"Seandainya ada satu keajaiban, aku ingin Kak Karel bersamaku. Menghabiskan banyak waktu seperti dulu."
******
Kate menghentikan aktivitasnya yang sedang bermain biola. Rafa masuk ke ruang musik yang sepi, karena hanya ada Kate seorang diri di sini.
Kate meletakkan biola itu ke posisi semula, mengambil tasnya dan ingin sesegera mungkin keluar dari ruangan ini untuk mencegah interaksi antara dirinya dengan Rafa.
Rafa menahan tangan Kate dengan menggenggam tangannya erat.
"Lepas, gue mau pulang."
"Pintunya udah gue kunci. Kalau mau keluar ya lo harus ngomong dulu sama gue."
Kate mengepalkan tangannya. Dia menatap Rafa lekat-lekat. Suasana ruang musik memang gelap karena Kate sengaja tidak menghidupkan lampu.
"Apa lagi yang mau lo bicarain sama gue? Gue capek lo terbangin, terus lo dorong lagi dengan gak punya hati."
Rafa meletakkan kedua tangannya di pundak Kate. "Besok lo ulang tahun, kan? Lo mau kado apa?"
Kate terdiam. Ternyata Rafa mengingat hari ulang tahunnya. Kenapa mudah sekali Rafa mencari cara agar Kate kembali luluh?
"Gue gak mau kado apa-apa Raf. Cukup lo datang aja, gue udah senang."
Rafa tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Kate. "Gue pasti bakalan datang dengan kado yang spesial buat lo."
"Maaf untuk yang tadi, gue gak bermaksud bentak lo." Rafa kembali berbicara.
"Iya gak apa-apa kok."
"Kita pulang sekarang ya."
"Kayla pulang bareng kita?"
Rafa menggeleng. "Dia pulang duluan tadi karena sakit, dijemput sama supirnya."
*****
Vanilla malam ini sedang berada di rumah Kate. Dia membantu Kate mendesain pesta ulang tahunnya yang akan diselenggarakan besok malam.
Sorot mata ceria itu perlahan redup, ketika Vanilla melihat foto keluarga Kate yang berukuran besar terpajang di ruang tamu.
Karel, cowok terbaik yang sangat menyayangi Vanilla kini sudah pergi untuk selamanya. Kakak kandung Kate yang mampu memberikan warna baru di kehidupan Vanilla yang sepi, dan selalu sendiri.
Sejak kepergian Karel, Vanilla kembali merasa kesepian. Tidak ada lagi yang selalu menemani malamnya yang sepi. Biasanya Karel akan selalu menelepon sampai Vanilla tertidur. Namun sekarang? Vanilla berusaha keras untuk memejamkan matanya, meskipun ribuan ketakutan selalu menghampirinya tanpa jeda.
"Oii, kok bengong sih?" Kate menyentuh pundak Vanilla yang berdiri kaku dengan posisi menghadap ke depan.
"Gue kangen kak Karel, Kate. Dia udah bahagia di sana, kan?"
Kate mengusap pundak Vanilla. Bukan hanya dirinya dan keluarganya saja yang merasa sangat kehilangan, tetapi hal itu juga dirasakan oleh Vanilla dan teman-teman Karel.
"Kak Karel udah tenang di sana La. Dia udah bahagia, kita cuma harus selalu berdoa supaya Kak Karel selalu damai."
Vanilla menghapus setetes air mata yang sudah menetes ke pipinya.
"Seandainya malam itu gue bisa cegah dia supaya gak balapan. Pasti sekarang dia masih ada di sini sama kita Kate. Seandainya gue gak egois, dan marah-marah sama dia saat itu. Mungkin gue gak bakalan ngerasain kesepian kayak sekarang. Kalau kak Karel masih ada, gue bisa bagi rasa takut gue sama dia. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat Kate? Kita kehilangan kak Karel untuk selama-lamanya. Padahal baru sebentar gue bisa ngerasain tenang karena ada dia."
Vanilla sesegera mungkin menghapus air matanya, dan mengurungkan niatnya untuk kembali berbicara saat mama Kate menghampiri mereka berdua.
"Karel belum pulang?"
Kate menghela napas. "Belum, Ma. Mungkin bentar lagi."
Mamanya mengusung senyum ketika melihat Vanilla. "Kasihan Vanilla nunggu kelamaan. Kakak kamu kenapa juga harus keluyuran, udah tau ada Vanilla di sini."
Vanilla menahan rasa sakit di dalam dadanya. "Gak apa-apa kok Tan, mungkin Kak Karel lagi dalam perjalanan pulang."
"Ya udah kalian lanjutin aja dekornya. Tante mau ke dapur dulu."
"Iya Tante."
*****
Kate masuk ke kamar Karel. Dia menghidupkan lampu kamar yang sudah setahun belakangan ini tidak pernah berpenghuni. Kecuali kalau Kate sengaja tidur di sini.
Semua barang-barang Karel masih lengkap tanpa ada yang berkurang.
Kate merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar. Dia merindukan kejahilan Karel.
Setahun yang lalu Karel pergi untuk selamanya. Sejak hari itu juga Kate pikir dia akan kehilangan sosok kakak dalam hidupnya, namun Leo selalu ada membuat dirinya tidak terlalu sedih.
Kate selalu memikirkan kondisi Vanilla. Gadis itu mengidap anxiety, dia sulit tertidur di malam hari karena sering merasakan ketakutan yang tak wajar. Kecuali jika hujan, gadis itu bisa tertidur dengan nyenyak. Tanpa harus takut dengan suara-suara yang akan mengusiknya.
Kate pernah berpikir untuk mendekatkan Leo dengan Vanilla. Tapi Vanilla menolak, Karel masih tidak bisa tergantikan baginya.
Di satu sisi jika Leo bersama Vanilla. Kate pasti akan merasakan kehilangan. Karena itu juga dia tidak pernah berbicara soal ini kepada Leo. Cowok itu juga sepertinya terlalu asik dengan anggota band-nya, tidak pernah Leo membahas soal cewek jika sedang bersama Kate.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mamanya masuk ke dalam dan menatap Kate dengan sorot bingung.
"Kok kamu di sini? Karel mana?"
Kate buru-buru bangun dari posisi tidurnya dan menghampiri mamanya yang masih berdiri di depan pintu.
"Kak Karel nganterin Vanilla Mama."
"Oh iya Mama lupa. Terus kamu ngapain ke sini Kate? Jangan bikin berantakan kamar kakakmu. Kamu tau sendiri kalau Karel gak suka kalau kamarnya berantakan."
Kate menggaruk kepalanya. "Kate tadi mau cari charger laptop. Eh ternyata gak ada, makanya Kate tidur aja sekalian nunggu kak Karel pulang."
"Mama temenin kamu di sini aja. Mama khawatir sama Karel."
Kate menahan mamanya yang ingin masuk. "Papa baru pulang kerja lho Ma. Pasti badannya pegal-pegal. Biasanya Mama juga pijitin papa."
"Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau Karel pulang. Bilang sama dia supaya langsung tidur, jangan main game lagi."
"Siap Ma."
Setelah mamanya keluar dari kamar kakaknya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Kate melihat polaroid dirinya dengan Karel yang masih ada di kamar ini.
Banyak momen sudah mereka lalui bersama, dan sekarang Karel harus pergi dan takkan kembali.
Seandainya ada satu kesempatan. Kate ingin menghabiskan satu hari penuh bersama Karel, sekaligus menebus dosa-dosa kepada kakaknya. Kate tidak akan pernah melarang Karel bermain game sampai pagi, Kate tidak akan pernah memarahi Karel meskipun hobi cowok itu adalah mengganggunya. Apa pun yang Karel mau, Kate pasti akan mengabulkannya. Sayangnya, Karel tidak akan pernah kembali. Sekalipun semua orang memintanya untuk tetap ada di sini.
"Kate kangen sama kakak, banget. Yang tenang di alam sana. Kami semua sayang sama kak Karel."
Setelah mengatakan itu di hadapan foto Karel. Kate segera keluar dan menuju kamarnya.