05

3504 Words
Yongtae menyusun makanan yang sudah ia masak pada meja makan. Yongtae kemudian duduk di kursi meja makan sembari membuka ponselnya. Ia memasang foto orang tua beserta dirinya saat kecil sebagai wallpaper. Yongtae mengerjap pelan, kalau diingat, yang membuatnya menjadi buruk seperti sekarang, bukanlah kesalahan dirinya seratus persen. Bukannya Yongtae mau menyalahkan orang lain, tapi dulu saat kecil, saat Yongtae sedang mengalami masalah pada liver nya, disaat yang bersamaan, perusahaan orang tuanya sedang maju-majunya. Jadi ia dititipkan pada Pamannya karna orang tuanya sibuk, disaat ia sedang sakit, bahkan pasca operasi. Yongtae tetap tinggal bersama Pamannya, karna orang tuanya terlalu sibuk dan tidak bisa mengurusnya, bahkan menjenguknya pun jarang. Pamannya yang mendidik Yongtae semasa ia kecil, diusia Yongtae sedang banyak-banyaknya menyerap segala sesuatu. Pamannya selalu menanamkan jika Yongtae adalah dewa, dia tidak bisa bebas memilih teman, harus yang setara dengan derajatnya, meremehkan dan memandang rendah orang lainpun tertaman sempurna di jiwa Yongtae. Semua ajaran itu Yongtae bawa hingga dewasa. Awalnya Yongtae tidak setuju dengan sikap Pamannya, orang tuanya selalu mengajarkan hal baik, tapi prinsip dari rumah tidak kuat, dan akhirnya bisa kalah dengan ajaran Pamannya. Apa lagi saat Yongtae melakukan operasi cangkok hati, ia hanya ditemani Pamannya, orang tuanya tidak datang saat ia akan di operasi, maupun setelah operasi karna ada di luar negri. Sejak saat itu Yongtae berpikir Pamannya adalah segalanya. Meskipun apa yang diajarkan Pamannya buruk, Yongtae selalu mendengarkannya. Yongtae menopang keningnya. Pamannya orang baik, dan ia mencintainya, hanya saja ia terlalu sombong dan egois. Ditambah lagi saat ia masuk ke dunia pendidikan, dimana ia ditekan untuk belajar dan belajar untuk menjadi orang sukses orang tua. Menjadi semakin parah saat ia masuk ke dunia bisnis yang kejam dan penuh persaingan. Yongtae baru menyadari, perasaannya sebenarnya begitu beku. Ia merasa belum pernah merasakan cinta maupun dicintai dengan benar. Kecuali dengan Pamannya. Ia menyayangi orang tuanya, tapi kalau dipikir, perasaan itu sebenarnya hambar. Kata menyayangi hanya untuk balas budi karna ia sudah dibiayai hidupnya sampai ia bisa cari uang sendiri. Orang tuanya memang mengatakan jika mereka mencintai Yongtae, tapi tidak pernah benar-benar menunjukan rasa kasih sayang mereka padanya. Hanya terucap dari mulut, tapi hati mereka sendiri tidak terikat satu sama lain. Pamannya sudah tiada, dan membuat Yongtae berpikir tidak akan ada lagi yang benar-benar mencintainya. Yongtae beranjak berdiri, ia berjalan ke arah kamar untuk membangunkan Han Rae dan menyuruhnya makan malam bersama. *** Cklek. "Han-" kalimat Yongtae terhenti saat tidak menemukan Han Rae di ranjang. Cklek. Pintu kamar mandi terdengar terbuka, Yongtae otomatis menolehkan kepalanya ke arah kamat mandi. Mata Yongtae melebar saat Han Rae muncul dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk abu-abu, melingkar ditubuhnya. "Kau mandi?" tanya Yongtae. "Menurutmu?" balas Han Rae dengan nada dingin. "Ini aku pakai handukku, tidak pakai handukmu. Maaf aku membawa koperku ke dalam kamarmu." ucap Han Rae. Selama ini baju-baju Han Rae memang masih berada di dalam koper. "Susun saja bajumu dilemari." kata Yongtae. "Untuk apa? Kitakan nanti akan bercerai. aku akan segera keluar dari rumah ini." timpal Han Rae. "Memang aku bilang akan menceraikanmu?" Yongtae bertanya dengan nada biasa saja, mencoba menutupi rasa kesal dan marahnya yang seketika mengelubungi hatinya. "Tidak, tapi aku akan mengajukan gugatan cerai lebih dulu, karna kau melakukan kekerasan padaku." Han Rae berucap sembari menatap Yongtae dengan tatapan berani, tidak seperti biasanya, dimana Han Rae selalu menatapnya dengan takut. Yongtae mematung untuk beberapa saat, ia sangat ingin menghampiri Han Rae, menamparnya dan mengatainya, namun Yongtae mencoba mengontrol emosinya. "Terserah. Ayo makan malam, aku sudah masak. Kau pasti lapar tidak makan sejak siang." Ujar Yongtae seraya keluar dari kamar, tak lupa menutup pintunya. Han Rae menekan kedua belah bibirnya kedalam. Ia benar-benar tidak mengerti dengan Yongtae. Sikapnya berubah-ubah seperti pengidap bipolar, tapi Yongtae malah lebih sulit dimengerti. Tsundere. *** Makan malam hanya dihiasi kesunyian, hanya sesekali ponsel Yongtae berbunyi, namun Yongtae mengabaikannya. Sedangkan ponsel Han Rae, masih Yongtae simpan. "Aku mau pergi." Ucap Han Rae setelah terdiam cukup lama. "Kemana?" Tanya Yongtae. Han Rae terdiam sejenak, ia merasa bingung sebenarnya, apakah ia perlu memberitahunya pada Yongtae atau tidak. Entah penting atau tidak juga untuk Yongtae, tapi ia harus izin. Bodoh memang, tapi prinsipnya kuat, ia merasa tetap harus izin kalau mau pergi pada suami, apa lagi perginya hendak bertemu seseorang. "Ak-aku mau bertemu Woojung." ucap Han Rae pada akhirnya, Yongtae langsung menge cek arlojinya. "Sekarang sudah jam 9, akan ada badai salju jam setengah sepuluh, kalau mau bertemu besok saja." Han Rae tidak menjawab, tidak berniat membantah. Entah kenapa ia tidak membantah, ia sendiri bingung. Padahal ia bertekad tidak akan seperti kemarin yang pasrah begitu saja saat Yongtae melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan padanya, tapi kalau yang Yongtae katakan benar jika nanti malam akan ada badai salju bagaimana? Yongtae juga melarangnya tidak dengan cara yang kasar. Makan malam selesai, tanpa berkata apapun Yongtae membawa piring-piring kotor ke cucian piring, dan hendak mencucinya. "Biar aku saja." Ucap Han Rae dan hendak berdiri dari kursi meja makan. "Kau lap meja saja." Timpal Yongtae. "Oh, oke." balas Han Rae. Han Rae akhirnya membersihkan meja. Ia sesekali melirik punggung Yongtae. Han Rae bertanya-tanya, kenapa Yongtae begitu kejam padanya? Kalau memang dia tidak menginginkan pernikaha ini, seharusnya Yongtae mengabaikan keberadaannya saja. Berbagai pertanyaan seketika menggerogoti benak Han Rae. "Kenapa kau sangat jahat padaku?" Akhirnya Han Rae bertanya, dengan nada berusaha sebiasa mungkin, meskipun matanya sudah terasa panas, ingin menangis. Entah kenapa ia ingin menangis, air matanya tiba-tiba saja berkumpul saat ia melontarkan pertanyaan itu. Pergerakan Yongtae mencuci piring, terhenti sejenak. "Karna aku tidak mau pernikahan ini." Balas Yongtae pada akhirnya setelah cukup lama terdiam. "Kalau kau tidak menginginkannya, kenapa kau tidak mengabaikan aku saja? Se-seperti tadi pagi, dan siang tadi. Kau memukulku karna aku tidak pulang semalaman, dan kau marah saat aku minta cerai. Kalau... kau tidak menginginkan pernikahan ini, harusnya kita hidup sebagai orang lain saja meskipun satu rumah. Aku menikah, hanya karna ingin menyenangkan hati Ibuku. Jadi tidak apa-apa, kalau kita tidak benar-benar jadi sepasang suami istri dibelakang orang tua kita. Tapi- aku mohon jangan menyakiti aku. aku takut-" ujar Han Rae panjang lebar, dan ucapannya harus terhenti karna