Tiga

1615 Words
Aku membuka hp dan melihat foto-fotoku dengan Ian saat SMK. Andai aku dan Ian masih saling berkomunikasi dan bertemu, dia pasti sangat bahagia atas keberhasilanku. Garis matanya yang tertarik dan menyipit saat tersenyum dan tertawa membuatnya sangat tampan di mataku, walau tanpa tersenyumpun dia sudah tampan. Tidak sedikit wanita yang mendekatinya. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menitipkan hadiah padaku untuk diberikan pada Ian karena tau aku dekat dengannya. Hadiah tersebut akan diterima Ian jika isinya coklat ataupun makanan. Dan akan kami makan pada saat aku menyerahkannya pada Ian. Sedangkan jika diberikan barang, Ian akan segera mengembalikannya. Pernah suatu pagi Ian dan aku sedang asik membaca buku di perpustakaan dan seorang wanita menghampiri kami. Aku menyenggol tangan Ian. Ian kaget dan melihat ke arahku. Aku memberikan isyarat bahwa ada wanita yang sedang melihat dan menunggunya untuk di izinkan berbicara. Saat itu seingatku pada awal semester, Ian kelas 1 SMK dan aku kelas 3 SMK sehingga kami masih sering bersama. Ian pun menanyakan apa tujuan wanita tersebut menghampiri kami. Ternyata wanita itu ingin menyatakan perasaannya. Ian mendengarkan dengan wajah tenang dan menolak perasaan wanita tersebut dengan baik. Aku melihat raut wajah wanita tersebut dengan wajah iba. Wajahnya tampak sedih dan ingin menangis. Namun Ian memang pandai berkata-kata, wanita itu pergi meninggalkan kami dan menerima jawaban Ian dengan hati lapang dan tersenyum kecil. Aku melihat ke arah Ian. Namun Ian tidak memperdulikan tatapanku. Dia kembali membaca bukunya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku hanya menarik nafas panjang dan kembali membaca buku. Hal ini bukanlah pertama kali aku mendengar pernyataan cinta untuk Ian, jadi aku tidak heran dengan tanggapan dan reaksinya. Akupun teringat saat hari libur, aku mendatangi rumah Ian. Aku sengaja kesana karena hari ini kami ada janji mau lari pagi di Kebun Raya Bogor. Bukan waktu yang sebentar, aku sudah menunggu Ian sekitar 1 jam dari waktu yang kami tentukan, aku juga sudah mencoba menelpon dan mengirimkan chat padanya. Namun tidak ada tanggapan dari Ian. Aku mengetuk dan memberi salam ketika sudah berada di depan rumah Ian, dan ternyata Ibunya yang membukakan pintu. Ibu Ian langsung memasang wajah tidak suka saat melihat wajahku dibalik pintu. Dia langsung mengatakan kalau Ian sakit, dan itu karena sering main denganku saat pulang sekolah dan sampai rumah sore atau mendekati adzan maghrib. Aku menarik nafas panjang, dan meminta maaf. Saat aku hendak melanjutkan kata-kataku, Ian datang menuju pintu dengan wajah memerah. Ibu Ian segera masuk ke dalam rumah dengan langkah gusar dan bilang agar Ian tidak diperkenankan pergi keluar hari ini. Ian tersenyum padaku dan meminta maaf atas apa yang dilakukan Ibunya. Aku tersenyum kecil, dan bilang padanya agar istirahat saja. Ian mengangguk tersenyum mengiyakan perkataanku dan aku kembali kerumah dengan perasaan khawatir atas kondisi kesehatan Ian, namun tidak mengganggunya dengan telpon atau chat dariku. Keesokkan harinya, Ian datang ke rumah untuk pergi sekolah bersamaku. Kebetulan aku yang membukakan pintu untuknya. "Kamu udah sarapan? Sarapan dulu yuk!" Ian mengangguk, mengikuti di belakangku dan masuk ke dalam rumah. Wajahnya masih terlihat pucat, namun senyuman tetap terukir di wajahnya yang tampan. "Ian sakit?" Tanya Mama. "Iya Tante, tapi sekarang sudah lebih baik kok." "Alhamdulillah kalau begitu. Ayo sarapan dulu Ian! Dan membantu Ian mengambil makanan." Ajak Mama. Ian mengangguk dan mulai menyiapkan makanannya. Selesai makan, aku dan Ian segera izin untuk berangkat sekolah. Kami segera ke luar rumah menuju tempat parkir dan naik ke atas motor. Setelah kami siap, Ianpun bergegas melajukan motornya. "Ian, kamu yakin nggak istirahat dulu di rumah?" "Nggaklah, lagian ngapain di rumah? Malas aku, yang ada Ibu ceramah melulu." "Nggak boleh begitu, beliau kan Ibu kamu." "Iya Dit, btw aku minta maaf soal perlakuan Ibu ke kamu kemarin ya." "Iya nggak apa-apa Ian, santai aja." Aku tersenyum. "Btw nanti kamu ada les tambahan nggak?" "Ada, hari ini aku pulang jam 16.00 WIB sepertinya." "Sama, aku juga karena minggu kemarin gurunya tidak hadir jadi di double jamnya hari ini. Nanti pulang sekolah kita ke pasar malam yuk!" "Nggak lah, capek!" "Ayolah Dit, ada yang mau aku omongin." "Omongin sekarang aja deh." Aku mengerutkan kening. "Nggak bisa, aku mau ada momentnya." Ian terkekeh. "Ya udah, tapi pulang dulu ke rumah ya. Aku mau mandi dulu nanti. Nggak enak kalau udah sore, badan lengket." "Ok." Ian tersenyum. Sesampainya di parkiran sekolah, kami langsung turun dari motor dan ke kelas masing-masing. Jam pelajaranku dan Ian hari ini cukup padat, sehingga kami tidak bisa ke kantin bersama. Setelah jam pelajaran sekolah selesai, aku segera keluar dan bertemu Ian di depan gerbang sekolah. Ian sedang duduk menungguku sambil minum es di atas motornya. "Udah selesai?" "Udah alhamdulillah, yuk pulang!" Ian membuang plastik bekas esnya dan aku bergegas naik ke atas motor. Ianpun segera melakukan motornya. "Dit, ingat nanti jadi ke pasar malam ya. Aku jemput jam 17.00 WIB." "Siap." Sesampainya di rumah, aku bergegas makan, mandi, shalat ashar, dan bersiap untuk pergi ke pasar malam. "Ma, aku izin ke pasar malam ya." Aku tersenyum. "Astaghfirullah Dita, memangnya kamu nggak capek?" "Capek sih Ma, aku juga mau istirahat sebenarnya. Cuma Ian ngajak aku ke sana karena ada yang mau di omongin." "Owh gitu, ya udah jangan terlalu larut pulangnya. Jaga diri dan ingat shalat!" "Siap Mamaku sayang." Aku mencium pipi Mama. Ketukkan pintu mengagetkan aku dan Mama, akupun segera berjalan ke luar untuk membuka pintu. "Udah siap Dit?" "Udah, yuk!" Aku dan Ian masuk ke dalam rumah dan izin ke Mama. Setelahnya kami langsung berangkat menuju pasar malam. Pasar malam yang kami tuju ternyata tidak jauh dari rumah. Dan karena hari ini weekday, jadi pasar malam tidak terlalu ramai. Aku dan Ian segera masuk ke dalam dan mulai bermain. Kami juga jajan beberapa cemilan dan minuman. Saat kami menaiki biang lala, Ian memegang lembut tanganku. "Gimana senang Dit?" "Pastinya!" Aku tersenyum senang. "Dit, rencananya minggu depan aku dan keluarga akan pindah ke Jakarta." Mataku membulat mendengar perkataan Ian barusan, "Hah? Serius?" Ian mengangguk, "Alhamdulillah, usaha Bapak di Jakarta berjalan dengan baik. Makanya Bapak ingin kami sekeluarga pindah ke rumah yang ada di sana. Karena jika Bapak pulang pergi setiap hari, sangat tidak memungkinkan. Terlebih, kamu kan tahu sifat Ibuku seperti apa jika Bapak tidak pulang. Perang dunia akan terus terjadi." Ian menunduk. "Nggak apa-apa Ian, walau kita jauh kan kita masih bisa komunikasi. Ingat kan ada ini." Aku mengeluarkan HP dan memperlihatkannya pada Ian. "Iya kamu benar sih, tapi tetap saja." "Udah ah jangan sedih-sedih! Masih minggu depan kan?" Ian mengangguk. "Ini cobain deh gulali aku, manis kayak kamu!" Aku mencubit gulaliku dan menyuapinya ke mulut Ian. Ianpun membuka mulut dan mengunyahnya. "Ciee jadi ngakuin nih aku manis?" "Iya bocil." Aku tersenyum. Ian, aku kangen. Kalau kita bertemu lagi, apakah kita bisa seperti sebelumnya ya, aku berharap Ibu kamu sudah berubah dan menerima aku. Aku bukan Dita yang tomboy dulu Ian. Aku sedih. *** (PoV Dipta) "Kamu sudah menunggu lama ya Dit?" "Nggak kok Dip, aku baru siap-siap pas kamu info udah otw. Lagian kan nunggunya juga di rumah jadi santai aja." "Alhamdulillah, yuk pamit sama Mama!" Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan beriringan ke meja TV tempat Mama berada. "Mama, Dita dan Dipta jalan dulu ya." Kami menjulurkan tangan untuk pamit ke Mama. "Iya sayang, oh iya ini kue yang kamu bilang untuk Maminya Dipta. Takut ketinggalan!" "Makasih Mamaku sayang." Ucap Dita menghampiri dan mencium pipi Mamanya. Aku dan Dita berjalan menuju mobil, dan mulai mengenakan seat belt. "Kamu repot-repot bawa kue segala sih Dit." "Nggak kok, kan sekalian, kemarin aku bantu Mama bikin pesanan kue, jadi aku bikin juga satu untuk bawa kerumah kamu hari ini." Ucap Dita sambil tersenyum lembut. Dita memang istri idaman. Cantik, pintar, agamanya bagus, dan baik. Aku harus berusaha maksimal untuk menjadikannya istriku. "Kenapa Dip? Kok ngeliatinnya gitu?" "Gpp, makasih ya Dit." "Sama-sama." Sesampainya dirumah, kami langsung menuju pintu masuk, dan mengetuk pintu. "Assallamualaikum." "Waalaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah kamu udah sampai. Ini Dita ya?" Mami menyambut Dita dengan pelukkan hangat. "Iya tante, maaf ganggu istirahat tante." "Ganggu apa sih sayang, Mami senang kamu bisa datang, udah lama penasaran sama perempuan yang dikejar-kejar Dipta. Ternyata masyaallah cantiknya. Anak Mami memang pintar memilih perempuan." Dita tersenyum lembut, membuat penampilannya yang elegan dan cantik menjadi lebih menarik. Dita mengenakan dress manis diatas lutut berwarna pink dan berlengan pendek. Rambutnya diikat sebagian, dan sebagai pemanis Dita mengenakan accessories kalung dan cincin dijari tengah kanan. "Owh ya tan, Dita bawain brownies untuk tante dan om," ucap Dita memberikan brownies yang tadi dibawa. "Itu buatan Dita sendiri lho Mam, hebat kan Dita." "Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Dita, nanti sekalian Mami sajikan di meja makan boleh ya?" "Boleh dong tante." *** (PoV Dita) "Tante, ini ada yang ulang tahun ya?" Aku mengerutkan kening. Ruang makan penuh dengan makanan enak dan kue ulang tahun. Bahkan ada hiasan juga walau tidak mencolok. Tulisan "Happy Birthday" dengan beberapa balon disisinya. "Lho, kamu nggak tahu Dita, hari ini Dipta ulang tahun. Mami kira kamu tau, makanya kamu diajak kesini. Nanti kakak-kakaknya Dipta dan keluarganya juga datang makan siang disini." Mata Mami membulat heran. "Aduh, aku ganggu acara keluarga dong tante." "Nggak dong, insyaallah kamu juga akan jadi keluarga nanti." Mami tersenyum. Aku kaget dengan pernyataan Mami barusan, namun tetap memberikan senyum terbaikku ke Mami dan melirik ke arah Dipta yang tersenyum menatapku tanpa rasa bersalah. Keluarga Dipta sangat ramah dan menyambutku dengan sangat baik. Bukan hanya Mami dan Papinya, tapi kakak-kakak beserta istri dan anak-anak mereka pun demikian. Aku tersanjung dibuatnya karena merasa sangat spesial dan diistimewakan. Aku jadi membayangkan keluarga Ian yang menerimaku dengan baik seperti ini. Aku menarik nafas dan berusaha kembali fokus, entah kenapa aku jadi sering mengingat Ian akhir-akhir ini. Mungkinkah Ian juga mengingatku, atau dia sudah melupakanku dan menikmati hidupnya saat ini. Aku harus fokus dan mengurangi pikiran tentang Ian mulai saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD