Empat

1526 Words
Kakak Dipta yang pertama bernama Doni dan istrinya Sisca, mereka memiliki 2 anak, 1 laki - laki berumur 4 tahun dan 1nya lagi perempuan berumur 1 tahun. Sedangkan kakak ke2nya bernama Dito dan istrinya Rina, mereka telah memiliki 1 anak laki-laki berumur 2 tahun. Banyak waktu yang kuhabiskan bersama dengan keluarga Dipta hari ini, dari makan siang bareng, main dengan keponakan-keponakannya, bahkan mengobrol dengan kakak-kakak dan ipar serta orang tuanya. Keluarga kakak-kakaknya Dipta pamit jam 17.00, saat aku dan Maminya Dipta masih asik mengobrol ditaman dekat kolam renang. Banyak kesamaan antara kami yang membuat kami nyaman untuk berbagi cerita seperti latar belakang dan beberapa pengalaman pribadi. "Yuk Dit, aku antar pulang, udah malam," Dipta menjulurkan tangannya dan langsung kuraih. "Lho, Dita nggak nginap aja?" Tanya Mami penuh harap. "Apaan sih Mi, Dita kan besok kerja." "Iya, Mami cuma bercanda, habis jarang ada teman ngobrol yang cocok sama Mami, jadi lupa waktu." Mami tersenyum. "Lain kali kita ngobrol lagi ya tante," jawabku. "Iya sayang, kamu hati-hati dijalan ya. Jaga kesehatan dan salam sama Mama kamu, wanita hebat dalam hidup kamu." Mami mengancungkan jempolnya. "Pasti tante, aku pamit dulu ya." "Owh iya Dit, tunggu sebentar," ucap Mami sambil berjalan cepat masuk menuju dapur. "Ini sedikit makanan dan kue buatan tante, kamu bawa ya untuk Mama kamu," kata tante sambil tersenyum. "Banyak banget tante, alhamdulillah, terima kasih banyak ya tante." Aku kaget dengan pemberian yang cukup banyak "Sama - sama sayang," ucap Mami sambil meraih dan memelukku hangat. Aku dan Dipta berjalan menuju tempat parkir. "Hebat kamu Dita, bisa langsung dapat hati Mami di pertemuan pertama. Padahal kakak-kakak iparku susah akrab sama Mami," Dipta menatap dan mengancungkan jempolnya padaku. Wajahnya terlihat cerah dan senang. "Mungkin karena aku dan tante sama-sama hobi baca, dari keluarga yang broken home, dan kuliah sambil kerja jadi bisa cepat akrab Dip. Btw kamu kenapa ga bilang hari ini ultah?" Aku mengerutkan kening dan menampilkan wajah sebal. "Lho, ngapain bilang?" Dipta memasang wajah heran. "Ya kan minimal aku bisa siapin kado untuk kamu," jawabku santai. "Nggak usah, kamu datang aja udah kado terbaik untuk aku." Dipta merayu. "Ok." Akumalas mendengar jawaban Dipta dan terkesan tidak peduli. "Owh ya kamu sidang kapan Dit? Mau kubantu buatin power point dan tektokkan belajar?" "Boleh Dip, insyaallah awal bulan depan." "Masih 2 minggu lagi, mulai besok sambil jalan pas aku jemput dan antar kamu, kita bahas yuk! Terus untuk power pointnya aku yang buatin ya. Insyaallah H-7 selesai biar kamu bisa langsung pelajari dan nggak bingung pas presentasi nanti." Dipta sangat bersemangat. "Ok, makasih ya Dip. Tapi kalau kamu sibuk dikantor jangan dipaksain, insyaallah aku bisa kerjain kok." "Tenang Dit, insyaallah aku akan buatin yang terbaik dan maksimal buat kamu." Kujawab dengan senyum dan anggukkan. Jam 20.00 WIB aku sudah dirumah, dan merebahkan badan dikasur yang nyaman. Disaat seperti ini, kenapa khayalku selalu merasa dipijit dikasur saking nikmatnya, alhamdulillah. Aku tidak menyangka 2 minggu lagi aku akan mengikuti sidang dan 2 bulan kemudian, jika semua berjalan lancar aku akan wisuda. Alhamdulillah, mudah-mudahan impian dan usahaku berjalan lancar insyaallah. *** "Gimana Dit, persiapan sudah siap semua?" tanya Dipta khawatir. "Alhamdulillah, doain aku ya Dip." Aku deg-degan dan sedikit cemas. "Pasti, kamu bisa Dit. Insyaallah lancar," ucap Dipta memberiku semangat. Karena aku mengambil jurusan ekonomi akuntansi, aku mengambil judul skripsi Sistem Informasi Akuntansi pada Pasar Swalayan di Bogor. Tidak lama kemudian, akhirnya giliranku untuk mempresentasikan bahan yang telah aku dan Dipta persiapkan pun datang. Jantungku berdetak lebih cepat, namun aku yakin dan percaya diri bisa melewatinya karena sudah berusaha dan belajar maksimal. Semua berjalan dengan lancar, dalam sesi tanya jawab pun sesuai dengan perkiraan aku dan Dipta. Hampir sebagian besar perkiraan pertanyaan tersebut ditanyakan para dosen penguji. Perjuanganku tidak sia-sia, aku mendapatkan nilai A+ untuk sidang. Aku berjalan menuju tangga, namun cukup kaget ketika ada seorang laki-laki yang sudah biasa kulihat setiap hari nya menghampiriku dengan merentangkan kedua tangannya. "Dita, selamat ya A+ alhamdulillah," katanya sambil memelukku. "Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Dip sudah bantu selama ini. Btw kok kamu ada disini?" tanyaku heran. "Aku izin, ada urusan penting. Alhamdulillah atasan juga lagi ada dinas, jadi aman insyaallah. Berarti tinggal wisuda Dit, 1 bulan setengah lagi jadi Sarjana," Dipta menyunggingkan senyum dan mencolek pipiku. "Aamiin doain lancar ya Dip." "Pasti dong." "Yuk Dip, aku teraktir makan di GanCit." "Asikkk diteraktir" ucap Dipta girang. "Kamu mau makan apa Dip?" "Tawan aja deh, perut aku lagi nggak enak sebenarnya. Cuma nggak mau sia-siain waktu untuk makan sama kamu," ucap Dipta sedikit meringis. "Dih kalau sakit, ngapain kesini, bukannya kamu istirahat aja dirumah," kataku. "Aku pengen lihat wajah happy kamu Dit," kata Dipta. Kami berjalan menyusuri mall yang cukup sepi karena masih hari dan jam kerja. Restaurant Tawan berada di lantai LG. Sesuai perkiraanku karena masih jam 10.00 dan hari kerja restaurant tersebut masih sepi. "Kamu bubur ya berarti, aku mau kwetiau aja. Minumnya apa mau lemon tea hangat?" Aku bertanya dari balik buku menu. "Iya boleh." "Sipp." Aku memanggil dan memesan makanan kepada pelayan. "Dit, mumpung kamu lagi happy, aku mau tanya boleh?" "Tanya aja Dip," ucapku sambil melihat hp. "Apa kamu menganggap aku hanya sekedar teman Dit?" Dipta memandang lurus kearahku, dan aku bisa memastikan saat ini dia sedang berbicara serius. "Memang harusnya aku anggap apa Dip?" "Aku suka kamu Dit, sayang kamu, khawatir selalu sama kamu, aku nggak bisa nahan perasaan aku terus ke kamu Dit. Aku punya niat baik sama kamu, bukan pacaran tapi aku mau ajak kamu nikah setelah kamu lulus nanti. Kamu nggak usah mikirin macam-macam, insyaallah aku bisa siapin semua yang kita butuhkan nanti," ucap Dipta meyakinkanku sambil memberikan kotak yang berisi cincin berlian. Aku tidak terlalu kaget mendengar pengakuan dari Dipta, namun aku tidak menyangka dia akan secepat ini mengatakannya. Aku pun berusaha berhati- hati memilih kata-kata terbaik untuk menjawab pernyataannya. "Dipta, terima kasih banyak atas semua yang udah kamu lakukan dan kamu kasih ke aku selama ini, tapi jujur aku belum ada pikiran untuk menikah Dip, aku ingin membuat Mamaku bangga dulu, jalan - jalan berdua Mama, dan itu nggak mungkin bisa dilakukan secara bebas kalau sudah menikah Dip. Terlebih, aku belum punya perasaan lebih ke kamu. Aku minta maaf ya Dip udah bikin kamu kecewa, aku yakin banyak perempuan diluar sana yang jauh lebih baik dan siap untuk menikah dengan kamu." Aku memandang lurus kearah Dipta untuk menegaskan perasaan dan impianku selama ini. Dipta menunduk melihat minumannya disebelah kanan dan tersenyum tipis. "Nanti kamu juga akan cinta dan sayang ke aku Dit." Dipta tersenyum getir. "Aku belum bisa janji Dip, kamu tau traumaku tentang pernikahan orang tuaku dan pernikahan adalah hal yang sangat besar dan rumit yang belum mau aku sentuh saat ini. Tapi, jika kamu butuh teman untuk berbagi cerita ataupun keluh kesah, insyaallah aku pasti bisa." Aku tersenyum dan memegang tangan Dipta lembut. "Maafin aku ya Dip." "Nggak apa-apa Dit, tapi cincinnya dipakai ya, anggap saja hadiah sidang hari ini." Dipta mengeluarkan cincin dan memakaikannya dijari tengah tangan kananku. "Terima kasih banyak ya Dip." Aku tersenyum tipis. *** (PoV Dipta) Aku masuk kerumah dengan langkah lemah. Sakitnya lebih terasa dibanding sebelumnya. Mami yang melihatku pun datang menghampiri dengan rasa khawatir. "Kamu kenapa Dip?" "Dipta ditolak Dita Mam, Dipta pikir semua yang udah Dipta lakukan udah cukup untuk menjadikan Dita istri. Tapi ternyata traumanya Dita jauh lebih besar dari yang Dipta pikir." Aku memasang wajah sedih. "Sabar ya Dip, insyaallah kamu akan segera mendapatkan istri yang lebih baik dari Dita, dan semoga Dita juga segera dihilangkan traumanya dan mendapatkan jodoh terbaik." Doa Mami iba. "Aamiin, Dipta masuk kamar dulu ya Mam." Aku berjalan menuju kamarku, menghindari pembahasan lainnya. Mami sudah perkirakan hal ini sebelumnya saat mengobrol dengan Dita waktu itu. Dita adalah perempuan yang kuat pendiriannya dan tidak tergoyahkan hanya karena mendapatkan laki-laki yang berkecukupan. Saat ini Dita hanya ingin bebas dari kegiatan beratnya kuliah sambil bekerja yang menyita waktu dan tenaganya selama tiga setengah tahun ini. Dan menggapai tujuan utamanya yaitu membahagiakan Mamanya yang selama ini berjuang membiayai, mengurus, dan mendidiknya tanpa bantuan fisik dan materi dari Papanya sejak kelas 1 SD. *** Aku pulang sendiri hari ini, dan berpisah setelah mentraktir Dipta makan. Aku tidak menyangka akan dilamar setelah sidang dan mendapatkan sebuah cincin berlian. Ada rasa tidak nyaman, namun pernikahan adalah hal yang besar. Andai yang Dipta inginkan pacaran, mungkin aku masih mau mencoba memikirkannya, karena bagiku pacaran adalah hubungan yang tidak terlalu berat dan salah satu hal baru bagiku. Dengan hubungan tersebut, kami bisa lebih saling mengenal, memahami, dan mungkin merupakan salah satu cara untuk mengobati traumaku. Meski prosesnya tidaklah sebentar. Menikah bagiku hanya sekali seumur hidup, apalagi Dipta mengajakku menikah dalam waktu yang sangat dekat. Dan sekarang belum saatnya aku menikah. Banyak mimpi yang belum tergapai dan sudah lama aku dambakan saat bekerja sambil kuliah. Pencapaian ini tidak akan aku sia-siakan hanya untuk menikah yang aku tau pasti bukan perkara mudah. Banyak hal dan maklum yang perlu dikorbankan serta dilewati. Kebahagiaan pasti ada, namun itu hanya hal kecil di awal pernikahan. Setelahnya, kenyataanlah yang harus dihadapi setiap pasangan. Dan aku belum siap dan mampu untuk menjalani hal tersebut. "Assallamualaikum Ma, Dita pulang nih," ucapku memberi salam saat masuk rumah. "Waalaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, gimana hasilnya Dit?" tanya Mama khawatir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD