16

1257 Words
"Jadi besok kita pulang?" tanya Yongtae, sembari menatap Han Rae yang berbaring di depannya. Han Rae terdiam sejenak. "Tapi kau janji? akan berubah?" Han Rae memastikan. "Apa semua yang aku lakukan dan katakan kurang meyakinkan?" tanya Yongtae. "Uummm..." Han Rae terdiam sejenak tampak berpikir. "Aku janji, aku janji akan berubah." Ucap Yongtae. Yongtae kemudian mengulurkan tangan kanannya dengan mengacungkan jari kelingkingnya, Han Rae terdiam sejenak menatap jari kelingking Yongtae, sebelum akhirnya menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Yongtae. "Kalau kau bohong?" tanya Han Rae. "Kalau aku berbuat salah ingatkan aku dong, bukannya hanya diam dan pasrah aku berbuat salah. Aku juga akan begitu padamu." Balas Yongtae, membuat Han Rae mengulum senyuman tipis. "Ya sudah ayo sekarang kita tidur.’’ Ucap Yongtae sembari memeluk pinggang Han Rae. "Tapi Tae, aku mau sesuatu." Kata Han Rae. Yongtae seketika membuka matanya dan menjauhkan sedikit tubuhnya dari Han Rae, untuk menatap wanita itu. "Mau apa?" tanya Yongtae.                             "Aku mau pulang, tapi satu syarat lagi..... ini, ini, ini sungguhan permintaan adik bayi yang ada perut, sungguh." Balas Han Rae. Ia terlihat agak ragu untuk mengungkapkan keinginannya. "Kau memangnya mau apa sih?" tanya Yongtae penasaran. "Aku mau menonton konser Minhyun." Balas Han Rae dengan nada lirih. Yongtae seketika melebarkan matanya, sedangkan Han Rae sudah menatapnya dengan tatapan memohon. "Apa?" Yongtae berharap ia salah dengar. "Besok dia mau konser, aku mau menonton, ya? Ya? pleaseeee... aku mau lihat wajah Minhyun secara langsung. Pasti tampan dan bersinar sekali." Kata Han Rae dengan ekspresi wajah tanpa dosa. "Hei, punya suami sudah setampan ini masih kurang?" tanya Yongtae dengan nada tidak terima. "Tapi kan tetap saja wajahmu beda dengan Minhyun." Balas Han Rae. "Lebih tampan aku atau Minhyun?" pertanyaan konyol akhirnya terlontar dari bibir Yongtae. "Minhyun. Karna dia tinggi tidak sekurus kau." Balas Han Rae dengan rasa tidak bersalah sedikitpun. "Oh begitu? Ayo tengkurap, aku pukul punggungmu." Ucap Yongtae. "Kau bilang mau berubahhh..." kata Han Rae sembari memajukan bibir bawahnya. "Untuk hal seperti tadi, aku tidak akan berubah. Ayo tengkurap." Titah Yongtae. Han Rae sudah akan kabur, namun Yongtae lebih dulu dengan sigap menahan pinggang Han Rae, dan membuat wanita itu dalam posisi tengkurap, dengan memegangi bahunya. Yongtae kemudian beranjak duduk. Han Rae sudah memejamkan matanya, bersiap menerima pukulan Yongtae, namun pria itu tiba-tiba malah menggelitiki pinggangnya. ‘’Yak! Yongtae!’’ teriak Han Rae yang merasa kegelian dan mencoba menjauh dari Yongtae yang terus mengerjai pinggangnya. Han Rae merubah posisinya jadi telentang, kemudian menghindari Yongtae yang tetap menyerangnya sembari tertawa. ‘’Yongtae!’’ teriak Han Rae lagi. Yongtae kemudian menghentikan aktifitasnya  mengerjai Han Rae sembari tersenyum tipis. Ia menarik kedua tangan Han Rae untuk duduk berhadapan dengannya. "Nanti aku carikan tiket konsernya, tapi perginya denganku. Kau sedang hamil tidak bisa berdesakan. Jadi aku ikut kesana hanya untuk menjagamu." Kata Yongtae. Mata Han Rae seketika melebar, dan raut wajahnya berubah berseri-seri. "Benarkah?" tanya Han Rae dengan antusias.                "Iya." Balas Yongtae.                                                                        "Hwaaaaa!" Han Rae seketika berhambur memeluk Yongtae. "Terimakasih!" seru Han Rae. "Tapi ini hanya untuk yang pertama dan terakhir." Ucap Yongtae. "Aku mau tinggal disini please." Ujar seorang pria jangkung bersurai coklat. "Kenapa? Kaukan punya apartemen sendiri." Timpal Woojung. "Begini. Aku sedang mengumpulkan uang untuk beli action figur limited edition! Aku mau satu set. Satu bijinya saja mahal, apa lagi satu set. Kau tahu Ayahku itu pelitkan? Apartemen yang aku tinggali itu hanya sewa, bukan beli. Nah uang sewa yang diberikan Ayahku mau aku tabung, jadi aku tinggal sementara sampai dapat action figur itu, please." Woojung memutar kedua bola mata malas sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. Dia tidak pernah berubah, Lucas. Sekretarisnya barunya yang sama sekali tidak berguna. Mereka sempat saling mengenal dan berteman saat usia Lucas masih 6 tahun, dan berpisah saat usia pemuda itu 10 tahun. Lucas masih sama annoying nya. "Dengar ya? Kau itu sudah sekretaris, kalau kau bekerja dengan benar, kau bisa mendapat gaji sesuai kinerjamu. Jadi tidak perlu kau susah-susah menabung dari uang sewa apartemen." Kata Woojung. Lucas malah tiba-tiba bersimpuh sembari mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya. Ia menatap Woojung dengan tatapan memohon. "Mohon bantulah aku." Ucap Lucas, sembari memberikan aegyonya yang gagal total. Woojung menghela napasnya. "Oke, baiklah. Dengan satu syarat." Ucap Woojung. "Apa itu? Segalanya akan aku lakukan." Kata Lucas. "Kerja yang benar!" seru Woojung dengan sarkastik. Lucas seketika bungkam saat mendengar kalimat yang dilontarkan Woojung dengan nada keras. Tak lama terdengar suara tawa seseorang dari balik punggung Woojung. Rupanya Edward. "Siapa sih orang aneh ini? Pagi-pagi sudah mengemis saja, hahaha." Ucap Edward dengan wajah tanpa dosa. "Heh! Bocah! Aku buat kepalamu gepeng nanti!" Seru Lucas yang membuat Edward langsung diam. "Sudahlah jangan bertengkar. Cepat masuk sana. Barang-barangmu jangan lupa dibawa." Kata Woojung. Lucas segera masuk dengan menggeret kopernya. Dan ia tersentak saat melihat seorang wanita tengah merapihkan syal yang berada dilehernya, di ruang tamu. "Han Rae ya?" tanya Lucas tanpa basa-basi. Merasa terpanggil wanita itu pun mendongakan kepalanya, matanya melebar saat melihat pria jangkung bersurai coklat itu. "Kau? Situkang gali emas!" seru Han Rae. Lucas seketika menepuk keningnya. Mungkin kalian tahu apa yang dimaksud dari 'gali emas.' "Aku punya nama tahu! Namaku Lucas!" Han Rae tertawa. "Iya, iya, aku tahu." Ucap Han Rae. Tak lama Woojung datang dan duduk disamping Han Rae. "Kalian sudah saling kenal? Ini Lucas sekretaris baruku yang aku ceritakan kemarin." Kata Woojung. "Jadi sekretaris baru Woojung itu kau? Yang tidak lulus-lulus kuliah berabad-abad." Kata Han Rae. "Kenapa yang kau ingat hanya yang jelek-jeleknya saja sih?" gerutu Lucas. "Karna kau populer karna itu, hahaha." Balas Han Rae. Lucas mendengus, namun ia kemudian ikut tertawa meskipun dipaksa sembari menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya. "Han Rae kau sudah siap? Eh? Ada tamu. Siapa?" tanya Yongtae yang baru datang sembari menggeret koper Han Rae. "Sekretaris Woojung dan mantan temanku saat kuliah." Balas Han Rae. "Ooh... kau tidak ada hubungan apa-apa kan dengannya?" tanya Yongtae. "Ya hubungan berteman. Kami satu jurusan, kami juga satu bimbingan skripsi. Dia sangat jail dan cerewet, annoying." Balas Han Rae. "Ooh. Perkenalkan aku Lee Yongtae, suami Han Rae." Ucap Yongtae sembari mengulurkan tangannya pada Lucas. Lucas pun membalas uluran tangan Yongtae. "Wong Yukhei, atau sering disapa Lucas." Balas Lucas. Tiba-tiba Lucas menyeringai kecil, hingga tidak disadari siapapun. "Jadi kau suami Han Rae? Dilihat dari atas bawah, kau bukan tipenya aku rasa. Tipe Han Rae itukan yang matanya sipit, kecil, giginya kelinci, tubuhnya besar dan berisi. Dulu mantan-mantan Han Rae seperti itu." Kata Lucas. Lucas sudah bisa membaca dari awal, sejak Yongtae bertanya hubungannya dengan Han Rae apa. Pasti Yongtae tipe orang yang posesif. Han Rae melebarkan matanya mendengar penuturan Lucas. Sedangkan Yongtae sudah memicingkan matanya padanya. Han Rae segera mengibas-ngibaskan tangannya. Menyangkal tudingan Lucas. "Hei tukang ngupil! Kau tidak tahu mantan-mantanku! Aku terakhir pacaran saja SMA!" seru Han Rae. "Tapi pernah saat kau kuliah, kau berusaha mendekati seorang pria. Siapa ya namanya? Kalau tidak salah namanya Kang Daniel! Kau sepertinya sangat tergila-gila padanya." Kata Lucas dengan santainya. "Bodoh! Diakan Dosen pembimbing. Woahhh... kau tidak ada berubah-berubahnya sama sekali ya? Awas saja kau!" Teriak Han Rae. Lucas seketika langsung berlari pergi dan Han Rae mengejarnya sembari membawa dua bantal sofa. "Mereka kan baru saja bertemu lagi setelah sekian lama, kenapa langsung begitu?" tanya Edward yang baru muncul dari dapur. "Sayangnya bukan itu yang harus dipertanyaan. Han Rae sedang hamil muda, dan dia lari-lari, astaga." Yongtae akhirnya ikut berlari untuk mengejar Han Rae. Yongtae menangkap tubuh Han Rae dari belakang saat sudah mendapatkan wanita itu dan langsung menggendongnya seperti balita. "Ayo pulang, ayo pulang. Kau itu sedang hamil muda, harus hati-hati." Ucap Yongtae sembari membawa Han Rae ke ruang tamu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD