Matahari masih terbit dari arah yang sama seperti kemarin, suara alarm dari ponselku pun masih sama, pergi bekerja pun aku masih menggunakan ojek online hanya penggendaranya saja yang berbeda, selain itu tidak ada yang berubah. Oh tunggu, mungkin aku bisa memamerkan rambut pendek sebahuku serta rambut brunette hasil make over di salon kemarin bersama Vika.
Penampilan baruku membuat tingkat kepercayaan diriku meningkat hari ini, rasanya jadi lebih bersemangat, hati berbunga-bunga dan melangkahkan kaki pun terasa seringan kapas.
"Kamu kemana kemarin, Rifa?"
Aku menoleh. Bunga-bunga yang bermekaran mengelilingi langsung layu begitu melihat siapa yang menyapaku.
"Saya nungguin kamu loh," ucapnya lagi.
Senyumku terukir dengan penuh keterpaksaan. "Kemarin saya buru-buru, mohon maaf ya, Mas sekarang saya juga lagi buru-buru nih, duluan ya," ucapku sambil melangkah perlahan menghindari mas Jalu.
"Nanti siang makan bareng bisa, Rif?" tanyanya yang berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkahku.
"Aduh, gimana ya, ehm." Aku bingung mencari alasan yang tepat. "Udah ada janji aku sama mbak Sani," ucapku mengada-ada.
"Oh gitu... ya udah lain kali aja deh ya Rifa," katanya, aku mengangguk setengah hati.
Semoga lain kali itu enggak pernah ada ya Tuhan, mon maap ya mas Jalu.
"Ngomong-ngomong rambut kamu bagus, Rif," ucap mas Jalu sambil memperhatikanku.
"Eh, iyakah? Beneran Mas?" tanyaku tak percaya.
"Iya, makin cantik kelihatannya," ucapnya dengan mata mengerling.
Deuh, mulai deh ni orang gombalnya.
Aku tersenyum malas sambil berjalan meninggalkan Mas Jalu yang masih memperhatikanku. Matanya jelalatan ke kanan kiri atas bawah, semakin hari aku semakin takut menghadapinya. Medeni .
"Rifanka?" sapa seorang temanku. Wajahnya menatapku dengan tatapan... terpukau?
Melihat reaksinya, kepercayaan diriku melesat tajam. Kemarin usai berbelanja beberapa potong baju bersama Vika, aku pergi ke salon, mengubah potongan rambut serta merubah warnanya. Lumayan merogoh kocek sih, tapi enggak masalah demi mendapatkan keuntungan kita perlu modal 'kan.
"Rifa?” pekik mbak Sani, reaksinya yang tercengang dan menutup mulut itu terbilang berlebihan, seolah ia melihat L infinite –aktor Korea idola mbak Sani- “Rambut lo kenapa? Kemarin main layangan dimana lo?" tanya Mbak Sani meledek.
Bola mataku berputar. "Tau ah," ucapku sambil berjalan meninggalkan mbak Sani menuju toilet yang berada sebelum ruangan kerja.
Kesal karena perubahan penampilanku tidak di tanggapi secara positif oleh kawan yang ku anggap sebagai kakak sendiri. Kalau mbak Sani aja meledekku, apa kabarnya Nino?
Aku mendesah dengan keputus asaan. Menatap pantulan diriku di cermin lebar yang ada di toilet. Memadukan kemeja pattern berwarna putih dan midi skirt navy ditubuhku tampaknya hanya perkerjaan sia-sia. Apalagi melihat rambutku, sedikit menyesal membuang rambut yang panjangnya hampir sepinggang itu. Harusnya enggak perlu aku potong sampai sebahu, cukup mewarnainya menjadi brunette seperti sekarang.
"Rifa?" Seorang perempuan yang keluar dari salah satu bilik toilet mendekatiku. Melihat pantulan wajah yang tak asing itu mendekat aku memutar badanku. Mbak Sabila, asisten pribadi Zionino berdiri di belakangku, kebetulan Sabila ini kakak dari teman sebangku ku di SMA, dulu aku sering ke rumahnya dan mengobrol bersama wanita cantik ini.
Eh, tunggu dulu, kalau mbak Bila disini itu berarti...
"Mbak Bila, kok ada disini?" tanyaku basa-basi untuk mengorek informasi tentang Zionino. Kalau dugaanku benar, Zionino pasti juga ada disini.
"Iya, seminggu ini Pak Nino 'kan mau mantau pabrik," jawabnya sebelum memoleskan lipstik ke bibir tipis sensualnya.
"Oh gitu," ucapku sambil mengangguk. Tuh ‘kan benar, Zionino ada disini.
"Aku duluan ya, Rifa," ucapnya sambil berjalan keluar toilet usai memoleskan lipstick dibibir mungilnya.
"Iya, Mbak," sahutku. Aku memandangi pintu yang baru saja menutup. Enak banget jadi mbak Bila, kemana mana sama cowok ganteng, satu mobil, pasti sering di traktir makan juga. Gajinya juga pasti gede. Andai oh andai ku bisa kayak mbak Bila.
"Ngayal aja terus, Rif, siapa tahu nanti jadi kenyataan ya," ucapku menghibur diri sambil menyisir rambut dengan jemari.
Usai membenahi rok, aku melangkah keluar. Baru beberapa langkah meninggalkan pintu toilet, pemandangan di depan membuatku tercengang.
"Mbak Bila," pekikku. Tanpa banyak berpikir aku berlari ke arah wanita yang tergeletak begitu saja di lantai. Pencil skirt berwarna kuning lemonnya kotor oleh darah.
Ya Tuhan dia kenapa?
==
Kombinasi bingung dan takut membuatku hanya bisa mondar-mandir di depan pintu IGD. Petugas keamanan yang duduk di sebelah pintu masuk bahkan sampai melirikku berulang kali.
"Masuk aja, Mbak," ucap satpam tersebut saat pintu otomatis terbuka. Aku yang sudah tepat di depan pintu mundur selangkah, ragu-ragu.
"Tunggu sini aja, Pak," jawabku, menolak.
Jemariku saling meremas satu sama lain. Takut sesuatu terjadi pada mbak Sabila. Tapi kalau di suruh masuk ke ruang IGD, mohon maaf pemirsa, saya enggak kuat. Bayangan saat ayah menghembuskan nafas terakhir di ruang IGD membuatku takut kembali ke ruangan tersebut.
"Mbak keluarganya ibu Sabila?" Tanya seorang lelaki berpakaian perawat.
Aku menggeleng. "Saya teman kerjanya," jawabku.
"Oh, suaminya ada?" tanyanya lagi.
Hah? Suami? Emangnya mbak Bila udah nikah? Kok aku enggak di undang sih.
"Mbak, suaminya ada enggak?" Tanya perawat itu lagi..
"Oh, ehm, enggak ada, ada apa Mas? Kondisi teman saya gimana?" Tanyaku.
"Mbak masuk aja, nanti dokter yang menjelaskan," ucapnya.
===
"Pak Nino," teriakku begitu memasuki ruangan yang menjadi tempat kerja sang bos.
Lelaki yang duduk di kursi empuknya memandangku dengan wajah tenang. Sekretaris dan dua orang staffnya berusaha menghalangiku untuk melabrak lelaki kurang ajar itu.
"Bapak harus tanggung jawab!" Bentakku sambil menunjuk lelaki yang masih memperhatikanku dengan sangat tenang.
"Aduh mbak, jangan buat ribut," ucap salah satu wanita yang berusaha menarikku keluar.
"Eh mbak gue kasih tau lo ya, mending lo ati-ati sama itu laki," ucapku sambil menunjuk Zionino.
"Jangan sampai lo di hamilin itu laki," lanjutku.
"Maksud kamu apa," tanya Zionino yang berjalan mendekatiku di muka pintu.
"Lepasin gue," bentakku pada mereka yang menghalangiku. Awalnya mereka masih memegangiku, tapi setelah diperintah Zionino, ketiganya melepaskanku.
Aku merapikan pakaian yang berantakan oleh ulah bawahan Zionino. Bayangkan saja kedua tanganku di pegangi oleh sekretaris dan salah satu staff lelakinya. Lalu dipinggangku juga melingkar tangan satu staff wanita yang menarikku keluar dari ruangan tersebut. Kemejaku sampai kusut karena tindakan mereka.
"Kamu wanita yang pakai kaftan kemarin 'kan?" Tanya Zionino, kedua tangannya terlipat di d**a, matanya menelitiku dari ujung kaki sampai mata kami akhirnya bertemu pandang.
Ya Tuhan, jangan sampai kegantengannya mengoyahkan imanku untuk melabraknya.
"Kenapa kamu menerobos ke ruangan saya sambil teriak-teriak kayak tarzan begitu?" Tanyanya masih dengan tenang.
Aku berdeham untuk meredakan kegugupan "Bapak enggak usah pura-pura enggak ngerti," ucapku terbata-bata. Enggak kuat aku lihat wajahnya yang begini. Alis tebal berkerut saling bertautan, mata menatap lurus ke arahku.
"Saya enggak ngerti, makanya saya tanya ke kamu," ucapnya.
Ya Tuhan... ya Tuhan, kenapa harus mbak Bila bukan aku aja... eh iya ya, mbak Bila!
"Bapak sebaiknya ngaku enggak usah berkelit terus, bapak tanggung jawab, kasihan mbak Bila Pak!" Ucapku dengan nada tinggi
"Bila? Sabila maksud kamu?" Tanyanya lagi pura-pura bodoh.
"Ya iyalah Bila, Sabila. Emang mau Bila mana lagi? bila kuingat ayah bunda! Bapak harus tanggung jawab karena udah hamilin mbak Bila!" Ucapku
"Hamilin," pekik salah satu perempuan di belakangku. Lho kenapa mereka masih di sini? Kukira mereka sudah pergi. Waduh gimana nih, kalau gini makin kasihan mbak Bila aibnya di ketahui khalayak umum gini.
"Kalian keluar dari ruangan saya," perintah Zionino pada ketiga karyawannya. "Kamu jangan sembarangan, Rifanka!" ucap Zionino setelah kepergian karyawan lain.
"Dih siapa yang sembarangan, emangnya bapak kira saya habis buang sampah?! saya tuh habis antar mbak Bila yang pingsan berdarah-darah ke rumah sakit, kata dokter dia keguguran, mbak Bila itu belum nikah, pasti itu anaknya bapak 'kan? Ngaku aja Pak, mbak Bila 'kan asisten pribadinya bapak, yang kemana mana selalu bareng sama bapak, ngatur jadwal bapak, nyiapin makan pagi, siang malam, nyiapin perlengkapan bapak dari A sampai Z, dari celana dalam sampai kaos kaki, aja pasti mbak Bila yang nyiapin, iya kan?" ocehku panjang lebar tanpa jeda.
Eh tapi tunggu, kok dia ingat namaku ya? Bikin aku geer aja, eh... fokus Rifanka! Kamu lagi cari keadilan buat mbak Bila!
"Sepertinya kamu salah paham, Rifanka," ucapnya. Tuh kan dia ingat namaku, kan aku jadi senang.
"Salah paham gimana? Emang analisa saya yang panjang banget itu enggak bapak pahami?!" sahutku setelah fokus kembali pada upaya keadilan untuk mbak Bila.
"Iya memang Bila asisten pribadi saya, tapi bukan berarti hidupnya sama saya terus, yang jelas saya enggak pernah melakukan apapun pada bawahan saya, apalagi Sabila," ucap Zionino.
"Alah bapak ngeles, udahlah ngaku aja Pak, kasihan anaknya gugur sebelum berkembang dan enggak diakui sama bapaknya sendiri," ucapku.
Zionino menatapku tajam membuat nyaliku menciut, kobaran api dimataku yang membara seolah langsung padam oleh tatapan dingin Zionino. Perasaanku jadi enggak enak.
"Kamu udah tanya Sabila siapa bapak anak itu?" tanyanya.
Hah? Nanya mbak Bila?
"Be-belum," jawabku. Mana mungkin aku bertanya pada orang yang tidak sadar.
Zionino membalikkan badan, berjalan ke arah mejanya lalu memukul meja kerja dengan sangat keras. "Kamu belum tanya dan langsung menuduh saya di hadapan para karyawan, otak kamu sakit?!" bentakknya.
"Sa-saya."
"Keluar kamu dari ruangan saya," bentakknya.
Tuh 'kan benar, perasaan enggak enakku jadi kenyataan
Aku meneguk ludahku sendiri melihat Zionino yang marah.
"Dan jangan muncul di tempat ini lagi," lanjutnya.
"Kamu saya pecat!" Bentakknya lagi.
Ibu... gimana Rifa mau bayar utang kalau gini...
===