air matanya akhirnya meluruh, nada suaranya berubah bergetar dengan tenggorokan tiba-tiba terasa sakit. "Diamlah." Ucap Yongtae, ia mencoba tetap fokus menyelesaikan aktifitasnya mencuci piring. "Kalau kau tidak mau kita bercerai, tolong hargai sedikit pernikahan ini, meskipun pernikahan ini hasil perjodohan- aku mohon. Aku benar-benar takut karna hari ini- kau menakutkan-" Han Rae akhirnya tidak bisa menahan isakan tangisannya, ia sampai mengigit punggung tangannya untuk menahan suaranya tangisnya. Yongtae mencuci tangannya dari sisa-sisa sabun, ia membalikan tubuhnya dan berjalan menghampiri Han Rae. Yongtae menarik tangan Han Rae yang sedari tadi gadis itu gigit, sebelum akhirnya meraih tengkuk gadis itu dan menyatukan bibir mereka. Cukup lama, sampai akhirnya Yongtae menjauhkan wajahnya dari wajah Han Rae, dan beralih memeluk erat gadis itu. Sungguh, Han Rae benar-benar tidak mengerti dengan Yongtae. *** Han Rae kini tidur di kamar Yongtae lagi, awalnya ia ingin tidur di sofa, tapi Yongtae menyuruhnya ke kamar, dan Han Rae memilih tidak membantah. Han Rae menatap Yongtae yang sudah terlelap, sedangkan ia sendiri masih belum bisa tidur. Pikirannya sedang berkecamuk dan bingung. Ia ingin pernikahannya dengan Yongtae berakhir saja, namun terselip rasa tidak rela setelah pria itu memperlakukannya dengan lembut tadi. Seperti ada secercah harapan jika pria itu akan merubah sikapnya padanya. Han Rae beranjak duduk, ia menatap kesekeliling kamar bercat putih dengan wallpaper bergambar serigala putih bermata biru diujung dekat jendela menuju balkon. "Kau belum tidur?" Han Rae tersentak saat tiba-tiba mendengar suara Yongtae dibelakang tubuhnya. Ia menoleh dan mendapati pria itu tengah menguap dengan mata masih setengah terpejam. "Aku belum bisa tidur." Ucap Han Rae. "Kenapa?" Tanya Yongtae dengan mata yang kini sudah sepenuhnya terbuka. "Aku masih memikirkan soal pernikahan kita." Yongtae seketika terdiam mendengar jawaban Han Rae. "Kita masih mau mempertahankan pernikahan ini?" Yongtae masih hanya terdiam, tidak berniat berkata apapun. "Yongtae, jawab aku-" "Seperti yang kau katakan tadi saja. Kita hidup masing-masing saja, meskipun kita sebenarnya sepasang suami-istri." Entah kenapa hati Han Rae mencelos mendengar jawaban Yongtae. Bukan itu jawaban yang ingin ia dengar. Ia ingin Yongtae berkata "Kita coba jalani saja pernikahan ini, dengan semestinya." Tapi sayangnya itu hanya angan Han Rae semata. Sampai kapanpun Yongtae sepertinya tidak akan pernah menerima pernikahan ini. Han Rae berkata begitu, bukannya benar-benar ingin mereka hidup masing-masing. Han Rae berkata begitu, karna ia muak disakiti seperti hari ini. Apa Yongtae tidak bisa berubah sedikit? "Kalau begitu aku tidur di sofa saja. Kitakan hidup masing-masing, jangan satu ranjang." ucap Han Rae, seperti melulu. "Kau tetaplah disini, aku yang akan di sofa." Balas Yongtae sembari beranjak berdiri dari ranjang dan bergegas keluar kamar. 'Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di otaknya.' Batin Han Rae. *** Han Rae bangun lebih awal dan segera menyiapkan sarapan. Hari ini ia janji untuk sarapan dengan Woojung, namun ia tidak mungkin meninggalkan Yongtae tanpa sarapan. Meskipun pria itu bilang mulai sekarang mereka akan hidup masing-masing, namun entah kenapa Han Rae tidak bisa membiarkan Yongtae begitu saja. Bagaimanapun Yongtae suaminya, prinsip tetap harus di pegang teguh. Han Rae juga berharap, dengan ia tetap bersikap layaknya istri padanya bisa lamban laun merubah sifat Yongtae terhadapnya. Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk Yongtae, dan sedikit bersih-bersih. Han Rae segera mandi dan berdandan. Selesai sarapan dengan Woojung nanti, ia rencananya akan langsung ke kantor. Cklek. Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan Yongtae yang terlihat baru bangun tidur. Matanya masih setengah terbuka, dan rambutnya acak-acakan. Yongtae melirik Han Rae yang sedang memoleskan lipstick pada bibirnya, di depan meja rias. "Mau kemana?" tanya Yongtae. "Aku... mau sarapan dengan Woojung. Tadi malam saat aku bilang mau pergi dengannya, kau bilang besokan? Jadi aku merubah janji jadi hari ini. Selesai sarapan aku langsung ke kantor." Terang Han Rae. "O-oh....." gumam Yongtae. "Aku pergi dulu. Aku sudah siapkan sarapan untukmu." Ucap Han Rae sembari beranjak dari kursi dan meraih tas selempangnya. "Ya." balas Yongtae singkat. "Oh, tunggu, mau sarapan dimana?" "Di restoran dekat kantorku." Setelah Han Rae keluar kamar, Yongtae buru-buru masuk ke kamar mandi. Ia menyikat gigi, mencuci muka, dan melakukan ritual lainnya dalam sekali waktu dengan terburu-buru. Sampai tanpa sengaja dagunya tergores pisau cukur. "Aish, aku lupa pakai krim cukur." Sungut Yongtae sembari mengoleskan krim cukur dengan asal pada bagian kumis dan dagunya. "Auuuu... perih, perihh..." Gerutu Yongtae sembari tetap mencukur dagunya. "Tidak usah mandi, aku tidak bau kecuali tidak mandi seminggu. Lagi pula tidak mandi sebulanpun aku tetap tampan." Monolog Yongtae di depan cermin sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi. Yongtae mengambil coat coklatnya yang berada di lemari, untuk melapisi kaos hitam dan celana training putihnya. Selesai menge cek penampilannya sebentar, ia keluar kamar lalu beranjak ke dapur sejenak untuk mengambil piring berisi sarapan yang sudah Han Rae buat. Dengan membawa piring, Yongtae mengantongi ponsel, dompet dan kunci mobil. Sebelum akhirnya bergegas pergi. *** Yongtae mengitari sekitar kantor Woojung, mencari restoran yang sekiranya ada Han Rae dan Woojung. Cukup banyak restoran dan café disini. Setelah cukup lama berkeliling mencari Han Rae dan Woojung, mobil Yongtae akhirnya berhenti di depan salah satu restoran Jepang. Yongtae berhenti di sana karna bisa melihat Han Rae dari kaca jendela besar yang berada di restoran tersebut. Yongtae menghempaskan punggungnya pada jok mobil, sembari membuka sabuk pengamannya, ia kemudian mengambil piring yang berada di jok sebelahnya, kemudian menyantap sarapannya. Sesekali ia melirik Han Rae yang tampak banyak tertawa saat berbicara dengan Woojung. 'Kapan ya aku pernah membuat seorang gadis tertawa? Tapi selama ini akukan tidak pernah berkencan. Menyapa perempuan saja tidak pernah. Alah, lagi pula itu tidak penting. Untuk apa aku memikirkannya?' batin Yongtae. Han Rae tiba-tiba menatap keluar jendela, berbarengan dengan Yongtae yang juga hendak melihatnya. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Yongtae meletakan piring di tempat semula, dan memilih buru-buru pergi. *** "Ada apa?" tanya Woojung yang melihat Han Rae tampak tercengang dan mematung, saat ia baru melihat keluar jendela. Han Rae menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Woojung. "Aku tidak suka melihatmu murung, itu membuatku khawatir." Ucap Woojung. Han Rae tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya. ‘’Aku baik-baik saja.’’ *** Yongtae tidak mood bekerja. Seumur hidupnya, baru kali ini Yongtae merasa lelah dan bosan dengan pekerjaan-pekerjaannya. Para karyawan saja sampai heran saat Yongtae memilih cuti hari ini. Jadi saat ini Yongtae berakhir hanya duduk di kamarnya, sembari bermain game pada laptopnya. Yongtae bermain game hingga sore, kalau lapar, ia akan pesan makanan, bahkan kamarnya jadi agak berantakan, dan beraroma makanan. Bukan seperti kamar Yongtae yang biasanya. "Yosh! payah!" Gerutu Yongtae saat ia kalah untuk yang ketiga kalinya. "Sialan! Game macam apa ini? Kenapa aku kalah terus?! akh!" Yongtae hampir saja membanting laptopnya, kalau saja pintu kamarnya tidak tiba-tiba terbuka, dan menampilkan seorang gadis dengan balutan rok span merah marun, kemeja dan coat berwarna senada, yaitu hitam. "Kau membututiku?" Tanya gadis itu yang tak lain adalah Han Rae. Yongtae hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Han Rae. Sejujurnya dia bingung mau jawab apa. "Kenapa kau melakukannya? Aku jadi merasa tidak nyaman." Han Rae kembali berujar, merasa gemas karna Yongtae hanya diam saja. Yongtae akhirnya mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk, kemudian menatap tajam Han Rae. "Siapa yang mengikutimu? Kau mungkin salah lihat, atau mungkin itu hantu yang menjelma jadi aku. Kau pasti tahu banyak sekali makhluk yang ingin menjelma jadi aku, kenapa? Karna aku tampan." Han Rae menatap datar Yongtae, pria itu benar-benar bicara omong kosong. "Jangan bercanda." ucap Han Rae. "Aku tidak bercanda. Aku ke kantor tadi pagi." timpal Yongtae. Kemudian hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya tiba-tiba Yongtae berteriak histeris sembari memegangi dagunya. "Kenapa?" Tanya Han Rae yang sontak jadi khawatir. "Daguku perih, sakit sekali. Tadi pagi aku mencukur jenggotku, tapi tidak sengaja jadi terluka begini. Aku suka ceroboh... aduhh... sepertinya akan infeksi. Aku takut lukanya jadi membusuk, lalu daguku akan diamputasi, oh tidakkkk...." balas Yongtae sembari berguling-guling di ranjang. Han Rae segera mendekati Yongtae, untuk menge cek luka pada dagu Yongtae. "Kenapa tidak diobati dari awal?" Tanya Han Rae saat melihat luka parut pada dagu Yongtae. Han Rae sebenarnya malas meladeni Yongtae setelah melihat lukanya. Ini hanya luka kecil, dan Yongtae bersikap sangat berlebihan. "Aku tidak pintar mengobati luka begini. Nanti malah jadi makin parah." Balas Yongtae dengan memasang ekspresi memelas. "Hah... ya sudah biar aku obati. Kotak obat dimana?" "Ada dilaci meja nakas." Han Rae segera membuka laci dan mengeluarkan kotak obat, ia mengeluarkan barang-barang yang diperlukan, sebelum akhirnya mengobati luka Yongtae. "Perihhh... hati-hati." Gumam Yongtae, saat Han Rae mulai mengobati lukanya. "Aku sudah hati-hati." Balas Han Rae. Selagi Han Rae mengobati luka Yongtae, Yongtae sibuk mengamati wajah Han Rae, yang tak jauh berada di dekat wajahnya. Ia bisa melihat hidung Han Rae sudah sedikit berminyak, lipsticknya agak luntur begitu juga eyeshadow coklat yang ia pakai, namun entah kenapa tidak terlihat terlalu buruk. "Selesai. Aku mau mandi, beres-beres dan menyiapkan makan malam. Kau mau makan apa?" Han Rae berujar sembari membereskan kotak obat. "Aku mau sup ayam saja, aku jadi keringat dingin karna luka ini. Padahal udara dingin tapi aku berkeringat." ucap Yongtae. "Sejujurnya kau berlebihan. Tentu saja kau berkeringat, suhu penghangat ruangan yang ada di kamar terlalu tinggi. Aku juga berkeringat." balas Han Rae, dengan tanpa ragu memasang ekspresi malasnya. "O-oh, begitu ya? Ahh... aku lupa." Gumam Yongtae sembari menggaruk tengkuknya kikuk. Han Rae kemudian mengambil remote untuk merubah suhunya jadi lebih sejuk. Han Rae membuka coatnya, kemudian mengambil handuk yang ia jemur di jemuran kecil di depan kamar mandi. "Rae," Panggil Yongtae, sebelum Han Rae masuk ke kamar mandi. "Apa?" Tanya Han Rae. "Boleh aku minta tolong?" Han Rae seketika menoleh menatap Yongtae. "Minta tolong apa?" "Besok, kalau aku ingin bercukur, cukur bulu yang diwajah, kau yang mencukurnya ya? Agar aku tidak terluka begini lagi. Ya? Ya? aku sering sekali begini masalahnya." Han Rae terdiam sejenak, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya. "Baiklah." Ucap Han Rae. "Malam ini kita tidur bersama juga ya? Aku kan sedang sakit." "Iyaa....." Han Rae kembali hanya mengiyakan. *** Yongtae memeluk gulingnya sembari menatap keluar jendela dari kasurnya. Ia merasa kalut, bingung dengan dirinya sendiri. Apa mungkin perasaan yang seharusnya ada pada suami kepada istrinya sudah muncul? Tidak, tidak mesti itu perasaan cinta. Hanya seperti perasaan ingin manja pada istri, bercengkrama dengan baik, atau tidur bersama, juga rasa punya tanggung jawab untuk memastikan istri baik-baik saja, khawatir saat ia jalan dengan pria lain, apa lagi mantan kekasih. Yah, hanya perasaan-perasaan seperti itu. Yongtae melirik ke arah coat Han Rae yang tersampir di sandaran kursi. Yongtae beranjak duduk, kemudian mengambil coat tersebut. "Kenapa aku mengambilnya?" Gumam Yongtae. Ia kemudian iseng mendekatkan coat tersebut pada hidungnya, dengan ragu menghirup aromanya. "Sweet." Gumam Yongtae, dan kembali mencium coat tersebut. Cklek. Pintu kamar mandi tiba-tiba terdengar terbuka. Yongtae tersentak dan otomatis mengembalikan coat Han Rae ke tempat semula. "Sedang apa?" Tanya Han Rae dengan kening mengernyit. "Eunggg... tidak, tidak sedang apa-apa, memangnya terlihat sedang apa?" Balas Yongtae kikuk. Han Rae menggendikan bahunya, dan memilih berjalan ke arah koper untuk mengambil bajunya. Yongtae hanya diam sembari memperhatikan gerak-gerik Han Rae. Han Rae berjongkok di depan kopernya sembari membelakangi Yongtae. Yongtae terdiam, sembari memperhatikan Han Rae. Rasanya ia ingin memotong rambut panjang Han Rae, agar ia bisa melihat leher dan bahu gadis itu. Yongtae seketika menggelengkan kepalanya, menyadari pemikirannya yang begitu tidak baik. 'Kenapa aku jadi begini?' Batin Yongtae. Saat sudah menemukan baju yang ingin dipakai, Han Rae beranjak berdiri dari posisi berjongkoknya. Tanpa sadar kaitan handuknya terlepas, hingga begitu berdiri, handuk Han Rae langsung jatuh. Han Rae dengan panik segera mengambil handuknya dan mengenakannya kembali. Yongtae jadi merasa khawatir setelah melihat punggung Han Rae tadi, meskipun ia melihatnya hanya sekilas, namun Yongtae tetap bisa melihat dengan jelas luka-luka yang belum sepenuhnya sembuh dipunggungnya. "Lukamu..... belum sembuh?" Tanya Yongtae dengan hati-hati. Han Rae terhenyak mendengar pertanyaan Yongtae, namun ia mencoba bersikap biasa saja, meskipun sebenarnya sedang merasa malu, karna rupanya Yongtae sempat melihat punggungnya tadi. "It-itu tidak apa-apa, sudah hampir sembuh. Biasanya aku menutupnya dengan perban, tapi karna tadi mandi, jadi aku lepas." Ujar Han Rae. Yongtae beranjak berdiri kemudian berjalan mendekati Han Rae. "Sekarang pasti mau diperban lagi kan? Biar aku yang melakukannya. Pasti sulit melakukannya sendiri." "Tidak perlu." Ucap Han Rae masih dalam posisi membelakangi Yongtae. "Kenapa? Aku hanya berniat membantumu, aku tidak berniat yang lain-lain." balas Yongtae. Han Rae akhirnya membalikan tubuhnya menghadap Yongtae. "Kenapa sejak kemarin malam tingkahmu sangat aneh?" Tanya Han Rae. Yongtae mengangkat salah satu alisnya. "Aneh bagaimana maksudmu? Tidak ada yang aneh dari tingkahku. Kau sendiri yang bilang, ingin aku bersikap lebih baikan? Dan tidak menyakitimu. Aku sedang mencoba melakukannya, apa salah lagi?" "Bu-bukan begitu. Hanya saja....." Han Rae menggantungkan kalimatnya, tidak tahu harus berkata apa. "Hanya saja apa?" Nada bicara dan raut wajah Yongtae berubah dingin. Han Rae akhirnya hanya diam, dia sendiri bingung hendak mengatakan apa. Yongtae mendengus kemudian meraih tangan kanan Han Rae, menariknya menuju ranjang. "Tengkurap." Titah Yongtae, tapi Han Rae hanya diam mematung. Yongtae mendengus, ia tubuh Han Rae untuk berbaring di kasur, sontak saja itu membuat Han Rae terkejut. Yongtae membalikan tubuh Han Rae jadi tengkurap, sebelum akhirnya menarik ke bawah handuk Han Rae, hingga menampakan punggung gadis itu. Han Rae tidak berucap apapun, ia memilih memejamkan matanya rapat-rapat, sembari meletakan pipi kanannya pada bantal. Yongtae kemudian membuka laci meja nakas dan mengeluarkan kotak obat dari sana. Yongtae mulai mengobati luka Han Rae dengan hati-hati, membuat Han Rae sontak menggenggam tangannya erat. "Perih ya?" Tanya Yongtae saat mendengar ringisan Han Rae. "Eum... sedikit." Balas Han Rae dengan nada lirih. "Tahan sedikit. Aku akan lebih hati-hati." Ucap Yongtae yang diangguki oleh Han Rae. "Mereka sedang......" "Shuttt... jangan diganggu, sudah aku bilang, ini bukan waktu yang tepat untuk datang kesini. Yongtae tidak masuk kerja pasti ada alasannya, menyiapkan malam pertamanya." "Mereka seharusnya melakukannya saat honeymoon." "Yongtae tidak akan sempat honeymoon." "Jadi tandanya apakah Yongtae sudah menerima pernikahannya?" Han Rae dan Yongtae seketika tercengang saat mendengar ada orang yang berbincang-bincang di depan pintu kamar. "O-orang tuamu ya?" Tanya Han Rae sembari menolehkan kepalanya ke arah Yongtae, menatap pria itu yang terlihat sama terkejutnya dengannya. "Sepertinya..." Gumam Yongtae. "Me-mereka salah faham. Kita tidak melakukan itu." Kata Han Rae dengan agak panik. "Shuttt..." Ucap Yongtae sembari meletakan satu jari telunjuknya di depan bibir Han Rae. Yongtae tiba-tiba menaikan seluruh tubuhnya ke atas ranjang, dan melompat-lompat kecil hingga menimbulkan suara deritan. Han Rae hanya bisa diam sembari menatap aneh Yongtae, ia tidak berani mengangkat tubuhnya karna handuknya yang terbuka. Tak lama Yongtae membuat suara deritan semakin heboh. "Kita pulang saja, dan datang kesini lagi besok. Takut menganggu mereka." "Ayo." "Hah... pergi juga akhirnya." Gumam Yongtae. Han Rae seketika memelototi Yongtae. "Kenapa kau membiarkan orang tuamu pergi? Tidak sopan! Lagi pula kitakan tidak melakukan itu." Ujar Han Rae. "Diamlah. Aku sedang malas bertemu mereka, pasti mereka mau memarahiku karna hari ini aku tidak masuk kerja." Balas Yongtae sembari mendengus. "Kenapa kau hari ini tidak kerja? Kau bilang sore tadi, kalau kau kerja." Kata Han Rae dengan nada sengit dan jengkel. "Bukan urusanmu." Balas Yongtae. ia kemudian memilih ke aktifitas awalnya, mengobati luka Han Rae. Mereka kemudian saling terdiam. Yongtae dengan hati-hati memasang perban pada luka-luka yang sudah ia beri obat merah. Hanya sekedar dibentang lalu diberi plester disetiap ujungnya. "Selesai." Ucap Yongtae beberapa saat kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD