Part 1

2165 Words
Perjalanan menuju kantor seminggu ini rasanya begitu berat bagiku, hari pertama setelah jatah cutiku habis aku menjadi pusat perhatian beberapa orang ketika memasuki gedung pabrik, masuk ke dalam ruangan kerja, rekan-rekanku memandangiku dengan tatapan iba. Padahal bukan rasa kasihan yang aku butuhkan saat ini. Sampai tiga hari aku aktif bekerja lagi suasana kantor tidak berubah, masih seperti hari pertama. Bahkan Sahira dengan terang-terangan mengucapkan rasa kasihannya padaku. Yang sabar ya Rif, gagal nikah emang kedengarannya mengenaskan, tapi aku yakin kamu bisa move on kok. Begitu katanya, memang tidak ada yang salah dari perkataannya, tapi jika kalimat yang sama itu terus disampaikan setiap kami bertemu muka rasanya ingin ku staples mulutnya! “Mbak udah sampai.” Suara pengendara ojek online membuatku kaget. Cepat-cepat aku turun dari motor matic. “Makasih ya, Mas,” ucapku lalu pergi memasuki gedung. “Mbak Rifa, kok ojeknya belum di bayar,” kata Pak Yusuf, satpam pabrik. “Udah kok pak, pakai uang elektronik, bapak enggak gaul nih,” sahutku lalu kembali melangkah meninggalkan pak Yusuf yang terkekeh malu. Baru saja aku menekan tombol lift dari arah belakang terdengar teriakan memanggilku. Mas Jalu, lelaki itu tergopoh-gopoh menghampiriku, sebenarnya malas bertemu dengan duda anak tiga ini tapi apa boleh buat aku harus bersikap ramah padanya demi kelangsungan kerjaku ditempat ini. Sudah dua tahun aku bekerja di pabrik penghasil barang-barang keramik ini. Menempati posisi di bagian PPIC yang bertugas melakukan penjadwalan produksi dan pengaturan supply logistic mungkin terdengar sederhana, tapi sesungguhnya tidak seperti itu, pekerjaanku ini berkaitan erat dengan bagian marketing, purchasing dan produksi jadi terkadang sering terjadi gesekan antar bagian. Makanya aku perlu bersikap manis pada Mas Jalu agar pemimpin produksi tersebut tidak membuat pekerjaan menjadi sulit. “Hai Mas,” sapaku ketika lelaki botak itu berdiri di hadapanku. Senyum palsu tersungging untuknya. “Bisa samaan gini sampainya ya, Rif,” ucapnya yang hanya aku tanggapi dengan senyuman. Suara berdenting disusul dengan lift yang terbuka, aku sengaja membiarkan Mas Jalu yang lebih dulu masuk ke kotak besi itu. “Aku mau ke toilet dulu, Mas, bye,” ucapku lalu buru-buru menghilang dari pandangan lelaki itu. Mas Jalu sebenarnya bukan lelaki m***m, ia baik hanya saja terlalu agresif sampai membuatku ngeri. Niatku bersikap ramah demi keberlangsungan kinerja kami disalah-artikan olehnya. “Kamu ngapain Rifa?” Lagi-lagi suara mengagetkanku yang sedang bersembunyi di balik tiang penyangga bangunan. Evan, Manajer marketing berdiri di belakangku. Aku tersenyum malu. “Ehm… lagi… lagi ngecek kekokohan tiang pak, bahaya ‘kan kalau udah retak-retak nanti takut roboh,” jawabku asal. Lelaki muda yang mengangguk dengan bibir terlipat kedalam menahan tawa itu sudah cukup membuatku malu telah memberi jawaban bodoh seperti tadi.“Saya duluan ya, Pak,” ucapku lalu pergi sebelum melakukan hal-hal memalukan lainnya. === Pabrik tempatku bekerja ini memiliki beberapa bangunan. Bangunan utama adalah kantor yang terdiri dari 3 lantai. Bangunan lainnya merupakan tempat produksi barang dan juga ware house. Lantai 3 merupakan tempatku bekerja mengendalikan persediaan barang, memantau tahapan produksi lewat software yang ada dan banyak lainnya yang hampir membuat rambutku botak. “Rifanka, MPS udah di cek?” tanya mbak Sani -kepala suku tim PPIC- begitu melihatku masuk ruangan. Buru-buru menuju meja kerja, menyalakan PC lalu mengecek data yang di minta oleh mbak Sani. “Baru sampai?” tanya mbak Sani. Aku mengangguk lemas. Helaan napas mbak Sani terdengar. Ia lalu memutar kursi yang sedang aku duduki hingga menghadap kearahnya. “Gue tau lo stres tapi please Rifanka semangat kerja enggak boleh hilang,” ucapnya membuatku mendengkus. Bukannya aku kurang ajar pada seniorku itu hanya lucu saja mendengarnya berkata sok begitu karena aku tahu tabiat aslinya. “Oke,” sahutku lalu memutar kursi kembali menghadap komputer. “Mbak, supply material aman untuk produksi dua bulan kedepan,” jelasku setelah melihat data ketersediaan bahan baku. “Oke, terus print out work order yang baru udah di kasih ke bagian produksi?” tanyanya lagi setelah sampai dimejanya yang berada di depanku. “Sudah mbak, kemarin sebelum jam pulang udah aku kasih ke mereka,” jawabku. “Oke, good job Esmeralda,” sahutnya. Nah ‘kan sifat aslinya muncul. “Thank you, Marimar,” balasku. Usai melaporkan berbagai hal pada sang leader, aku kembali ke meja kerja, menyibukkan diri dengan mengecek data base, menghubungi bagian purchasing setelah itu memasukkan kode-kode barang baru yang masuk. Sibuk? Iya jelas, dan aku bersyukur dengan kesibukan ini, rasanya enggak mau pulang agar tidak mengingat kisah kelabu minggu lalu. Ponselku bergetar, pop up aplikasi chatting muncul di layar ponsel dan setelahnya aku menyesal sudah membaca pesan tersebut. harusnya aku mematikan ponsel saja. Maya WO Selamat siang mbak Rifa. Mohon maaf mengganggu waktunya, hanya ingin mengingatkan jatuh tempo pelunasan biaya wedding 2 minggu lagi. Terima kasih. Pesan sejenis yang sudah 1 minggu ini menghantui hari-hariku itu kembali muncul. Kukira pihak hari ini mereka akan berbaik hati tidak menerorku dengan mengingatkan jatuh tempo hutangku, tapi ternyata aku salah. Mereka tidak akan bosan menagih sampai aku melunasi semuanya. "Kenapa sih, Rif?" Tanya mbak Sani yang berdiri di samping meja kerjaku sambil memainkan ponselnya. "Gue pengen bunuh orang deh, mbak San," ucapku sambil menusuk-nusukkan pulpen ke permukaan meja. Mbak Sani berhenti memainkan handphone lalu bergeser sedikit menjauhiku. Aku meliriknya sebentar lalu menghela napas sambil melempar pulpen begitu saja ke atas meja kerjaku sendiri. "Bukan lo kok yang mau gue bunuh," ucapku seraya menjatuhkan diri ke punggung kursi. "Terus?" Tanya Mbak Sani yang kembali mendekatiku. "Si banci gila," jawabku. Enggak sudi aku sebut-sebut namanya, sebutan itu kurasa lebih pantas untuk lelaki kurang ajar sepertinya. "Tio?" Tanya Mbak Sani memastikan. Aku mengangguk kemudian kembali menjatuhkan kepala ke atas meja. "Kesal gue Mbak," ucapku lirih. "Udah sabar aja, cowok kayak dia tuh enggak usah lo pikirin, cape-capein aja," ceramah Mbak Sani. "Bukan masalah itu," sahutku lalu membenamkan wajah ke lengan yang saling bertumpangan di atas meja. "Ck! Enggak usah malu, Rif curhat sini sama gue, gue ngerti kok posisi lo gimana, emang di tinggalin pas lagi sayang-sayangnya tuh sakit banget, apalagi lo di tinggal pas mau ni-" "Mbak, gue bukan ngegalauin si banci edan itu," potongku sebelum kalimat selanjutnya meluncur dari mulut mba Sani. "Terus?" "Dia kabur ninggalin gue plus utang ke WO! Bangke enggak tuh, mana nomor dia enggak aktif, jadi gue yang di tagih, nikmatin kursi penganten aja kagak, gue di suruh bayar semuanya, apa enggak rontok rambut gue mikirinnya," ucapku. Diantara kekesalan dan kesedihan terselip tawa miris mengingat nasibku saat ini. "Similikiti si Tio, gue samperin juga tuh laki, kasih tau rumahnya Rif, biar gue tagih," ucap mbak Sani yang ikut emosi mendengar ceritaku. "Enggak perlu, orangnya udah enggak tahu kemana, rumahnya juga kosong, malah ada tulisan mau di jual," ucapku lesu. "Keluarganya?" Tanya mbak Sani yang sudah menarik kursi kosong ke sampingku dan mendudukinya "Gue udah ke rumah keluarganya tapi enggak ketemu siapa-siapa, rumahnya juga kosong," jawabku lesu. "Mending lu bakar itu rumah," ucap mba Sani. "Iya, terus gue masuk kantor polisi, makin gila deh gue di balik jeruji besi," sahutku "Seenggaknya lo enggak akan baca pesan tagihan utang lo itu 'kan," balas mbak Sani di susul dengan kekehan menyebalkan. "Tahe kucing ah lo mbak," balasku lalu pergi meninggalkan mbak Sani yang masih duduk sambil menertawakanku. “Kenapa enggak hubungi nomor telepon yang di ada, kalau mau di jual kan berarti dia cantumin nomor dong,” ucap mbak Sani. “Udah,” sahutku. “Terus?” tanyanya. “Itu bukan nomornya, nomor makelarnya” jawabku. Desah napas terdengar, mbak Sani menggaruk-garuk pelipisnya. “Heran gue sama lo, pacaran lama tapi kayak enggak tahu apa-apa tentang cowok sendiri, Rifa…Rifa,” ucapnya. Iya aku akui, memang aku yang bodoh. “Nyokap tahu masalah ini?” tanya mbak Sani yang aku sahuti dengan gelengan kepala. Ia kembali membuang napas. Aku yang punya masalah tapi ia yang terlihat frustrasi. “Gue enggak berani cerita, takut darah tinggi ibu kumat,” sahutku. Aku enggak bisa membebankan ibuku, punya anak satu-satunya yang gagal nikah tepat di hari H karena mempelai lelaki membatalkannya di depan pak penghulu itu udah sangat memalukan serta menyesakkan. Kalau aku jadi ibu mungkin aku udah bakar hidup-hidup si Son-tio-loyo itu. Tapi sayangnya beliau enggak sekejam aku. Ibu malah memelukku dan menenangkanku yang menangis tiga hari tiga malam menghabiskan beribu-ribu helai tissue. Sungguh begitu hebat wonder womanku, walaupun aku tahu di dalam hati, ia pun menangis. Dan bercerita pada ibu tentang hutang tentu akan membuatnya semakin sedih meratapi nasibku. Uban di kepalanya bisa rontok semua memikirkan anak semata wayang harapan satu-satunya di seret ke kantor polisi gara-gara utang. Jadi kuputuskan untuk merahasiakannya dan membayar dengan usahaku sendiri. Namun entah bagaimana caranya aku juga bingung. Mbak Sani mengangguk-angguk mengerti keputusanku. “Jangan bilang sama ibu ya, Mbak,” pintaku yang ia angguki. “Lo enggak ada niatan bantuin gue, Mbak?” tanyaku sambil menunjukkan tatapan penuh harap. Mbak Sani tertawa, sedetik kemudian dia menatapku tanpa ekspresi. “Enggak.” “Sialan, pelit lo mbak,” gerutuku. Perempuan yang baru menikah 2 bulan yang lalu itu melenggang pergi tanpa mempedulikanku. “Mau makan siang enggak? Gue yang traktir,” ajaknya. Mendengarnya tentu saja aku tidak menolaknya, tanpa banyak bicara aku langsung bangun dan menyusul mbak Sani yang hampir sampai pintu keluar. “Benar nih di traktir?” tanyaku memastikan. “Kalau cuma makan siang gue masih sanggup bayarin, tapi kalau urusan utang mohon maaf lahir batin sis, tante enggak bisa,” sahutnya disisipi candaan. Aku tertawa mendengarnya, sebenarnya aku pun tidak serius memijam uang dengan jumlah besar begitu pada mbak Sani walaupun aku tahu ia pasti memiliki uang sebanyak itu tapi aku cukup tahu diri untuk tidak menyusahkannya. “Tabungan lo enggak cukup, Rif?” tanya mbak Sani. “Tabungan gue enggak sebanyak itu mbak, itu juga di simpan buat berobat ibu,” jawabku. Kami yang berjalan bersisian menuruni tangga membahas kembali perihal hutang piutang yang mejeratku. “Berapa emang hutang lo?” tanyanya. “Lima puluh,” jawabku. “Jatuh temponya?” tanya mbak Sani lagi. “Dua minggu lagi,” jawabku. Mbak Sani berhenti melangkah, aku yang berada satu anak tangga dibawahnya berhenti lalu menoleh kearahnya. Ia yang terdiam beberapa saat itu kembali melangkah mensejajarkan posisinya denganku. “Lo tau si Evan ‘kan?” ucapnya. Aku mengangguk. “Dia lagi nyari jodoh,” lanjutnya. “Lalu?” tanyaku bingung. “Masa lo enggak ngerti sih Rosalinda,” ucap mbak Sani kesal. “Lo deketin aja dia, siapa tau lo jodoh sama dia,” sambungnya. “Ngaco lo ah mbak,” kataku lalu kembali melangkah lebih dahulu. Mbak Sani yang berada di belakang mengejarku kembali. “Waktu lo cuma dua minggu buat bayar utang, lo mau dapat uang darimana? Gue saranin lo deketin dia, duit dia banyak jadi lo tenang aja dia pasti mau bayar utang lo itu,” ucap mbak Sani semakin melantur. “Gue sih mau aja, masalahnya doi mau enggak nikah sama gue,” kataku. “Semua tergantung kemampuan lo memikat dia aja sih Rif, kalau berhasil lumayan banget ‘kan, hutang lunas, dapat suami mapan, enggak usah nunggu menang hadiah dari tutup botol kesampaian deh jadi orang kaya,” kata mbak Sani membuatku berpikir. Menurutku, ide gila mbak Sani ada benarnya, tapi mendekati apalagi merayu Evan bukan hal yang mudah untukku. Menggoda manajer ganteng yang sering menjadi bahan halu karyawati kantor sama saja dengan melakukan percobaan bunuh diri. Fans garis keras Evan terlalu banyak bahkan banyak pula yang cenderung agresif dan posesif. Dan lagi, aku pun enggak sanggup dengan senyuman lelaki itu, tidak seperti para karyawati lain yang kepincut Evan karena senyuman lelaki berlesung pipi itu, bagiku senyumannya hanya manis saat awal-awal kami berkenalan, selanjutnya aku bosan melihatnya. “Lo enggak punya kandidat lain apa, Mbak,” tanyaku asal. “Lo maunya siapa?” tantang mbak Sani. “Mas Jalu?” katanya sambil terkekeh.. “Jangan lah, kasihan anaknya kalua uang bapaknya abis buat bayar utang ibu tirinya doang,” sahutku. “Dikasih si Evan, lo ragu dia bakal kepincut sama lo, disodorin Mas Jalu yang jelas-jelas kepincut sama lo, malah di tolak, lo maunya siapa? Pak Jaya?” kata mbak Sani lalu tertawa geli. “Ya enggak lah, ngaco banget,” sahutku. Pak Jaya, pemilik pabrik yang usianya mungkin sama dengan usia almarhum kakekku. Hartanya jelas banyak, sampai tujuh generasi mungkin enggak akan habis. Tapi kalau aku harus mendekatinya bahkan menikah dengannya mohon maaf aku akan menolaknya, lebih baik aku nikahi cucunya saja. Cucu? “Pak Jaya punya cucu enggak sih mbak San?” tanyaku begitu kami tiba di kantin. “Dengar-dengar sih si Evan cucunya,” jawab mbak Sani yang memasuki antrean untuk mengambil jatah makan di prasmanan. “Serius lo?” tanyaku yang ikut di belakangnya. “Gosipnya gitu tapi kenyataanya bukan dia,” jawab mbak Sani. “Terus siapa?” “Ya siapa lagi kalau bukan wakil direktur, kalau si Evan cucunya masa dijadiin manajer produksi doang, enggak mungkin lah,” jawab mbak Sani yang nampannya sudah penuh dengan berbagai macam makanan. Aku yang baru mengambil potongan semangka terdiam sejenak memikirkan perkataan mbak Sani yang ada benarnya itu. “Tapi kenapa Evan yang di gosipin anaknya Pak Jaya?” tanyaku. “Ya enggak tahu, coba kau tanyakan pada bulan, siapa tau kau temukan jawabannya, sayang,” sahut mbak Sani. Mengesalkan. “Kenapa gitu sih, ayo buruan makan, lapar tau,” kata mbak Sani ia lalu berjalan menuju salah satu meja yang kosong. Aku masih mengekorinya. Kami duduk saling berhadapan satu sama lain, mbak Sani yang meneguk teh hangatnya sedangkan aku mulai menyantap hidangan kantin hari ini. Hidangan kantin? Tunggu dulu… “Mbak bukannya tadi lo bilang mau traktir gue makan?” tanyaku sambil menatap tajam ke arah perempuan di depanku. Ia terkekeh tidak merasa berdosa. “Lain kali ya Rifanka,” katanya. Sial! ===
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD