Lima

1513 Words
"Alhamdulillah A+ Ma, insyaallah Dita satu setengah bulan lagi wisuda. Doain lancar ya, Ma?" Aku masuk kepelukkan Mama. "Pasti sayang insyaallah, kamu hebat!" Mama menguatkan pelukkan dan mencium keningku. "Owh ya kamu nggak di antar Dipta Dit?" Mama melepas pelukkannya. "Nggak Ma, ada sesuatu, nanti aku ceritain ya. Aku mau mandi dulu dan ini aku bawain pizza." Aku nyengir. "Alhamdulillah, makasih ya sayang." "Sama-sama Mamaku sayang." Aku selalu berpikir mandi adalah cara terbaik untuk menyegarkan badan dan menenangkan pikiran. Aku melihat mama masih sibuk didapur saat keluar dari kamar mandi. "Mama masak apaan itu?" Aku menghampiri. "Bikin bubur sumsum, kesukaan kamu." "Mantappp, pas banget aku lagi mau makan yang manis-manis." Aku mencium pipi Mama dan masuk ke kamar. Selesai siap-siap, aku menghampiri Mama yang sedang asik menonton tv di ruang tamu sambil membawa semangkuk bubur sumsum. "Ma, nonton apaan?" "Itu ceramah Syekh Ali." "Owh iya tau nggak Ma, masa tadi Dipta ngelamar aku pas selesai sidang. Bikin aku kaget aja." "Terus gimana? Kamu jawab apa Dit? Romantis nggak dia pas ngelamar?" Mama membulatkan matanya. "Ya aku tolaklah, aku udah capek kuliah sambil kerja, masa langsung nikah. Aku mau istirahat dan nikmatin dulu dunia kerja yang nyaman. Nggak kayak kemarin-kemarin selalu berburu waktu. Lelah banget Ma." "Iya. Mama paham, terus tanggapan Dipta gimana Dit?" Kening Mama berkerut. "Dia down banget sih, mungkin ga nyangka aku jawab gitu, soalnya dia nyiapin cincin ini." Aku memperlihatkan cincin berlian yang diberikan Dipta tadi. "Lho kok cincinnya kamu terima, kenapa ga di tolak Dit? Mama takut Dipta mikir yang enggak-enggak soal kamu nanti." Mama mengingatkan. "Dia bilang anggap aja ini hadiah sidang karena dapat A+ Ma, jadi aku terima. Lagian aku nggak mau Dipta tersinggung kalau aku tolak. Dia kan siapin ini buat aku." "Ya ampun Dita, kamu nih benar-benar. Tapi perasaan kamu ke Dipta gimana? Mama pikir kamu punya perasaan ke dia. Kasihan udah setengah tahun ini antar jemput dan bantu kamu kerjakan tugas kuliah. Jangan sampai trauma kamu membuat kamu sulit Dit." Mama menampilkan raut wajah cemas dan serius. Mama memang yang paling tahu kondisi dan situasi yang sebenarnya tentang traumaku. Aku sangat dekat dengan Papa. Setiap Papa pulang kerja, aku selalu naik ke pundaknya dan minta jajan ke warung. Semua permintaanku, pasti dituruti. Padahal aku juga memiliki adik, tapi aku tetap menjadi permata bagi Papa. Walau bukan berarti Papa tidak sayang kepada Kakak dan Adikku, tapi mungkin ini merupakan perlakuan istimewa yang aku dapatkan sebagai anak perempuan satu-satunya karena Kakak dan Adikku berjenis kelamin laki-laki. Sampai akhirnya ketika aku berumur lima tahun, setelah pulang menjemputku dari sekolah, Mama mendapatkan kabar melalui telpon dan mendatangi sebuah hotel. Disana, aku dan Mama memergoki Papa sedang bermesraan didalam kamar dengan seorang wanita. Hal itu sangat memukul mentalku dan Mama. Setelah melihat kejadian itu, Mama berlari kencang sambil menuntunku, beliau tidak menggunakan lift saat dikejar oleh Papa karena belum mau mendengar penjelasan Papa. Mama memilih menuruni tangga, dan akupun terjatuh terguling karena tidak dapat mengimbangi kecepatan langkah kaki Mama. Saat itu, aku mendapati luka cukup besar pada muka bagian kanan, bersyukur luka tersebut hilang sepenuhnya dari wajahku tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. "Nggak Ma, insyaallah, aku juga paham. Cuma memang belum waktunya aja untuk menikah. Aku masih terlalu muda Ma, masih umur 22 tahun. Perjalananku masih panjang. Dan untuk perasaan, aku belum punya perasaan lebih ke Dipta, karena memang masih sibuk kuliah dan kerja kan. Aku nggak pernah mau ngambil pusing untuk perasaan ke lawan jenis apalagi baper-baperan," jawabku sambil makan bubur sumsum. "Mama paham sih, terus hubungan kamu sama Dipta jadi gimana Dit?" "Ya nggak gimana-gimana Ma, itu semua tergantung Dipta. Kalau dia masih mau dekat ya silahkan kalau ngejauh juga nggak apa-apa. Kan dia yang selalu dekatin dan nawarin bantuan ke aku. Dan aku juga sering nolak bantuan dan pemberiannya, cuma dia aja yang maksa. Jadi aku terima aja." Aku nyengir. Jawabanku membuat Mama gemas dan mencubit pipiku dengan kedua tangannya. "Aduh sakit, Ma." Aku meringis walau sebenarnya tidak terlalu sakit. "Ya udah kalau itu keputusan kamu, yang penting kamu harus selalu berkata dan berperilaku baik dengan orang lain untuk menjaga perasaan, serta jaga diri kamu dari hal - hal yang tidak terduga Dit. Kamu kan tau zaman sekarang banyak hal aneh yang terjadi kalau orang udah sakit hati. Mama nggak mau terjadi hal kurang baik sama kamu." Mama memperingatkan dan menatap lekat kearahku. "Insyaallah Ma, Allah SWT selalu bersama kita, dan aku selalu ingat kata-kata Mama, jadi aku selalu berpikir sebelum berbicara, dan itu membuatku memilih kata-kata terbaik untuk menjawab ataupun bertanya kepada orang lain." Aku meyakinkan Mama. "Alhamdulillah kalau begitu, Mama percaya sama kamu." *** Aku baru duduk dibangku untuk mengganti sepatu cats dengan high heels saat Olin menghampiri. "Gimana Dit hasilnya kemarin?" tanya Olin penasaran. "Alhamdulillah lancar, dapat nilai A+ gue." Aku tersenyum. "Kereen.. bener kan gue bilang lo pasti bisa melewatinya dengan baik," kata Olin percaya diri. "Alhamdulillah, lin. Lo udah sarapan? Gue bawain nasi uduk nih untuk kita sarapan." Aku menawarkan kotak nasi uduk yang sudah aku dan Mama siapkan tadi pagi untuk rekan-rekan kantor. "Belum, lo bawa buat satu Divisi Dit? Tadi gak naik kereta dong?" "Naiklah, cuma pas sampai stasiun gue naik taksi online. Lagian kalau jalan habis subuh kereta aman nggak terlalu penuh Lin." "Owh gitu Dit, btw makasih ya," ucap Olin sambil mengambil kotak nasi untuk dia dan Chris. "Lin, tolong bantuin gue taruhin kotak nasi ke meja yang lain yuk." "Siap." *** Aku dan Olin menaruh kotak - kotak nasi uduk dimeja rekan-rekan kerja yang saat ini masih kosong. Kami memang selalu datang lebih awal sekitar jam 06.30 atau 07.00 WIB. Hal ini disebabkan karena rumah kami yang lebih jauh dari rekan kerja lainnya. Olin di Bekasi dan aku di Bogor. Kami terbiasa datang lebih awal dan pulang paling akhir. Selain karena padatnya pekerjaan, kami malas bermacet-macetan jika jalan di jam berangkat dan pulang kerja. Sebenarnya ada 1 orang lagi, namanya Chris pacar Olin yang juga satu Divisi dengan kami. Cuma biasanya dia tidur diruang rapat setelah sampai, dia memang sekalian antar jemput Olin setiap harinya. Menjadi pacar siaga adalah motonya Chris. Yang kadang membuat satu Divisi menganggapnya berlebihan. Kalau Olin sendiri happy-happy aja, kebiasaan perempuan yang pasti senang jika diperlakukan istimewa. Pukul 07.45 Pak Yadi memanggilku untuk ke ruangannya. "Terima kasih ya Dit, sarapannya. Untuk sidang kemarin, gimana hasilnya Dit? Dan kapan kamu akan di wisuda?" tanya Pak Yadi. "Alhamdulillah saya dapat A+ untuk sidang kemarin Pak, dan kalau semua berjalan lancar insyaallah akhir bulan depan saya diwisuda Pak. Untuk ijazah dan transkip nilai, insyaallah akan saya copy dan berikan ke Bapak setelah selesai wisuda." "Alhamdulillah, bagus Dita, kamu memang memiliki banyak potensi. Insyaallah setelah kamu mendapatkan ijazah dan memberikan copynya kesaya, saya akan langsung mengajukan promosi menjadi karyawan tetap dan kenaikkan gaji kamu kepada Pak Anton," ucap Pak Yadi antusias. Sebelum menjadi sekretariat Divisi Corporate Secretary, aku menjabat sebagai resepsionis Direksi. Posisi ini kupilih untuk memudahkanku mengerjakan skripsi dan izin pada saat aku membutuhkan bimbingan dosen atau mengerjakan tugas penting dikampus. Aku pun selalu mendapatkan izin karena telah memberikan informasi kepada interviewer saat interview bahwa aku masih kuliah dan saat itu masuk semester 6. Alhamdulillah pihak kantor mengizinkan dan mendukungku, bahkan aku melakukan praktek kerja lapangan disini, tepatnya di Bagian Umum. Pak Yadi memang sudah mempertimbangkan kemampuanku pada saat aku mulai diperbantukan menjadi sekretaris Direksi yang saat itu Direksi tertentu belum memiliki sekretaris ataupun sedang cuti. Dan, pada saat sekretariat Divisi Corporate Secretary melakukan pengajuan mutasi ke Divisi lain, aku adalah orang pertama yang ditawarkan untuk menjadi staf sekretariat Corporate Secretary oleh Pak Yadi. Ketika mendapatkan tawaran tersebut, aku pun langsung menerima tawaran tersebut. Bersyukur Pak Yadi tidak masalah dengan kuliahku yang pada saat penawaran, aku sedang memasuki semester akhir. Pak Yadi justru mendukung dan bersedia membantu jika memang ada yang aku butuhkan. Alhamdulillah, semua berjalan lancar baik interview dengan beliau, Kepala Divisi, SDM, dan Direksi terkait yang membawahi Divisi Corporate Secretary. Dan aku resmi menjadi staf kontrak Corporate Secretary 1 bulan kemudian. "Alhamdulillah, baik terima kasih banyak Pak, saya izin keluar ruangan ya Pak," jawabku. "Silahkan Dita." Aku keluar dari ruangan dan disambut oleh Olin dan mba Eka yang sedang membicarakanku karena dipanggil Pak Yadi barusan. "Kenapa Dit? Promosi ya?" tanya Mba Eka berbisik. "Iya Mba, alhamdulillah." "Alhamdulillah, selamat ya Dit," ucap Mba Eka dan Olin berbarengan. "Doain lancar ya." "Pasti lancar kayak jalan tol, jangan lupa traktir kita ya," ucap Olin berharap. "Insyaallah, Pho 24 gimana?" "Apa aja, yang penting traktir," jawab Olin tertawa. "Siap," jawabku. Sesampainya di meja, beberapa rekan kerja menelpon mengucapkan terima kasih karena nasi uduk yang aku taruh di meja mereka dan memberikan selamat atas sidang yang telah aku lalui dan aku selesaikan dengan nilai terbaik. Aku bersyukur bekerja disini, karena jiwa keluargaan dan toleransi yang kental baik diantara karyawan ataupun atasan yang tidak memandang jabatan ataupun senioritas. Aku melihat hpku, ada beberapa pesan didalamnya, salah satunya dari Dipta. Ternyata dia masih memberi perhatian dan mau menjemputku setelah kejadian kemarin. Aku membalasnya untuk tidak perlu menjemputku dengan alasan ada urusan. Aku berusaha untuk sedikit menjauh dan menjaga jarak darinya, agar dia tidak terlalu sakit hati dan terbawa suasana seperti sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD