17

982 Words
"Mau kemana dulu sebelum pulang?" tanya Yongtae ditengah perjalanan pulang. "Mau beli roti! Roti rasa sosis! Aku juga ingin black forest." Balas Han Rae. "Ayo." Ucap Yongtae. "Mau beli es krim juga." Kata Han Rae. "Di rumah masih banyak." Balas Yongtae. "Kalau beli jajangmyeon?" tanya Han Rae. "Oke." Gumam Yongtae mengiyakan. "Pizza?" Han Rae kembali mengutarakan permintaannya. "Oke." Dan Yongtae hanya terus mengiyakan. "Ayam bumbu?"                                                   "Mmh." "Nasi goreng kimchi?" *** Yongtae menatap Han Rae yang akhirnya dipenuhi berbagai makanan disekitarnya, ia kemudian mendengus. "Semua akan dimakan?" tanya Yongtae, Han Rae menganggukan kepalanya sembari membuka kotak pizza. Padahal dia baru menyantap satu roti dan nasi goreng kimchi. "Kau tidak takut gendut?" tanya Yongtae lagi. "Kalau aku gendut kau akan meninggalkanku ya?" Han Rae malah balik bertanya dengan bibir mengerucut. Yongtae terhenyak mendengar pertanyaan Han Rae, sebelum akhirnya ia tertawa, seraya mengacak rambut Han Rae. "Ya tentu saja tidak. Kalau gendut kau bisa diet, tapi kalau sudah selesai menyusui. Aku hanya tidak mau kau kelebihan berat badan. Aku dengar, meskipun itu baik, terlalu banyak makan dan minum s**u jadinya tidak baik. Yah sesuatu yang berlebihankan memang tidak baik. Nanti bobot bayinya jadi terlalu berat, bahaya. Bahaya untukmu dan bayinya juga." Kata Yongtae. "Uummm... begitu ya? Tapi aku sedang lapar." Balas Han Rae. "Ya sudah sekarang tidak apa-apa dimakan semuanya, tapi... besok-besok dijaga makannya." Ucap Yongtae yang segera diangguki Han Rae disertai senyuman kecil. "Aku mau pizzanya dong." Kata Yongtae. Han Rae pun dengan senang hati menyuapi Yongtae yang sedang sibuk menyetir. "Harusnya kau yang banyak makan, agar tidak seperti Kakek-Kakek." Yongtae seketika menatap jengkel Han Rae yang malah tertawa. "Memangnya aku seperti Kakek-Kakek apa?" protes Yongtae. "Badanmu itu terlalu kurus. Tanganmu seperti ceker ayam. ummhhh... aku jadi ingin ceker ayam." Kata Han Rae. "Ya sudah makan saja tanganku." Gurau Yongtae sembari menyerahkan salah satu tangannya pada Han Rae. Han Rae menatap sejenak tangan Yongtae, sebelum akhirnya dia benar-benar menggigit tangan Yongtae. "Auuu... sakit! Kenapa kau serius mengigitnya!" Seru Yongtae sembari mengibaskan tangannya yang baru saja di gigit Han Rae. "Karna tanganmu memang seperti ceker ayam." Canda Han Rae disertai cengiran lebar. *** "Doyoung." Seorang bartender yang sedang menge lap gelas-gelas, merasa terpanggil dan segera mendongakan kepalanya, menatap wanita yang baru saja memanggilnya. "Kau pasti punya foto saat aku berciuman dengan pria berambut coklat terang, yang menari dipanggung setelah penari strip turun waktu itu." Ujar wanita itu. Doyoung tampak mengingat-ngingat. "Uumm... sepertinya aku punya, aku hampir punya semua moment langka di club ini." Kata Doyoung. "Bagus! Aku minta fotonya, kumohon." Kata wanita itu. "Untuk apa?" tanya Doyoung. "Kau tidak perlu tahu, itu urusan pribadiku, yang jelas aku sangat butuh foto itu." Balas wanita itu. "Foto itu bukan untuk disalah gunakan, aku menyimpannya hanya untuk koleksi." Kata Doyoung. "Aku tidak akan menyalah gunakannya, aku benar-benar membutuhkan foto itu. Aku akan membayarmu, berapa yang kau butuhkan?" kata wanita itu memaksa. "Yang aku butuhkan tentu saja tak terhingga." Ucap Doyoung. "50 juta?" tawar wanita itu. Doyoung terdiam sejenak. "Lumayan." Gumam Doyoung. "Tapi harus saat ini juga." Sambung Doyoung. Wanita itu menganggukan kepalanya, ia segera membuka tasnya dan mengeluarkan amplop coklat yang sangat tebal. "Ini sebenarnya 55 juta. 5 jutanya anggap saja bonus. Sekarang dimana fotonya?" kata wanita itu setelah menyerahkan amplop tersebut pada Doyoung. "Mana ponselmu? Biar aku bluetooth. Oh iya, kalau foto ini jadi masalah, aku tidak mau ikut campur ya?" kata Doyoung yang diangguki oleh wanita itu. "Iya, kau tenang saja." Ucap wanita itu. *** "Namanya Lee Yongtae, pemilik perusahaan sekaligus pewaris perusahaa Ayahnya yang jauh lebih besar. Usia 30 tahun, memiliki seorang istri berusia 25 tahun, yang sedang mengandung." Wanita itu kemudian terdiam sejenak setelah selesai membaca informasi yang baru ia dapat, sebelum akhirnya ia mengelus perutnya yang masih rata. "Meskipun harus menghancurkan hidup orang lain, tapi Ibu ingin kau punya Ayah." *** Yongtae sibuk berkutat dengan pekerjaannya, sembari mendengar Han Rae bernyanyi melalui telfon, yang di loudspeaker. Yongtae sesekali tersenyum saat mendengar nada suara lembut Han Rae, namun akan tertawa saat Han Rae tidak bisa mencapai nada tinggi, yang membuatnya terbatuk-batuk. "Kau tidak terganggu mendengarkan aku bernyanyi?" tanya Han Rae dari seberang sana. "Kenapa harus terganggu? Suaramu bisa melepas bosan dan penatku bekerja kok, jujur. Apa lagi, kalau... kau nyanyi lagu Hyuna yang ada suara-suara….. khasnya itu. Aku akan langsung bangun dan bersemangat." "Bukan kau yang bangun, tapi yang lain. Mau aku potong adikmu?" "Hei! Jangan dong, aku sudah pernah memotongnya. Kau tidak ingin anak kita yang ini punya adik?" Han Rae tertawa mendengar ocehan Yongtae. "Yongtae aku bosan." "Ya sudah jalan-jalan sana." "Masak sendirian? Nanti kalau ada yang menculikku bagaimana?" "Memangnya siapa yang mau menculikmu?" "Pangeran tampan, berkuda putih." "Tidur siang sana, bicaramu sudah ngelantur." "Cepat pulang~" "Iya, nanti aku pulang. Edward disuruh datang saja nanti sore, kau minta temani dia jalan-jalan. Aku sudah tinggalkan kartu debit, jadi kau bisa membeli apapun. Pinnya tanggal lahirku." "Aku tidak mau membeli apapun, aku maunya kau pulang~" "Iya sayanggg, istriku jadi manja sekali." "Karna kau sibuk terus." "Ya sudah aku janji pulang lebih awal." "Jam?" "Euummm, jam 7, aku janji." "Aku tunggu ya? Nanti aku siapkan makan malam." "Siapkan dirimu juga, untuk jadi makanan penutup." "Huh, dasar kau ini. Memangnya aku enak apa?" "Kkkk, ya sudah kau istirahat saja. Jangan lelah-lelah ya? cucian biar aku saja yang urus." "Oke, janji cepat pulang ya?" "Iya sayang. Selamat tidur." Pip. Yongtae tersenyum simpul. Sejujurnya hidup seperti ini jauh lebih nyaman, dibanding sebelumnya saat ia memusuhi Han Rae. Yongtae tersentak saat mendengar laptopnya terus berbunyi, rupanya ada pesan masuk ke emailnya. Yongtae segera fokus ke laptopnya, dan membuka email yang masuk. Mata Yongtae melebar saat melihat banyak foto saat ia tengah berciuman dengan wanita lain di club malam, begitu ia membuka pesan yang masuk tersebut. 'Pengirim email ini, wanita yang ada didalam foto itu. Kalau kau tidak mau foto-foto itu sampai ke istrimu, temui aku.' ‘’Apa-apaan ini?’’ gumam Yongtae sembari mengusap wajahnya kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD