"Tidak pernah." Balas Han Rae
"Kenapa?" tanya Yongtae lagi.
Han Rae terdiam sejenak, mau menjawab jujur, tapi ia takut Yongtae marah dan tiba-tiba membanting tubuhnya.
"Tidak apa-apa." Akhirnya hanya kalimat itu yang terlontar dari bibir Han Rae.
"Kau tidak usah memikirkan sikapku saat di kereta dan di depan Ibuku juga Ibumu tadi." Ucap Yongtae.
"Aku tahu. Itu hanya akting kan?" Kata Han Rae.
Yongtae hanya terdiam. Kalau saat di kereta, untuk apa berakting? Tapi Yongtae hanya tidak mau membuat Han Rae terus menerus bingung dengan sikapnya. Yah, ia akui ia bersikap aneh, seperti memiliki kepribadian seribu atau bipolar. Kadang bersikap begitu manis, juga sangat kasar.
Yongtae hanya belum bisa untuk menunjukan perasaan khawatirnya, cintanya, dan lain-lainnya dengan jujur, dan masih ada, terselip perasaan meremehkan pada Han Rae. Meskipun ia kadang mencoba menghilangkan perasaan itu.
Namun sifat sombong dan egoisnya benar-benar mendarah daging padanya.
***
Woojung memilih tetap menyimpan kartu itu, meskipun Yongtae sudah menyuruh membuangnya.
"Dia harus menghilangkan gengsinya." gumam Woojung.
***
Ini sudah dua minggu sejak Han Rae keluar dari pekerjaannya. Ia hanya bisa berkebun, membuat masakan-masakan dengan resep terbaru yang ia lihat, dan bermain laptop. Dilaptop ia hanya mengetik sebuah cerita, yah, Han Rae sedikit punya pengalaman jadi penulis.
Saat awal-awal ia baru lulus dari kuliah, Han Rae bekerja untuk sebuah website berita.
Yongtae mengambil modemnya, jadi Han Rae tidak bisa online, dan menghubungi siapapun untuk melepas bosan. Pria itu juga tidak memperbolehkan Han Rae keluar rumah, kecuali pergi bersama dirinya. Han Rae bisa saja menonton tv, untuk menambah aktifitasnya yang itu-itu saja, namun ia tidak terlalu suka. Meskipun akhir-akhir ini, Han Rae terkadang akan menyempatkan diri duduk di depan tv, untuk menonton idolanya yang sedang comeback dan melakukan promosi.
Tentu saja tanpa sepengetahuan Yongtae, pria itu kan jarang di rumah.
Cklek. Pintu rumahnya tiba-tiba terdengar terbuka.
Kecuali mungkin malam ini, Yongtae tiba-tiba pulang.
"Astagaaaaa, Minhyun tampan sekali astaga, aku hampir gila rasanya."
Yongtae seketika mengambil remote tv dan mematikan televisi, membuat Han Rae seketika berhenti mengoceh.
Yongtae menatap tajam Han Rae yang balik menatapnya dengan mata mengerjap.
"Tidak ada ponsel tidak ada laptop tanpa internet, kau tetap bisa meneriaki pria lain?" Kata Yongtae yang seketika di balas Han Rae dengan tatapan aneh.
"Memangnya apa salahnya? Aku kan hanya mengidolakan." Ucap Han Rae.
"Berani membantah sekarang?" Kata Yongtae.
Han Rae hendak membuka mulutnya untuk membalas perkataan Yongtae lagi, namun perutnya tiba-tiba terasa mual. Han Rae menutup mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi yang berada di dekat dapur.
Yongtae dengan panik mengikuti Han Rae ke kamar mandi.
"Kan! kau pasti jadi mual karna melihat pria lain!" seru Yongtae.
Han Rae tanpa sadar menyikut perut Yongtae hingga Yongtae meringis kesakitan.
"Yak! berani sekali kau-" Yongtae menghentikan kalimatnya karna melihat Han Rae kembali muntah.
"Kau kenapa sih? Masuk angin?!"
Seusai membasuh mulutnya, Han Rae tiba-tiba menatap galak Yongtae.
"Aku pusing! Mual! Dan kau malah terus mengomel! Aku jadi semakin pusing dan mual tahu! Dan aku lebih mual melihat wajahmu dibanding Minhyun!"
Yongtae mengerjapkan matanya, mendengar Han Rae untuk pertama kalinya berani mengomelinya panjang lebar bahkan sembari berkacak pinggang dan menatapnya kesal.
"Sejak kapan kau memangnya mual-mual?" Tanya Yongtae mencoba bersikap lembut.
"Sejak pagi tahu!" balas Han Rae.
"Hei, santai dong menjawabnya. Aku mana tahu kau pusing dan mual dari pagi, memangnya kau beritahu?"
Han Rae mengerang kesal dan tiba-tiba menarik kedua telinga Yongtae, hingga pria itu merasa telinganya yang dihiasi anting-anting akan robek.
"Sakit!" seru Yongtae.
"Memangnya kalau aku beritahu kau akan peduli?! Kau itukan selama ini hanya bisa menyakitiku!" dan tak lama tarikan Han Rae pada kedua telinga Yongtae berhenti.
Gadis itu tiba-tiba berjongkok sembari menundukan kepalanya, dan tiba-tiba menangis dalam sekejab.
"Kau itu kan hanya bisa menyiksaku, hiks."
Yongtae menghela napasnya, akhirnya ia ikut berjongkok di depan Han Rae.
"Kau itu kenapa sebenarnya? Kita ke rumah sakit saja yuk, ayo."
Han Rae menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau. Aku tidak suka Dokter." Kata Han Rae.
"Tapikan untuk menge cek kesehatanmu." Kata Yongtae.
"Tapi aku kan baik-baik saja." Balas Han Rae
"Tapi kau mual-mual dan pusing." Kata Yongtae.
"Nanti juga sembuh-" setelah mengucapkan kalimat tersebut, Han Rae kembali menutup mulutnya karna merasa mual lagi.
Yongtae berdecak kesal.
"Nanti kita beli es krim, ber box-box, terserah mau berapa, terserah." Yongtae akhirnya membujuk.
"Mau coklat juga." Balas Han Rae.
"Iya, iya." Kata Yongtae.
"Kalau keripik kentang, boleh?" Tanya Han Rae.
"Ck, iya." Balas Yongtae malas.
"Sosis boleh juga?" Yongtae memutar kedua bola matanya malas, mendengar permintaan Han Rae yang berentet.
"Kita mau ke Dokter, bukan mau belanja." Ucap Yongtae
Han Rae memajukan bibir bawahnya.
"Ya sudah aku tidak mau ke Dokter." Kata Han Rae
Yongtae mengerang kesal sembari menatap tajam Han Rae. Han Rae pun tiba-tiba menangis dengan keras layaknya balita.
"Iya, iya, terserah! Terserah kau mau beli apapun! Terserah! Kau harus bersyukur karna punya suami berdompet tebal. Cepat berdiri! Kita ke rumah sakit sekarang." Kata Yongtae.
"Kakiku kesemutan." Ucap Han Rae.
Yongtae mendengus, dan akhirnya memilih menggendong Han Rae untuk keluar dari kamar mandi.
***
"Benar dugaanku." Gumam Yongtae setelah mendengar penjelasan Dokter. Han Rae hamil.
Yongtae menatap Han Rae yang duduk disampingnya. Ia heran kenapa raut wajah Han Rae sama sekali tidak menunjukan ia bahagia, yahh... sebenarnya Yongtae sendiri juga tidak tersenyum sama sekali sih, sejak mendengar pernyataan Dokter.
Hubungan mereka masih berantakan, tapi sudah dikaruniai anak. Yongtae dan Han Rae sama-sama khawatir tidak bisa menjadi orang tua yang baik.
Yongtae menundukan kepalanya. Memang seharusnya mereka tidak pernah melakukan itu dulu, sampai akhirnya perasaan mereka benar-benar saling terpaut. Kalau begini..... mereka takut rumah tangga mereka akan semakin kalut.
Yongtae sendiri sebenarnya belum siap untuk menjadi seorang Ayah. Ia tidak yakin bisa membagi waktunya untuk pekerjaan dan anaknya kelak. Yongtae masih terlalu mencintai pekerjaannya.
***
Yongtae mendorong trolley, sedangkan Han Rae memasukan berbagai barang ke dalam trolley. Baru kali ini Han Rae merasa sesantai ini belanja, biasanya ia akan menge cek harga barang tersebut terlebih dahulu sebelum diambil, kemudian menjumblahkannya dengan barang yang sudah diambil sebelumnya. Karna Yongtae bilang ambil saja yang ia mau, ya tentu saja dengan senang hati Han Rae laksanakan.
Jadi sekarang yang sibuk menghitungi total belanja mereka, Yongtae. Meskipun pria itu berdompet tebal, tetap saja pria itu khawatir uangnya akan terkuras banyak. Cari uang susah bung. Jadi Yongtae rasa wajar kalau ia pelit, tapi kalau pelit pada istri sendiri apa lagi yang sedang hamil bagaimana?
Han Rae juga tidak membeli baju atau hal-hal tidak berguna lainnya. Meskipun tetap saja, ada beberapa kosmetik yang masuk ke dalam trolley. Padahal seingat Yongtae, beberapa skin care yang Han Rae beli saat ini, masih banyak di meja rias.
"Han Rae, itukan masih ada." Ucap Yongtae sembari mengambil toner yang baru Han Rae masukan ke dalam trolley. Namun Han Rae dengan cepat mengambilnya kembali dari tangan Yongtae, dan memasukannya ke dalam trolley lagi.
"Untuk stok. Mumpung kau yang bayar."
Yongtae mendengus. Gadis itu terlalu jujur.
Selesai memasukan semua barang yang diperlukan ke dalam trolley. Yongtae mendorong trolley menuju kasir. Namun rupanya, semua kasir yang ada di dalam supermarket mengantri.
"Han Rae, kau tunggu diluar." Ucap Yongtae.
Han Rae menurut, ia segera keluar lebih dulu dari dalam supermarket, dan duduk dikursi panjang di dalam mall, yang berhadapan dengan supermarket. Jadi hanya Yongtae yang mengantri. Meskipun begitu mata Yongtae tetap mengawasi Han Rae. Gadis itu banyak mendapat senyuman dari pemuda yang lewat, dan dengan senang hati Han Rae juga membalas senyuman mereka. Bahkan ada yang terang-terangan duduk disamping Han Rae untuk berkenalan, tapi setelah Han Rae menunjuk Yongtae, pria itu langsung pergi.
Yongtae tahu, Han Rae tidak terlalu buruk, secara fisik, dia juga memiliki aura yang cantik meskipun terkesan dingin. Namun tetap saja Yongtae berpikir dibanding dengan dirinya, Han Rae benar-benar tidak ada apa-apanya. Meskipun dia tahu, seseorang tidak boleh memandang orang lain hanya sebatas fisik. Tapi kembali lagi ke ego Yongtae yang besar.
Mata Yongtae melebar, saat Han Rae tiba-tiba dihampiri seorang pria bersurai kecoklatan dengan wajah lembut khasnya. Han Rae sendiri langsung berdiri dan ekspresi wajahnya sangat sumringah.
Yongtae rasanya ingin langsung menghampiri mereka, namun sekarang sudah gilirannya untuk membayar barang yang ia beli.
***
"Kau hamil?"
Han Rae menganggukan kepalanya sembari tersenyum lebar. Woojung pun tidak bisa menahan senyumannya juga. Entah kenapa ia ikut bahagia, meskipun jujur saja, ada perasaan nyeri dihati kecilnya.
"Selamat ya. Semoga kau dan janinmu selalu sehat. Kau harus menjaganya dengan benar. Makanmu dijaga, jangan kerja yang berat-berat." Ujar Woojung.
Han Rae tertawa kecil mendengar penuturan Woojung yang cukup panjang lebar.
"Iya. Aku mengerti." ucap Han Rae. "Terimakasih."
"Meskipun kau tidak mengundurkan diri, tetap saja kau harus cuti kalau hamil, tapi kau baik-baik sajakan? Maksudku....."
Senyuman Han Rae seketika luntur, meskipun Woojung menggantungkan kalimatnya, ia tetap mengerti arah pembicaraan Woojung.
"Aku tidak tahu. Perasaanku campur aduk, tidak karuan saat ini. Aku... belum punya keinginan untuk hamil saat ini, yah rumah tanggaku kan masih keruh. Apa lagi... sebenarnya aku masih sedikit trauma dengan apa yang Yongtae lakukan." ujar Han Rae.
Raut wajah Woojung seketika berubah khawatir.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tunjukan, tapi aku tidak membawanya. Mungkin dengan itu, traumamu pada kejadian itu akan sedikit berkurang. Yah... karna kau jadi tahu fakta kenapa Yongtae marah saat itu, dan mungkin... malah kau yang akan merasa bersalah padanya." kata Woojung.
"Apa itu?" tanya Han Rae.
"Eum-" kalimat Woojung tiba-tiba dipotong oleh Yongtae.
"Sudah mengobrolnya? Ayo pulang Han." Yongtae tiba-tiba datang dan meraih tangan kanan Han Rae.
"Tunggu dulu." Ucap Han Rae.
Yongtae seketika menatap tajam Han Rae.
"Kenapa? Rindu dengan mantanmu?" tanya Yongtae dengan nada sarkastik.
"Bu-bukan begitu. tapi..."
Belum selesai Han Rae menyelesaikan kalimatnya, Yongtae sudah menarik kasar tangan Han Rae. Woojung menahan bahu Yongtae.
"Jangan kasar pada Han Rae, apa lagi dia sedang hamil. Ucapanku tidak pernah main-main. Camkan." Ucap Woojung.
Yongtae menatap tajam Woojung, dan tetap menarik tangan Han Rae untuk pergi meninggalkan Woojung.
Han Rae menolehkan kepalanya kebelakang, menatap Woojung dengan tatapan memelas, sebelum akhirnya ia melambaikan tangannya pada pria itu.
***
Brak. Blam. Han Rae hanya bisa menundukan kepalanya saat Yongtae mendorongnya kasar memasuki mobil, kemudian menutup pintu mobil dengan cara dibanting. Pria itu tidak langsung masuk ke mobil, ia hanya terdiam diluar sembari berkacak pinggang, dan menarik napasnya dalam, sebelum menghembuskannya. Yongtae mencoba meredakan emosinya. d**a, kepala bahkan sampai telinganya terasa panas karna emosinya. Ia benar-benar benci dan rasanya tidak mau mendengar kalimat yang diucapkan Woojung terakhir tadi.
Yongtae tiba-tiba membuka pintu mobil, membuat Han Rae tersentak, apa lagi saat pria itu tiba-tiba memasukan setengah tubuhnya ke dalam mobil, dan mencondongkan wajahnya mendekati wajah Han Rae.
"Kau tidak akan meninggalkanku untuk pria lainkan? Meskipun itu mantanmu sekalipun."
Han Rae mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan Yongtae.
"Mantanku ada tiga, mantan yang mana?"
Raut wajah Yongtae yang sebelumnya sudah mengerikan, jadi semakin mengerikan.
"Siapa saja mantanmu? Aku akan catat didaftar orang-orang yang harus mati." Kata Yongtae.
"Semua orang akan mati. Memangnya mau saat kiamat kita masih hidup?" Balas Han Rae.
"Ini bukan karna efek kau hamilkan? Kau jadi menyebalkan begini?" Kata Yongtae.
"Aku tidak tahu." Kata Han Rae.
"Akh!" Yongtae mengerang kesal.
"Kembali kepertanyaan awal! Apa kau akan meninggalkanku? jika bertemu dengan pria lain yang jauh lebih baik dariku? Terutama Woojung." Kata Yongtae dengan serius.
"Tergantung......" Ucap Han Rae dengan menggantung.
"Tergantung apa?" tanya Yongtae.
"Aku tidak tahu." Balas Han Rae.
"Apa maksudmu?" Yongtae kembali bertanya dengan mendesak.
"Kalau sikapmu berubah padaku, dan kalau anak kita memang membutuhkanmu, maksudku..... yah, tidak ingin kita berpisah. Aku tidak akan meninggalkanmu." Kata Han Rae.
Raut wajah Yongtae berubah jadi sulit terbaca. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi memilih ditahan.
Han Rae tiba-tiba meletakan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Yongtae. Membuat Yongtae terkejut.
"Kenapa?" Tanya Yongtae.
Han Rae terdiam untuk beberapa saat, namun pipinya tak lama memerah.
"Ti-tidak jadi." Balas Han Rae sembari hendak menarik tangannya dari pipi Yongtae, namun Yongtae menahannya.
"Katakan, kau mau apa?" Desak Yongtae.
Han Rae hanya diam, namun wajahnya malah semakin memerah hingga sampai ketelinga.
"Ti-tidak kok, ak-aku ti-tidak mau apa-apa." Kata Han Rae dengan tergagap. Yongtae menatap datar Han Rae.
"Kau tidak bisa berbohong. Cepat katakan kau mau apa? Mumpung belum di rumah, aku akan lebih mudah membelikan yang kau mau." Kata Yongtae.
Han Rae menelan ludahnya, sembari menggigit bibir bawahnya.
"Aku..... aku....." ucap Han Rae dengan terputus-putus.
"Hhhh... cepatlah Han Rae." Kata Yongtae yang mulai jengah.
"Aku..... ingin mencium bibirmu." Akhirnya Han Rae mengungkapkan keinginannya meskipun dengan susah payah.
"Apa?" Yongtae merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, jadi ia bertanya lagi untuk memastikan.
Han Rae langsung menutup matanya menggunakan kedua tangannya.
"Aku tidak tahu kenapa begitu... bukan aku yang mau, tapi bayinya." Kata Han Rae.
Yongtae terdiam sejenak, sembari menatap wajah Han Rae yang masih merah padam.
"Ya sudah, kalau begitu kau tinggal menciumku." Ucap Yongtae.
"Ti-tidak bisa." Balas Han Rae.
"Karna kau yang mau. Kau yang harus melakukan duluan." Kata Yongtae.
"Tidak bisa." Ucap Han Rae sembari menggigiti bibirnya.
"Ya sudah kalau tidak bisa, kita pulang sekarang." Kata Yongtae.
Yongtae baru saja hendak menjauhi Han Rae, namun Han Rae sudah dulu menarik kerah jaket Yongtae, dan mendaratkan bibirnya diatas bibir Yongtae.
Yongtae tersentak untuk beberapa saat, namun ia akhirnya membalas ciuman Han Rae. Ia merasa geli sekaligus ingin tertawa karna pergerakan Han Rae yang amatir juga terkesan malu-malu. Hampir lima menit berlalu, tautan bibir mereka terlepas, Han Rae terlihat kehabisan napas.
"Bibirku manis ya?" tanya Yongtae jail.
Han Rae melebarkan matanya mendengar pertanyaan Yongtae. Ia hendak memukul pria itu, namun Yongtae langsung menangkap tangannya.
"Kau amatir. Tidak pernah berciuman dengan mantan-mantanmu hm?" kata Yongtae.
"Ti-tidak." Balas Han Rae.
"Hahaha, bohong." Ucap Yongtae dengan tawa yang dibuat-buat.
"Aku tidak bohong, hanya dengan Jung-" Han Rae menyadari ia akan salah bicara, itu sebabnya dia berhenti.
"Jung?" Yongtae langsung menatap tajam Han Rae dengan salah satu alis terangkat. "Woojung?"
Han Rae hanya terdiam, pria bersurai coklat itu kemudian berdecih.
"Woojung pasti sangat bodoh dalam berciuman, tidak bisa mengajarimu dengan benar." Kata Yongtae.
"Jangan menghinanya." Ucap Han Rae dengan suara pelan.
"Kenapa? Kau tidak terima? Kenyataannya memang begitukan? Kau pasti bisa bedakan mana yang jago mana yang amatir." Kata Yongtae.
"Aku mana tahu. Woojung hanya menciumku sekilas, dan itu cuman sekali." Balas Han Rae. Yongtae seketika terdiam, menatap Han Rae tidak percaya dengan salah satu alis terangkat.
‘’Benarkah?’’ Tanya Yongtae.
‘’Iya, lagi pula pembicaraan ini tidak penting.’’ Balas Han Rae.
‘’Yah, memang.’’ Kata Yongtae.
‘’Lalu untuk apa membicarakannya, dasar aneh.’’ Yongtae seketika menatap tajam Han Rae yang baru saja mengatainya. Sedangkan Han Rae langsung bungkam.
‘’Sebelum pulang aku ingin kau berjanji.’’ Ucap Yongtae.
‘’Berjanji apa?’’ tanya Han Rae.
‘’Lupakan Woojung.’’ Balas Yongtae.
‘’Kenapa aku harus melupakannya? Dia sahabatku.’’ Kata Han Rae.
‘’Sahabat atau mantanmu yang masih kau sukai?’’ Yongtae berkata dengan sarkastik.
‘’Astaga… kenapa kau itu selalu saja suka sekali mengajakku berdebat?’’ kata Han Rae dengan kening mengkerut kesal.
‘’Aku sekarang minta kau lupakan Woojung, titik.’’
‘’Aku tidak mau, kenapa harus aku harus melupakannya?’’
‘’Pokoknya aku bilang lupakan ya lupakan!’’
‘’Aku tidak mau melupa-‘’
"Jangan menjawab ucapanku bisa?" tanya Yongtae memotong ucapan Han Rae sembari memberi tatapan tajam.
"Nanti tidak dijawab salah, dijawab juga salah, kenapa kau jadi seperti Ibu-Ibu yang kehilangan tempat bekal?"
Yongtae menghela napasnya. Efek Han Rae hamil benar-benar dasyat sepertinya.
"Mau aku marah?" tanya Yongtae, yang segera dibalas gelengan oleh Han Rae.
"Bagus, ayo sekarang kita pulang.’’ Ucap Yongtae.
***
‘’Yongtae.’’ Panggil Han Rae begitu mereka memasuki rumah.
‘’Mmh?’’ sahut Yongtae yang baru saja membuka jaketnya.
"Aku mau ramen yang pedasssss sekali, tapi buatanmu." Kata Han Rae sembari tersenyum dan menarik lengan kanan Yongtae.
"Berani memerintahku?" tanya Yongtae sembari menatap Han Rae dengan mata pedasnya.
"Yang minta bayi, bukan aku." Balas Han Rae
"Alasan. Ya sudah, duduk di sana.’’ Yongtae berujar sembari menunjuk sofa. ‘’Jangan tidur.’’
"Iyaaa." Balas Han Rae sembari duduk di sofa.
Yongtae kemudian segera bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan ramen sesuai keinginan Han Rae. Namun baru beberapa menit ia tengah menunggu air mendidih, seseorang tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang, membuat Yongtae terkejut. Yongtae bisa merasakan jantungnya langsung berdebar dengan kencang. Apa lagi saat merasakan kepala Han Rae bersandar dipunggungnya, dengan hati-hati ia meletakan salah satu tangannya, diatas telapak tangan yang berada diatas perutnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Yongtae.
"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin memelukmu saja. Kau keberatan ya? Ya sudah kalau begitu." Balas Han Rae.
Han Rae kemudian hendak menarik kedua tangannya dari pinggang Yongtae, namun Yongtae segera menahannya.
"Aku kedinginan." Ucap Yongtae singkat.
Terdengar pekikan senang dari Han Rae, dan gadis itu kembali memeluknya erat.
'Kenapa sulit sekali rasanya untuk menyatakan apa yang sebenarnya aku rasakan?' batin Yongtae.
Meskipun Yongtae jadi sedikit sulit untuk memasak ramen karna Han Rae yang terus memeluknya dari belakang. Namun Yongtae mencoba tidak terganggu, dan memasak seperti biasa.
"Aku mengantuk." Ucap Han Rae tiba-tiba.
"Tapi ramennya hampir jadi." Ujar Yongtae.
"Tapi aku mengantuk bagaimana?" Tanya Han Rae.
Yongtae menghela napasnya, ia melepas pelukan Han Rae dipinggangnya dengan sedikit tidak rela. Kemudian menuntun Han Rae untuk duduk di salah satu kursi meja makan. Setelah meletakan Han Rae di kursi, Yongtae beralih memindahkan ramen yang sudah matang ke dalam mangkuk.
"Aku menambahkan sayur, telur dan gurita, jadi harus kau makan. Karna banyak gizinya." Oceh Yongtae kemudian duduk di kursi yang ada di samping Han Rae, dengan posisi menghadap ke arah gadis itu. namun terlihat Han Rae sudah sangat mengantuk, jadi Yongtae berinisiatif menyuapi Han Rae. Han Rae menerima suapan Yongtae, meskipun ia mengunyahnya lama.
"Pedas sekali." Gumam Han Rae.
"Kan tadi kau minta pedas sekali, nanti minum teh agar perutmu tidak terlalu panas." Kata Yongtae.
Han Rae hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Hampir 20 menit, Han Rae baru menghabiskan ramennya. Yongtae pun bergegas mencuci mangkuk dan sumpit bekas kotornya. Selesai mencuci, ia membuatkan teh hangat untuk Han Rae.
Begitu selesai membuat teh dan ia membalikan tubuhnya, ia bisa melihat Han Rae sudah setengah tidur dengan posisi kepala bertumpu pada meja makan. Yongtae mendengus. Ia kemudian duduk di tempat sebelumnya, kemudian mencubit pipi Han Rae pelan agar gadis itu terbangu, dan cara itu cukup berhasil, meskipun mata Han Rae masih setengah tertutup.
"Diminum." Ucap Yongtae sembari menyodorkan cangkir berisi teh hangat pada Han Rae. Han Rae dengan senang hati menerimanya, dan meminumnya dengan cepat.
"Sudah? Sekarang sana ke kamar mandi, sikat gigi dan cuci muka." Titah Yongtae.
"Tapi aku sudah mengantuk sekali." Keluh Han Rae.
Yongtae menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya malam ini. Ia beranjak berdiri, dan tiba-tiba menggendong Han Rae seperti koala. Han Rae terkejut namun hanya bisa terdiam. Yongtae membawa Han Rae ke kamar, lebih tepatnya untuk ke kamar mandi.
Yongtae mendudukan Han Rae di samping wastafel. Ia kemudian mengambil gosok gigi berwarna merah dan mengolesinya dengan pasta gigi.
"Buka mulut." Titah Yongtae.
Han Rae hanya menurut, meskipun ia agak ragu.
Yongtae menyikati gigi Han Rae dengan hati-hati, mata Han Rae sesekali terpejam, tapi ia langsung tersadar dan kembali terbangun.
"Gigi depanmu besar sekali, agak miring lagi." komentar Yongtae.
"Iya, makanya aku jadi jelek." Balas Han Rae dengan nada serak. Dia sudah benar-benar mengantuk.
"Tapi gigimu terlihat lucu saat tersenyum." Ucap Yongtae dengan nada pelan.
"Hum?" Tanya Han Rae dengan salah satu alis terangkat, karna tidak bisa mendengar jelas ucapan Yongtae.
"Lupakan." Balas Yongtae.
Selesai menyikati gigi Han Rae, Yongtae menyuruh Han Rae berkumur. Yongtae kemudian mengikat rambut Han Rae ke atas, sebelum akhirnya menuangkan facial foam di tangannya, dan menyabuni wajah Han Rae.
"Keningmu terlalu lebar, pipimu juga, hidungmu terlalu besar." Komentar Yongtae lagi.
"Iya aku tahu! Berhenti mengomentari fisikku. Meskipun aku operasi plastik aku tidak akan jadi secantik Sejeong." Balas Han Rae yang mulai kesal.
"Ya memang tidak akan mungkin." Ucap Yongtae membuat Han Rae mendesis kesal.
Selesai menyabuni wajah Han Rae, Yongtae melapnya menggunakan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Setelah bersih dari busa, Yongtae mengoleskan pelembab seadanya pada wajah Han Rae. Karna perawatan Han Rae sangat ribet dan berlapis-lapis, Yongtae kurang mengerti dan yang jelas itu merepotkan.
Selagi mengoleskan pelembab, Yongtae menyambilnya dengan memainkan pipi Han Rae, mencubitinya, membuatnya keatas sampai bibir Han Rae tertarik, memainkan kening sekaligus alis Han Rae, untuk membuat ekspresi-ekspresi aneh. Yongtae juga menarik kedua pipi Han Rae hingga rasanya pipi Han Rae akan melar, dan terakhir ia memasukan kedua ibu jarinya pada kedua sisi bibir Han Rae, kemudian menariknya.
"Bibirmu terlalu kecil, seperti paruh burung." Ucap Yongtae diselingi kekehan.
"Yongtae!" protes Han Rae.
Yongtae malah tertawa mendengar protesan Han Rae.
"Mau membuatku semakin jelek apa?" sungut Han Rae.
"Iya. Agar tidak ada pria yang melihatmu lagi." Balas Yongtae, sembari tertawa kecil.
"Woojung akan tetap melihatku, diakan tidak hanya sekedar melihat fisikku." Kata Han Rae tanpa sadar.
"Kau bilang apa?" Tanya Yongtae dengan ekspresi berubah datar. Han Rae langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Aku butuh lipblam." Ucap Han Rae kemudian sembari berpura-pura mengobrak-ngabrik keranjang berisi skin care. Namun Yongtae langsung menahannya dengan menarik tangan kanan Han Rae, sembari menatap tajam Han Rae.
"Lipblammu disini." Ucap Yongtae dan tiba-tiba mencondongkan wajahnya mendekati wajah Han Rae, dan kemudian menyapu bibir Han Rae menggunakan lidahnya.
"Jangan bahas Woojung, aku bahkan sudah menyuruhmu melupakannya. Nanti aku robek bibirmu, kalau melakukannya lagi."
***
Han Rae menatap Yongtae yang sedang memejamkan matanya, tapi belum tidur. Salah satu tangan Yongtae melingkar dipinggangnya, sedangkan salah satu kakinya melingkar pada kaki Han Rae.
Selesai mencuci muka dan wajahnya dimainkan oleh Yongtae, membuat kantuk Han Rae jadi hilang.
"Yongtae." Panggil Han Rae dengan nada pelan.
"Hhm." sahut Yongtae masih dengan mata terpejam.
"Kenapa kau tadi perhatian padaku? Mau memasakan aku ramen, membiarkan aku memelukku, kau juga menyikati gigiku, bahkan sampai memakaikan aku pelembab. Kenapa? Memangnya kita harus berakting di depan siapa?"
Yongtae seketika membuka matanya kemudian menatap Han Rae yang baru berceloteh panjang.
"Berakting di depan anak kita. Aku melakukan semua itu demi anak kita. Kata orang, kalau orang hamil sedang ngidam harus dituruti kemauannya. Yahhh... jadi begitu. Aku juga ingin menjaga anakku baik-baik saja di dalam perutmu. Jadi kalau aku menjagamu, jangan salah faham, aku mau menjaga anakku, bukan kau. jadi jangan salah faham kalau aku sudah menerima pernikahan ini apa lagi dirimu sebagai istriku."
Perasaan Han Rae seketika mencelos mendengar kalimat panjang lebar yang dilontarkan Yongtae.
"O-oh." Gumam Han Rae.
"Sudah tidur. Jangan berpikir yang macam-macam." Kata Yongtae. "Iya." Balas Han Rae dan segera memejamkan matanya. Ia tidak ingin menangis di depan Yongtae.
***
Han Rae memasuki minimarket untuk membeli buah-buahan. Karna Yongtae masih sibuk bekerja, sedangkan Han Rae sangat ingin buah, jadi Yongtae membiarkan Han Rae pergi. Cara izinnya, pinjam ponsel tetangga. Memalukan, tapi mau bagaimana lagi? tapi sekarang Han Rae sudah dalam perjalanan pulang. Namun seseorang tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia menepuk bahu Han Rae dari belakang, membuat Han Rae otomatis memutar balik tubuhnya.
"Maaf Nona, apel anda jatuh." Ujar seorang anak laki-laki dengan pakaian seragam anak SMA.
"Oh iya, terimakasih." Ucap Han Rae sembari mengambil apel dari tangan anak laki-laki tersebut.
Anak laki-laki itu tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya kecil.
"Sepertinya Nona kesusahan membawa belanjaannya, boleh aku bantu?" Tawar anak lai-laki itu.
"Ahh tidak perlu, nanti merepotkan." Ucap Han Rae.
"Tidak repot kok, masak hanya bantu membawa belanjaan saja repot? Apa lagi untuk seorang laki-laki sepertiku." Han Rae terkekeh pelan mendengar penuturan anak laki-laki jangkung itu. "Eum, ya sudah kalau begitu, terimakasih ya sebelumnya, maaf merepotkan." Kata Han Rae.
Anak laki-laki itu mengambil semua kantung belanjaan Han Rae.
"Sama-sama, dan tidak perlu minta maaf, aku sama sekali tidak kerepotan kok. eum, jadi Nona mau pulang?" tanya anak laki-laki itu.
"Iya, nanti kau sekalian mampir ke rumah.’’ Balas Han Rae. ‘’Siapa namamu?" Han Rae mulai menanyakan nama.
"Lai Edward." Balas anak laki-laki itu sembari tersenyum lebar.
"Ahhh, orang luar negri?" tanya Han Rae.
"Ya, aku dari Taiwan. Sedang mencari orang-orang lokal, untuk dijadikan kenalan sekaligus teman. Aku murid pertukaran pelajar." Jelas anak laki-laki bernama Edward itu.
"Ooh begitu. Kalau begitu aku bisa menjadi temanmu." Kata Han Rae. Edward melebarkan matanya excited dan senyumannya semakin merekah lebar.
"Terimakasih Nona, tapi nama Nona siapa? Aku belum tahu."
"Han Rae, namaku Kang Han Rae."
"Han Rae? Kak Han Rae."
Han Rae tersenyum simpul mendengar Edward memanggilnya dengan sebutan 'Kak'. Terdengar lucu, karna dia terdengar masih susah mengucapkannya. "Itu bus jurusan ke rumahku, ayo." Ucap Han Rae sembari menunjuk bus yang baru datang. "Oh oke." Balas Edward.