Part 3

2743 Words
Matahari masih terbit dari arah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku pun masih seperti biasanya, bangun dari tidur setelah diteriaki oleh ibu dengan keadaan tanpa pakaian yang menempel di tubuh. Dengan langkah malas dan tubuh terlilit selimut aku keluar kamar dan menuju kamar mandi yang berada di sebelah dapur. “Air panasnya belum di tuang ya, Rif,” kata ibu yang sedang mengocok telur. Aku mengangguk lalu mengangkat panci berisi air panas yang ibu buatkan untukku. Suara alat masak yang beradu diatas kompor terdengar bersamaan dengan suara air yang mengguyur tubuhku. Aroma nasi goreng tercium, membuatku yang sedang menahan dingin tergoda ingin mencicipi. Kurang lebih lima belas menit waktu yang kuhabiskan untuk mandi, air hangat yang kugunakan mandi tadi seolah terbuang percuma saat aku keluar dari kamar mandi dan merasakan hawa dingin, cepat-cepat aku lari ke kamar untuk mengenakan pakaian, tidak sengaja aku melirik jarum jam yang menempel di dinding tepat di atas meja rias. Pukul 5. "Masih sempat kayaknya, lima belas menit aja, kok, buat anget-angetin badan," gumamku merayu waktu. Di tengah keheningan, suara jarum jam bergerak terdengar seolah mengiyakan permintaanku, dengan senyum malu-malu aku bergegas naik ke ranjang dan menarik selimut menutupi tubuh yang hanya berbalut handuk. "Serius, lima belas menit aja kok." Lima belas menit tinggalah kenangan. Kedustaan yang hakiki kalau kata Mbak Sani. Harusnya aku berjanji lima menit saja. Lima belas menit yang kujanjikan menjadi tiga kali lipat lebih banyak. Dan imbasnya kini aku kebingungan harus melakukan apa. Dengan handuk yang masih melilit aku mencari pakaian kerja di lemari, sudah beberapa pakaian aku lempar ke tempat tidur karena tak menemukan kecocokkan. "Cari apa sih Rif? Kok di berantakin gitu," tanya ibu yang datang ke kamarku. "Baju bu," jawabku singkat. "Itu yang kamu lempar-lempar 'kan juga baju," balas ibu. "Iya tapi enggak cocok, aku butuh baju yang seksi bu, bos bakal datang hari ini, harus maksimal bu dandannya demi-" “Tuh ‘kan,” pekik ibu suaranya terdengar tak mengenakan. Aku menelengkan kepala, sadar akan kesalahan yang terucap. Tubuhku berputar menghadap ke ibu, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku hingga secantik ini tengah menatapku dengan sebelah alis yang terangkat. "Udah ibu duga kamu bikin ulah," ucap ibu sambil berjalan selangkah demi selangkah, mendekatiku yang mundur perlahan. Ini rasanya udah kayak di film-film thriller, hawa horornya sampai ke ubun-ubun. "Segitu stresnya kamu di tinggal si Tio, otak sampai enggak di pakai," ucap ibu yang semakin dekat denganku. Jaraknya sudah dekat sekali denganku hanya beberapa langkah di hadapanku. "Body kamu tuh enggak aduhai-aduhai banget Rif, enggak usah bikin malu ibu lah, segala mau pakai baju seksi di depan bos malu dikit pegununganmu itu ndak menjulang tinggi," ucap ibu sambil melirik ke dadaku. Ibu jahat! "Ini, pakai yang ini aja," sambung ibu. Di asongkannya salah satu pakaian yang tadi sudah tergeletak di atas ranjang. "Ibu yang bener aja dong," ucapku sedikit kesal melihat pakaian yang diberikan ibu. "Ibu benar kok, kalau enggak benar ibu kasih kamu bikini buat ke kantor. Udah pakai itu baju, enggak usah aneh-aneh sok seksi, enggak nurut sama dengan kualat," ucap ibu sembari berjalan meninggalkan kamarku. Semua mata karyawan mengarah padaku, beberapa melihat sambil berbisik pada teman di sebelahnya. Setengah malu tapi aku tetap melangkah memasuki gedung tempatku bekerja tanpa mempedulikan mereka yang memperhatikanku. Mereka yang menertawaiku diam-diam sepertinya para karyawati pabrik di bagian packing. Komplotan perempuan yang suka mencari perhatian Pak Evan. Berpapasan dengan mereka harus siap menebalkan telinga dari gosip yang akan beredar. Kesal rasanya, emosi tapi enggak bisa mengomel, karena memang penampilanku yang aneh hari ini. Tiba di ruangan, aku melihat mbak Sani sudah duduk di mejanya. Ia tampak sibuk mengomel dengan lawan bicaranya di telepon. “Kenapa mbak?”tanyaku ketika perempuan yang membelakangiku itu selesai menelepon. "I--- astagfirulloh," ucap mbak Sani yang terkejut melihatku. Kursinya sampai menabrak meja membuat teh hijau di mug miliknya sedikit tumpah dan berceceran di meja kerja. "Lo apa-apaan sih Rif?!" Bentaknya. "Lo mau kerja apa mau pengajian?!" Lanjutnya. Aku berjalan menuju meja kerja. "Biasa aja dong," ucapku kesal. "Pagi Hanin," sapaku pada Hanin yang mejanya berada di sebelahku. "Pagi Rif," balas Hanin yang langsung beranjak dari tempatnya sambil membawa kertas nasi bekas pakai ke pantry jelas sekali wajahnya menunjukkan tawa yang tertahan. "Iya lo ngaco pakai baju begitu ke kerjaan, hari ini bos mau keliling Rifanka!" ucap mbak Sani terdengar emosi. Ia mendekatiku yang sudah duduk di kursi kerja Hanin. "Chat gue yang semalam sampai enggak sih Rif? Lo baca kagak?" Tanyanya lagi. "Dibaca," jawabku singkat sambil menyalakan komputer di hadapanku. "Terus?" Tanyanya lagi. Tubuhku memutar, menghadap mbak Sani yang menempati kursi Hanin. "Gue baca kok pesan lo, tadi pagi juga gue udah siap-siap, tapi ibu datang ke kamar nyuruh gue pakai ini baju," ucapku sambil mengibaskan kaftan berbahan silk katun yang ku pakai. Iya kaftan, kaftan putih yang di pilihkan ibu. "Gue enggak nyalahin kaftannya, cuma... aduh Rifanka, lo bisa cari warna lain enggak sih, horor tau gak sih," ucapnya sambil mengangkat helaian rambut panjang teruraiku. "Ya mau gimana lagi, ibu sebut-sebut kualat kalau gue enggak nurut," balasku. Mbak Sani menggaruk pelipisnya berkali-kali. Mungkin ia mau mengomel tapi masih menghormati ibuku. "Kok tumben ibu milihin baju buat lo?" “Panjang ceritanya,” jawabku. "Kalian harusnya juga bisa menarik customer baru, hotel dan resto di Jakarta 'kan banyak, mereka juga pasti membutuhkan," ucap suara yang terdengar dari pintu masuk ruangan. Aku yang sedang di interogasi oleh mbak Sani memalingkan wajah ke sumber suara, begitupula dengan mbak Sani. "Buruan ikat rambut lo!" Perintah mbak Sani melempar karet kuning yang tergeletak di meja Hanin begitu melihat siapa yang datang bersama dengan Evan. Mati! Targetku datang! == "Kalian enggak perlu berjejer begini, silahkan kembali bekerja," ucap pemilik perusahaan keramik tempatku bekerja. Jangan bayangkan pemiliknya kakek tua yang masih terlihat bugar dan tampan di usia senja karena lelaki yang berdiri dua meter di depanku itu adalah anak direktur utama yang sejak setahun ini resmi menjadi wakil direktur. Suara langkah para karyawan -termasuk aku- terdengar, kami kembali ke meja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda untuk menyambut sang wakil direktur. Zionino namanya, wajahnya khas lelaki asia, kulit sawo matang yang bersih dengan wajah mulus di selimuti brewok tipis. Intinya, dia ganteng duitnya juga sudah pasti banyak. Cucok meong jadi target buruan! "Kamu kenapa? Ketawa sendiri begitu?" Tanya Pak Bos yang sudah berdiri di sampingku. Aku tersentak kaget karena ketahuan sedang tertawa di balik layar komputer. Tubuhku langsung menegang. Sejak kapan dia disana? Kenapa aku enggak sadar ada orang yang menjulang tinggi tepat di sisi kiriku? Bodohnya dirimu Rifanka. "Menertawakan apa nona ...." ia mengambil name tag yang tergeletak di mejaku. "Menertawakan khayalan saya bisa elus-elus uang bapak yang bergepok-gepok pak," jawabku dalam hati sambil menurunkan pandangan. Enggak kuat melihat wajah manly pak bos. "Rifanka?" ucapnya. Aku melirik ke samping melihatnya yang masih menatap name tag dengan alis yang bertaut. Kenapa dia melihatku dengan mata menyipit dan kening berkerut begitu sih? "Nama kamu Rifanka?" tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum manis hasil belajar semalaman. Dia pasti bakal klepek-klepek kesemsem lihat senyuman manis seorang Rifanka. Pasti! === Setelah pertemuan kami wajahnya selalu terbayang dan suaranya yang menyebutkan namaku terus terngiang, entah sudah berapa kali wajahku merona karenanya. Zionino oh Zionino, kenapa kegantenganmu terbayang-bayang diingatanku terus. "Rifa!" . Tumpukan A4 yang lumayan tebal mengenai puncak kepalaku, wajah Zionino yang bagai pahatan dewa yunani langsung hancur berkeping-keping karena ulah mbak Sani. "Ih, sakit tau mbak," ucapku dengan suara manja manja lucu. "Kenapa sih?" Tanyaku. "Dari tadi dipanggilin enggak jawab," omel mbak Sani. Kapan dia manggil aku? Berdusta mulu nih nenek lampir. "Nikah makanya biar enggak usah ngayal jorok," lanjutnya mengejek. "Ish." Desisan kesal keluar dari mulutku. "Ada apaan sih?" tanyaku lagi. "Tolong telepon bagian produksi, tanyain kenapa raffles teapot small sama cappucino cup set belum juga selesai," ucap mbak Sani. "Kenapa enggak telepon sendiri sih mbak?" ucapku sembari mengangkat gagang telepon untuk menghubungi bagian produksi. "Gue ada rapat, nanti kabarin ya," ucap mbak Sani untuk terakhir kali lalu ia pergi begitu saja. Aku menatap telepon dengan malas, menelepon bagian produksi sama saja dengan menyerahkan diri untuk digombali oleh sesepuh disana. Aku menarik napas panjang, menyiapkan nada suara manis demi menjinakkan mas Jalu. "Mas Jalu," sapaku manja begitu panggilan tersambung. Benar saja lelaki itu dengan ramahnya menyahut begitu mendengat suaraku. "Mau tanya nih Mas, raffles teapot small sama cappucino cup set udah selesai produksinya belum? mbak Sani nanyain nih," tanyaku dengan suara centil di buat-buat. "Hari ini sudah mulai produksi, kemungkinan lusa udah beres," jawab Mas Jalu. "Oh gitu, tapi jangan lambat lagi ya mas Jalu, produksi yang lain bisa terganggu juga kalau telat terus,” ucapku mengingatkannya. “Iya neng Rifa,” jawaban mas Jalu membuatku memutar bola mata. Neng Rifa la katanya, duh kok aku malah ingin muntah mendengarnya. “Oke deh makasih ya Mas... ganteng banget ya Tuhan." "Duh Rifa jangan bikin saya kegeeran dong," sahut Mas Jalu membuat keningku berkerut. Tunggu. "Nanti pulang kerja mau pulang bareng Rif?" Tanya Mas Jalu. Eh. Aku mengurut kening, dasar duda gatel! Aku bukan memujinya, aku memuji Zionino yang barusan lewat ruangan kerjaku, tubuh jangkungnya melintas di depan ruang kerjaku, wajah sempurnanya terlihat dari balik jendela membuatku kehilangan fokus. Tolonglah angin bisikkan pada Mas Jalu kenyataan yang sebenarnya terjadi. "Oke enggak, Rif?" Tanya Mas Jalu. Entah apa yang sejak tadi dia bicarakan aku enggak mendengarkan saking malasnya. "Iya udah deh Mas, makasih infonya, bye," ucapku mengakhiri panggilan dengan duda ganjen itu. "Sori aja, Mas, gue enggak tertarik sama lo. Duit lo enggak akan cukup buat bayarin utang gue," gumamku sambil memandangi gagang telepon. === Biasanya di jam makan siang aku dan mbak Sani pergi ke kantin perusahaan bersama. Namun sepertinya hari ini mbak Sani absen merumpi denganku di kantin karena sejak pukul sepuluh ia belum juga muncul, durasi rapat kali ini sepertinya sangat panjang. "Tumben Rif sendirian?" tanya Hanin yang baru datang usai mengambil jatah makannya di meja prasmanan. "Kepala suku lagi rapat, Nin," jawabku. Satu suapan masuk ke dalam mulutku, mengunyah sambil meresapi rasa telur balado dan capcay. Selalu, capcay pemicu darah tinggi. Asin. "Belum selesai? Lama juga ya," sahut Hanin yang aku angguki. Kami berbincang mengenai hal-hal ringan sambil menikmati makan siang. Walaupun terlihat kalem dan irit bicara, Hanin ternyata teman ngobrol yang menyenangkan. "Nin, menurut lo, gue cantik enggak?" tanyaku meminta pendapat. Air mineral yang baru Hanin teguk menyembur hingga percikkannya memenuhi meja. Beberapa orang yang makan dekat meja kami memandang jijik, jangankan mereka aku juga merasakan hal tersebut. Hanin segera mengeringkan sisi-sisi mulutnya yang basah dengan tissue makan sembari meneliti diriku. "Lo cantik sih Rif, cuma..." Hanin menghentikkan ucapannya tanpa mengalihkan pandangan dari diriku. "Apa?" Tanyaku. "Penampilan lo enggak banget," jawab Hanin dengan volume yang semakin kecil. Aku mendesah kecewa. "Iya sih, hari ini gue kacau banget, gara-gara emak gue nih, Nin. Milihin kaftan buat kerja," jawabku "Jangan salahin ibu kamu," sahut Hanin. Aku menatapnya kembali. "Hari-hari sebelumnya juga penampilan lo juga enggak banget, Rif, mix and match yang lo buat itu enggak oke," kata Hanin sambil memotong tempe goreng. Keningku mengernyit. Mix and match yang enggak oke katanya. Maksud dia itu yang mana? "Gue ingat dua hari yang lalu lo memadukan celana stripes over wide merah putih sama atasan kemeja warna ungu itu parah banget tau Rif," ucapnya disela-sela mengunyah makanan. Eh dasar norak! Enggak up to date ni anak! Sekarang tuh lagi musim tabrak-tabrak warna. "Gue tau sih, emang sekarang tuh lagi musim tabrak warna, ya tapi gila aja lo merah putih garis-garis kek gitu lo tabrak ungu begitu, sepet banget mata gue seharian," lanjutnya. Ia seolah tahu isi hatiku. Asem nih bocah. "Lo 'kan bisa paduinnya pakai warna senada, dibandingin ungu begitu, eh iya satu lagi sepatu lo juga, flat shoes mustard itu ngejijikin banget tau enggak, kayaknya habis kecipratan lumpur ya?" Tanyanya. Aku memandanginya, meneliti apa yang ia kenakan hari ini. Fix, ini bocah paham fashion, wajar kalau dia mengomentari penampilanku. "Terus hari ini lo pakai kaftan, putih pula warnanya, rambut panjang lo juga Rif, kenapa enggak pernah diubah sih modelnya, dipotong gitu Rif yang ada modelnya bukan lurus begitu aja, bosan lihatnya, contoh Titi Kamal dong, dia udah move on tuh dari rambut hitam lurusnya, makin cantik doi, " lanjut Hanin. Gimana enggak makin cantik, duit banyak, hidup kelihatannya sih enak ya, anak ganteng, suami rupawan. Emangnya gue berkutat mikirin utang! "Mending lo potong rambut deh, Rif, biar fresh, terus ganti deh fashion aneh lo itu, ubah gaya tabrak warna lo yang ngaconya kebangetan," ucap Hanin. Perempuan itu sudah berdiri mengangkat nampannya, kulihat dipiringnya masih tersisa setengah porsi nasi. Mataku tak lepas memandangi Hanin yang berjalan meninggalkan meja. Ruffles pants berwarna mocca berpadu dengan kemeja mint, ankle strap heels menambah tinggi perempuan mungil itu. Rambutnya yang diikat tinggi menampakkan leher jenjangnya menambah nilai kecantikkannya "Heh, laporan mana laporan ceu?" Tepukkan lumayan keras di bahu membuatku menoleh. Mbak Sani tengah berdiri di belakangku memegang buku agendanya. "Kata mas Jalu produksinya udah di mulai hari ini, mungkin besok atau lusa selesai, tadi gue udah bilang minta kabarnya lagi," jawabku melapor. "Oke, sip," ucap mbak Sani, di tutupnya buku agenda tebal miliknya. Lalu pergi mengambil jatah makan siangnya kemudian kembali duduk disampingku. === Aku dan mbak Sani berjalan menuju supermarket yang berada di lantai dua mall. Sepulang kerja tadi mbak Sani minta di temani berbelanja bulanan. Satu troli sudah hampir penuh dengan belanjaan mbak Sani, sambil mengelilingi supermarket kami membicarakan banyak hal, tak jarang tawa keras mbak Sani terdengar. "Mbak tadi 'kan aku ngobrol sama Hanin, masa ya kata dia penampilan aku tuh kurang oke, kurang ajar banget deh tuh anak, sampai bilang aku tuh harus mengubah gaya tabrak warna yang aku anut," aduku pada mbak Sani. Perempuan yang sudah seperti kakakku sendiri itu menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arahku. "Iya emang benar kata si Hanin," sahutnya diiringi tawa. Kampret! Niat hati ingin mencari dukungan untuk menepis ucapan Hanin kenapa malah Hanin yang di dukung begini. "Penampilan itu penting Rifanka sayang, apalagi di dunia kerja begini, kalau udah oke orang udah sreg sama penampilan kita, yang pertama dilihat itu cover depannya dulu, habis itu baru isinya," ucap mbak Sani sambil mendorong troli. Aku di belakangnya berjalan perlahan sambil memikirkan perkataan dua teman kantorku. Ada benarnya sih, tapi kok hatiku sakit ya, seolah selama ini penampilanku itu enggak banget sampai dapat omongan seperti ini. Lagi asik-asiknya mikir dari kejauhan aku melihat seseorang yang kukenal mendekati kasir. Kudekati untuk lebih pasti. Benar saja dia orang yang kukenal. Tanpa pikir panjang kutepuk bahunya, perempuan itu kaget dan menoleh. "Rifanka," serunya. "Vik, banyak bener belanjaannya," ucapku melihat keranjang belanja Vika. "Iya nih, lo sendiri belanja apa?" tanya Ravika memperhatikan yang aku pegang "Beli ini, pecukur bulu," jawabku dengan cepat dan singkat. Kekehanku membuat Ravika menggelengkan kepala Sambil menunggu kasir menghitung total belanjaan, aku dan Vika mengobrol santai membicarakan banyak hal, salah satunya pekerjaan. Vika yang baru mendapatkan pekerjaan sangat beruntung karena mendapatkan posisi yang enak dan mendapatkan gaji yang besar, meskipun harus menghadapi bos galak tapi itu hal biasa bukan, dimana-mana pasti ada bos yang galak apalagi kalau kita melakukan kesalahan, mbak Sani pun kadang galak. Aku menatap Vika dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemeja putih rok hitam kebesaran dan sepatu pantofel beserta kaos kaki putih menjadi outfitnya. Rambutnya dikuncir kuda dengan beberapa anak rambut yang menjuntai. Muka lusuh tanpa polesan make up. Asisten bos macam apaan begini, pantes aja diomelin mulu, aku aja empet liatnya. Eh. Tersadar akan sesuatu. Aku terdiam beberapa detik. Jangan-jangan si Hanin sama empetnya kayak aku waktu lihat Vika. Aku menarik Vika ke stand pakaian yang tak jauh dari supermarket."Lo butuh baju baru. Asli, Fazio itu dingin ke lo mungkin karena penampilan lo yang enggak banget gini. Lo bilang dikasih uang sama Pak Dahlan 'kan? Gunakan dengan bijak,"kataku menasehati Vika yang sudah lama menjadi temanku, aku enggak mau nasibnya sama kayak aku yang di komentari dengan cara kurang mengenakan masalah style berpakaian. Kesel banget rasanya, jadi cukup aku yang merasakannya. Ucapan Hanin yang didukung oleh mbak Sani pun menjadi pecut bagiku untuk merubah penampilan semoga saja Vika otaknya terbuka dan mempunyai keinginan yang sama denganku, ‘kan lumayan, aku punya teman belanja pakaian. Apalagi kita berdua punya tujuan yang sama, menjinakkan pak bos. "Tapi, Rif." "Udah lo percaya aja sama gue. Lo kan cerdas. Pancarkan aura kecerdasan lo lewat penampilan. Nggak menyangkal, orang bakal tertarik sama penampilan seseorang. Kalo udah sreg mereka akan lebih menerima kinerja kerja lo," ucapku memodifikasi ucapan mbak Sani. Lumayan ada manfaatnya juga punya teman kayak mbak Sani. Eh iya, mbak Sani kemana ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD