Yongtae membuka matanya perlahan, ia menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati seorang gadis dengan balutan piyama berwarna biru langit, namun sudah compang-camping. Mereka terus bertengkar hingga hampir menjelang subuh, karna Han Rae terus melawan.
Membuat emosi Yongtae meletub-letub. Ia sudah mencoba untuk meredakan emosinya, namun bayangan saat Woojung dan Han Rae saling berpelukan tak bisa lepas dari pikirannya, membuat emosinya kembali membuncah.
Yongtae tahu ia gila, ia sering tidak bisa menahan emosinya hingga berakhir ia marah berlebihan. Apa lagi egonya juga tinggi, ia sering tidak mau disalahkan, merasa kalah, atau merasa bersalah. Yongtae tidak kenal rasa-rasa itu.
Yongtae memukul-mukul keningnya pelan menggunakan kepalan tangan kanannya.
'Maumu sebenarnya apa Lee Yongtae?' Batin Yongtae seraya menghela napasnya.
***
Yongtae menepuki pipi Han Rae pelan, bermaksud membangunkan gadis itu. Namun Han Rae hanya menggeliat pelan.
"Han, pagi ini aku ada meeting, dan kumis dan janggutku sudah tumbuh lagi, ayo bangun, kau harus mencukurnya."
Han Rae hanya mengerang membalas perkataan Yongtae dan memilih memunggunginya.
Yongtae menghela napasnya, ia beranjak turun dari ranjang, kemudian berdiri di depan Han Rae.
Yongtae menyelipkan kedua tangannya pada ketiak Han Rae, sebelum akhirnya mengangkat tubuh gadis itu, dan dengan sigap ia menahan b****g juga punggung Han Rae. Yongtae menggendong Han Rae seperti koala. Yongtae kemudian berjalan ke kamar mandi dengan menggendong Han Rae, sedangkan gadis itu tetap setia tidur.
Mungkin karna tidur kemalaman, apa lagi mereka sehabis bertengkar, jadi menghabiskan banyak energi.
"Harusnya semalam digunakan untuk kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat, membuat keturunan orang tampan misalnya, tapi kau malah membuat masalah." Gumam Yongtae sembari mendudukan Han Rae di meja wastafel.
Mata Han Rae tampak benar-benar susah terbuka, ia bahkan hampir jatuh dari meja, namun Yongtae dengan sigap menahannya.
"Astaga, Han Rae." Sungut Yongtae. "Ayo bangun!" Gertak Yongtae tiba-tiba, membuat Han Rae seketika membuka matanya.
"Apa? Apa? Ada apa?"
Yongtae memutar kedua bola matanya malas. Ia kemudian mengambil pencukur dan krim cukur, kemudian menyodorkannya pada Han Rae.
"Ck," Han Rae berdecak sembari mengambil ke dua benda tersebut. Ia baru ingat dengan tugasnya.
Dengan asal Han Rae mengoleskan krim cukur pada bagian dagu dan atas bibir Yongtae, kemudian mulai mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh disana.
"Kenapa kau berpelukan dengan Woojung semalam?" Tanya Yongtae.
"Kenapa dibahas lagi? Kau mau kita bertengkar pagi-pagi?" Kata Han Rae dengan sarkastik.
"Jawab pertanyaanku, dan kenapa juga dia bisa ada disini? Dia tahu alamat rumah ini dari mana? Kau yang menyuruhnya datang? Dan memberitahu alamat rumah kita? Tapi tidak mungkin. Kau kan tidak pegang ponsel."
Han Rae mengurut pelipisnya mendengar rentetan pertanyaan yang dilemparkan Yongtae.
"Aku menghubunginya lewat hati." Kata Han Rae sekenanya.
"Ck, serius Han. Jujur padaku, kau menghubunginya pakai apa?" Yongtae mendesak.
"Aku tidak mau memberitahunya. Nanti kau akan menyita benda itu, sedangkan benda itu sangat aku perlukan untuk bekerja."
"Laptop? Kau menghubunginya lewat laptop?"
Han Rae hanya diam tidak menjawab pertanyaan Yongtae, ia pura-pura fokus mencukur. Yongtae meraih pergelangan tangan Han Rae yang memegang pisau cukur, kemudian menatap tajam gadis itu.
Han Rae menghela napasnya.
"Kalau sudah tahu kenapa bertanya lagi?" Kata Han Rae.
"Sekarang kembali kepertanyaan awal, kenapa kau berpelukan dengan Woojung?" Yongtae kembali melontarkan pertanyaan yang sudah ia lontarkan diawal perbincangan mereka.
"Sepertinya semalam sudah dibahas." Ucap Han Rae.
"Aku minta cerita yang detail." Kata Yongtae.
"Aku hanya menangis setelah selesai bercerita padanya, jadi dia memelukku." Han Rae bercerita dengan singkat.
"Kau cerita apa huh?" tanya Yongtae.
"Ck, kau ini benar-benar pria dengan keingin tahuan besar ya? Aku bilang padanya, kalau aku khawatir padamu! Kau semalam tiba-tiba pergi, dan hampir tengah malam kau tidak kunjung pulang. Aku juga menceritakan kau yang bersikap aneh kemaren dan berakhir kita bertengkar. Saat kau bersikap aneh aku malah jadi punya secercah harapan kecil kalau kau akan berubah, tapi kau sendiri yang tiba-tiba mengungkit perasaanku lalu mengataiku, dan berujung kau yang marah. Hah... maksudmu apa?" Han Rae berujar panjang lebar.
"Aku marah karna kau menyukai orang lain." Ucap Yongtae singkat.
"Kau punya otak? Kau punya otakan? Otakmu jangan hanya dipakai untuk bekerja. Meskipun aku menyukai orang lain, aku sudah menikah dan tidak akan main gila! Dan jadi maksudmu, kau mau aku menyukaimu? Aku tidak waras kalau menyukai pria yang bersikap kasar padaku. Aku bukan masokis." Han Rae berujar dengan sarkastiknya, bahkan sampai menunjuk-nunjuk kepalanya.
Yongtae mengepalkan tangannya, sungguh, ia paling tidak bisa dihina begini. Apa lagi sekarang ia seperti disudutkan dan disalahkan. Padahal ia tahu ia yang salah. Tapi kali ini Yongtae mencoba untuk menahan emosinya, meskipun ia rasanya sangat ingin mengoyak bibir Han Rae, yang sudah secara tak langsung mengatainya bodoh.
"Selesai, kau bisa membasuh wajahmu sendirikan?" Kata Han Rae tiba-tiba, ia kemudian akan beranjak turun dari meja, namun Yongtae buru-buru menahan perutnya.
Yongtae menatap Han Rae yang balik menatapnya dengan tatapan malas.
"Sudahlah. memang lebih baik kita menjalani pernikahan ini dengan tetap hidup masing-masing. Rencananya juga begitukan? Meskipun sebenarnya aku tidak ingin. Tapi kita tidak cocok. Kalau perlu aku pindah rumah sekalian." Kata Han Rae
"Tidak, kau tetap disini." Ucap Yongtae, ia kemudian menghela napasnya sejenak. "Lalu kalau hubungan kita begitu, bagaimana akhir pernikahan kita?"
"Kau yang pertama setuju dengan perkataanku untuk hidup masing-masing. Lalu apa yang kau pikirkan soal akhir pernikahan kita?"
Yongtae hanya terdiam. Saat ia mengatakan ingin tetap menjalani pernikahan ini namun tetap hidup-hidup masing-masing, Yongtae sama sekali tidak punya rencana untuk akhir pernikahan mereka.
"Kalau aku sudah siap mengatakan pada Ibu, kita bercerai." Kata Han Rae.
Yongtae melebarkan matanya, ia menatap Han Rae dengan tatapan tidak rela. Namun Han Rae tidak dapat membacanya.
***
"Kau yakin ingin begitu?" Tanya Woojung sembari meneguk soda kalengnya.
"Aku tidak tahu. Aku ingin pernikahanku dengan Yongtae baik-baik saja, karna aku tidak ingin mengecewakan Ibu. Ayah juga pernah berpesan padaku untuk menjaga pria itu, terutama hatinya. Karna di dalam hati pria itu ada hati Ayahku. Aku sebenarnya takut untuk bercerai, karna pernikahan kami wasiat Ayahku." Han Rae menundukan kepalanya.
"Tapi sikapnya benar-benar membuatku muak. Ia selalu marah dengan alasan yang tidak jelas. Dia juga terlihat enggan untuk membuat kepastian, mau dibawa kemana pernikahannya ini. Mau dilanjutkan atau diakhiri, tidak jelas. Padahal sikapnya terlihat tidak menyukai pernikahan ini, tapi dia juga tidak mau bercerai. Astaga. Membuat kepalaku rasanya mau pecah."
Woojung menghela napasnya, ia menyendok puding coklat yang ada di depan Han Rae, kemudian memakannya.
Han Rae seketika mendongakan kepalanya dan menatap jengkel Woojung.
"Ck! jangan makan pudingku dong!" Protes Han Rae.
Woojung hanya tertawa kecil menanggapi gerutuan Han Rae.
"Apa Yongtae tahu jika Ayahmu berpesan agar kau menjaganya?" Tanya Woojung.
Han Rae menggelengkan kepalanya.
"Kalau pun dia tahu dia tidak akan peduli. Dia bahkan tidak bersimpati sedikitpun, meskipun sudah tahu dia bisa hidup sampai sekarang karna Ayahku." Kata Han Rae.
Woojung kembali memakan puding Han Rae, membuat Han Rae mengerang kesal sembari memukuli tangan pria itu untuk menjauh dari pudingnya.
"Kau membuatku semakin kesal saja!" gerutu Han Rae.
Woojung hanya tertawa, dan tiba-tiba malah mengoleskan sisa vla yang ada bibirnya pada bibir Han Rae, membuat Han Rae tersentak dan mematung.
"Vla kiss. Kau tidak merindukannya?"
***
Yongtae memasuki sebuah toko bunga, ia membeli sebuket bunga mawar merah dan juga kartu ucapan berwarna pink untuk ditorehkan pesan di sana.
Setelah membayar semuanya, Yongtae memasuki mobilnya, dan menulisan pesan pada kartu ucapan yang sudah dibelinya.
Dear Han Rae, istriku.
aku minta maaf atas sikapku selama ini. Awalnya aku memang membenci pernikahan kita, tapi setelah cukup lama kita bersama, dan kau bisa bersikap sabar pada sikapku, lamban laun aku merasa perasaan dan pikiranku berubah sedikit-sedikit soal pernikahan kita. Jadi intinya, aku mulai menerima pernikahan kita, aku ingin menjalani pernikahan kita dengan yang seharusnya.
Aku cemburu dengan Woojung, itu alasannya aku marah. Bukan karna aku bersikap aneh.
Sekarang, maukah kau menjadi milikku? Aku juga akan menjadi milikmu.
Dari suamimu yang paling tampan, Yongtae.
Yongtae menatap setiap kalimat yang ia tulis diatas kartu ucapan pink tersebut. Ia merasa agak mual membaca tulisannya sendiri.
"Agak berlebihan tidak sih? ck." Yongtae mengacak rambutnya.
"Tidak, tidak berlebihan. Huh... perasaanku berdebar." Gumam Yongtae seraya menyelipkan kartu ucapan tersebut pada bunga-bunga mawar yang mekar dengan indah itu.
Yongtae tersenyum tipis sembari mencium sejenak aroma bunga mawar tersebut.
"Aku harap kau suka." Gumam Yongtae.
***
Yongtae memasuki kantor Woojung, ia langsung pergi ke kantin untuk mencari Han Rae. Sekarang jam makan siang, seharusnya Han Rae ada di kantin.
Namun saat ia kesana, Yongtae sama sekali tidak menemukan keberadaan Han Rae. Yongtae berjalan mendekati salah satu karyawan yang tengah makan siang.
"Oh my goddd... siapa pria tampan itu, dia menghampiri kita astaga, dan dia bawa bunga!" terdengar samar-samar perkataan karyawan yang Yongtae hampiri.
"Ekhem, permisi." Ucap Yongtae pada kedua wanita itu.
"Y-ya? Ada yang bisa kami bantu?"
"Apa kau tahu Han Rae?" Tanya Yongtae.
"Han Rae? Oh! Tentu saja kami tahu! Dia karyawan kesayangan Bos besar, ada apa ya?"
"Aku suaminya. Apa kalian tahu dimana dia sekarang?" Yongtae lama-lama jengah karna harus terus bertanya.
"Su-suami? Jadi kau suami Han Rae? astaga, apa tidak salah?"
"Memangnya apa yang salah?" Tanya Yongtae dengan kening mengernyit.
"Han Rae kan..... jelek? oh maaf maaf."
Yongtae memutar malas kedua bola matanya.
"Jadi apa kalian tahu dimana Han Rae sekarang?" Yongtae mengulangi kembali pertanyaannya diawal.
"Dia biasanya makan siang di ruangan Tuan Kim."
"Kim Woojung?"
"Ya."
"Baiklah, terimakasih informasinya, oh ya, dan satu lagi, Han Rae tidak jelek, mulut kalian yang busuk."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Yongtae segera bergegas pergi ke lobby, untuk menanyakan dimana keberadaan ruangan Woojung.
***
Yongtae keluar dari lift setelah sampai dilantai 8. Kantor Woojung sangat besar, Yongtae akui kalah jauh dari kantornya. Tapi kantor Woojung kan hasil warisan, tidak seperti Yongtae yang hasil sendiri. Yah, meskipun ia suatu saat juga akan jadi penerus seperti Woojung.
Tapi melihat ini, membuat Yongtae langsung memiliki keinginan untuk membangun lebih besar lagi perusahaannya.
"Aish, jangan pikirkan pekerjaan dulu." gumam Yongtae.
Sampai akhirnya ia sampai di depan sebuah ruangan ber pintu besar yang terbuat dari kayu, bisa dipastikan ini ruangan Woojung.
Pintunya terbuka setengah, Yongtae memilih langsung masuk ke ruangan Woojung, tanpa mengetuk ataupun permisi.
Namun langkahnya terhenti tepat di depan ambang pintu, saat melihat ibu jari Woojung mendarat diatas bibir Han Rae.
"Vla kiss, kau tidak merindukannya?"
Yongtae melebarkan matanya dengan mengepalkan tangannya mendengar ucapan Woojung, ia menunggu reaksi Han Rae, namun gadis itu hanya diam saja.
Yongtae akhirnya membuang buket bunga yang berada di tangannya, menginjaknya sebelum akhirnya ia bergegas masuk ke ruangan Woojung.
Woojung dan Han Rae sama-sama terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Yongtae. Tanpa berkata apapun, pria bersurai coklat itu berjalan mendekati mereka dan menarik tangan Han Rae kasar sampai Han Rae berdiri dari kursinya.
"Mulai hari ini Han Rae mengundurkan diri dari perusahaan ini." Ucap Yongtae sembari menatap tajam Woojung.
"Apa?" Gumam Han Rae sembari menatap tidak percaya Yongtae.
Yongtae balik menatap Han Rae dengan tatapan tajam.
"Apa? kau tanya apa?" Tanya Yongtae dengan sarkastik.
Plak. Woojung melebarkan saat melihat Yongtae menampar Han Rae secara tiba-tiba. Woojung sontak berdiri dari kursinya.
"Aku yang salah! Jangan bersikap kasar pada Han Rae!" Seru Woojung.
"Kalian berdua sama saja." Cibir Yongtae.
"Tapi jangan kasar pada Han Rae!" kata Woojung.
"Kau tidak usah ikut campur urusan rumah tanggaku dengan Han Rae." Kata Yongtae.
"Rumah tangga? Sejak kapan kalian membina rumah tangga? Kalian hanya sebatas menikah karna paksaan." Kata Woojung.
"Diam saja kau! Masih mending sekarang aku tidak menghajarmu dan membuat keributan disini. Setelah ini jangan harap kau bisa bertemu dengan Han Rae." Setelah mengucapkan kalimat itu, Yongtae segera menarik tangan Han Rae untuk bergegas pergi dari ruangan Woojung.
Woojung tidak bisa tinggal diam, ia buru-buru mengejar mereka, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah buket bunga yang hampir hancur, tergeletak di depan ruangannya.
Woojung segera mengambil buket bunga tersebut, dan mengeceknya. Sampai akhirnya ia menemukan kartu ucapan di dalamnya.
Woojung mengambil kartu ucapan tersebut kemudian membaca isinya.
"Astaga, aku membuat kesalahan besar." Gumam Woojung dengan raut wajah menyesal sekaligus khawatir.
***
Brak. Han Rae meringis saat tubuhnya di banding ke ranjang dengan keras.
Yongtae mengunci pintu kamarnya, sebelum akhirnya ia membuka jas hitamnya, melemparnya begitu saja ke lantai, ia kemudian naik ke atas ranjang.
Han Rae sontak beranjak duduk dan menjauhkan dirinya dari Yongtae.
"Kau mau kemana huh?" ujar Yongtae sembari menarik tangan Han Rae kasar agar mendekatinya. Ia kemudian mencengkram erat rahang Han Rae.
"Kau- sudah benar-benar membuatku kecewa. Aku akan menghabisimu sekarang."
***
Woojung meletakan buket bunga mawar merah tersebut di atas meja kerjanya. Ia sebenarnya merasa khawatir dengan Han Rae, namun ia merasa tidak seharusnya ia ikut campur urusan rumah tangga Han Rae.
Lagi pula Yongtae sepertinya hendak berubah. Ia akan memberikan buket bunga dan kartu ucapan ini pada Han Rae, tapi bagaimana caranya? Sedangkan Yongtae sudah berkata ia tidak boleh bertemu dengan Han Rae lagi. Han Rae juga rasanya benar-benar tidak akan bekerja lagi di kantornya.
"Pasti ada cara." gumam Woojung.
Woojung kemudian menghela napasnya sembari menatap buket bunga tersebut.
"Yang terpenting, sekarang aku harus membuat bunga itu tetap segar untuk waktu yang lama."
Woojung kemudian mengusap wajahnya kasar.
"Aku tidak tahu jika dia akan datang, hah... astaga, apa juga yang sudah aku lakukan? Han Rae sudah menikah, seharusnya aku tidak memperlakukannya seperti tadi. Aku harus belajar melupakannya, juga semua kenangan- aku benar-benar membuat kesalahan besar ya Tuhan."
***
Yongtae meninggalkannya begitu saja, begitu mereka selesai melakukan itu. Tanpa berkata sepatah katapun, atau sekedar memberi pelukan untuk Han Rae yang masih merasa shock juga merasa kesakitan.
Yongtae langsung mengambil celananya kembali, pergi keluar kamar dan memilih menggunakan kamar mandi di dekat dapur untuk membersihkan diri.
Setelah itu ia pergi dari rumah. Entah kemana. Entah pergi ke kantornya, atau ke tempat lain, Han Rae tidak tahu. Yongtae tidak mengatakan apapun.
Dan sekarang hari baru memasuki petang.
Han Rae menekuk kedua lututnya, sembari menggigiti ibu jarinya, ia masih sesenggukan, meskipun sudah menangis cukup lama.
Tidak hanya fisiknya yang sakit, namun perasaannya juga. Pengalaman pertamanya dibuat mengerikan, dan ia merasa tidak dihargai.
Mungkin karna Yongtae melakukannya dengan emosi. Ia sendiri tidak bisa banyak melawan kalau Yongtae sudah marah.
"Woojung aku takut." Isak Han Rae. "Tapi sekarang aku lebih takut bertemu denganmu. Yongtae tidak akan membiarkannya, hiks."
***
Woojung menatap mawar yang ia rendam pada vas kaca bening berisi air. Woojung mengulum senyuman tipis. Ia jadi teringat Han Rae yang sangat menyukai mawar, dulu ia selalu memberikan hadiah mawar dan barang yang lain saat Han Rae berulang tahun. Han Rae akan langsung memeluknya setelah itu. Hubungannya saat berkencan dengan Han Rae dulu memang indah. Padahal mereka juga sering bertengkar.
Apa lagi jika Woojung sudah mulai mabuk. Ya, dulu meskipun masih dibawah umur Woojung sudah memegang minuman berakohol. Dia mengalami frustasi berat di masa lalu, itu sebabnya hidupnya tak tentu arah dulu. Dia juga paling malas belajar. Tapi Han Rae selalu memberinya motivasi untuk rajin belajar dan mendapat nilai bagus saat ujian.
"Aku ingin anak-anak kita suatu saat nanti, bangga melihat nilai Ayahnya. Lalu mereka akan rajin belajar." Motivasi Han Rae yang paling Woojung ingat.
Tapi apa yang terjadi? Hubungan mereka kandas. Anak sekolahan seharusnya memang tidak bicara terlalu tinggi saat berkencan, karna cinta mereka bisa kandas ditengah-tengah.
Yah namanya juga kisah percintaan anak SMA, tidak akan bertahan lama, bahkan yang sudah dewasa saja kisah cintanya sering kandang ditengah-tengah. Woojung tersenyum.
"Aku masih mencintaimu, tapi kita tidak ditakdirkan bersama." Monolog Woojung sendiri.
Ddrrttt...
Woojung tersentak saat ponselnya tiba-tiba berdering, ia buru-buru mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telfon tersebut.
"Halo."
"Oh iya, aku hampir lupa sudah janji bertemu denganmu."
"Maaf, maaf, tapi apa harus bertemu di club malam?"
"Kau tahukan? tempat itu masa kelamku."
"Ya sudah, aku akan tetap kesana, tapi jangan tawari aku alkohol."
***
Yongtae memasuki sebuah club malam, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru club. Ini bukan gayanya pergi ke tempat-tempat seperti ini, tapi Johnny dan Yuto bilang tempat ini menyenangkan. Mereka sering ke tempat-tempat seperti ini memang, sebelum menikah.
Yongtae hanya ingin tahu bersenang-senang itu seperti apa, berada di rumah dan melihat Han Rae, membuatnya jadi teringat kejadian tadi siang. Ia hanya takut emosinya kembali meletub, dan menyakiti Han Rae lagi dan lagi.
Yongtae memasuki lebih dalam club malam tersebut, banyak orang menari-nari tidak jelas dan terdapat sebuah panggung yang tidak terlalu besar, berisi penari-penari strip.
Yongtae akhirnya memilih duduk pada kursi yang berada di depan meja bar.
"Pengunjung baru?" Tanya seorang bartender dengan mata layaknya kelinci.
Yongtae tersenyum tipis. "Ya." Balas Yongtae.
"Mau pesan sesuatu?" Tanya sang bartender lagi.
"Jus lemon saja, alkoholnya jangan terlalu banyak." Balas Yongtae.
"Oke." Sahut bartender.
Bartender itu pun kemudian mulai menyiapkan pesanan Yongtae. Yongtae hanya diam menunggu pesanannya sembari memperhatikan penampilan para penari.
"Hei, apa pria bisa menari dipanggung juga?" Tanya Yongtae.
"Tentu saja, jika penari selesai menari, siapapun yang merasa percaya diri bisa menari di panggung, dan kau akan dapat bayaran dari Manajer jika membuat pengunjung merasa senang." Jelas si bartender.
"Wow. Aku suka uang. Menari juga sepertinya menyenangkan." Gumam Yongtae.
"Menari strip?" Tanya bartender itu diselingi kekehan.
"Kau gila?" timpal Yongtae.
Bartender itu hanya membalas dengan senyuman miring, kemudian menyerahkan minuman pesanan Yongtae.
"Terimakasih." Ucap Yongtae sebelum akhirnya meneguk minuman tersebut.
15 menit berlalu, para penari sudah selesai dengan aksinya. Yongtae akhirnya beranjak berdiri, ia melepas jaketnya, menyisakan kemeja hitamnya. Ia kemudian meletakan jaketnya tersebut di atas meja bar.
"Aku titip." Ucap Yongtae pada si bartender.
***
Yongtae hanya melakukan dance random, hingga ia berkeringat dan kemejanya menempel pada d**a juga punggung, karna basah akan peluh. Semua pengunjung bersorak dan mengikuti Yongtae yang menari dengan semangat.
Sampai akhirnya seorang gadis tiba-tiba naik ke atas panggung, menarik kerah kemeja Yongtae, sebelum akhirnya meraih bibir Yongtae.
Yongtae awalnya terkejut, namun ia akhirnya terbawa suasana dan malah meraih pinggang gadis tersebut.
"Yongtae? apa yang kau lakukan?"