Chapter 7

1002 Words
"Kata-kata yang keluar dari mulutmu hanya sebatas omong kosong, yang seharusnya tidak pernah aku percayai. Kamu pembohong, dan aku membenci itu." ****** Suasana rumah Kate sudah ramai sejak jam delapan malam. Sekarang jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Sampai sekarang juga, Rafa belum menampakkan diri. Kate mulai menduga-duga, akankah Rafa kembali tidak berhadir malam ini. Padahal sekarang malam spesial untuk Kate. Saat mereka bertemu tadi siang di sekolah. Rafa berkata bahwa dia memang akan datang. Tapi, ke mana lelaki itu? Sampai sekarang belum sampai. Vanilla mengelus pundak Kate untuk menenangkan, sekaligus memberikan kata-kata penyemangat bahwa Rafa memang akan datang malam ini. Meskipun dia juga ragu sebenarnya, takut jika Rafa akan kembali membuat Kate kecewa. Leo saja sudah berada di sini sejak jam tujuh tadi. Cowok itu sekarang sedang asik berbincang-bincang dengan teman satu band-nya yang akan tampil untuk memeriahkan ulang tahun Kate sebentar lagi. MC kembali bersuara, bahwa acara selanjutnya adalah unjuk bakat. Siapa yang berminat boleh maju dan naik ke atas panggung yang sudah disediakan. Kate menghampiri Leo, dan mengajaknya berbicara. Cowok itu menarik Kate untuk menjauh dari kerumunan yang mulai berisik dengan sorak-sorai teman-teman Kate. "Apa Rafa gak akan datang, Kak?" Kate meremas tangannya karena deg-degan. "Tadi sih katanya dia datang. Cuma harus jemput Kayla dulu." "Tapi udah jam segini, Kak. Gak mungkin dia bakalan datang sekarang." Kate semakin tidak tenang. Cewek itu meremas-remas jari tangannya. Dia takut, bahwa Rafa memang kembali berbohong. "Coba Kakak telepon Rafa dulu ya. Mastiin kalau dia bakalan datang atau enggak malam ini." Leo mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelpon Rafa. "Rafa mau ngomong sama kamu nih Kate." Kate menerima ponsel berwarna hitam itu. "Halo, Rafa. Udah di mana sekarang? Lo datang, kan?" "Sorry Kate. Kayla demam. Gue gak mungkin ninggalin dia sendirian. Gue janji bakalan kasih kado buat lo besok di sekolah." Ada ratusan kalimat yang ingin Kate ucapkan. Namun hatinya sudah terlanjur sakit, dia hanya mengatakan. "Oh, semoga Kayla cepat sembuh. Soal kado, gue sebenernya gak terlalu butuh." Kate menyerahkan kembali ponsel Leo. Dia lemas, kakinya serasa seperti jeli sekarang.  Rafa kembali berbohong. Cowok itu tidak akan datang karena Kayla membutuhkan dirinya. Raut bahagia Kate berubah menjadi redup. Dia menahan diri untuk tidak menangis sekarang. Meskipun ini bukan kali pertamanya Rafa berbohong, hanya saja Kate tetap kecewa. Leo mengangkat dagu Kate agar menatapnya. "Banyak yang hadir di sini buat kamu Kate. Jangan cuma gara-gara Rafa gak datang, kamu sedih kayak sekarang. Tamu undangan di sini pengen lihat kamu senyum, bukan sedih kayak sekarang." "Kenapa Rafa harus janji Kak? Kalau tau dia gak bisa menepati janjinya." Leo menarik Kate dan memeluknya erat. "Ada Kakak di sini, ada Vanilla, ada teman-teman sekelas kamu, dan ada orang tua kamu juga. Senyum Kate, jangan nangis." ***** Tepat jam dua belas malam. Leo dan teman-temannya menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Kate. Kate berusaha untuk selalu tersenyum. Meskipun isi pikirannya semua tentang Rafa yang tidak bisa hadir malam ini. Kate berdiri di depan kue, yang diatasnya ada lilin berangka 16. Sebelum meniup lilin. Kate berdoa dalam hatinya untuk kebaikannya. "Semoga ke depannya, tidak ada lagi rasa sakit yang seperti ini. Selamat ulang tahun Catherina Asmara." Kate membuka mata, dan meniupkan lilinnya. Mamanya tiba-tiba berteriak. "Karel mana? Karel seharusnya ada di sini saat adiknya sedang ulang tahun." Kate segera menghampiri mamanya yang sedang dipeluk oleh papanya. Wanita paruh baya itu segera menatap Kate dan memegang wajah putrinya. "Bilang sama mama kalau kakakmu Karel masih hidup." Kate terdiam. Air mata membasahi pipinya. Kenapa harus sekarang? Kenapa semua rasa sakit harus datang bertubi-tubi di saat Kate ingin merayakan hari bertambah usianya. "Jawab Mama, Kate!" "Kak Karel udah tenang di alam sana Mama. Kita cuma perlu ikhlas. Kak Karel gak akan kembali meskipun kita semua sangat mengharapkan dia." "Jangan bohongi Mama Kate! Bilang sama Karel suruh pulang sekarang. Semua orang ada di sini, kenapa dia malah keluyuran." Kate berlari menuju ke kamarnya. Semuanya hancur. Pesta ulang tahun kali ini adalah yang terburuk baginya. ***** Pagi harinya Kate berjalan menyusuri koridor dengan langkah lesu. Vanilla datang dari belakang dan merangkulnya. "Selamat pagi, dan selamat ulang tahun sekali lagi sahabat tersayang aku." "Lupain. Anggap aja gue gak pernah ulang tahun, La. Gue trauma sama tanggal ini." Vanilla mendudukkan Kate di kursi yang berada di koridor. "Eits, gak boleh ngomong gitu. Ini hari lahir lo." "Tapi semuanya kacau." Kate terlambat ingin pergi. Rafa sudah berdiri di depan mereka berdua. Vanilla segera permisi untuk menuju kelas. Tinggal lah Rafa dan Kate. Suasana seperti ini ingin sekali Kate hindari. Dia masih enggan untuk bertemu dengan Rafa pagi ini. Rafa mengambil posisi duduk di sebelah kanan. Kate masih menatap lurus ke depan, enggan melihat Rafa. "Selamat ulang tahun, Kate. Maaf banget gue gak bisa datang semalam." Rafa menyodorkan sebuah kotak kado berukuran sedang ke arah Kate. Kate mendorong balik kotak kado itu. "Gue gak butuh kado dari lo. Jadi gak perlu repot-repot." "Kate, gue kan udah minta maaf. Gue benar-benar gak bisa ninggalin Kayla saat dia demam tinggi kayak semalam. Dia butuh gue." "Gue juga benar-benar gak bisa nerima kado dari lo, karena itu gak penting buat gue." "Gitu?" tanya Rafa. Rafa melempar kotak kado itu ke tempat sampah. Ini adalah salah satu sifat Rafa yang tidak pernah Kate sukai. Membuang-buang barang hanya karena dia mampu membelinya lagi. "Lo gak butuh, kan? Ya lo emang gak pernah butuh kado dari gue. Beda cerita kalau Leo yang kasih." "Terserah lo." Kate segera pergi. Meladeni Rafa pagi-pagi seperti ini yang ada moodnya semakin memburuk. Kate membuka pintu kelasnya yang tertutup tidak seperti biasanya, dan .... "Happy Birthday." Teriak semua orang yang berada di kelas ini. Leo ada di sini. Cowok itu memegang kue berukuran kecil dan memberikan kepada Kate. "Ini hari ulang tahun kamu. Gak seharusnya kamu benci cuma gara-gara kejadian semalam. Kakak sengaja beli kue bentuk panda karena kamu suka banget sama panda, kan?" Kate tersenyum lebar. Menatap satu persatu teman sekelasnya yang hari ini ikut merayakan hari lahirnya. "Makasih semuanya, dan terima kasih Kak Leo." Leo mengacak-acak rambut Kate. "Sama-sama Adikku, semoga menjadi Kate yang semakin bawel."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD