06

1833 Words
Han Rae segera merubah posisi jadi menyamping membelakangi Yongtae, ia memegangi handuk bagian depannya, agar menutupi dadanya, seraya beranjak duduk. Yongtae hanya diam sembari memperhatikan gerak-gerik Han Rae. "Terimakasih." Gumam Han Rae kemudian beranjak berdiri, dan melilitkan handuknya kembali pada seluruh tubuhnya. "Eum, y-ya." Balas Yongtae dengan sedikit gagap. ia bisa merasakan jantungnya berdebar dengan kencang entah mengapa. Yongtae mendengus, kemudian buru-buru turun dari ranjang, dan keluar kamar tanpa mengatakan apapun, membuat kening Han Rae mengernyit. "Dia benar-benar orang aneh." Gumam Han Rae. *** Han Rae keluar dari kamar, dan mendapati Yongtae tengah berbaring di sofa sembari menonton tv. Han Rae kemudian berjalan ke dapur, untuk menyiapkan makan malam. Yongtae melirik punggung Han Rae yang tak lama menghilang di dapur. Yongtae kemudian menghempaskan kepalanya pada sofa. padahal sebelumnya ia berharap Han Rae menghampirinya, dan bertanya dengan lembut, kenapa ia tiba-tiba keluar kamar? atau yah... pertanyaan-pertanyaan lain yang mengkhawatirkannya. Meskipun tidak mungkin Yongtae akan jawab jujur kalau ia keluar kamar karna mendapat sedikit masalah. Yongtae akhirnya memilih beranjak dari sofa, dan berjalan menuju dapur, ia bisa melihat Han Rae tengah sibuk memasak. "Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Yongtae. "Tidak ada, aku sudah hampir selesai." Balas Han Rae. Yongtae akhirnya hanya berdiri dibelakang gadis itu, memperhatikan setiap gerak-geriknya. "Han Rae," panggil Yongtae. "Ya?" Sahut Han Rae. "Apa kau dan Woojung, berniat berkencan kembali? Kau masih menyukainya?" "Aku tidak berniat begitu. Statusku kan masih menikah." Ucap Han Rae. "Tapi kau masih menyukainya kan?" Han Rae terdiam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan Yongtae. "Jawab yang jujur." Ucap Yongtae mendesak. "Y-ya, aku masih menyukainya. Kenapa?" Yongtae menatap datar Han Rae yang sudah berbalik menatapnya juga. "Tapi kau sudah menikah." Kata Yongtae dengan nada sedingin wajahnya. "Aku tahu, itu sebabnya aku tidak kembali berkencan dengan Woojung sekarang." Balas Han Rae. "Kenapa kau masih menyukainya?" Yongtae kembali mengeluarkan pertanyaan. "Karna dia masih menyukaiku juga." Han Rae akhirnya membalas pertanyaan Yongtae sekenanya. "Hanya itu?" Yongtae berujar tidak puas. "Dia menghargaiku, menjagaku tidak hanya diluar, tapi juga perasaanku." Han Rae sebenarnya sudah sangat ingin menyudahi pembicaraan yang menurutnya tidak penting ini, dan ia rasa akan menimbulkan masalah. "Kau menyindirku?" Benarkan feeling Han Rae? "Aku tidak menyindirmu, kau sendiri yang bertanyakan? Alasan aku masih menyukainya." Han Rae lama-lama jadi tersulut emosi, kenapa Yongtae cari rebut? "Kalau kau bercerai denganku, kau akan berkencan dengan Woojung?" Pria itu kembali mengoceh. "Menikah dengannya." Han Rae berucap apa adanya. "Kalau kau sudah bercinta denganku, lalu kita bercerai, masih mau menikah dengan pria lain?" Han Rae menatap aneh Yongtae, ia akhirnya memilih meletakan masakannya yang sudah jadi ke dalam mangkuk, lalu menyusunnya dimeja makan. "Jawab pertanyaanku." Desak Yongtae. "Itu pertanyaan aneh." Balas Han Rae. "Itu tidak aneh." Timpal Yongtae. "Itu aneh, apa maksudmu bertanya seperti itu? Kau mau mengatai aku wanita murahankan? Setelah aku jawab, aku akan tetap menikah dengan pria lain, meskipun sudah bercinta denganmu." Kata Han Rae panjang lebar. "Iya." Ucap Yongtae singkat. "Kau sama saja mengatai semua janda di dunia ini yang menikah lagi p*****r. Kau memang tidak pernah bisa menghargai wanita. Sekarang aku tahu kenapa kau tidak menikah-menikah sampai akhirnya menikah denganku." "Kau sebut tidak ada wanita yang mau denganku? Hei, aku tidak menikah-menikah karna aku terlalu sibuk bekerja." "Itu salah satu alasan, dan alasan lainnya kau tidak bisa menghargai wanita. Tidak akan ada orang, mau itu pria atau wanita, yang suka jika tidak dihargai. Memiliki wajah tampan dan banyak uang, percuma kalau tidak bisa menghargai orang lain." "Jadi kau tidak akan menyukaiku?" Han Rae seketika terdiam mematung, lebih tepatnya tercengang dengan pertanyaan yang dilontarkan Yongtae. Han Rae kemudian menghela napasnya sebelum hendak menjawab pertanyaan Yongtae "Aku kira awalnya aku bisa begitu, menyukaimu pada akhirnya meskipun pernikahan ini hasil perjodohan. Tapi setelah dipikir, aku tidak bisa menyukai orang sepertimu. Lagi pula memangnya kau akan menyukaiku? Bukankah kau yang bilang sendiri? Kalau aku adalah sampah dan tidak pantas untukmu, sampai kapanpun perasaanmu akan tetap tertutup untukku." Han Rae berujar panjang dengan intonasi suara yang berusaha ia buat sesantai mungkin. Yongtae menganggukan kepalanya. "Yeah, kau benar. Kau bahkan lebih dari sampah sekarang dimataku. Karna bisa-bisanya kau menyukai orang lain, sedangkan kau sudah bersuami." Kata Yongtae. "Itu karna kau sendiri tidak menganggap aku sebagai istrimukan? Aku tidak mengerti dengan sikapmu, maumu apa sebenarnya?" Timpal Han Rae. "Mauku kau tidak menyukai Woojung lagi." Ucap Yongtae. "Untuk apa? Memangnya setelah ini kau akan menganggapku istrimu?" Yongtae seketika bungkam. "Maumu apa Lee Yongtae? Kau ini benar-benar tidak bisa dimengerti! Aku lama-lama benar-benar muak denganmu! Sungguh!" Han Rae berujar dengan frustasi sembari menatap jengkel Yongtae yang tetap terdiam, dan malah memilih keluar dari dapur. Han Rae segera memanggilnya, namun Yongtae tidak menghiraukannya. Yongtae pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket parkanya, dan pergi begitu saja dari rumah tanpa pamit. Han Rae mendudukan dirinya pada salah satu kursi meja makan dengan lemas sembari menopang pelipisnya, tingkah Yongtae benar-benar tidak bisa dimengerti. *** "Kau mungkin sudah menaruh hati padanya." Ujar Johnny sembari menuangkan wine pada gelas Yongtae. Yongtae menatap sejenak cairan merah keunguan tersebut, sebelum akhirnya meraih gelas itu dan meneguk isinya sedikit demi sedikit. Yongtae saat ini tengah berkunjung ke rumah Johnny untuk menceritakan masalahnya. Yongtae memang selalu menjadikan Johnny tempat bicara, kalau Yuto yang dijadikan tempat bicara, yang ada masalah Yongtae akan semakin runyam. "Enak?" Tanya Johnny, Yongtae menganggukan kepalanya. "Wine ini dari Paris, dan kualitasnya sangat tinggi, jadi sudah pasti enak." Kata Johnny. "Oh ya, kembali ke topik, mungkin kau mulai menaruh hati padanya." "Mana mungkin." Gumam Yongtae sembari mendesah gusar. "Kau tahu? Yang namanya sudah menikah itu, meskipun sebelumnya kalian menikah tanpa perasaan, tapi