Part 6

1407 Words
Hari ini aku mengenakan sleeve blouse berwarna putih dengan potongan v-neck kupadukan ruffle pencil skirt sebatas lutut berwarna dusty pink, jabatan baru yang kudapat seusai menghina bapak bos benar-benar diluar dugaan. Kalau ditanya bagaimana perasaanku setelah naik pangkat, jelas jawabannya senang walaupun ada rasa bingung tapi enggak aku mabil pusing, yang penting sekarang aku adalah seorang asisten pribadi seperti Ravika. Yeay! Aku akan pamer pada Vika tentang pekerjaan baruku ini. Setelah merapikan rambutku dan menyemprotkan parfum yang kubeli bersama Vika kemarin aku segera berangkat menuju kediaman Zionino, alamatnya sudah diberikan olehnya kemarin. Pukul 06:35 aku sampai di rumah dua lantai dengan gaya minimalis. Seharusnya lima menit yang lalu aku sudah sampai di hadapan Zionino tapi karena sebuah kecelakaan lalu lintas menuju tempat ini sedikit terhambat, aku harap Zionino bisa memakluminya. Gugup menyerang begitu aku menekan bel yang berada disamping pagar berukuran rendah. Tidak lama seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun keluar menanyakan identitasku setelah mengetahui aku pengganti Sabila pria bernama Yunus itu membukakan pintu. Begitu memasuki rumah tersebut kulihat Zionino sedang menyantap sarapannya. Dengan langkah penuh percaya diri aku mendekatinya. “Selamat pagi, Pak,” sapaku. Zionino melirik sekilas, lalu meneguk setengah gelas air putih. “Kamu telat lima menit,” katanya setelah membersikan bibirnya dengan tissue. Belum sempat aku menyampaikan alasannya, Zionino sudah bersuara lagi. "Mbak Ning, tolong bilang ke pak Yunus siapkan mobilnya, saya mau berangkat," ucapnya pada perempuan yang mengantarku masuk ke dalam rumah. Zionino meneguk sisa air putih digelasnya hingga tandas, jakunnya yang naik turun saat meneguk air itu membuatku ikut meneguk air liur, ingin rasanya mencicipi air dari gelas yang sama dengannya, lumayan ‘kan bekas bibir doi. Beruntung kewarasanku kembali, menendang jauh khayalanku, aku kembali mengingatkan diri untuk menjaga sikap di depan satu-satunya investor yang kumiliki. Aku mendekati Zionino hendak membantunya bersiap berangkat, namun suara seksinya membuatku berhenti melangkah. "Saya pikir kamu orang yang bisa menggantikan Sabila setelah kemarin saya mendengarkan laporan kamu, tapi kamu kurang disiplin, kamu enggak on time Rifanka, sedangkan saya butuh asisten yang disiplin dalam bekerja mengatur jadwal saya, kalau mengatur hidup kamu aja kamu kacau, mungkin saya harus cari orang lain," ucap Nino. What the f**k! Barusan dia mengigau 'kan? Lemas, jiwa ini terasa melayang-layang. "Tapi pak...." Tak mampu berkata-kata lagi. Aku terkulai lemas dan berakhir duduk di lantai dingin. Wajahku terangkat menatap Zionino yang memandangku lurus, wajah tanpa ekspresinya membuatku lagi-lagi meneguk ludah. "Bangun Rifanka," ucapnya. Bagaimana mau bangun, kakiku lemas setelah mendengar berita buruknya. Kemarin aku dipecat olehnya, lalu diimingi menjadi asisten pribadinya, lalu sekarang hanya karena aku telat lima menit saudara-saudara! Catat! 5 menit! Aku di pecat lagi. "Bapak saya mohon pak, jangan pecat saya," ucapku memohon, mata sudah terasa panas. Zionino menghela napas panjang. Aku pikir ia akan mengucapkan kalimat yang kuharapkan tapi ternyata enggak. Dia enggak berubah pikiran. "Saya pernah melihat kamu melakukan hal serupa, berlutut, memohon lalu menangis. Tapi itu enggak ada pengaruhnya ke saya Rifanka, saya bukan Sani," ucapnya. Jadi kemarin dia melihat? "Sebaiknya kamu membenahi diri kamu, ubah tingkah laku kamu," ucapnya, ia lalu pergi meninggalkan meja makan, berjalan melewatiku yang masih berlutut tanpa melirikku sama sekali. Aku menangis, kali ini enggak ada kepura-puraan, aku benar-benar bingung. Menjadi pengangguran di tengah tagihan yang sangat memusingkan kepala bukan hal yang mudah diterima dengan ikhlas, kata sabar enggak bisa menenangkanku saat ini apalagi membayar hutang 50 juta itu. Bagaimana aku harus menjelaskan pada ibu? Mencari pekerjaan enggak semudah mencongkel kotoran hidung. Kadang beberapa tempat malah meminta uang pada pencari kerja kalau mau di terima di tempat tersebut. Semua memang salahku, cara berpikirku yang pendek, terlalu menggebu-gebu tanpa alasan yang mendarah daging akhirnya menghancurkan diriku sendiri. “Ibu, Rifa mesti gimana?” batinku. "Bangun Rifanka." Sentuhan lembut di lenganku membuatku menoleh. Zionino, ia membantuku berdiri. "Kenapa kamu harus menangis di rumah saya?"ucapnya. Ia lalu berjalan ke meja makan dan mengambil selembar tissue kemudian menyerahkan padaku. Enggak perlu bertanya bagaimana perasaanku saat ini. Aku akan langsung jelaskan! Dia manis! Perilakunya benar-benar bikin aku diabetes! Hal kecil yang terlihat sepele ini benar-benar membuatku terpukau. Helaan napas Zionino membuat jiwaku yang melayang-layang bahagia kembali ke dalam tubuh. Aku segera mengusap lelehan airmata yang tersisa di pipi menggunakan tissue pemberiannya. "Maaf, Pak," ucapku. "Mbak, tolong buatkan teh hangat," ucap Zionino, dari arah dapur terdengar seorang menyahutinya. "Saya masih punya waktu sepuluh menit, kamu tenangkan diri kamu dulu," ucapnya lalu berjalan menuju ruang tengah. Aku mengikuti langkahnya. Ia lalu duduk di salah satu sofa, aku ikut duduk di seberangnya. "Maaf atas sikap saya kemarin, Pak," ucapku. "Iya," ucap lelaki di hadapanku itu. Singkat sekali sampai aku mengangkat wajah untuk melihat ekspresinya. "Kemarin saya bereaksi terlalu berlebihan, tapi niat saya benar-benar untuk meminta pertanggung jawaban bapak atas mbak Bila,"ucapku. "Tapi saya akui, cara saya salah," lanjutku. "Dan tuduhan kamu pun jelas salah," sambungnya. "Maaf Pak," ucapku. Walaupun aku juga enggak yakin sama perkataannya tapi aku enggak bisa main teriak menuduhnya lagi. Kemarin aku di pecat, sekarang bisa saja aku digorok olehnya. "Kamu enggak percaya?" Tanyanya. "Iya, eh." Mati, keceplosan kan! Zionino membuang napas kembali, sedangkan aku menghukum diri sendiri dengan mencubiti paha. Zionino tidak berkomentar, ia hanya memandangiku yang sedang salah tingkah ditatap intens olehnya sampai perempuan bernama mbak Ning datang membawa nampan berisi segelas teh hangat. Wajahnya agak kaget melihatku, mungkin dipikirnya aku sudah pergi tapi ternyata masih di rumah ini, menangis pula. "Mbak mau minum apa?" tanya mbak Ning. "Enggak usah mbak," ucap Zionino, mbak Ning mengangguk dan segera pergi setelah meletakkan cangkir teh di dekat Zionino. Tega! Masa aku enggak di kasih minum sama sekali. "Itu hak kamu mau percaya pada ucapan saya atau enggak, yang jelas saya sudah menjelaskan," ucapnya. Ia lalu mendorong cangkir di hadapannya ke arahku. "Diminum dulu tehnya Rifa,"ucapnya. Eh? Untukku? Ya Tuhan, dia baik sekali. Aku mengangkat cangkir teh, meneguk cairan beraroma melati tersebut. "Saya enggak bisa begitu saja menerima kamu untuk menggantikan Sabila, pekerjaan kamu bagus tapi sikap kamu kurang cakap," lanjutnya setelah aku meletakkan cangkir kembali ke atas meja. "Iya saya mengerti, Pak, tapi saya mohon, kasih saya kesempatan, saya butuh sekali kerjaan," pintaku kembali. Dan butuh dekat sama bapak. "Untuk bayar hutang pernikahan kamu yang gagal?" Aku mendongak, kaget. Dia tahu darimana? "Kantor menjadi tempat bergosip, kamu tahu 'kan?" ucap Zionino seolah menjawab pertanyaan hatiku. Ah, ya... kantor. Dia pasti tahu semua dari sana. Sarangnya para pemilik lidah lentur. Aku membuang wajah ke arah lain, enggak sanggup rasanya beradu mata dengan Nino. Malu. Detik ini kuputuskan untuk menghapus niat menggoda pak Bos. Kalau dilanjutkan, hanya membuat malu diriku saja. Masalah hutang, mungkin aku bisa menyelesaikan dengan jalan lain, menjual kornea mata mungkin. "Namanya hidup butuh biaya, saya memang punya utang, tapi masalahnya bukan cuma buat bayar utang, saya dan ibu saya juga butuh makan, jadi jangan sangkut pautkan dengan utang pernikahan saya yang gagal," ucapku dengan tenang, perlahan aku berdiri dari tempatku. Mengemis pada lelaki ini kurasa enggak akan berhasil sebaiknya aku pulang dan menenangkan pikiran yang sudah semrawut ini. "Saya permisi, maaf atas sikap saya kemarin dan hari ini pada bapak," ucapku lalu mengulurkan tangan ke arah Nino. "Lima puluh juta bukan jumlah yang sedikit Rifanka, saya harap kamu bisa menemukan pekerjaan baru agar hutang itu lunas dan kehidupan kamu membaik," ucap Zionino sambil meraih jabat tanganku. Aku mengangguk lemas, berjalan perlahan keluar rumah dengan hati yang terasa hampa. Pupus sudah harapanku. Hilang sudah angan-anganku. Hidupku jadi semakin sulit sekarang dan semua gara-gara Tio! Harus aku kejar lelaki itu. Kalau perlu sampai ke kerak bumi. Tunggu. Aku terdiam begitu sampai di depan pintu. Menghentikan langkah lalu segera berbalik badan. Kulihat Nino masih berdiri memandangi kepergianku. Dengan langkah lebar aku menuju ke arahnya. "Bapak tau darimana jumlah utang saya?" Tanyaku tepat di hadapan Zionino. Ia tersenyum. "Karyawan saya yang melaporkannya," ucapnya. Aku berpikir sejenak. "Mbak Sani?" tanyaku memastikan. Satu-satunya manusia yang mengetahui besarnya utang itu adalah mbak Sani dan pihak WO. Dan karyawan Zionino pasti mbak Sani. "Gaun berwarna peach, dekorasi bernuansa putih dan peach senada dengan gaun lalu..." "Bapak pemilik WO itu?" tanyaku. Wajah tercengang tak percayaku pasti sangat tidak sedap di pandang saat ini. Kenapa oh kenapa rasanya aku seperti kena zonk berkali-kali. "Karyawan saya masih menagih lewat pesan ke kamu, Rifanka?" tanyanya usai memberikan senyuman manisnya. Rifanka? Aku memejamkan mata, suaranya mengingatkanku pada caranya menyebutkan namaku saat awal pertemuan kami. Sepertinya ia sudah tahu sejak awal kalau aku adalah mantan klien WO-nya yang gagal melangsungkan acara. ===
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD