Part 7

1688 Words
"Serius? Dia yang punya?" Nada suara mbak Sani terdengar enggak percaya begitu aku memberitahukan berita yang sama mengejutkanku. "Iya, Mbak,"sahutku. "Kalau kayak gitu duitnya banyak banget dong Rif, enggak berseri kayaknya." "Iya kali," kataku. "Lo lemas banget sih Rif? Aduh yang bentar dong." Keningku berkerut mendengar suara mbak Sani di seberang telepon sana apalagi disusul suara krasak krusuk. "Iya udah tapi pelan-pe… ahh ih yang kok nakal sih ahh." "Ya elah mbak, lo enggak sekalian live streaming, biar gue liat? Lanjutin dulu deh, jangan sampai anunya si yayang mengkerut duluan," ucapku. Tanpa menunggu sahutan mbak Sani aku segera memutuskan sambungan telepon. Tubuhku yang lelah sudah mendapatkan tempat nyamannya. Diatas ranjang empuk berselimut tebal mataku menerawang, kejadian pagi tadi terbayang kembali di benakku . "Saya bisa bantu kamu untuk bayar utang-utang tersebut, tapi bukan dengan menerima kamu kembali di pabrik, sikap kamu jelas menjatuhkan saya di hadapan karyawan lain. Saya enggak bisa mempertahankan kamu disana, selain itu kamu juga akan menjadi bahan gunjingan karyawati, status gagal menikah dari mereka sudah memberatkan kamu 'kan? Kalau ditambah berita kamu melabrak bos sendiri cap sebagai perempuan gila akan tersemat berdampingan dengan julukan perempuan malang yang sudah terselip di ujung nama kamu." “Kenapa dia tahu semuanya sih?" gumamku. "Saya bantu kamu bukan karena maksud tertentu. Saya hanya enggak bisa merelakan uang 50 juta tersebut, ada hak-hak karyawan saya yang sudah mengurus acara kamu waktu itu, saya harap kamu mengerti Rifanka." "Dia benar sih, tapi kenapa dia baik banget ya, beneran baik apa pura-pura ya itu orang?" "Saya enggak mau kamu kabur tanpa membayar biaya pernikahan tersebut." Tarikan napas panjangku mungkin terkesan putus asa bagu yang mendengarnya. Nyatanya, memang itu yang terjadi. Di tawari pekerjaan oleh orang yang aku hutangi. Kok lucu sekali hidupku ini. "Rifa," panggilan dari balik pintu kamarku membuatku berhenti memikirkan kekacauan ini. "Iya bu," sahutku. Pintu terbuka perlahan-lahan, ibu yang membawa gelas besar masuk ke kamarku. "Udah mau tidur?" tanyanya lalu duduk di sisi ranjangku. Aku menganguk. "Tapi enggak bisa, kenapa bu?" Tanyaku. "Mau ngobrol aja sama kamu," jawab beliau. Aku mengambil gelas di tangan ibu, s**u coklat hangat yang masih mengepulkan uap itu ku seruput perlahan. Hangat langsung memenuhi d**a lalu perutku. "Bulik Rini tadi kesini," kata ibu. "Iya, lalu?" "Mayang mau menikah, minggu depan" jawab ibu. "Oh," sahutku singkat. Mayang itu sepupuku yang tinggal di kota lain. Dari dulu kami enggak akur, apalagi waktu kejadian tragis di hidupku terjadi, sebagai saudara bukannya prihatin ia malah menyunggingkan tawa secara sembunyi-sembunyi namun tak luput dari penglihatanku. Senyum mengejeknya jelas masih kuingat. "Kita datang ya Rif, ibu juga harus bantuin bulik," ucap ibu "Rifa 'kan kerja bu," ucapku bohong "Cuti aja bisa 'kan?" Bujuk ibu. "Enggak bisa bu, Rifa ditugasin ke luar kota," jawabku. Semakin lama kebohongan semakin menggunung. Desahan kecewa terdengar. Aku enggak enak hati melihat ibu saat ini. Tapi aku juga enggak mau mengorbankan hati dengan melihat pernikahan orang yang mengolokku saat aku terpuruk dulu. "Ibu aja yang berangkat duluan, nanti Rifa coba ijin pas hari H," ucapku. "Benar ya?" tanya ibu memastikan. "Kalau di kasih ijin ya bu," sahutku . "Ya udah, ibu doain kamu di kasih ijin," kata ibu, beliau bangkit lalu berjalan meninggalkan kamarku. Aku tersenyum masam menatap kepergian ibu. "Maaf ya bu, Rifa bohong," gumamku begitu pintu tertutup seluruhnya. Sepertinya aku sudah punya jawaban atas pertanyaan Zionino pagi tadi. Yang kuperlukan mungkin krim penebal muka, kalau ada akan aku beli dan kuoleskan tiap bersama Zionino nanti. "Halo," sapaku setelah sambungan telepon yang baru kulakukan tersambung. “…” "Tawaran bapak pagi tadi masih berlaku?" Tanyaku. “…” "Saya siap untuk nganterin bapak kemana aja," jawabku dengan penuh keyakinan. === Angan-angan menjadi asisten pribadi sirna sudah, beruntung aku belum memamerkannya pada Vika. Kedua kalinya aku bertandang ke rumah Zionino, kali ini sebagai supir pribadinya menggantikan pak Yunus. Sejak pukul 5 pagi aku sudah berada di rumah majikanku, pukul 6 nanti kami berangkat menuju destinasi pertama, Zionino sudah memberikan lokasinya kemarin malam. Sambil menunggu Zionino bersiap aku berbincang dengan mbak Ning, gadis 25 tahun yang sudah setahun bekerja di rumah Zionino. Di dapur aku mendengarkan mbak Ning yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Zionino bercerita tentang kebaikan lelaki itu dalam memperlakukan pekerja di rumah ini. Pukul 05:30 Zionino turun dari lantai atas, mbak Ning segera menyiapkan makanan untuk Zionino sedangkan aku pergi menuju garasi untuk memanaskan mobil. Setengah jam kemudian Zionino yang hari ini tampak santai dengan t-shirt berkerah berwarna biru langit dan celana bahan berwarna abu-abu keluar dari rumah membawa tas jinjing membuatku meneguk liur beberapa kali. Aku yakin selama dua minggu ke depan hidupku akan sangat menyenangkan. “Pagi, Pak?" sapaku sambil membuka pintu belakang untuk Zionino. "Pagi,” jawabnya seraya berjalan memutar menuju sisi mobil yang lain. Mataku mengikuti pergerakannya dengan rasa tak percaya, apalagi saat ia membuka pintu depan dan masuk ke dalamnya. "Rifa, ayo cepat, saya hampir telat," ucapnya. Aku yang masih setengah bingung bergegas masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu belakang. Duduk di samping Zionino membuat mataku beberapa kali melirik ke arahnya. Ia tampak tenang memperhatikan layar ponselnya. "Bapak, boleh dengar musik enggak? Biar enggak sepi gitu," tanyaku dengan berani. Zionino menoleh, lalu tersenyum. "Saya enggak bisa konsentrasi kalau ada musik," jawabnya. "Oh... ya udah enggak usah pak, saya nyanyi dalam hati aja kalau gitu," kataku. Sepuluh menit berlalu, perjalanan ini benar-benar enggak menyenangkan. Terlalu tenang, bikin canggung semakin terasa. "Kita belok kanan atau kiri pak?" tanyaku saat melihat dua belokan di depan. "Ke kiri, nanti jarak tiga ratus meter ada belokan kamu lurus aja. Gudangnya ada di sisi kanan jalan," jawabanya lalu kembali sibuk dengan ponsel. "Oke siap, Pak," jawabku. "Rifa, kamu udah sarapan?" Tanya Zionino. Aku menggeleng. "Belum Pak, kalau saya sarapan, nanti telat, saya di blacklist sama bapak," jawabku jujur. Zionino tertawa renyah. Saking renyahnya sampai bikin aku terkesima. Bikin nagih banget itu suara tawa, buat lelucon apa lagi ya agar dia tertawa? "Kita berhenti dulu di depan, ada warung nasi kuning langganan saya," ucapnya. Bukannya tadi dia udah sarapan sandwich ya? Tanpa berniat mengutarakan isi hati, aku segera memarkirkan mobil tepat di depan warung makan yang Nino bilang. "Ya ampun, ibu kedatangan orang jauh, masuk masuk, dibuatin kayak biasa ya, Nak." Suara perempuan berambut putih tipis yang di cepol membuatku mengangkat alis, heran melihatnya begitu akrab dengan Nino. "Satu aja Mak, buat teman saya, tadi saya udah sarapan soalnya," ucap Nino sambil mengambil satu bangku untukku. Aku melirik Nino beberapa saat. Teman? "Teman apa pacar? Hayo ngaku." Wanita yang tak kuketahui namanya itu tampak menggoda Nino. Teman menuju pacar, Mak "Teman, Mak," sahut Nino dengan sopan. Kami menunggu beberapa menit menunggu si Mak yang tidak kuketahui namanya itu membuatkan pesanan sampai ia kembali memberikan sepiring nasi kuning lengkap dengan ayam goreng, telur dadar yang di potong memanjang, irisan timun, taburan kacang tanah dan bawang goreng. Aku meneguk liur. Mantap sekali. "Ini sambalnya, jangan banyak-banyak, pedas, nanti takut mules," ucap Mak memperingatkan. "Tenang Mak, saya pawangnya sambal," ucapku bangga. Aku membuka penutup mangkuk sambal, agak kaget juga melihatnya, merah banget. Aku bisa lihat ulekan kasar yang masih menyisakan kulit cabai. Dan aku tau itu cabai seiton yang pedesnya bikin ubun-ubun berasap. Tapi tetap aja, aku si ratu sambal menyendoki sambal tanpa ingat dosa. Satu, dua, tiga, empat, lima sendok sambal masuk bergabung bersama kawan-kawannya di piring. "Kamu makan sambal atau nasi kuning?" Tanya Zionino yang menjauhkan mangkuk sambal dariku ketika aku berniat menambahkannya. "Nasi kuning dong pak, pake sambal," jawabku dengan cengiran. "Bapak enggak makan?" tanyaku sambil mempersiapkan suapan. "Tadi kan sudah makan di rumah," jawabnya. Aku mengangguk-angguk saja. Terserah dia saja, mau makan atau enggak, aku mau isi perut dulu. Lumayan 'kan dapat sarapan gratis... eh ini gratis atau bayar sendiri ya? === Dua jam berada di pabrik kertas, aku mengekori Nino kesana kemari mengecek mesin-mesin yang memproduksi berbagai macam dan jenis serta ukuran kertas. Aku baru tahu kalau pabrik kertas ini milik ayahnya dan ia di beri tanggung jawab untuk mengelolanya. Enak banget jadi bapaknya tinggal nunggu hasil jerih payah anaknya. Kan aku jadi iri. "Kita pulang, Pak?" tanyaku ketika Nino masuk ke dalam mobil. Urusannya di pabrik kertas sudah selesai. Penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan kanan menunjukkan pukul 11 siang. "Kamu lapar enggak?" tanyanya. Aku mengangguk semangat. "Banget pak, tenaga saya udah terkuras buat ngikutin bapak kesana kemari, lagi kenapa sih pak saya pake diajak ke dalam, 'kan tugas saya cuma nyetir mobil aja," ucapku sambil sesekali melirik ke arahnya. "Biar kamu tau, kerjaan saya banyak jadi enggak mungkin saya punya kesempatan buat ngehamilin Bila," ucapnya. Mati! Masih di bahas aja sama doi masalah mbak Sabila. Aku tertawa canggung. "Si bapak bisa aja," ucapku sambil menepuk bahu Zionino. Matanya langsung tertuju pada tanganku yang masih bertengger di bahunya. Aku yang lupa bahwa derajatku dengannya di dunia ini jauh berbeda langsung salah tingkah. Wajahnya tampak tidak menyukai tindakanku. Lewat matanya ia seolah menyampaikan protes dan menyuruhku menyingkirkan telapak tangan kurang suciku. Rifa, Rifa lo pikir dia Mas Jalu yang bisa asal lo tepuk-tepuk terus kesenangan. "Maaf Pak, saya lupa kasta," ucapku dengan senyum malu, tapi bodohnya bukan langsung menjauhkan tangan dari bahu lebarnya aku malah mengusap-usap pelan bahunya. Tanggung sekalian aja lah, siapa tau kalau diusap dia agak lebih tenang dan enggak jadi menerkamku. "Kita makan dulu di Ciputra mall," ucapnya. "Siap pak," ucapku. Perjalanan 50 menit diiringi dengan cuap-cuap penyiar radio beserta lantunan lagu dari beberapa penyanyi mancanegara mengiringi kami. Zionino tak banyak bicara, ia malah memejamkan mata dengan tubuh bersandar pada jok mobil yang di rendahkan. Lelah mungkin. Sesekali aku meliriknya, wajahnya teduh sekali. Adem rasanya, mungkin rasanya mirip- mirip kayak lihat pemuda masjid dipenuhi tetesan air wudhu di wajahnya. Cerah terang benderang, pokoknya.kedamaian dunia terpancar dari wajah Zionino. "Bapak, bapak," panggilku. Mobil sudah terparkir di basement, saatnya turun dan isi perut tapi Zionino belum juga bangun. Kalau dia tidur nyenyak enggak bangun-bangun juga alamat lambungku mengkerut ini. "Udah sampai Rif?" Tanyanya setelah kesekian kalinya jariku mencolek bahunya. "Udah Pak, jadi makan siang atau mau pulang aja pak, biar tidurnya di kasur empuk aja gitu pak," ucapku. "Kita makan siang dulu," ucapnya sambil melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil. ===
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD