"R
ifa," panggil Nino. Aku yang sedang meneguk segelas air di pantry bergegas menghampiri lelaki yang sedang memainkan ponselnya.
"Iya Pak, kenapa?" tanyaku. Sejak pagi hingga pukul satu siang, Zionino di rumah, tidak ada aktivitas di luar seperti hari-hari sebelumnya.
"Jalan yuk," ucapnya tanpa beralih dari layar ponselnya. Satu tangannya masuk ke saku celana. Ia tampak berbeda dari biasanya, kemeja formal berganti dengan kaos putih polos longgar dan celana jogger berwarna mocca. Santai sekali gayanya hari ini.
"Bapak ngajakin saya nge-date pak? Kenapa enggak nanti malam aja pak, biar bisa lihat kelap-kelip lampu di kota, malam minggu lagi, asik banget ‘kan" ucapku sembari tersenyum malu.
"Rifa, kamu sehat?" tanya Zionino. Ponsel yang sejak tadi ia pandangi disimpannya di saku celana.
"Sehat dong, apalagi kalau diajak jalannya sama bapak, lagi sakit juga saya sehat-sehatin," jawabku semakin menggodanya. Biarin aja kelihatan enggak tahu diri. Kalau aku enggak bergerak cepat rencanaku enggak akan berhasil. Cukup santai-santai kayak kemarin, udah waktunya action!
Zionino menggelengkan kepalanya, lalu mengurut kening. "Ya udah, ya udah ayo berangkat," ucapnya lalu berjalan tanpa memedulikan aku lagi.
Aku tertawa kecil melihat Zionino yang tampak putus asa menghadapiku. "Kita mau kemana pak?" Tanyaku begitu sampai di mobil.
"Ke rumah sakit," jawabnya.
Aku yang hendak menginjak gas langsung mengurungkan niat. Menatap ke arah kursi penumpang di sampingku, Zionino kembali asik dengan ponsel pintarnya. "Bapak," panggilku dengan suara lirih.
"Hemh," sahutnya.
"Saya sehat kok, enggak usah di bawa ke rumah sakit pak," ucapku. Jangan-jangan dia khawatir dengan kondisiku hari ini. Mataku yang sembab, wajah pucat dan tubuhku lesu tadi malam mungkin terlihat olehnya.
Gerakan tangan Zionino di layar ponselnya terhenti. Ia diam memandangi layar, detik berikutnya kepalanya bergerak perlahan menghadapku. "Kegeeran," ucapnya singkat lalu kembali pada aktivitas sebelumnya.
"Eh, dikira bapak mau ngajak saya cek ke dokter," ucapku malu karena salah mengira maksud pak bos.
"Kita ke rumah sakit jenguk Bila," ucapnya.
"Loh, emang belum pulang pak?" tanyaku. Kupikir mbak Bila sudah pulang setelah kuret beberapa hari lalu.
"Belum," ucapnya lalu menyandarkan tubuh pada punggung jok.
"Oh, belum," gumamku sambil menjalankan mobil. Kendaraan roda empat itu mulai bergerak keluar dari halaman rumah Zionino. Sambil menyetir, otakku memikirkan kondisi mbak Bila. Sudah seminggu setelah kejadian, tapi kenapa dia belum pulang dari rumah sakit, apakah terjadi sesuatu? Akh, semoga saja tidak ada hal buruk menimpanya.
===
Aku dan Zionino berjalan melewati lobby rumah sakit, aku yang membawa parcel buah ditangan berusaha mengimbangi langkah lebar Zionino. Sampai di depan kamar bertuliskan Anggrek II Zionino mengetuk pintu dua kali, tak berapa lama pintu terbuka. Seorang lelaki berdiri di depan kami, wajahnya jelas tak asing bagiku. Wajah yang selama ini ingin ku tampar berpuluh-puluh kali.
Tio.
Brak
Tanpa banyak bicara aku menendang lelaki kurang ajar itu tepat di bagian vitalnya sampai ia terjungkal kesakitan. Tak perlu menunggu izin untuk memasuki ruangan, aku langsung menerjang lelaki perusak hidupku itu. Berkali-kali kepalan tanganku mengenai wajah dan kepala Tio. Cakaran serta cubitan menjadi variasi saat aku lelah memukulinya yang tidak melawan.
"Rifa, stop Rif," suara mbak Bila yang duduk di ranjang.
"b*****t lo!" teriakku di depan wajah Tio. Setelah mengucapkan beragam makian kurasakan tubuhku terangkat.
"Cukup Rifa," bisik Zionino tepat di telingaku. Ia yang kini melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang mencegahku melakukan kegilaan lainnya. "Calm down, Rif," bisiknya lagi sambil mengusap telapak tangan kananku.
Napasku memburu, melihat lelaki yang udah menghancurkan semua mimpiku, membuat keluargaku malu dan menyusahkan hidupku sekarang ini rasanya sungguh ingin kucabik cabik isi perutnya. Tapi sayangnya Zionino enggak membiarkan hal tersebut terjadi. Ia menggiringku keluar kamar, beberapa perawat melihat ke arahku dengan tatapan kesal. Iya memang salahku membuat keributan tapi aku punya alasan. Kalau mereka tahu, aku yakin mereka akan membantuku menghajarnya ramai-ramai.
Zionino merangkulku hingga ke parkiran, ia bahkan memintaku memberikan kunci mobil dan membukakan pintu penumpang bagian depan untukku. Siang ini, ia yang menyupir, membawaku pergi entah kemana tujuannya. Karena aku yang hanya bisa terisak sepanjang perjalanan tak sanggup mengeluarkan kata untuk sekedar bertanya mau kemana kita pak?
Cahaya matahari memantul pada kaca mobil membuat silau mata. Udara di luar mobil pasti sangat panas, sepanas hatiku yang membara berkobar amarah. Siang ini benar-benar bersejarah bagi hidupku. Walaupun belum puas tapi keinginanku terlaksana Sesekali aku mengusap lelehan airmata, inginnya tidak menangis, tapi tidak bisa. Orang-orang yang pernah diposisiku mungkin bisa memahami bahwa aku bukan menangisi Tio, tapi menangisi nasibku. Melihat Tio bukannya aku sedih karena dicampakkan begitu saja, tapi sedih karena merasa begitu bodoh telah mencintai lelaki seperti dia.
"Saya kira kamu enggak tahu kalau Angga yang sudah menghamili Bila," ucap Zionino yang beberapa kali melirik ke arahku.
"Angga?" tanyaku sambil mengusap airmata yang kembali berlinang.
"Iya, laki-laki yang tadi kamu hajar itu dia Ang-"
"Dia Tio bapak! Yang ngutang sama bapak!" ucapku dengan suara lantang.
Ban mobil sampai berdecit karena bapak bos yang terhormat di sampingku menginjak rem tanpa memikirkan keselamatan. Kepalaku korbannya, terbentur punggung jok cukup keras.
"Aduh bapak," keluhku sambil memegangi kepala yang terasa pusing.
"Maaf Rifa," ucapnya. Tangannya sudah mengusap-usap puncak kepalaku, membuat aku terdiam memandanginya, sepertinya ia belum sadar atas tindakannya padaku saat ini.
"Bukan yang itu pak yang sakit, yang ini nih," ucapku dengan suara lembut sambil menggeser tangannya ke bagian belakang kepalaku.
Ia mengusap lagi kepalaku sesuai di tempat yang kuarahkan. Wajahnya terlihat khawatir, tapi enggak lama auranya berubah. Ia menatapku lekat, gerakan di tangannya juga terhenti. "Maaf Rifa," ucapnya sambil menarik tangannya dari kepalaku.
Yah, kok udahan sih Pak elus-elusnya. Batinku kecewa, jiwaku masih ingin merasakan usapan halusnya. Mungkin agak lebay, tapi kepalaku jadi terasa dingin setelah tangannya berpindah dari kepalaku ke stir mobilnya. Sepertinya kepalaku juga butuh kehangatan.
"Kenapa kamu enggak bilang kalau yang tadi itu Tio," ucap Zionino.
"Saya 'kan lagi emosi Pak, mana sempat ngasih tau, lagian kenapa bapak menghalangi saya buat mukulin dia sih, saya tuh belum puas pak," ucapku dengan rasa kesal.
"Kalau saya enggak berhentiin, kamu bisa bunuh dia, kamu mau di penjara?" Sahutnya.
"Enggak tau ah pak, sebel saya sama bapak, enggak ngertiin perasaan saya banget," ucapku lalu keluar dari mobil sambil mengusap airmata.
"Rifanka," panggil Zionino. Lelaki itu ikut keluar dari mobil.
"Kenapa lagi, Pak?" tanyaku saat berhadapan dengannya.
"Kamu mau kemana?" tanyanya. "Saya antarkan kamu pulang," sambungnya lalu menarik pergelangan tanganku.
"Enggak usah," jawabku, tangannya kutepis begitu saja. Zionino menghela napas panjang, wajahnya kesal menerima perlakuanku. Tapi sebelum ia memarahiku, aku kembali mengusap pipiku padahal sudah tak ada lelehan air disana, berpura-pura sedikit agar Zionino tak memarahiku yang sudah kurang ajar padanya.
"Kamu lagi kalut, kalau nanti ada apa-apa saya kasihan sama korban kamu, udah saya anterin aja," ucapnya.
Aku menatapnya kesal. Semakin lama kenapa Zionino mengesalkan sih?!
"Enggak usah, bapak duduk manis aja, saya yang nyupir," ucapku lalu segera masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Rifanka," ucap Zionino. Dibukanya kembali pintu mobil, ia yang masih berdiri di luar memaksaku untuk pindah ke kursi penumpang.
"Saya 'kan supirnya bukan bapak, udah pak buruan naik, kalau enggak saya tinggalin nih," ucapku mengancam.
Zionino mengacak rambutnya dengan kesal sambil berjalan memutar menuju sisi kiri, ia membuka pintu, duduk dengan segera dan menutup pintu mobil dengan sangat kencang. Sebelum bosku itu mengomel aku segera tancap gas.
"Rifanka, pelankan laju mobilnya," ucap Zionino.
Aku melirik speedometer yang menunjuk angka 100km/jam. "Bapak kok cupu sih," ucapku sambil menurunkan kecepatan mobil.
Zionino langsung menatapku tajam, sadar atas ucapan yang tak sopan ingin ku tampar mulutku sendiri. "Mohon maaf lahir batin pak," ucapku malu.
"Puasa dulu baru lebaran," ucap Zionino dengan kesal. "Kamu tuh dikasih tau nyahut mulu, kapan berubahnya sih Rifanka," omel Zionino. Baru kali ini aku melihatnya mengomel, biasanya lelaki ini ‘kan hanya tarik napas panjang penuh kesabaran kalau menghadapi aku, ternyata sekarang dia bisa protes juga.
"Iya maaf pak, namanya juga lagi kesal," sahutku.
"Nyahut lagi," ucapnya membuatku hanya bisa terkekeh malu.
"Pelan-pelan bawa mobilnya, saya enggak mau ketemu keluarga kamu buat bela sungkawa," ucap Zionino membuatku mencebik.
"Eh jangan dong pak, ketemunya pas meminta restu orang tua saya aja dong,” ucapku sambil memainkan alis menggoda Zionino.
Zionino yang memperhatikanku bicara langsung membuang pandangannya. Entah malu atau jijik melihatku, aku juga enggak tahu. Tapi aku sempat melihat rona merah di wajahnya. Lucu sekali, dia seperti anak gadis yang lagi digombalin sama gebetannya.
"Kalau buat nagih utang boleh?" sahut Zionino yang mendekatkan wajahnya ke arahku.
Kaget mendengar ucapan Zionino mendadak aku menginjak rem. Aku menoleh. "Bapak serius ma...," ucapanku terhenti, melihat Zionino yang terlalu dekat dengan wajahku membuat pipiku memanas. "Bapak kapan jeleknya sih pak," tanyaku.
Alis kiri Zionino terangkat. Ya ampun makin menawan aja si doi. Lumer ini hati lihatnya.
"Kalau lagi marah saya jelek banget Rifa," sahutnya yang menjauhkan kembali wajahnya dariku.
Aku mengatur napas, menormalkan detak jantung yang sempat tak beraturan. "Masa? Tadi waktu marahin saya kok ganteng banget," ucapku sambil mengedipkan mata.
“Rifa, Rifa hobi kamu bikin lelaki baper ya?,” tanyanya
Aku tergelak. “Kenapa emangnya pak? Bapak baper ya sama saya?” godaku.
“Enggak.”
“Ah, bapak suka malu-malu kucing gitu deh.” Kalau begini terus aku jadi makin suka menggodanya, gemas lihat wajahnya yang kesal-kesal merona gitu.
Zionino enggak menyahut, kulihat ia malah menggelengkan kepala beberapa kali menanggapi godaanku sepanjang jalan menuju rumah. Macet dibeberapa titik sampai tidak terasa karena aku menikmati perjalanan kali ini, puas sekali menggoda Zionino yang sangat pasrah. Mungkin dalam hati ia sedang menahan dirinya agar enggak memarahiku.
“Rifa ke minimarket dulu ya,” katanya.
“Oke, Pak.”
Mobil menepi, masuk ke area parkir salah satu minimarket yang kami temui, Zionino masuk ke dalam minimarket seorang diri sedangkan aku menunggunya di dalam mobil sambil mengecek ponsel yang sedari tadi ku silent. Ada satu pesan dari nomor tidak dikenal dan 5 kali panggilan tidak terjawab dari nomor tersebut.
08XXXXXXX7214
Rifa ini aku Tio, bisa kita bicara besok?
Aku mendengkus kesal membacanya, tidak ada keinginanku untuk membalas pesan dari makhluk kerak bumi tersebut jadi usai membacanya aku langsung menyimpan ponsel tersebut di sisi kursi pengemudi. Bertemu? Dia siap masuk liang lahat? Sudah merasa amalannya banyak ini orang.
Zionino yang keluar dari minimarket dengan tas jinjing masuk ke dalam mobil lalu menyimpan belanjaannya di jok belakang. "Ayo pulang, Rifa," ucapnya sudah seperti mengajak pulang istri ke rumah saja.
Aku tersenyum geli membayangkannya. Aku istrinya dia suaminya, terus kita pulang ke rumah usai jalan-jalan dari pagi sampai siang lalu sampai rumah rebahan di atas ranjang berduaan. Nikmat sekali imajinasi ini.
"Rifa," panggil Zionino membuatku tersadar dari bisikan setan yang menyesatkan.
"I-iya pak, kita go to home," ucapku.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, inginnya mengebut tapi nanti bapak bos bisa marah terus gajiku di potong. Eh iya bicara soal gaji, berapa gaji yang akan kudapatkan? kenapa aku bisa lupa pada hal sepenting itu. Penasaran apakah gajiku akan cukup untuk hidup serta membayar hutang akhirnya kutanyakan pada Zionino walaupun agak segan. "Bapak mohon maaf sebelumnya ya pak, tapi ada yang mau saya tanyakan," ucapku.
"Hemh, apa? Tumben kamu sopan gini,” sahutnya sambil memeriksa tablet miliknya.
"Kira-kira gaji saya jadi supir bapak itu berapa ya?" tanyaku dengan hati-hati.
Zionino tak langsung menjawab. Ia diam sejenak dengan mata masih melihat layar tablet. Lalu perlahan ia menoleh ke arahku, detik berikutnya ia tersenyum.
Mati aku! Kenapa bibirnya bisa menciptakan senyum semanis itu sih.
"Cukup buat nyicil hutang kamu selama satu tahun," jawabnya.
"Berapa pak?" Tanyaku ingin lebih pasti.
"Nanti kamu juga tau, sekarang menepi dulu, terima teleponnya," ucapnya sambil menunjuk ponselku yang tersimpan di sisi pintu, layarnya menyala dan menampilkan nama Ibu.
Aku segera mengangkat telepon tanpa menepikan mobil. Zionino yang mengetahui langsung mengambil alih ponselku, ia memegangi ponsel yang menempel di telingaku sambil memberi kode agar aku menepi dahulu.
“Iya bu,” sapaku begitu mendengar suara ibu. “iya nanti pulang kerja Rifa belikan,” kataku ketika ibu mengatakan obat penurun hipertensinya tinggal satu kali minum lagi. “udah dulu ya bu, ada pak bos nih,” kataku, begitu ibu mengiyakan aku segera menutup panggilan dengannya.
Aku menarik napas panjang, untung saja aku enggak keceplosan bilang sedang menyetir.
“Saya ‘kan sudah bilang menepi dulu Rifa,” ucap Zionino yang baru saja menjauhkan ponsel dari telingaku.
Aku tersenyum meringis. “Maaf pak,” ucapku.
Nino meletakkan ponselku di dashboard. “Ibu kamu?” tanyanya.
“Iya pak,” jawabku tanpa beralih memperhatikan jalan.
“Kamu berapa bersaudara Rifa?” tanya Zionino.
Aku meliriknya sebentar, lalu kembali memperhatikan jalanan. “Saya sama kayak bapak, anak tunggal,” jawabku.
“Oh begitu,” sahutnya. selanjutnya obrolan demi obrolan tentang hidup kami masing-masing terkuak. Zionino yang kukenal beberapa hari ini berbicara seperlunya ternyata begitu cerewet, tapi tentu tidak secerewet aku, tutur katanya pun masih sopan seperti biasa, dan tawanya tidak pernah berubah, selalu membuatku ikut tersenyum saat melihatnya.
===