"Lepaslah dia yang tidak menghargai kamu. Lihatlah orang yang selalu ada untukmu. Kamu pasti tau, siapa seharusnya yang patut diperjuangkan."
******
Suasana kelas XI-Bahasa 3 terdengar senyap. Murid-murid di kelas tersebut sedang sibuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, meskipun guru yang mengajar tidak hadir hari ini. Bisa dibilang kelas XI-Bahasa 3 adalah kelas terfavorit meskipun berada di urutan kelas terakhir, tapi muridnya rata-rata disiplin.
Pintu ruangan yang semula tertutup kini terbuka, dan masuklah tiga orang yang memakai almamater berwarna merah maroon, khas penggurus OSIS SMA Cleopatra.
Kate melirik sekilas. Setelah menyadari kehadiran dua orang yang sudah tidak dia lihat selama satu minggu ini. Dia kembali fokus menuliskan catatannya.
"Assalamualaikum. Selamat pagi semuanya."
"Pagi." Murid XI-Bahasa 3 menjawab kompak.
"Kami dari pihak OSIS ingin menyampaikan pengumuman. Seperti yang kalian ketahui, bahwa dua minggu lagi akan ada acara perayaan ulang tahun sekolah yang ke-18 tahun. Senin kemarin sudah disampaikan pengumuman bahwa akan ada beberapa acara terutama pentas drama. Kami dari pihak OSIS sepakat mencari dua nama dari masing-masing kelas. Satu cowok dan satu cewek untuk mengikuti casting pemilihan peran dalam drama yang akan diselenggarakan nantinya. Jadi saya mengharapkan kepada ketua kelas. Untuk mengirimkan dua nama murid dari kelas XI-Bahasa 3. Dikumpulkan namanya nanti saat sudah istirahat, kami tunggu di ruang OSIS." Rafa memberitahukan pengumuman tersebut.
"Apa ada yang ingin bertanya? Terutama buat yang masih fokus menulis, Saya rasa sepertinya dia tidak mendengarkan pengumuman yang baru saja saya sampaikan."
Kate meremas pulpen yang berada di tangannya. Kate tau siapa yang Rafa maksud. Siapa lagi jika bukan dirinya.
"Sepertinya gak ada yang mau bertanya, Raf. Nanti gue langsung kasih dua nama ke ruang OSIS sebagai perwakilan." Luis selaku ketua kelas membuka suara.
"Oke, ditunggu. Pastikan menyiapkan kandidat yang terbaik. Siapa tau salah satu murid dari kelas kalian yang berhasil menjadi pemerannya."
Setelah Rafa keluar. Perhatian siswa cowok di kelas ini tertuju ke arah Kate dan Vanilla. Jika kandidat cowok ya pasti Luis perwakilannya, karena di kelas ini cowok berdarah Jerman itu yang paling tampan dibandingkan yang lain.
Kate sudah tau maksud dari tatapan mereka semua. Apalagi saat kelas X Kate pernah bergabung dengan ekskul teater. Pasti dirinya yang akan dijadikan perwakilan kelas ini. Meskipun Vanilla juga cantik, sayangnya cewek itu hanya berbakat di bidang fotografi saja.
"Kate, lo mewakili kelas ini sama gue ya."
Kate menutup buku tugasnya karena sudah siap. Dia meniupkan anak rambut yang menutupi dahinya. "Kali ini gue gak bisa. Lo tau sendiri kalau gue udah daftar mau nyanyi sama anak kelas XII."
"Tapi, Kate --"
"Kali ini gue gak mau Luis. Gue udah janji dan sepakat sama kak Leo. Kita juga udah nyiapin lagu yang cocok."
"Gue gak enak ngomongnya sama Rafa. Apalagi lo itu pacarnya. Aneh aja kalau gue daftarin nama cewek lain. Padahal semua orang tau, kalau di kelas ini yang paling berbakat ya lo Kate."
Kate beranjak dari posisi duduknya. Dia berdiri berhadapan dengan sama murid kelas XI-Bahasa 3.
"Dengar ya buat kalian semua. Gue juga punya hak buat nolak pilihan, meskipun kalian meminta gue mewakili kelas ini. Gak enak sama Rafa? Emangnya dia siapa."
"Ekhem, kenapa ada yang nyebut nama gue di sini."
Kate mematung. Sejak kapan Rafa kembali ke sini. Bukankah cowok itu sudah pergi?
"Kenapa Catherina?" tanya Rafa dengan suara lembut.
"Gue gak suka aja dipaksa-paksa. Di kelas ini ada 16 orang siswi ceweknya, kenapa harus gue? Lagian kalau pun gue mendaftarkan diri untuk ikut. Yang ke pilih, ya anak OSIS lah. Apalagi ada couple goals. Palingan kita cuma jadi tokoh figuran. Jadi gak usah daftar aja, buang-buang waktu."
"Kalau gak ada perwakilan untuk drama. Terpaksa kelas ini di blacklist dari semua acara."
Kate ingin memaki. Namun daripada semuanya rumit, dia memilih diam sampai Rafa meninggalkan kelas ini.
*****
Jam istirahat Kate makan bersama Leo, Vanilla dan teman-teman cowok itu.
Sejak kejadian ultah itu. Kate memang menghapus nama Rafa dari nama orang yang ingin ditemui. Kate ingin bebas. Tanpa harus sakit hati, cemburu, dan menangis.
Seminggu ini juga Kate merasa lebih baik. Leo selalu ada untuk menyemangatinya. Kate lebih memfokuskan dirinya untuk belajar, melatih vokal dan hal berguna lainnya.
Jika bertemu dengan Kayla pun, Kate enggan untuk menyapa. Dia tidak dendam, hanya saja tidak suka berdekatan dengan orang yang hobi merebut kebahagiaan orang lain.
Ibaratnya dikasih hati malah minta jantung. Itulah yang menggambarkan Kayla. Kate tidak bermasalah jika Kayla membutuhkan Rafa. Tapi kenapa Kayla merebut semua waktu Rafa? Sampai Kate terus mengalah.
Kate juga manusia, bisa capek, emosi, berpikiran aneh-aneh. Misalkan bahwa mereka menjalin hubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kate.
Tapi kata Leo. Mereka masih sahabatan. Hmm, sahabatan seperti apa sebenarnya yang mereka perankan? Selalu bersama, tanpa berniat berbaur dengan orang lain.
Contohnya seperti sekarang. Dua sejoli itu sedang makan berdua. Kayla terlihat manja, bahkan Rafa sampai menyuapinya.
Kate sebenarnya sangat cemburu. Namun dia juga kebal. Rasa sakit seperti ini sudah sangat sering datang menyapanya.
"Jadi nyanyiin lagu apa?" tanya Leo yang menyadari bahwa fokus Kate mengarah ke arah Rafa dan Kayla.
"Yang kemarin aja Kak. Jangan dibocorin apa judulnya. Aku yakin Vanilla kepo." Kate tersenyum usil dan mendorong pelan bahu Vanilla yang memanyunkan bibirnya.
Tiba-tiba kantin heboh karena Kayla pingsan.
"Kenapa lagi tuh? Gue rasa sahabat adik lo terlalu lebay kayaknya. Sampai pacarnya dicuekin gara-gara itu cewek," ucap salah satu teman Leo.
Leo menaikkan bahu acuh. Kate melirik ke arah pintu keluar kantin. Rafa menggendong Kayla.
"Ratu drama kembali bereaksi. Kenapa lama-lama gue makin jijik liat dia." Kate berujar tanpa sadar.
Teman-teman Leo ikut tertawa mendengarkan ucapan Kate.
"Jangankan lo. Kita yang cowok aja jijik liatnya. Tiap hari sakit, pingsan. Gak drama, gak hidup kayaknya itu orang."
"Mendingan sama Leo aja. Baik banget, setia, selalu ada buat lo," kata teman Leo yang satunya.
Kate menatap lama ke arah Leo. Cowok itu terlihat sedikit salah tingkah, atau hanya perasaan Kate saja.
"Jangan di dengerin. Mereka lagi lapar. Yang ngomong barusan cacing di perutnya, bukan mereka berdua."
"Kapan Leo pernah nolak pas lo minta jemput? Dia selalu sigap 24 jam Kate. Kasian gue sama Leo. Rasa sayangnya dia ke lo cuma bisa bertahan di status kakak-adek."
"Kate. Jangan percaya. Kamu tetap adik bagi aku."
Kate hanya mengangguk saja. Sejujurnya dia masih memikirkan ucapan teman Leo barusan. Jika benar Leo menyukainya? Bagaimana reaksi Rafa?