"Selamat siang Pak," ucap pelayan restoran begitu kami memasuki restoran. Zionino yang memilih restoran korea ini mengangguk sambil tersenyum pada pelayan yang menyambut. Desain yang dibuat direstoran ini sangat nyaman, pemilihan warna hitam pada kursi dan meja kayu tampak pas dipadukan dengan lampu gantung bulat diatasnya. Restoran yang menggunakan interior-interior berbahan kayu serta pajangan-pajangan keramik bertuliskan huruf korea ini memiliki dapur terbuka, jadi pengunjung bisa melihat proses pembuatan makanan yang dipesan, keren sekali.
Aku berjalan mengekori Zionino, mataku berkeliling mencari meja kosong yang bisa kami tempati di restoran yang cukup besar dibandingkan dengan restoran lain di mall ini. Dapat! Meja kosong yang berada hampir dipojok ruangan tersebut sedang dibersihkan oleh pelayan restoran.
“Akhirnya bisa isi perut juga,” batinku. Aku berbelok menuju meja tersebut enggak lagi mengekori Zionino, tapi tiba-tiba Zionino menarik pergelangan tanganku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kamu mau kemana?” tanyanya.
“Ke situ,” kataku sambil menunjuk meja yang ternyata sudah ditempati orang lain. “Yah, udah ditempatin orang, bapak sih,” gerutuku menyalahkan Zionino. Pokoknya kalau sampai enggak kebagian meja aku minta makanan dibungkus. Biar aja makan di mobil, yang penting perut keisi.
Zionino berjalan sambil menggandengku. “Masih ada meja yang kosong,” katanya
"Lee, seperti biasa ya," ucapnya pada pelayan laki-laki yang berpapasan dengan kami. Sepertinya pelayan tadi diimport langsung dari korea, mukanya kayak oppa oppa di drama korea. Kinclong banget.
"Oke bos," ucapnya.
Wait wait wait.
Bos?
Zionino? Bosnya? Serius?
Pabrik gerabah, pabrik kertas, event organizer sekarang restoran korea ini juga punyanya?
Ya ampun, ini mah atuh kudu wajib harus digebet demi kelangsungan hidup dimasa sekarang dan yang akan datang. Target di larang lepas! Apapun caranya, aku enggak boleh mengulur waktu lagi!
"Bapak," panggilku dengan suara berbisik.
"Iya," jawabnya sambil terus melaju.
"Bapak pemilik restonya?" Tanyaku.
Zionino masuk ke sebuah ruangan kaca, kupikir area no smoking, tapi sepertinya bukan. Interiornya berbeda dengan sebelumnya, ruangan ini lebih terlihat tradisional karena menggunakan meja kayu pendek sehingga kami harus duduk di bawah dengan alas empuk, penerangan dengan lampu temaram dan disalah satu sudut terdapat hiasan pohon bambu, didalam sini juga terdengar musik yang mendayu-dayu.
"Ini murni usaha saya sendiri, kalau pabrik itu punya kakek dan ayah saya. Saya cuma ngurusin aja," jawab Zionino yang sudah duduk.
"Kalau EO itu bisnis bapak juga?" tanyaku yang mengambil tempat diseberang Zionino. Mencari informasi itu jangan setengah-setengah, kalau hanya setengah nanti enggak akurat, aku selalu ingat kata-kata ibu tersebut dalam kehidupanku selama ini, termasuk sekarang, aku perlu informasi yang lebih jelas langsung dari sumbernya biar aku tahu seberapa berpotensinya Zionino untuk menjadi pendamping hidupku yang akan menanggung kebutuhanku.
"Itu bisnis Mama, tapi seperti pabrik-pabrik yang lain saya yang di suruh urusin," ucapnya lagi.
"Oh gitu... kenapa semua bapak yang ngurus, emang enggak ada orang lain?" Tanyaku makin kepo.
Ia tersenyum sejenak. "Saya anak tunggal, papa juga anak tunggal. Jadi enggak bisa dibagi-bagi kerjaannya," ucapnya.
Dengkul rasanya makin lemas. Dia kaya dari dalam perut. Anak tunggal yang tanggung jawab dan warisannya juga banyak. Jadi istri simpanannya yang kelima juga enggak bakal rugi kalau begini.
"Sibuk banget dong ya Pak," ucapku bersamaan dengan datangnya pelayan yang mengantarkan hidangan
Zionino mengangguk sambil tersenyum.
"Enggak sempat cari pendamping hidup dong pak?" tanyaku dengan santai sambil meneguk air mineral. Tapi sepertinya wajah Nino tak sesantai diriku. Ia berubah, yang tadinya berseri seperti wajah remaja masjid terbilas air wudhu sekarang jadi lesu tak b*******h.
"Silahkan dinikmati pak, bu," ucap pramusaji yang menolongku dari situasi canggung selama beberapa menit usai aku menyinggung masalah pribadi Zionino.
“Makasih,” ucapku sambil mengangguk tapi tak juga memulai menyantap hidangan padahal hewan ternak di perutku sudah mulai lemas karena enggak mendapat nutrisi.
"Kamu tau doenjjangjjigae?" Zionino yang sejak tadi memperhatikan mangkuk keramik di atas meja akhirnya membuka suara, alisku saling bertautan, barusan dia bilang apa?
"Doenjjangjjigae," ucapnya lagi sambil menunjuk mangkuk keramik hitam besar yang mengepulkan asap di depan kami. "Ini sup yang isinya ada tofu, lobak, zuchini, irisan cabai, kerang, kuahnya dibuat dari pasta kedelai dan kaldu, kamu udah pernah coba?" tanyanya.
Aku menggeleng, seumur-umur aku memang belum pernah mencicipinya. Aku enggak begitu tertarik dengan makanan korea, yang aku tahu hanya kimchi yang merupakan salah satu dari sekian banyak makanan favoritnya mbak Sani.
"Coba ini pakai nasi hangat," ucapnya, sumpit di tangannya bergerak ke dalam panci keramik itu, menjepit tofu berukuran sedang lalu meletakkannya pada mangkuk nasiku.
Perlahan aku menyantap makanan, sendok dengan gagangnya yang panjang cukup asing di genggamanku saat mengambil kuah.
"Enak?" Tanya Zionino.
"E…nak pak," jawabku sambil mencecap lidah.
Rasanya ada asin asin pedas dan ada sesuatu yang enggak asing dilidah hanya saja belum kutemukan itu apa.
Zionino tersenyum melihatku yang mencecap lidah beberapa kali, ia lalu mulai menyantap makanannya, tanpa berhenti memandangiku. Aneh mungkin melihat reaksi ketika merasakan sendok demi sendok doenjjangjjigae.
"Ini makanan kesukaan bapak?" Tanyaku sambil mengambil suapan berikutnya yang di tambah dengan kimchi.
Zionino terdiam sejenak lalu mengangguk.
Aku ikut mengangguk-angguk. "Bapak sukanya yang ke korea-koreaan ya? Suka cewek korea juga pak?" tanyaku berusaha mengorek informasi.
Makanan kesukaan aku sudah tahu, sebentar lagi aku tahu tipe cewek idealnya. Mantap sekali pekerjaan ini, enggak pakai mikir cuma bawa mobil dari pagi sampai sore dapat makanan enak pula.
"Yang jelas saya enggak suka cewek model kayak kamu," jawab Zionino yang masih menikmati santapannya.
Aku berhenti menyendok makanan, berpura-pura memasang wajah sedih. "Yah, sayang banget pak, padahal saya suka cowok yang modelnya kayak bapak," ucapku.
Zionino terdiam. Kembali memandangku yang tengah memandangnya. "Yakin?" Tanyanya.
Eh? Dia nantangin?
"Kamu suka lelaki model kayak saya? Model yang seperti apa maksudnya?" Tanyanya.
Yang ganteng, baik hati, sopan sama orang tua dan yang paling penting...
"Punya uang banyak di usia muda?" sambungnya seolah tahu kaliamat yang tengah kuucapkan dalam hati
"Yap, betul sekali" jawabku dengan suara bersemangat.
Ups! Mampus aku ketahuan. Tamat sudah kisah hidupku.
Zionino menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan senyum tipis yang membuatnya tampak menggemaskan namun begitu matanya menatapku kegemasanku padanya sirna. "Saya suka sama orang jujur, tapi kamu jujurnya ngeselin," ucapnya membuatku tersedak.
Kuteguk air mineral sejenak. "Bapak nih, enggak bisa diajak bercanda sedikit," ucapku.
Zionino kembali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mengejek. Tak ada lagi perbincangan selama kami menyantap makanan. Laparku menguap karena situasi yang jauh dari kata nyaman ini. Makanan yang masuk ke dalam perutku begitu saja tanpa bisa kunikmati rasanya, yang tersisa hanya malu pada lelaki di hadapanku yang sedang menikmati makanannya.
===
"Jadi apa kerjaan lo sama bapak bos?" tanya mbak Sani.
"Nganterin doi kesana kemari," jawabku sambil mematikan shower lalu menuangkan shampoo ke telapak tangan.
"Mencari alamat jeng jeng," sahut mbak Sani sambil berdendang.
"Serius gue," kataku disusul suara tawa mbak Sani.
"Terus kesana kemarinya ngapain jeng, nyari alamat janda?" Katanya asal.
"Ke pabrik kertas terus makan siang di restoran koreanya," jawabku sambil merem melek menikmati pijatan di kepala.
"Oh."
Aku mengernyit saat mendengar suara aneh yang dikeluarkan mbak Sani.
"Punya dia semua," sambungku lalu meniupkan busa yang berkumpul di tanganku
"Awww. Jangan di gigit dong yang, sakit."
Aku mengenyit.
"Iya maaf enggak sengaja, habis geregetan."
Sialan, mereka lagi berbuat!
"Sori Rif laki gue rese nih gigit-gigit mulu, eh lo bohong pasti ya," katanya membuatku memutar mata kesal. Tega-teganya dia pamer lagi main gigit-gigitan padaku. Jahat.
"Serius, Nino itu tajir sebelum jadi blastula mbak, udah kebayang kalo jadi istri. Heumh… hidup makmur," jawabku sambil membayangkan sedang mandi di dalam bathup mahal berukuran besar dengan aromatherapy yang begitu menenangkan, lilin-lilin kecil yang membuat suasana semakin menyenangkan dan segelas jus segar.
"Terus lo mau daftar jadi istrinya?" Tanya mbak Sani.
"Iya dong," jawabku tanpa melepaskan angan-angan indahku.
"Sadar lah wahai Rifanka, mana mau Nino sama lo, mantannya aja lebih yahud dari lo, dia nyari yang di atasnya lagi, bukan turun derajat dengan milih lo," ucapan mbak Sani barusan membuatku tersadar.
"Lo kenal mantannya?" Tanyaku.
"Enggak kenal, cuma tau," jawab mbak Sani.
"Siapa?" Tanyaku.
"Ada deh,"sahutnya.
"Mbak, kasih tau gue sekarang! Atau gue godain laki lo biar mau tidur sama gue terus bayar 50 juta buat nutupin utang gue!" Teriakku.
"Laki gue enggak akan napsu sama lo, dia suka t***t gede bukan melempem kayak punya lo," sahut mbak Sani dengan sangat santai.
"Mbak Sani!"
"Udah ya Rif, gue mau main gulat dulu, bye Rifanka selamat malam selamat penasaran," ucapnya lalu panggilan terputus begitu saja.
Kesal? Iya dong jelas, aku udah kepo banget, tapi si nenek lampir itu niat enggak niat kasih informasinya.
Sambil memikirkan ucapan mbak Sani tadi aku menyelesaikan mandi malamku. Berbagai macam pertanyaan berputar-putar mengelilingi kepalaku. Zionino punya mantan? Pernah pacaran? Pantas tadi mukanya berubah waktu aku menyinggung masalah pasangan. Kira-kira putusnya kenapa ya? Yang paling penting mantannya itu seperti apa? ‘Kan lumayan bisa aku tiru buat memikat Zionino si ladang dolar itu.
"Rif," panggil ibu ketika aku keluar dari kamar mandi berbalut dengan handuk pink.
Sedikit kaget melihat ibu duduk di kursi makan yang menghadap ke pintu kamar mandi. "Ibu belum tidur?" tanyaku sambil mengeringkan rambut dengan handuk lain yang lebih kecil ukurannya.
"Ngutang ke siapa kamu sampai 50 juta? Buat apa?" Tanya ibu dengan kedua tangan terlipat diatas d**a.
Mati! Ketahuan!
“Utang sama siapa?!"
"Samaaa..." Aduh harus cari alasan apa ini sama ibu..
"Siapa?" tanya ibu lagi, dengan matanya yang melotot.
"Sama mbak Sani bu," ucapku dengan cepat. Bohong sedikit enggak masalah deh ya, demi kesehatan jantung ibu, aku rela masuk neraka sebelum melihat surga.
"Utang apaan kamu sampai 50 juta?!" Suara ibu semakin meninggi.
"Ih ibu, jangan teriak-teriak gitu dong, nanti darah tingginya kumat loh, itu aku beli baju...,"
"Baju apaan harganya 50 juta Rifa, dari benang emas? kamu mau bodoh-bodohin ibumu sendiri?!" Suara ibu semakin ngegas.
"Ih ibu, bukan gitu, ibu kayak enggak tau deh aku sama mbak Sani 'kan doyan bercanda. Itu lebay aja bu, bukan lima puluh jeti, lima puluh ribu doang kok," ucapku berusaha tenang biar enggak ketahuan lagi nipu.
"Lima puluh ribu aja kamu pakai ngutang? Malu-maluin kamu tuh Rif," omelan ibu tidak berhenti begitu saja dengan karangan bebasku, sekarang topiknya malah berganti menjadi anak yang memalukan keluarga hanya karena utang lima puluh ribu. Selama mendengarkan omelan ibu yang berlangsung kurang lebih 20 menitan itu aku hanya mampu berdiri menunduk sambil memegangi lilitan handuk di d**a. Diam seribu bahasa.
"Nih, besok bayar ke mbak Sani, lima puluh ribu, nanti gajian kamu ganti ya uang belanja ibu itu," ucap ibu sambil menyodorkan uang yang ia ambil dari kamar.
Aku mengangkat dagu perlahan. Rasanya sedih banget mau menangis tapi nanti durasi omelan ibu bertambah. Tapi d**a rasanya sesak, merasa berdosa karena udah bohongin ibu.
"Iya nanti Rifa ganti," ucapku dengan suara pelan. "Rifa pakai baju dulu ya bu," ucapku lalu pergi menuju kamar.
Sampai di kamar, kasur langsung menjadi tempat tujuan. Menangis sejadi-jadinya dibawah bantal agar suara isakan enggak terdengar ibu. Sesak sekali rasanya. Aku benar-benar merasa berdosa. Membohongi ibu bukan hobiku, tapi kalau sampai beliau tahu masalah yang tengah aku hadapi entah apa yang akan terjadi dengan kondisi kesehatannya. Apalagi kalau ibu sampai tahu aku udah di pecat dan sekarang jadi sopir demi bisa godain bos, bukan hanya kondisi ibu yang aku khawatirkan, tapi kondisiku juga yang langsung sekarat di ruang ICU karena dipukuli ibu. Ingin ku bersujud memohon maaf di kaki ibu, tapi kalau sekarang kulakukan ibu pasti bingung apa yang terjadi dan memaksaku bercerita. Malam ini rasanya badanku sakit semua karena harus menahan suara tangisku. Terisak di bawah bantal bukan hal mudah, lonjakan emosi ini benar-benar menguras energi sampai akhirnya semua gelap dan aku terbangun di pagi harinya.