"Wait, wait, kau bilang apa? Aku harus bertanggung jawab karna kau hamil?" Yongtae tertawa meremehkan. "Kita hanya berciuman. Aku tidak mabuk saat itu, dan aku ingat 100% kita tidak bercinta." Kata Yongtae kemudian memberi tatapan tajamnya terhadap wanita yang berdiri di depannya itu.
"Ini memang bukan anakmu! Tapi aku minta pertanggung jawabanmu." Timpal wanita pemilik nama Karina itu.
"Atas dasar apa?" tanya Yongtae tidak mengerti.
"Aku akan memberikan foto-foto saat kita berciuman kemarin pada istrimu, agar hubungan pernikahanmu rusak." Balas Karina.
"Kau ini lucu ya? Kita kenal saja tidak, dan yang menciumku duluan kemarin itu kau! Aku tidak butuh ciuman darimu, istriku saja sudah cukup." Kata Yongtae tajam.
"Aku disini hanya minta kau nikahi aku. Kalau kau mau melakukannya, foto itu tidak akan aku beberkan pada istrimu." Karina berujar dengan tidak tahu malu.
"Kau kira menikah itu hal sepele apa? Hei murahan, kalau punya otak dipakai. Aku kenal kau saja tidak, kau juga bukan hamil anakku, tiba-tiba mengancamku, dan minta aku menikahimu? Astaga. Dimana ya rasa malumu? Atau urat malumu sudah putus?" Plak. Satu tamparan tanpa teralakan mendarat di atas pipi Yongtae.
"Aku bukan jalang!’’ teriak Karina..
Yongtae memegang pipi kirinya yang terasa panas dan memerah. Yongtae kemudian berdecak, sembari menatap tajam wanita itu.
"Kalau kau bukan jalang, kau tidak mungkin tiba-tiba datang dan minta aku nikahi."
Karina terdiam mendengar kalimat pedas yang lagi-lagi dilontarkan Yongtae.
"Kau membuang waktuku. Aku mau pulang sekarang. Jangan mengangguku lagi." Ucap Yongtae sembari berlalu meninggalkan wanita beriris keabuan itu begitu saja.
Wanita itu menggeram kesal. Ia tahu ini akan sulit, apa lagi dari yang ia dengar Yongtae memang tipe orang yang keras kepala. Rasanya ancaman seperti itu saja tidak cukup untuk seorang Lee Yongtae.
***
"Han Rae, aku pulang." Ucap Yongtae sembari memasuki rumah. Ia kemudian menyusun sepatunya ke dalam rak.
Keningnya mengernyit saat menemukan Han Rae tengah duduk di sofa ruang tamu sembari menatapnya tajam.
"Kau bilang jam 7, tapi ini sudah jam 08 lewat. Kau telat sejam lebih." Ucap Han Rae. Terlihat jelas wanita itu sangat kesal padanya. Yongtae seketika langsung mengecek jam tangannya.
"Oh Tuhan. Aku tadi ada urusan, makanya telat. Maaf ya?"
Han Rae mengerucutkan bibirnya.
"Makanan yang aku masak jadi sudah dingin, aku juga jadi tidak selera makan." Kata Han Rae seraya berdecak dan membuang mukanya dari Yongtae.
Yongtae berjalan mendekati Han Rae, dan duduk di samping wanita yang tengah duduk di sofa panjang itu.
"Jangan marah dong sayang, aku tadi memang ada urusan mendadak jadinya telat. Lagi pula hanya telat sejam." Ujar Yongtae.
Han Rae menatap jengkel Yongtae.
"Sejam kau bilang hanya? Kau sudah membuat moodku buruk." Kata Han Rae.
"Moodnya tidak bisa diperbaiki?" tanya Yongtae.
"Tidak." Balas Han Rae.
"Kau mau apa?" Yongtae coba membujuk..
"Aku mau kucing." Balas Han Rae.
"Huh?" Yongtae menatap Han Rae dengan kening mengernyit.
"Kucing?" tanya Yongtae untuk sekedar memastikan.
"Iya aku mau kucing. Agar besok-besok aku tidak kesepian kau tinggal." Balas Han Rae.
"Hei Ibu hamil itu bahaya pelihara kucing. Kucing itu punya virus berbahaya yang bisa membahayakan janin. namanya virus apa ya aku lupa." Kata Yongtae.
"Yang benar?" tanya Han Rae.
"Iya, cari saja diinternet." Balas Yongtae.
"Tapi aku ingin kucing." Rengek Han Rae.
Yongtae tiba-tiba merubah posisi duduknya jadi merangkak, dan meletakan kepalanya pada bahu Han Rae.
"Aku saja yang jadi kucingmu, miaww..." ucap Yongtae.
Han Rae mendorong pelan bahu Yongtae agar kepala pria itu menjauh dari bahunya.
"Apa-apaan kau itu menjijikan." Kata Han Rae.
Yongtae malah mengacak rambutnya, menatap Han Rae dengan mata berbinar dan bibir mengerucut.
"Kucing itu senangnya dimanjakan, Aku dimanjakan dong." Kata Yongtae diselingi kekehan kecil.
Han Rae mencubit hidung Yongtae, namun ia kemudian menggelitik rahang Yongtae seperti memperlakukan kucing. Yongtae tertawa pelan, sebelum akhirnya merubah posisi jadi berbaring dengan kepala berada diatas paha Han Rae.
Han Rae masih tetap menggelitik rahang Yongtae, sesekali mengusap kepala pria itu. Yongtae hanya tersenyum sembari memejamkan matanya menerima perlakuan Han Rae.
"Yah kucingnya kok malah tidur?" protes Han Rae bergurau.
Yongtae akhirnya membuka matanya saat mendengar ucapan Han Rae.
"Lalu kau maunya aku melakukan apa?" tanya Yongtae.
"Peluk." Balas Han Rae.
Yongtae langsung bangkit duduk dan merengkuh Han Rae kedalam pelukannya. Han Rae pun segera balas memeluk erat Yongtae sembari menenggelamkan wajahnya pada d**a Yongtae.
"Uuuhhh... sayang. Rindu pangeran tampanmu ini ya?" kata Yongtae.
"Pangeran ceker ayam." Sahut Han Rae.
Yongtae hanya bisa mendengus mendengar ledekan yang dilayangkan Han Rae padanya.
"Kalau kau pergi bekerja, aku ke rumah Woojung saja ya? Main. Aku bosan di rumah sendirian." Kata Han Rae.
"Aku pikir-pikir dulu." Balas Yongtae.
"Tiket konser Minhyun, sudah dapat belum? Besok loh konsernya."
Ekspresi wajah Yongtae seketika berubah datar mendengar perkataan Han Rae.
"Sudah kok. Siap-siap saja besok, aku juga cuti besok." Ucap Yongtae pada akhirnya.
"Yeeeeeee!" Han Rae seketika langsung bersorak senang.
"Tidak mau memberiku hadiah karna sudah membelikanmu tiket konser?" tanya Yongtae.
Han Rae seketika mendongakan kepalanya, dan mendaratkan bibirnya sekilas diatas bibir Yongtae. Yongtae menggelengkan kepalanya.
"Tidak... itu tidak cukup. Harga tiketnya mahal tahu, dan aku harus beli dua tiket. Ditambah aku harus menatap wajah orang yang sebenarnya tidak sebanding denganku. aduhh..."
Han Rae menatap malas Yongtae yang berekspresi berlebihan saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Jadi maunya apa?" tanya Han Rae.
"Masak kau tidak tahu jadinya aku mau apa?" balas Yongtae sembari menyeringai kecil.
***
Sebuah mobil berwarna putih membututi mobil hitam yang memasuki sebuah gedung, tempat sebuah konser akan diselenggarakan.
'Aku tidak akan menyerah.' Gumam wanita yang berada di dalam mobil tersebut.
***
Yongtae berdiri dibelakang Han Rae dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Han Rae untuk melindungi wanita itu. Meskipun terkadang sulit karna Han Rae akan berteriak, melompat atau menaikan lightstick. Karna Yongtae sedikit telat membeli tiketnya, mereka tidak bisa mendapat tiket vip agar Han Rae bisa duduk nyaman di depan. Tiket vipnya sudah habis total. Yongtae tersenyum melihat Han Rae yang tampak sangat senang, meskipun jujur saja ia merasa sedikit cemburu dengan bagaimana Han Rae berteriak dan memuja idolanya. Tapi pemilik Han Rae kan tetap dirinya.
Ia kemudian memilih mengusili Han Rae dengan menutup mata wanita itu saat Minhyun baru saja naik ke panggung lagi. Han Rae segera meraih tangan Yongtae yang berada dimatanya dan hendak menggigitnya. Namun Yongtae segera menjauhkan tangannya dari Han Rae sembari tertawa.
Seseorang tiba-tiba menubruk Han Rae dan Yongtae, ia memakai pakaian serba tertutup hingga Han Rae maupun Yongtae tidak dapat melihat wajahnya. Seseorang itu pun bergumam minta maaf sebelum akhirnya berlalu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yongtae khawatir karna melihat seseorang itu menubruk Han Rae cukup keras.
"Tidak apa-apa." Balas Han Rae.
Yongtae mengelus kepala Han Rae, sebelum akhirnya mengangkat tubuh wanita itu dan meletakannya di atas bahunya.
"Disini kau akan lebih aman, lebih mudah juga menontonnya." Ujar Yongtae.
"Tapi nanti bahumu sakit! Kita juga menghalangi orang-orang dibelakang." Seru Han Rae.
"Kau bisa memijatnya." Timpal Yongtae. "Maaf ya kalau aku menghalangi kalian, istriku sedang hamil muda, rentan kalau berdesakan." Yongtae kemudian berujar pada penonton yang berada dibelakang tubuhnya.
***
Han Rae membuka tasnya berniat mengoles ulang bedak pada hidungnya yang sedikit berminyak, dan juga lipstick. Karna lipsticknya sudah sedikit luntur. Yongtae akan mengajaknya makan malam di luar, jadi Han Rae harus memperbaiki penampilannya lagi. Namun semua niatannya terhenti karna ia menemukan sesuatu benda asing di dalam tasnya.
"Bagaimana konsernya? Seru?" tanya Yongtae sesaat setelah ia menjalankan mobilnya menjauhi gedung dimana konser diselenggarakan tadi.
Yongtae mengernyitkan keningnya karna tidak mendapat jawaban dari Han Rae, ia menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati wanita itu tengah termangu dengan menatap sesuatu ditangannya. Seperti, sekumpulan foto.
"Ha-Han Rae, kenapa?" tanya Yongtae mencoba sebiasa mungkin. Tapi nada suara gugupnya tidak bisa dihindari.
Han Rae hanya terdiam sembari meletakan foto-foto yang ada di tangannya, keatas paha Yongtae. Tanpa Yongtae melihat jelas pun, ia sudah tahu foto-foto apa itu.
"Dia cantik." Ucap Han Rae sembari memandang keluar jendela mobil.
Yongtae menghela napasnya, ia memilih untuk terdiam sejenak, memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk menjelaskan semuanya.
"Aku melakukannya, sebelum aku bilang 'mau berubah', bahkan jauh sebelum itu." Kata Yongtae dengan nada mencoba setenang mungkin. Agar suasananya tidak tegang.
"Tapi kau melakukannya setelah kita melakukan itu secara paksa, dan kau meninggalkan aku sendirian. Ada tanggalnya difoto itu dan aku tidak bisa lupa kejadian itu." Balas Han Rae.
Yongtae menghela napas. "Dia yang menciumku duluan. Aku tidak berbohong, aku berani bersumpah. Kita bisa ke club ini dan bertanya langsung pada bartandernya apa yang sudah terjadi sebenarnya." Kata Yongtae.
"Tapi kau tampak menikmatinya." Sahut Han Rae.
"Aku yang ada disana, aku yang dicium, dan hanya aku yang tahu apa aku menikmatinya atau tidak. Dan aku sama sekali tidak menikmatinya." Yongtae mencoba menyakinkan Han Rae. Han Rae berdecak. Yongtae selalu pintar memilih kalimat untuk menyangkal sesuatu.
"Jangan memperbesar masalah. Kejadian ini sudah lama. Bahkan aku sudah hampir lupa. Seseorang mencoba menghancurkan hubungan kita untuk kepentingannya sendiri, kau harus percaya padaku. Kau percayakan?"
Han Rae menatap Yongtae lamat, sedangkan pria itu hanya bisa sesekali melirik Han Rae karna sedang menyetir.
"Baiklah aku percaya." Ucap Han Rae, membuat Yongtae bernapas lega.
Ia sudah tahu masalah ini tidak akan berujung panjang. Yongtae yang pintar bicara dan Han Rae yang berusaha berpikir positif. Yah lagi pula apa yang Yongtae katakan itu benar.