“Rifa,” panggilan dengan suara lembut membangunkanku, mataku mengerjap beberapa kali, membiasakan netra dengan cahaya yang cukup terang. Entah sudah berapa lama aku tertidur disisi ranjang Zionino, tapi sepertinya cukup lama bahkan mungkin sudah terbentuk pulau-pulau di sprei putih itu. membayangkan liurku tercetak di sprei aku segera mengecek inchi demi inchi ranjang yang tadi ku gunakan untuk tidur, takut benar-benar ada pulau liur yang terbentuk Zionino lelaki yang tengah berbaring di ranjang memberikan senyumnya ke arahku. Wajahnya sudah lebih baik dibandingkan awal aku bertemunya di apotek tadi. “Udah baikkan pak?” tanyaku setelah memperbaiki posisi dudukku. “Lumayan,” jawabnya. "Kata dokter nanti kalau cairan infusnya udah habis bapak boleh pulang," ucapku. "Nanti saya telepon p