lamban laun perasaan itu akan muncul sendiri. Apa lagi kalau kalian sebelumnya sudah melakukan itu." Kata Johnny. "Tapi kamikan tidak pernah melakukan hal yang kau maksud." Sahut Yongtae. "Yahh... maksudku tidak mesti begitu juga. Tapi, Han Rae kan selama ini bersikap baik, meskipun kau kasar padanya, dia tetap sabar saja menghadapimu, tidak aneh kalau kau berujung menyukainya. Apa lagi sebelum-sebelumnya kau memang tidak pernah jatuh cinta." Kata Johnny. Yongtae terdiam sejenak sembari kembali menegak winenya. "Tapi Han Rae tidak menyukaiku." Ucap Yongtae. "Ya tentu saja, bagaimana dia mau menyukaimu kalau kau saja masih bersikap kasar padanya? Ditambah mulutmu itu, jujur saja ya, dari pertama kali kita menjadi teman, aku sudah risih dengan mulutmu, rasanya ingin aku jahit lalu diobras! Mulutmu terlalu pedas seperti Ibu-Ibu salah menyalakan lampu sen." Yongtae seketika menatap datar Johnny, setelah mendengar perkataannya. "Enak saja mulutku disamakan dengan mulut Ibu-Ibu." Kata Yongtae tidak terima. "Tapi itu kenyataannya, dan sekarang, ada mantan Han Rae yang sangat jauh lebih baik darimu, bisa dipastikan, kemungkinanmu untuk mendapatkan hati Han Rae hanya 0,01%. eumm..... kecuali....." Johnny menggantungkan kalimatnya, membuat Yongtae mengangkat alisnya penasaran. "Kecuali?" Tanya Yongtae. "Kalian honeymoon, lalu yahh... melakukan hal yang seharusnya pasangan suami-istri lakukan. Aku dengar, wanita pasti akan jatuh cinta setelahnya. Apa lagi kalian juga memang sudah menikahkan? Tidak ada salahnya melakukan itu." "Kalau dia tidak mau?" "Sebelum mengajaknya honeymoon, kau memang harus memastikan pada Han Rae, jika kau, mulai menerima pernikahan kalian, dan ingin serius membangun rumah tangga kalian dengan baik dan benar." "Aku sebenarnya masih ragu dengan perasaanku sendiri." Johnny menepuk keningnya kemudian memutar kedua bola matanya malas. "Ya terserah padamu, pikirkan dulu saja matang-matang bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Aku hanya bisa memberi saran." *** Yongtae baru saja pulang dari rumah Johnny, dan hendak memasukan mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya. Namun sebuah pemandangan didepannya, berhasil mengurungkan niatnya. Ia hanya berhenti di depan pagar, sembari menatapi seorang pria bersurai kecoklatan yang tengah merengkuh seorang gadis ke dalam pelukannya, di depan teras rumahnya. Mereka belum menyadari kehadiran Yongtae. Napas Yongtae seketika memburu, ia akhirnya turun dari mobil dan berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Han Rae yang menyadari kehadiran Yongtae, buru-buru hendak melepas pelukannya dengan Woojung, dan begitu pelukan mereka terlepas, bahu Woojung langsung ditarik oleh Yongtae dari belakang, dan satu pukulan mendarat dipipi Woojung dengan keras, hingga pria bersurai kecoklatan itu jatuh tersungkur ke tanah. Han Rae buru-buru menghampiri Woojung dan melindunginya saat Yongtae hendak memukul Woojung kembali. Yongtae menggeram kesal, ia menarik Han Rae dan mendorongnya hingga gadis itu ikut jatuh ke tanah. "Pergi kau dari sini." Ucap Yongtae dingin sembari menatap tajam Woojung. Woojung balik menatap tajam Yongtae. "Jangan kasar pada wanita!" Seru Woojung. "Diam! Sekarang kau pergi dari sini, aku minta kau pergi sebelum aku menghajarmu lagi!" Kata Yongtae. Woojung beranjak berdiri sembari memberi tatapan menantang. "Memangnya aku takut?" Kata Woojung. Buk. Buk. Han Rae melebarkan saat Woojung berkali-kali lipat memberi pukulan pada Yongtae. Han Rae dengan susah payah berdiri, dan mencoba menengahi mereka. "Cukup! cukup!" Seru Han Rae seraya mencoba memisahkan keduanya. Namun Yongtae tidak mau dengar, ia malah mendorong Han Rae dan kembali menghajar Woojung. "Kalian tidak tahu malu apa?! Terutama kau Han Rae! Berselingkuh di rumahmu sendiri." Seru Yongtae. "Aku tidak selingkuh. Woojung hanya datang untuk mengobrol biasa!" "Halah! Tidak usah berbohong! Sekarang kau pergi dari sini, sebelum aku panggilkan satpam untuk mengusirmu, karna sudah membuat keributan disini." Woojung menggertakan giginya kesal, ia akhirnya tidak bisa berkutik, dan memilih segera pergi, setelah sebelumnya pamit pada Han Rae. Setelah Woojung pergi, Yongtae tampak mengepalkan tangannya. Han Rae bisa merasakan roman tidak enak disekelilingnya. Tak lama Yongtae membalikan tubuhnya menghadap ke arah Han Rae yang hanya bisa diam mematung. Yongtae menatapnya tajam, sebelum akhirnya menarik tangan Han Rae untuk masuk ke dalam rumah. "Bisa-bisanya kau seperti tadi!" gertak Yongtae. Han Rae hanya diam, rasanya percuma untuk melawan pria itu. Ia tetap akan kalah. "Apa maksudmu berpelukan dengannya hah? Jadi kau benar-benar kembali berkencan dengannya?!" Han Rae menatap tajam Yongtae, dengan tidak takut, meskipun perasaanya sebenarnya berbanding terbalik. "Bukan urusanmu." Ucap Han Rae dengan nada dingin dan penuh penekanan. Yongtae menggertakan giginya. "Aku suamimu." "Ya kau memang suamiku, tapi bukankah kau tidak menganggap pernikahan ini?! Kau itu aneh! Labil! Entah apa yang ada diotakmu! Terus mengataiku sampah! Tapi menganggap dirimu sebagai suamiku! Memangnya ada suami yang menganggap istrinya sendiri sampah?!" Yongtae seketika bungkam. "Tapi apa kau tidak punya malu? pantas seorang istri berpelukan dengan pria lain? Di depan rumahnya sendiri pula. Entah aku menganggap atau tidak pernikahan ini, setidaknya kau punya malu!" Han Rae bungkam. Kalau dipikir apa yang Yongtae katakan benar, tapi tadi ia benar-benar butuh tempat untuk hanya sekedar membuatnya tenang sebentar. "Kau benar-benar..." desis Yongtae. "Aku butuh seseorang untuk bicara, untuk bisa membuatku tenang dan melepas semua beban yang aku tanggung, dan semua beban yang aku tanggung itu berasal dari kau! Tidak ada lagi yang bisa mendengarkan ceritaku lagi selain Woojung. Kalau aku cerita pada Ibu, itu akan membuatnya sedih dan merusak nama baikmu juga keluargamu. Aku salah mencoba menenangkan diriku? Hanya Woojung yang bisa jadi tempat bersandarku." Giliran Yongtae yang bungkam, dadanya terasa diremat mendengar penuturan Han Rae. Ia seolah tertampar betapa tidak bergunanya ia. Ia hanya bisa menyakiti. Namun ego Yongtae tetap paling mendominasinya saat ini, ia tidak mau kalah dan dianggap salah. "Bagus. Jadi kau menganggap aku beban dan Woojung sebagai penawarnya, begitu maksudmu hah?!" Kata Yongtae dengan penuh emosi. "Iya! memang kenyataannya begitu!" sahut Han Rae dengan tidak kalah emosi. Yongtae meraih pergelangan tangan Han Rae, dan menarik tubuh gadis itu menuju kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD