04

1743 Words
Han Rae meringis saat merasakan perih pada punggungnya, ia dengan hati-hati menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Han Rae mendengus, kemudian mengacak rambutnya, gadis itu terlihat benar-benar terlihat dan ingin marah, sekaligus ingin menangis meraung-raung. Kejadian tadi membuat Han Rae merasa takut. Ia merasa heran kenapa Yongtae harus marah karna ia tidak pulang? Apa karna jadi tidak ada yang membereskan rumah dan menyiapkan sarapan? Yah pasti karna itu. Beruntung sekarang Yongtae sudah di kantor, dan Han Rae memilih izin sehari tidak ke kantor, jadi ia bisa sedikit bersantai di rumah. Dddrrrttt. Han Rae melirik ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Ia dengan malas mengambil ponselnya dari atas meja makan, namun setelah melihat siapa penelfonnya, membuat mata Han Rae berbinar dan ekspresinya berubah sumringah. Ia pun segera menggeser tombol hijau, dan menekan tanda loudspeaker. Terlalu malas bagi Han Rae untuk menempelkan ponsel di telinganya, lagi pula tidak ada orang juga di rumah. Ia bisa bebas. "Halo." Han Rae menyapa dengan semangat. "Halo. Han Rae, apa kau baik-baik saja?" "Ya, aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" "Aku jadi merasa khawatir setelah kau tiba-tiba izin tidak masuk kerja. Aku rasa kau tadi baik-baik saja, tapi tiba-tiba bilang sakit. Apa Yongtae melakukan sesuatu?" "A-ah dia hanya marah, tapi tidak melakukan apapun kok, kau tidak perlu merasa khawatir." "Lalu kau sakit apa? Dan apa penyebabmu bisa sakit?" "Eum... aku hanya sakit kaki karna tersandung meja, jadi yahhh... kakiku ngilu sekarang kalau jalan. Sedikit terkilir." "Ah begitu. Kau itu tidak berubah ya? Tetap saja ceroboh. Hati-hati makanya. sudah di periksa?" "Eum su-sudah, tapi tidak apa-apa kok." "Aku jadi ingat dulu saat kau jatuh dari pohon. Untung ada aku di bawah, jadi bisa menangkapmu, kkkk..." Han Rae mengulum senyum dengan pipi memerah. Ia tentu saja sangat ingat kejadian itu, kejadian yang sangat memalukan. Karna saat itu mereka belum berkencan, tapi Han Rae sudah suka pada Woojung, dan dia malah melakukan hal yang memalukan. "Seharusnya kau melupakan kejadian itu." "Kenapa? itu lucu. Apa lagi saat kau terkejut karna aku menangkapmu, dan kau tidak sengaja menendang selangkanganku, hahaha." "Ahh... Woojung, kau membuatku benar-benar malu." "Yah setidaknya masa depanku tidak hancur saat itu, kkkk..." "Kau sedang tidak sibuk?" Han Rae mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku baru selesai meeting, jadi aku bisa sedikit bersantai sekarang." "Ahh... begitu ya." Kemudian hening untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Woojung mengeluarkan suara. "Kalau Yongtae menyakitimu, jangan sungkan bicara padaku. Meskipun kita mantan sepasang kekasih, tapi kita masih bisa menjadi sahabat yang berbagi ceritakan? aku juga membutuhkanmu, untuk jadi tempatku bercerita." Han Rae tersenyum simpul kemudian menggigit bibir bawahnya. "Tentu saja." Selanjutnya mereka hanya berbasa-basi dengan sesekali bercanda sebelum akhirnya memutus sambungan telfon. "Oh, kalian itu mantan sepasang kekasih? Kalian sepertinya memiliki kenangan yang indah ya dimasa lalu? Aku rasa, aku harus membatalkan kerja samaku dengannya." Han Rae terkejut dan sontak menelan ludahnya saat tiba-tiba mendengar suara Yongtae di belakang tubuhnya. ‘Kenapa dia sudah pulang?’ Jangan-jangan sedari tadi Yongtae mendengar pembicaraannya dengan Woojung. Terlalu asik menelfon, membuat Han Rae tidak sadar dengan kehadiran Yongtae. Yongtae tiba-tiba mengambil ponsel Han Rae, membuat Han Rae terkejut. Ia otomatis beranjak berdiri, kemudian berbalik ke arah Yongtae, hendak mengambil ponselnya kembali, namun Yongtae segera mengangkatnya ke atas dan menjauhkannya dari Han Rae. "Tidak ada lagi ponsel untukmu." ucap Yongtae. "Yongtae! aku dan Woojung hanya sebatas bersahabat sekarang!" Balas Han Rae sembari mencoba menggapai-gapai ponselnya. "Sahabat yang mesra maksudmu? Kau mau kembali mengulang moment-moment kalian di masa lalu huh?!" Seru Yongtae. "Kalau iya kenapa?!" Sahut Han Rae dengan wajah menantang. "Sialan!" Pekik Yongtae Brak. Yongtae meraih bahu Han Rae dan menubrukan punggung Han Rae pada dinding. "Kau lupa kalau kau sudah menikah hah?" tanya Yongtae sembari menatap tajam Han Rae. Han Rae menatap datar Yongtae, untuk membalas tatapan tajam pria itu. "Oh, aku sudah menikah ya? Bukannya aku hanya sampah bagimu? Ternyata aku dianggap istri juga olehmu? Wow…" Han Rae menimpali perkataan Yongtae dengan nada sinis dan sarkastik. "Meskipun aku tidak menganggapmu istriku, tapi statusmu sudah menikah. Kau mau dianggap menjijikan karna masih genit pada pria lain, sedangkan kau sudah menikah!" "Dari awal juga aku sudah menjijikan dimatamu kan?!" "Iya! kau sangat menjijikan! ditambah sekarang." "Kalau begitu ceraikan aku sekarang! Aku muak menjalankan pernikahan ini terlalu lama. Aku ingin bebas, dan mencari pria lain yang bisa menghargai aku." "Tidak akan ada yang mau dengan gadis murahan sepertimu." Han Rae mengepalkan kedua tangannya. "Termasuk kau kan? kalau begitu ceraikan aku sekarang! aku mau kita cerai!" Han Rae berteriak seperti orang kesetanan. Yongtae menggeram kesal sembari menarik tangan Han Rae menuju kamar, Han Rae meronta dan mencoba melepaskan diri. "Kau mau apa?! Lepas! Kaukan juga tidak mau pernikahan ini! Kenapa tidak menceraikan aku saja hah?! Kau itu sialan! b******n! Kau itu sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga! kau bisa dipenja-" Merasa telinganya panas mendengar ocehan Han Rae, Yongtae segera membungkam bibir Han Rae menggunakan bibirnya, begitu mereka sampai kamar. Yongtae kemudian menutup pintu kamar menggunakan kaki kirinya. Han Rae kembali meronta dengan memukul-mukul d**a Yongtae. Namun Yongtae dengan sigap meraih kedua tangannya, dan mencengkramnya dengan erat. Sebelum akhirnya mendorong Han Rae ke kasur. Yongtae melepaskan tautan bibir mereka, ia bisa melihat Han Rae tampak kehabisan napas. Yongtae mengangkat ujung kemejanya, sebelum akhirnya menggigit ujungnya dan merobek bagian bawahnya, hingga menjadi layaknya seutas tali. Yongtae mengikat kedua tangan Han Rae dengan erat, dan menyambungkannya pada besi headboard. "Lepas!" teriak Han Rae sembari menghentak-hentakan kakinya. Ia ingin menendang Yongtae, namun karna posisinya membuatnya sulit untuk melakukan itu. Yongtae beranjak berdiri dari atas tubuh Han Rae, dan tanpa berkata apapun Yongtae keluar dari kamar. "Yongtae! Apa maksudmu hah?! Seharusnya kau bersyukur aku minta cerai! Kenapa kau diam saja iblis?!" Han Rae terus berteriak, namun tidak ada jawaban dari Yongtae. Pria itu hanya diam di depan pintu kamar, sembari mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan kanannya. Yongtae akhirnya memilih kembali ke kantornya, tak lupa melapisi kemejanya yang robek menggunakan jas yang ia kancingi, tidak ada waktu untuk mengganti baju, ia masih banyak rapat dan jadwal lainnya. Yongtae pulang ke rumah sebentar, sebenarnya hanya untuk mengambil beberapa berkas yang ketinggalan, tapi jadi berbuntut panjang. *** Yongtae menatap keluar jendela ruangannya. Untuk pertama kali bagi Yongtae meninggalkan pekerjaannya, karna sibuk memikirkan urusan yang lain selain pekerjannya. Tapi Yongtae rasa, urusannya kali ini memang jauh lebih penting dari pekerjaanya. Dimana ia tengah bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia rasanya sulit untuk mengucapkan 'iya' saat Han Rae minta cerai. Bukankah itu keinginannya? Tapi ia malah merasa marah, saat kalimat cerai meluncur dari bibir Han Rae. Yongtae mengacak rambutnya. "Sial." Maki Yongtae pada dirinya sendiri. Tok tok tok. Tiba-tiba terdengar pintu ruangannya di ketuk. "Masuk." Ucap Yongtae malas. Tak lama pintu ruangannya terbuka, dua orang temannya memasuki ruangan Yongtae dengan kernyitan dikeningnya. "Kau kenapa? Sekarang sudah waktunya jam makan siang, lagi pula, kau juga sepertinya tidak bekerja dari tadi." Ujar Yuto kemudian duduk sembarangan di sofa panjang yang berada ruangan Yongtae. "Hati-hati sepatumu kotor itu." peringat Yongtae saat melihat kaki Yuto hampir naik ke atas sofa. Sedangkan Johnny memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Yongtae, ia menatap Yongtae dengan pandangan bertanya. "Kau kenapa?" tanya Johnny. "Tidak apa-apa, memangnya aku kenapa?" Balas Yongtae. "Kau melamun." ucap Johnny. "Aku mau nonton film.’’ Kata Yongtae tiba-tiba dengan gamblang. Yuto dan Johnny seketika melebarkan matanya, terkejut. "Apa?" Pekik Johnny dan Yuto secara bersamaan, mereka kemudian saling menatap untuk beberapa saat. "Sejak kapan kau jadi minat film seperti itu?" tanya Johnny. "Aku bukan minat. Aku hanya mau lihat." balas Yongtae. "Aku tidak salah dengar?" Giliran Yuto yang bertanya. "Tidak,’’ Yongtae membalas dengan singkat. Yuto dan Johnny sama-sama mengerjapkan mata mereka. Mereka bertiga sudah berteman sangat lama, dan ini pertama kali Yongtae secara terang-terangan mengatakan ingin nonton film. Yongtae bukannya tidak pernah nonton, tapi ia tidak pernah terlalu minat. Ia lebih suka berhitung alias belajar saat mereka masih jadi pelajar. Saat dewasa ia lebih suka bekerja dari pada bersenang-senang. Apa lagi menurut Yongtae alur cerita film seperti itu begitu-begitu saja tidak ada yang menarik. Awalnya Yuto dan Johnny pikir Yongtae tidak normal, tapi saat diberi film bertema berbeda Yongtae malah muntah, dan berakhir Yuto dipukuli Yongtae. Johnny tidak ikut campur dalam urusan ini, dia tidak tahu Yuto akan senekat itu memberikan film berbeda pada Yongtae. Yongtae juga pernah mengatakan, ia hanya akan melihat tubuh istrinya, bukan wanita lain. Yongtae terdengar alim. Yongtae pada dasarnya memang seseorang yang baik, jika saja ia tidak jatuh dalam didikan orang yang salah, dunia bisnis juga sudah membuatnya jadi pria yang dingin dan cukup arogan. Persaingan bisnis, naik-turunnya saham, juga tekanan dari orang tuanya untuk terus membangun perusahaan menjadi semakin maju lagi dan lagi, membuat Yongtae frustasi. "Ya sudah kalau kau mau, aku ada film yang cocok untukmu." Ucap Yuto. *** Baru bagian awal, Yongtae sudah minta film dihentikan. Ia mulai merasa risih dengan filmnya, padahal niatnya menonton untuk menghibur dirinya, tapi dia malah semakin gundah. "Aku mau pulang saja. Film ini benar-benar tidak bagus." Ucap Yongtae sembari beranjak berdiri dari sofa. Yuto berdecak, sembari menghentikan video yang baru diputar seperempat jalan. "Ini bagian serunya!" seru Yuto. "Tapi aku sudah lelah, mau pulang saja." balas Yongtae. "Ini masih siang." Yuto tetap memaksa Yongtae untuk tetap tinggal. "Ya, memangnya kenapa? Aku pemimpin disini, ya terserah aku mau pulang kapan." Timpal Yongtae. Ia kemudian melirik Johnny yang tidur di sofa panjang. Pria itu memang memilih tidur dibanding ikut menonton, ia tidak mau membuat masalah siang-siang katanya. "Nanti bangunkan dia, dan pastikan ruanganku rapih sebelum kalian keluar dari ruangan ini." Titah Yongtae. "Iya." sahut Yuto dengan malas. *** Yongtae memasuki kamarnya, dan menemukan Han Rae tengah tertidur dengan pergelangan tangan dipenuhi darah kering. Dia pasti mencoba melepaskan diri, namun tidak bisa, karna ikatannya terlalu kencang. Yongtae berjalan mendekati ranjang, ia kemudian membuka dengan hati-hati ikatan tali Han Rae. Han Rae sama sekali tidak bergerak, padahal saat kain dilepas dari lengannya, pasti terasa sakit, karna antara kain dan lukanya sudah menempel akibat darah. "Kalau sudah tidur seperti mayat." Gumam Yongtae. Yongtae kemudian mengambil kotak obat yang berada di laci meja nakasnya, sebelum akhirnya ia duduk di pinggir ranjang, dan mulai mengobati luka pada pergelangan tangan Han Rae. "Woojung tolong akuu..." Pergerakan Yongtae seketika terhenti saat mendengar igauan Han Rae. Ia melirik gadis itu yang masih terlelap. "Tolong aku..... Woojung..... sakit... dia menyakitiku lagi." Yongtae yang sebelumnya melamun, akhirnya merengkuh Han Rae ke dalam pelukannya, untuk membuat gadis itu sedikit lebih tenang. Semakin lama igauannya semakin menjadi, apa lagi saat ia merasa kesakitan saat lukanya diobati. Yongtae memejamkan matanya dan memeluk Han Rae semakin erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD