"Jadi Kakak sudah menikah?" Tanya Edward saat Han Rae sedang menghidangkan teh dan kue.
"Ya, bahkan aku sedang hamil." Balas Han Rae sembari tersenyum. Mata Edward melebar.
"Woah benarkah? Aku tidak menyangka, Kakak bahkan terlihat lebih muda dariku. Atau jangan-jangan aku yang terlihat tua ya?"
Han Rae terkekeh pelan mendengar ocehan Edward.
"Kau terlihat dewasa." Ucap Han Rae sembari duduk di sofa yang berhadapan dengan Edward.
"Suami Kakak pasti sedang bekerja ya?" tanya Edward.
"Iya, dia sibuk sekali." Balas Han Rae.
"Pasti Kakak kesepian, tapi sebenar lagi Kakak tidak akan kesepian, kan ada adik bayi diperut Kak. Hah, untung juga ya berarti tadi aku membantu Kakak bawa belanjaan, aku dengar, wanita hamil itu tidak boleh lelah-lelah, atau membawa beban yang berat." Kata Edward.
"Kau tahu dari mana?" tanya Han Rae.
"Dari mana ya? Entahlah. aku lupa." Balas Edward sembari menggendikan bahunya.
Han Rae terkekeh melihat Edward yang tampak polos. Padahal jika orang melihatnya pertama kali, pasti akan berpikir Edward adalah pria dewasa yang dingin.
"Kakak, boleh aku minta kontak Kakak? Aku butuh banyak bimbingan orang lokal untuk hidup disini." Kata Edward.
"Ah, aku tidak punya ponsel. Sebenarnya punya, tapi diambil suamiku." Balas Han Rae.
"Apa? Kenapa?" tanya Edward.
"Dia..... entahlah, maksud dia apa mengambil ponselku. Sikapnya protektif, tapi..." balas Han Rae diselingi helaan napas.
"Ah, jangan beritahu masalah pribadi apa lagi rumah tangga Kakak padaku, kitakan baru kenal, aku juga belum mengerti masalah rumah tangga, hehehe." Kata Edward sembari memberi cengiran.
"Ah benar juga. Kau juga pasti pusing kalau mendengar ceritaku, aku sendiri saja pusing dengan hidupku, hahaha." Kata Han Rae.
"Jangan begitu. Semua akan indah pada waktunya, hehe. Aku sok tahu sekali." Edward berujar dengan cengengesan.
Han Rae lama-lama gemas dengan Edward, dan berakhir mengacak rambut pemuda itu. Edward tampak malu saat Han Rae melakukannya, jadi ia hanya bisa mengulum senyum.
"Aku akan berikan kontakku pada Kakak, aku catat di kertas. Mungkin saja sewaktu-waktu, Kakak bisa menghubungiku." Kata Edward sembari membuka tas ranselnya untuk mengambil notes kecil dan pulpen.
"Oh oke." Gumam Han Rae.
Edward pun mulai mencatat semua kontaknya, dimulai dari nomor telfon, id line, dan sebagainya. Selesai mencatat kontaknya, Edward menyerahkan notes tersebut pada Han Rae.
"Dari Lai Edward pria tampan se Taiwan. hahaha, apa-apaan ini." Han Rae membaca kalimat yang tertulis di akhir kontak-kontak yang Edward berikan, kemudian tertawa.
Edward hanya ikut tertawa melihat Han Rae yang tertawa membaca tulisan konyolnya, dan mereka akhirnya menghabiskan waktu untuk saling bertukar cerita sekaligus minum teh dan makan kue.
"Kak, jadi Kakakku ya?"
***
Yongtae menatap keluar jendela ruangannya, ia khawatir sejak Han Rae izin ingin ke minimarket untuk membeli buah, dan ia mengiyakan. Ya karna mau bagaimana lagi? Han Rae sedang ingin sesuatu masak dilarang? Kecuali jika keinginannya ingin nonton Minhyun, baru ia larang.
'Kalau Han Rae bertemu dengan Woojung bagaimana?'
'Kalau Han Rae bertemu dengan pria yang lebih tampan dariku bagaimana? Tapi memangnya ada?'
'Atau..... bagaimana jika Han Rae bertemu dengan pria yang jauh lebih baik dariku?'
'Atau, atau, bagaimana kalau Han Rae bertemu dengan pria yang mudah menyatakan perasaannya? tidak seperti aku, akkhhhhh.'
Yongtae mengacak rambutnya merasa frustasi dengan pemikirannya sendiri.
"Aku ini memikirkan apa sih?" gumam Yongtae sembari menopang pipinya.
"Pulang saja sana. Kau itu seperti orang gila kalau sudah memikirkan Han Rae." Kata Yuto yang sedang berbaring di sofa panjang untuk tidur siang.
Sekarang sedang jam makan siang, dan Yuto lebih memilih istirahat di ruangan Yongtae dari pada makan siang.
"Ya sudah aku pulang ya? Awas kalau ruanganku berantakan."
"Iya, iya, tenang saja. Ruanganmu tidak akan berantakan."
***
Han Rae melebarkan matanya saat mendengar suara mobil Yongtae yang memasuki pekarangan rumah. Ia kemudian melirik Edward yang masih menikmati kue kering.
'Mudah-mudahan Yongtae tidak marah. Edward kan hanya anak SMA.'
Han Rae kemudian beranjak berdiri dari sofa.
"Guan, suamiku sudah pulang. Aku... mau ke depan dulu." Ucap Han Rae.
"Oh iya Kak." Timpal Edward.
Han Rae berjalan ke pintu, kemudian membukanya, terlihat Yongtae tengah berjalan mendekati pintu.
"Tumben disambut di depan pintu." Ucap Yongtae.
Han Rae hanya tersenyum simpul.
"Ada siapa?" Tanya Yongtae saat melihat ada sepatu asing di rak sepatu. Han Rae menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya, sebelum menjelaskan siapa tamu yang datang.
"Aku tadi beli buah, ada buah yang jatuh karna aku kesulitan membawanya, lalu ada yang menolongku mengambil buah yang jatuh, sekaligus membantuku membawa belanjaan sampai ke rumah. Dia anak SMA, pertukaran pelajar dari Taiwan. Jadi... aku sekalian saja menyuruhnya mampir, dan menyuguhkan teh juga kue." Terang Han Rae panjang lebar dengan nada cepat, sebelum Yongtae marah lebih dulu, kalau tahu anak SMA itu anak laki-laki.
"Oh. Laki-laki atau perempuan?" Tanya Yongtae.
"Laki-laki." Balas Han Rae dengan nada lirih.
Mata Yongtae seketika melebar.
"Laki-laki?!" Yongtae langsung mendorong Han Rae agar menyingkir dari depan pintu, dan merangsek memasuki rumah.
Seorang anak laki-laki jangkung tiba-tiba sudah berdiri di depannya, mengumbar senyuman lebar, kemudian membungkukan tubuhnya hormat.
Yongtae jadi terpaku. Sebelumnya dia hendak mengusir bocah ini, tapi melihat dia sangat sopan dan terlihat lugu, akan sangat lucu jika dia main usir. Karna yang seharusnya punya tata krama lebih kan yang lebih tua. Mengusir orang sembarangan sama saja tidak punya tata krama.
"Sudah berapa lama disini?" Tanya Yongtae dengan nada dingin.
"Eum, sejam lewat dua puluh lima menit." Balas pemuda itu sesaat setelah ia mengecek arlojinya.
"Sudah cukup lama ya?" Kata Yongtae dengan nada menyindir.
"Iya, hehe. Habis mengobrol dengan Kak Han Rae itu seru, aku sampai lupa waktu. Kue dan teh buatannya juga enak sekali. Perkenalkan Paman, aku Lai Edward."
Yongtae menatap tidak minat tangan yang terulur padanya, namun ia akhirnya tetap menjabat tangannya.
"Lee Yongtae, dan aku masih muda, jangan panggil aku Paman." Ucap Yongtae.
"Oh, jadi aku memanggil Paman, Kakak?" tanya Edward.
"Hhmm." Balas Yongtae.
Edward melirik Han Rae yang tampak menghela napasnya.
Han Rae tiba-tiba menulis sesuatu di sebuah kertas kecil, yang ia temukan sembarangan, kemudian menunjukannya pada Edward. Kebetulan posisi Yongtae membelakangi Han Rae, jadi Yongtae tidak tahu apa yang Han Rae lakukan.
'Dia memang dingin dan galak, mohon dimaklumi ya?'
"Galak? galak itu bagaimana maksudnya? Kak Yongtae galak?" kata Edward setelah membaca pesan dari Han Rae.
Han Rae buru-buru meremat kertas kecil yang tadi ia tunjukan pada Edward. Ia baru ingat bahasa Korea Edward masih belum benar-benar bagus. Masih ada kata yang Edward belum tahu. Yongtae tiba-tiba membalikan kepalanya untuk menatap Han Rae.
"Kau bilang padanya aku galak?" tanya Yongtae.
"Tidak, aku tadi bilang kau imut, bukan galak. Kau itu imut, imut sekali seperti kaktus kecil yang durinya tajam-tajam." Balas Han Rae.
Yongtae langsung berbalik menghadap ke arah Han Rae. Ia bisa melihat Han Rae tengah mengepalkan tangannya. Pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
Yongtae segera berjalan mendekati Han Rae.
"Apa yang kau sembunyikan di tangan kananmu?" tanya Yongtae sembari menyodorkan salah satu tangannya.
Han Rae menggelengkan kepalanya seraya menyembunyikan kedua tangannya dibalik punggung.
"Berikan padaku! Cepat berikan! Apa yang kau sembunyikan?!" seru Yongtae sembari menarik-narik tangan Han Rae.
"Bukan apa-apa, jangan paksa-paksa dong!" protes Han Rae dengan nada suara tak kalah tinggi.
Yongtae berhasil menarik tangan kanan Han Rae, dan sekarang sedang mencoba membuka kepalan tangannya. Namun Han Rae tiba-tiba menggigit tangan Yongtae dan berlari pergi.
"Hei!" Teriak Yongtae sembari mengibaskan tangannya kemudian mengejar Han Rae.
Edward hanya bisa terdiam, sembari mengerjapkan matamya.
"Gadis nakal! Akan aku pukul punggungmu!" Seru Yongtae saat Han Rae masuk kamar mandi dan menguncinya.
Ia kemudian bergegas menghampiri Edward yang sedari tadi setia berdiri di tempatnya.
"Galak itu apa Kak? Beritahu aku dalam bahasa Inggris." Tanya Edward.
"Angry bird." Balas Yongtae sekenanya. Dia mana tahu bahasa Inggris galak.
"Jadi anak muda, apa lagi yang mau kau lakukan disini?" Tanya Yongtae sembari menatap serius Edward.
"Aku..... mau minta kontakmu, sewaktu-waktu mungkin aku butuh bantuanmu, karna aku masih baru di Korea." Balas Edward.
"Oh ya, kau tidak akan menganggu istriku kan? Maksudku, seperti menggodanya." Kata Yongtae.
"Kakak tenang saja. Dia itu hanya aku anggap Kakakku. Lagi pula, mana mungkin aku mengusik pasangan yang sudah menikah." Kata Edward.
"Tapi pasti diawal kau bertemu dengan istriku, kau berpendapat lain." Kata Yongtae.
"Ahhh... dia tidak terlihat sudah bersuami, apa lagi sudah hamil." Balas Edward kemudian memberi cengiran.
"Yongtae! Tolong aku! Pintunya tidak bisa dibuka! Pintunya rusak!" Tiba-tiba terdengar teriakan Han Rae dari kamar mandi.
Cklek. Namun tak lama pintu kamar mandi terdengar terbuka.
"Eh bisa! aku salah memutar kunci, malah jadi terkunci dua kali. Kok bisa ya? hahaha, aku bodoh."
"BARU SADAR HAH KALAU KAU BODOH?!" teriak Yongtae.
"Dia jadi aneh sejak hamil, hah... aku stress rasanya." ucap Yongtae pada Edward.
***
"Kau kan tinggal sendiri. Jadi pasti sulit kalau mau makan makanan rumah, jadi kau bawa ini ya? Spesial untukmu. Di dalamnya juga ada kue kering dan bolu." ujar Han Rae sembari menyerahkan kantung kain berisi kotak makan. Edward menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih Kak..." ucap Edward sembari membungkukan tubuhnya hormat pada Han Rae dan Yongtae.
"Sering-sering, kesini ya? Agar aku tidak kesepian kalau Kak Yongtae sedang bekerja." Kata Han Rae.
"Memangnya aku boleh apa?" gumam Yongtae dengan nada lirih.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Terimakasih untuk hari ini." kata Edward dengan cengiran lebar, ia kemudian berjalan menuju taxi yang sudah ia pesan.
"Iya, hati-hati ya." Balas Han Rae sembari melambaikan tangannya. Edward membalas lambaian tangan Han Rae, dan masuk ke dalam taxi. Tak lama taxi pun menjauh dari pekarangan rumah, namun Han Rae tetap melambaikan tangannya.
Tak lama Yongtae tiba-tiba menangkap tangan Han Rae yang sedari tadi melambai. Sekujur tubuh Han Rae seketika menegang.
"Anak nakal harus dihukumkan?" tanya Yongtae dengan nada berbisik tepat di depan telinga Han Rae.
"Aku nakal apa?" tanya Han Rae dengan nada tidak terima.
"Membawa laki-laki ke rumah tanpa seizinku, mengatai aku galak di depannya, dan sekarang tidak sadar dengan kesalahanmu." Kata Yongtae.
"Astaga. Edward itu hanya anak SMA, lagi pula diakan membantuku membawa belanjaan, kalau tidak ada dia, aku akan kelelahan, dan bayimu akan kenapa-kenapa. Kalau aku mau izin, izin lewat mana? Ponsel saja diambil olehmu, dan masalah aku mengataimu galak, itu memang kenyataan, kau itu memang sangat-sangat galak dan mengeri-" Han Rae langsung menutup mulutnya menyadari ucapannya hampir kelewatan.
"Ayo masuk." Ucap Yongtae dengan nada dingin.
"Aku mau menyiram tanaman sebentar." Balas Han Rae mencoba mencari alasan.
"Aku yang akan menyirammu. Ayo masuk sekarang."
Yongtae hendak menarik tangan Han Rae, namun Han Rae sudah lebih dulu berpegangan pada kedua sisi pintu dibagian depan. Yongtae mendengus, ia meraih pinggang Han Rae dan menariknya untuk masuk. Namun Han Rae mempertahankan posisinya berpegangan pada pinggir pintu.
"Kau itu berani ya? Mau aku hukum di depan pintu?!" seru Yongtae yang mulai kesal.
"Ti-tidak." Balas Han Rae.
"Cepat masuk!" teriak Yongtae.
"I-iya."
***
Han Rae menarik-narik rambut coklat terang milik Yongtae, sedangkan Yongtae hanya diam sembari memejamkan matanya, menikmati kepalanya yang sedang dikeramasi Han Rae sekaligus dipijat.
"Tubuhku sakit." Keluh Han Rae.
"Makanya jangan buat ulah." Balas Yongtae dengan nada tak acuh. Han Rae memajukan bibir bawahnya. Sedangkan Yongtae malah menyamankan posisi kepalanya pada d**a Han Rae.
Posisi Han Rae duduk dengan kaki berselonjor, dan punggung yang bersandar pada bath up. Sedangkan Yongtae juga dalam posisi yang sama, namun kepala dan punggung bersandar pada tubuh Han Rae. Untung tubuh Yongtae ringan karna kurus, jadi perut Han Rae tidak merasa terlalu tertekan.
"Yongtae." Panggil Han Rae.
"Mmh?" Tanya Yongtae.
"Kapan kau akan menerimaku sebagai istrimu? Dan menghargai posisiku sebagai istri dengan tulus?" tanya Han Rae. Yongtae seketika membuka matanya.
"Aku ingin kita seperti orang lain. Aku ingin, dicintai suaminya juga." Han Rae melanjutkan kalimatnya.
"Jangan banyak mimpi dan meminta. Kita menikahkan karna perjodohan. Jangan berharap seperti orang lain." Ujar Yongtae.
"Lalu kenapa kita itu lagi tadi? Kalau sebelumnya karna kau marah, lalu tadi? Karna kau marah juga? Sekarang kita juga mandi bersama...’’ kata Han Rae dengan napas terasa sesak.
Yongtae terdiam sejenak sembari menelan ludahnya.
"Aku melakukannya untuk bersenang-senang saja, bukankah itu menyenangkan? Kita mandi bersama untuk menghemat waktu dan untuk bersenang-senang juga." Kata Yongtae.
"Tapi aku tidak merasa senang. Aku merasa dilecehkan, meskipun kau suamiku sendiri." Balas Han Rae.
"Ya kan hanya aku disini yang bersenang-senang, kalau kau tidak merasa senang, ya sudah." Kata Yongtae dengan enteng.
Han Rae rasanya ingin menjambak rambut coklat itu, kemudian membanting kepalanya ke dinding, dan menggigit wajah pria itu hingga rusak. Namun Han Rae tidak mungkin melawannya, Yongtae akan lebih kuat membalasnya, dan mungkin ia akan kena balasan yang lebih buruk.
***
Han Rae duduk di kursi meja makan. Ia terlihat sesenggukan, sesekali Han Rae akan mengusap air matanya, kemudian kembali menyeruput kopi susunya. Han Rae tidak bisa tidur, jadi ia memilih minum kopi untuk menenangkan pikiran dan perasaannya. Perkataan Yongtae tadi masih terngiang dibenaknya. Tidak, bukan hanya perkataannya yang tadi, tapi juga kalimat-kalimat menyakitkan Yongtae yang lain, yang pernah dilontarkan padanya.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas dibenaknya, Han Rae segera beranjak berdiri, kemudian berjalan ke kamar. Mata Han Rae berbinar saat melihat tas kerja Yongtae yang diletakan di atas kursi meja rias. Ia segera berjalan ke sana, dan dengan hati-hati meraih tas hitam tersebut, Han Rae membukanya, dan langsung mencari ponselnya.
"Yesss..." gumam Han Rae saat ia mendapatkan ponselnya.
Han Rae buru-buru meletakan tas kerja Yongtae kembali ke posisi semula. Ia melirik Yongtae sejenak, memastikan pria itu masih tidur. Setelah itu, Han Rae bergegas keluar kamar dan kembali ke dapur.
Han Rae duduk di tempatnya semula, kemudian menyalakan ponselnya.
Senyuman kecil terukir dibibirnya, saat melihat wallpaper ponselnya yang belum diganti. Foto dirinya dengan Woojung, saat pertama kali bertemu setelah sekian lama. Foto yang memang tidak seharusnya dipasang. Yongtae pasti sangat marah setelah wallpapernya.
Han Rae membuka aplikasi chat, membuka room chatnya dengan Woojung, sebelum akhirnya menekan tanda panggilan.
"Aku mohon angkat." Gumam Han Rae sembari meletakan benda berwarna hitam tersebut di depan telinga kanannya.
"Halo Han Rae, ada apa menelfon malam-malam? Kau sudah bisa pegang ponsel?" mendengar suara Woojung diseberang sana, malah membuat tangisan Han Rae tiba-tiba pecah.
"Han Rae, ada apa? Sesuatu terjadi padamu? Jangan membuatku khawatir, ada apa?"
"Yongtae....."
"Yongtae melakukan apa padamu? Katakan padaku."
Dengan susah payah karna sambil menangis, Han Rae menceritakan perbincangannya dengan Yongtae saat mandi tadi.
"Aku kira setelah kita melakukannya lagi, dia memang perlahan mau menerima pernikahan ini. Tapi ternyata dia hanya menjadikan aku pelacurnya." Dan setelah mengucapkan kalimat itu, tangisan Han Rae semakin keras.
Woojung tidak langsung menjawab perkataan Han Rae. Ia memilih menunggu sampai tangisan Han Rae mereda.
"Ayah bilang aku akan bahagia menikah dengannya. Ayah pikir Yongtae akan menghargaiku dan menjagaku karna- karna dia sudah mendapat donor hati dari Ayah. Tapi Yongtae sama sekali tidak tahu terimakasih. Aku mau pergi saja dari sini, aku tidak kuat lagi. Aku juga merasa seperti dipenjara olehnya."
"Dia mungkin sebenarnya sudah menerima pernikahan kalian, bahkan dia mungkin sudah mencintaimu, tapi caranya salah."
"Tidak! Dia tidak begitu. Dia menganggap aku p*****r Woojung! Apa itu yang namanya mencintai? Sesalah-salahnya cara orang mencintai seseorang, tidak mungkin sampai menganggap orang yang dicintainya pelacur."
Diseberang sana Woojung sedang bingung, dia tidak habis pikir dengan Yongtae. Woojung kira, Yongtae akhirnya akan berubah setelah menerima ancamannya, apa lagi jelas dikartu ucapan yang ditulisnya, Yongtae mau berubah dan menjalani kehidupan rumah tangga yang normal.
Tapi kenapa sikap Yongtae malah semakin buruk? Atau jangan-jangan perasaan Yongtae sudah berubah lagi? Dia jadi membenci Han Rae lagi juga pernikahannya.
Woojung tidak bisa mendengar Han Rae disakiti seperti ini, apa lagi mendengar bagaimana gadis itu menangis. Kondisinya sedang hamil pula. Perasaan dan fisiknya sedang ringkih.
"Besok saat Yongtae bekerja, pergi ke toko roti yang tak jauh dari perumahan rumahmu. Ada aku disana. Bawa semua barang yang kau perlukan, dan kau pergi bersamaku."
"Hah?"
"Kenapa? Bukankah kau ingin pergi?"
'Agar Yongtae juga tahu, seberapa berharganya dirimu Han. Kau harus mengujinya. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat pernikahan kalian semakin keruh. Aku juga khawatir kau terus disakiti olehnya.' Batin Woojung.
"Bagaimana Han?"
Han Rae terdiam sejenak, sembari menatap kopinya yang sudah dingin. "Aku mau." Ucap Han Rae pada akhirnya.
"Baiklah, besok jam 9 ya? aku tunggu."