Yongtae, ia hampir lupa soal pria itu. "Ba-bagaimana kau tahu masalah itu?" tanya Han Rae dengan tergagap. "Tahu saja." balas Woojung sembari melipat kedua tangannya di depan d**a dan menggendikan bahunya. Ia tidak mau jujur dan menceritakan perbincangannya dengan Yongtae kemarin, takut menyakiti Han Rae. "Aku harus pulang sekarang, aku takut Yongtae marah." Ucap Han Rae sembari menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. "Memangnya dia peduli kau pulang atau tidak?" Woojung bertanya dengan nada sarkastik dan sinis. "Tapi......" gumam Han Rae. "Tidak mau sarapan?" Woojung mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku mau pulang." Han Rae tetap ingin pulang, ia berkata dengan alis bertaut yang menunjukan kegelisahannya. Woojung menghela napasnya. Kalau sudah begini ia tidak bisa berkutik atau memaksa Han Rae untuk tetap tinggal. "Ya sudah ayo aku antar pulang." *** "Terimakasih banyak untuk semuanya Woojung. Bajumu akan aku kembalikan." ucap Han Rae sesaat setelah ia baru saja turun dari mobil Woojung. "Kalau kau merasa nyaman dengan bajunya, tidak perlu dikembalikan juga tidak apa-apa." Balas Woojung, dengan senyuman lebar yang tak pernah lepas dari bibirnya. "Ahh... tidak, pasti aku akan kembalikan. Ini kan bajumu." Woojung tersenyum simpul mendengar perkataan Han Rae, ia tiba-tiba mengulurkan salah satu tangannya keluar jendela mobil, kemudian mengacak rambut Han Rae. "Semoga harimu menyenangkan. Tidak apa-apa kalau kau nanti datang siang ke kantor. Hari ini juga hari jum'at, besok libur." ujar Woojung. Han Rae tersenyum seraya menganggukan kepalanya. "Kalau begitu aku masuk dulu." ucap Han Rae. "Oke, aku juga mau pulang." balas Woojung. "Hati-hati." Pesan Han Rae. Woojung menganggukan kepalanya, ia menutup kaca mobilnya, sebelum akhirnya berlalu pergi. Han Rae menggembungkan pipinya seraya memperhatikan mobil Woojung yang melaju pergi menjauhi rumahnya, ia bisa merasakan jantungnya berdebar dengan kencang dari batas normalnya. 'Astaga Han, kau sudah menikah.' batin Han Rae. Han Rae membalikan tubuhnya hendak memasuki rumah, namun langkahnya terhenti, saat ia melihat pria bersurai coklat terang tengah berdiri diambang pintu rumah, seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Penampilannya tampak sangat acak-acakan, belum lagi tatapan tajamnya yang membuat kesan pria itu semakin mengerikan. Pria yang tak lain adalah Yongtae itu, berjalan menuruni teras, mendekati Han Rae yang hanya berdiri mematung di pekarangan rumah. "Dapat berapa melayani pria tadi, semalam?’’ Han Rae seketika menatap nyalang Yongtae dengan kening mengkerut saat mendengar pertanyaan Yongtae, yang lebih seperti hinaan. "Apa maksudmu?" tanya Han Rae dengan nada tidak terima. "Maksudku? Haha, kau tanya apa maksudku? Masak kau tidak mengerti? Aku tanya bayaranmu semalam berapa? Ahh... dan kau dipakai berapa jam? Kupu-kupu malam satu ini sepertinya sangat laris ya malam ini, sampai tidak pulang.’’ Wajah Han Rae sudah memerah dengan napas memburu, karna merasa emosi dan malu. Yongtae melecehkannya. Han Rae hendak melayangkan tamparan pada pipi Yongtae, namun pria itu sudah lebih dulu menangkap tangan Han Rae dengan sigap. Tatapan Yongtae yang sebelumnya merendahkan Han Rae, kini berubah menjadi tatapan tajam. "Semalaman aku menunggumu pulang, dan kau tidak pulang-pulang. Paginya kau pulang dengan pria lain. Bagus sekali. Kau mencoba main-main denganku? Kau akan dapat ganjarannya." ucap Yongtae kemudian menarik tangan Han Rae dengan kasar memasuki rumah. *** "Masih mau diulang?’’ bentak Yongtae yang membuat Han Rae takut. "Yongtae aku minta maaf..." Han Rae berkata dengan lirih, diselingi isakan tangis, rasanya benar-benar menyakitkan dibentak. Yongtae kemudian mendengus seraya menarik ke belakang rambutnya. Ia menaiki ranjang kemudian memutar balik tubuh Han Rae yang sebelumnya tengkurap menjadi telentang. Yongtae menatap tajam Han Rae yang masih berderai air mata. ‘’Masih mau diulangi lagi?’’ Tanya Yongtae dengan nada rendah. Han Rae segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dengan mata memejam erat. "Mulai sekarang, tidak ada kata lembur untukmu. Pulang sesuai jam kantormu, kalau ada lembur, tinggalkan saja. Kalau kau dipecat itu resiko." ucap Yongtae dengan nada enteng, Han Rae lagi-lagi hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban, benar-benar tidak berani membantah Yongtae.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD