Part 5

1161 Words
Dengan keadaan hati yang penuh kecarut marutan aku duduk menyandarkan diri di bawah pohon yang terletak di parkiran mobil. Ditemani segelas jus jeruk, aku menyesali sikap kurang ajarku pada petinggi pabrik yang selama ini memberiku gaji. "Rifa!” aku menoleh dengan lesu, dari kejauhan kulihat mbak Sani berjalan cepat menuju kerahku masih lunglai akibat di bentak sama Zionino, di tambah mbak Sani yang udah bermuka garang membuatku semakin lesu. "Lo ngapain di ruangan Pak Bos! Gila lo?!" Bentaknya. Pasti berita sudah menyebar seantero pabrik ini. "Ya maaf mbak, gue... gue cuma." Tak mampu aku menjelaskan pada mbak Sani keadaan yang sesungguhnya isi kepalaku kini hanya bagaimana cara aku tetap di tempat ini dan menjalankan rencana menggaet Zionino demi bayar utang. "Cuma apaan! Aduh Rifa, gue enggak habis pikir sama lo, habis batal kawin otak lo makin konslet, gue tau lo dari dulu udah gila, tapi gue enggak nyangka lo sampai segila ini," omel mbak Sani yang berulang kali menarik rambutnya ke belakang. Aku hanya bisa diam mematung, menunduk lesu mendengarkan ocehan mbak Sani. Biarin aja deh aku diomelin sampai ludah dia kering, aku terima dengan berbesar hati, asal dia bantuin aku tetap kerja di sini. "Lo harusnya tau diri Rif. Lo itu siapa, Pak Nino itu siapa. Lo ngaca sana di toilet lo itu babunya pak Nino, emang pantes lo ngomel ke dia pake nunjuk-nunjuk mukanya terus nuduh dia ngehamilin mbak Bila? waras enggak lo?" ucap Mbak Sani, wanita ini kalau sudah marah sangat menyeramkan, segala makian bisa keluar dari mulutnya. Cantik tapi cadas. Aku masih diam. "Kalau emang dia yang ngehamilin ya lo enggak usah ikut campur! Itu urusan dia, kalau lo mau ngamuk jangan di kantor! Di luar biar derajat kalian sama! Kalau disini lo ngamuk ke dia tamat hidup lo, inget uang makan lo ada ditangannya! Duit perawatan rambut berwarna begini juga enggak murah! Dasar pe’a, otak enggak di pake!" makiannya masih mengudara. "Mbak," panggilku pelan. "Apaan?!" Bentaknya. "Tolongin gue," ucapku dengan derai airmata. "Kalau gue di pecat gimana nasib gue, tolong dong mbak," ucapku memohon. Mbak Sani mendesah, ia kembali menarik rambutnya kebelakang. "Makanya Rif, jangan gegabah, mikir dulu, lo tuh mau nolongin orang tapi malah nyusahin diri sendiri. Pahlawan gagal namanya, b**o sih lo," ucap mbak Sani lagi. "Iya emang, iya gue b**o, gue akuin. Tapi gue mohon mbak bantuin gue biar tetap kerja disini mbak," pintaku memohon padanya, aku bahkan sampai berlutut di hadapannya. Mbak Sani berdecak. "Bangun Rif, jangan gini deh apa-apaan sih lo," ucapnya sembari menyuruhku bangun. "Janji dulu bantuin gue mbak," pintaku dengan airmata berderai. "Iya udah iya, tapi bangun," ucapnya. Berhasil yeay! Mbak Sani emang paling gampang dirayu. Aku bangkit sambil mengusap lelehan mutiara suci dari netra. Baru saja kakiku berpijak kuat, suara yang kukenal terdengar. Suara yang sama dengan yang membentakku beberapa menit yang lalu. Tubuhku menegang, tatkala Zionino berdiri di sampingku. “Kalian ngapain disini bukannya ini masih jam kerja?” tanyanya sambil mengecek waktu di jam tangan mahalnya. “Lagi menenangkan hati pasca dipecat pak,” jawabku dengan suara lirih. Mbak Sani menyenggol lenganku dengan sikunya, membuatku langsung melipat bibir dan menunduk lebih dalam. "Sani, saya mau tau laporan minggu ini sekarang juga, tolong diantarkan ke ruangan saya," ucapnya. "Baik Pak, nanti saya antarkan ke ruangan bapak," jawab mbak Sani. Aku hanya bisa menunduk diantara kedua orang yang tengah berkomunikasi tersebut. "Suruh dia yang antar ke ruangan saya," ucap Zionino lalu kulihat kakinya melangkah menjauhi kami. Aku langsung mengangkat kepala, mengambil udara sebanyak-banyaknya. "Lo dengar 'kan bos ngomong apa?" Kata mbak Sani. Aku mengangguk. "Ya udah sana buruan, anterin ini laporan ke ruangan pak Bos," ucapnya lagi sambil menyerahkan map kuning. "Gue mbak?" Tanyaku dengan wajah bodoh. "Iya pe’a! Buruan tadi lo enggak dengar perintahnya?" Kata mbak Sani lagi. Aku dengar, tapi ku pikir bukan aku yang di maksud harus mengantarkan laporan tersebut. Tunggu, tunggu... kalau aku yang harus mengantarkan berarti itu tandanya... Aku enggak jadi di pecat 'kan? === Zionino duduk di kursi empuknya sambil memperhatikan laporan yang kuletakkan di mejanya. Ia tampak serius memperhatikan daftar pemesanan dan barang yang sudah selesai di produksi dan yang sudah terkirim. "Jadi apa yang mau kamu laporkan?" Tanyanya. Aku yang sejak tadi berdiri meremas sisi-sisi rok bingung dengan pertanyaan tersebut. Semua laporannya sudah tertulis disana jadi untuk apa aku menjelaskan, atau jangan-jangan dia enggak bisa baca laporannya? "Saya mau kamu menjelaskan isi laporan ini," ucapnya lagi. Aku meneguk liur sebelum membuka suara. "Produksi untuk bulan ini menurun dua persen pak, perusahaan ritel kopi yang biasa memesan menurunkan jumlah pesanan dikarenakan stok mereka yang masih banyak akibat pesanan bulan lalu dua kali lipat lebih banyak dari biasanya," ucapku. "Lalu beberapa hotel dan restoran juga menurunkan jumlah pesanan mereka..." "Tolong panggilkan bu Marinka," ucapnya lewat interkom membuatku harus berhenti melaporkan hasil kerja pabrik. "Lanjutkan," ucapnya lagi. "Beberapa customer juga mengeluhkan keterlambatan pengiriman," ucapku. "Berapa lama?" "Satu minggu, Pak," jawabku "Selama itu? Pantas saja mereka complain, masalahnya dimana?" "Bagian produksi, Pak. Menurut laporan satu mesin rusak sehingga produksi menjadi terhambat sehingga jatah produksi dibebankan pada sembilan mesin lainnya," ucapku. "Tolong panggilkan pak Evan," ucapnya lagi-lagi melalui interkom. "Kualitas produksi bagaimana?" Tanyanya. "Sejauh ini tidak ada complain masalah pada kualitas, quality control berjalan dengan baik, bulan ini seperti bulan-bulan sebelumnya tidak ada penggantian barang rusak," ucapku "Oke, lalu produksi untuk tahun depan sudah di rencanakan?" tanyanya. "Sudah Pak, kami sudah membicarakannya dengan bagian marketing dan produksi, rapat bersama bapak untuk membahas detail program tahun depan di jadwalkan dua hari yang akan datang," ucapku sesuai jadwal yang kuketahui dari mbak Sani minggu lalu. "Oke, kamu bisa keluar," ucapnya bertepatan dengan ketukan pintu yang terdengar. "Ehm... maaf Pak kalau boleh saya bertanya," ucapku sebelum meninggalkan ruangan. "Apa?" "Saya enggak jadi di pecat 'kan Pak?" Tanyaku hati-hati. "Jadi, saya sudah hubungi pihak HRD," ucapnya sambil memeriksa kembali laporan. Sialan! "Terhitung detik ini kamu sudah bukan tim dari PPIC," lanjutnya. Jantungku rasanya melayang-layang mendengar ucapan bapak bos. Untuk di terima bekerja di tempat ini aku membutuhkan waktu satu tahun, dan sekarang setelah aku mengabdikan diri di sini aku di pecat begitu saja karena ketololanku sendiri. Ya Tuhan ampuni hamba yang hobi mendzolimi diri sendiri. "Mulai besok kamu kerja sama saya, gantikan Sabila, jam setengah enam saya sudah harus sarapan pagi," ucapnya membuatku melongo. "Maksud bapak?" Ucapku tak percaya. "Sabila saya istirahatkan, kamu yang menggantikan, dua minggu kedepan kamu urus jadwal saya, sekarang kamu keluar dari ruangan saya," ucapnya sambil berkutat pada laptop di mejanya. Kesempatan emas terbuka lebar, enggak boleh di sia-siain. Anggap aja ini cara Tuhan memberi jalan biar aku bisa deketin bapak bos. Aaa, senangnya hatiku, ya Tuhan akhirnya doa-doa hamba di kabulkan, makasih ya Tuhan. "Ada yang ingin kamu bicarakan lagi dengan saya?" Tanyanya dengan pandangan lurus ke arahku dan salah satu alis tebalnya yang meninggi. Ya ampun aku enggak kuasa menahan napsu kalau lihat alisnya rasanya ingin elus-elus itu rambut-rambut lucu. Bapak, boleh enggak sih saya loncat ke pangkuan sambil ucapin terimakasih plus usap manja alisnya bapak? ===
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD