Cafe orange yang letaknya tak jauh dari rumah mbak Sani membuatku yang berangkat dari rumah Zionino memakan waktu cukup banyak untuk sampai ke sana. Ibarat kata dari ujung kutub utara ke ujung kutub selatan. "Lama banget sih lo," protes mbak Sani. Aku tak menjawab, hanya menarik kursi lalu duduk. "Setengah jam gue nungguin lo, kemana aja sih lo Rif," katanya lagi. "Rifa!" panggilnya dengan nada tinggi. Suara khas saat dirinya menjadi ketua tim. Aku memukul pinggir meja cukup keras, berdiri sambil melihatnya dengan tatapan garang. Mbak Sani yang bermulut iblis tapi hatinya kayak teletubies itu langsung diam. "Gue datang dengan segudang masalah mbak, lo enggak lihat muka gue udah suram, udah enggak punya gairah hidup, lo tanya kek gue ini kenapa, apa yang terjadi sama gue, pesenin gue

