Chapter 9

1000 Words
"Ketika seorang yang egois tidak mau mengalah. Maka sebuah kisah yang rumit, tidak akan pernah berakhir. Meskipun tokoh yang satunya ingin terbebas." Leonard Horowitz Adipati ****** Kate terpaksa mengikuti Luis ke ruang casting hari ini, meskipun dia sudah menolak kemarin. Tidak ada lagi harapan dari siswi kelas XI-Bahasa 3 jika bukan Kate yang menjadi perwakilannya.  Kate sudah memikirkan rencananya matang-matang. Dia akan menampilkan akting terburuk agar dirinya tidak dipilih. Jika pun terpilih, Kate juga akan menampilkan akting buruk, agar anggota OSIS mendapatkan sanksi dari guru karena memilih orang yang tidak tepat, dan tidak seharusnya bergabung di drama ini. Kate mau mendaftarkan diri dalam projek drama ini supaya dia bisa tampil bersama Leo dan teman-teman cowok itu untuk membawakan sebuah lagu. Jika bukan karena hal ini, Kate jelas saja tidak sudi untuk ikut casting. Rafa memang licik, dia pasti sudah tau bahwa Kate akan tampil bersama band kelas XII, makanya cowok itu berkata demikian. Kate mengantri untuk mendaftarkan namanya. Entah kenapa banyak sekali yang mengantri, sepertinya diantara yang mendaftar memang hanya Kate yang melakukan ini semua karena terpaksa.  Di depan sana lagi-lagi kenapa harus Rafa yang harus duduk di tempat panitia pendaftaran? Apa anggota OSIS hanya Rafa, Kayla? Kate muak harus bertemu mereka. Tidak adakah anggota lain yang pasti tidak merusak mood Kate untuk berada di area ini. Luis sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi sebagai pangeran. Kini giliran Kate yang sudah berdiri di depan meja pendaftaran. Rafa menatapnya, Kate berdehem untuk menetralisir rasa canggung yang mendadak hadir. "Sebutkan nama, kelas, dan peran yang mau dipilih." Rafa menopang dagu dan menatap Kate yang terlihat cuek. "Catherina Asmara, kelas XI-Bahasa 3. Gue pengen ngambil peran Maleficent." Rafa yang semula menulis, kini menatap Kate. "Lo serius mau jadi tokoh antagonis? Kebanyakan sih pengen jadi tokoh Aurora." "Of course. Emang ada yang salah sama peran yang gue pilih? Gue sih maunya ambil peran deketin pacar orang. Cuma gak ada 'kan ya? Ya udah itu aja deh. Lumayanlah bisa jadi jahat, apalagi kalau yang terpilih jadi putrinya seseorang yang gue harapkan. Pasti bakal keren. Gue pasti bakalan bisa akting dengan sangat natural." Kate sengaja mengeraskan suaranya ketika Kayla datang dan duduk di kursi sebelah Rafa. "Eh Kate. Lo daftar juga?" Kayla yang semula pergi mengambil formulir tambahan kembali dan berdiri di sebelah Kate. "Iya, emangnya kenapa? Gak boleh ya kalau gue daftar?" tanya Kate dengan nada yang tidak bersahabat. "Kayla cuma nanya, kenapa lo ngegas. Biasa aja cara jawabnya, sopan dikit jadi cewek." Kate berdecih. "Suka-suka gue. Mulut-mulut gue. Gak ada urusannya sama lo berdua. Kalau mau ya ngegas kayak gue lah. Jangan cuma sirik dan merasa diri sendiri paling suci." "Kate, lo benar-benar gak tau sopan --" "Bla, bla, bla. Gue udah siap daftarin nama, dan gue gak mau dengar ceramah gak guna dari lo. Bye, gue mau balik ke kelas." Kate melambaikan tangannya sambil tersenyum sinis, lalu keluar dari ruangan itu bersama Luis. Rafa meremas pulpennya. Ingin sekali dia memarahi Kate karena bersikap seperti itu. Lama-lama Kate semakin berubah, cewek itu juga semakin menjauh darinya. Rafa melirik Kayla. Cewek itu hanya menundukkan kepalanya sekarang. Pasti Kayla merasa tidak nyaman dengan ucapan Kate yang terbilang kelewatan barusan. ***** Rafa membuka pintu kamar kakaknya dan masuk ke dalam. Leo yang semula asik bermain gitar kini menatap Rafa yang sudah berbaring di kasurnya. Tumben Rafa ada di rumah saat sore seperti ini, biasanya adiknya akan berada di rumah Kayla untuk menemani gadis itu. "Kenapa lo?" tanya Leo, menarik kursi belajar dan duduk di sana. Rafa bangun dari posisi tidur menjadi duduk. "Ada hal yang mau gue tanyain sama lo soal Kate. Gue harap lo jawab dengan jujur. Gue mau tau semuanya, tanpa ada rahasia." "Ya udah apa? Serius amat kayaknya pertanyaan lo."  "Gue dengar-dengar di sekolah ada gosip yang beredar kalau lo suka sama Kate. Emang iya gitu?" "Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa?" "Kalau iya. Gue harap lo bisa hapus perasaan itu dan tetap menganggap Kate sebagai adik. Bagaimana pun juga Kate pacar gue, gak mungkin lo pacaran sama bekasan adik lo sendiri, gak lucu. Kecuali kalau lo mau digosipin seluruh sekolah." "Oh, Kate pacar lo ya? Tapi kenapa lo gak pernah ada buat dia? Kalau pun gue pacaran sama Kate itu hal yang wajar. Karena gue yang selalu ada buat dia, bukan lo. Wait, bekasan? Lo kira Kate apaan sampai mendapatkan sebutan seperti itu." Rafa berdiri dan menarik kaos yang dipakai kakaknya. "Jadi benar lo suka sama Kate? Gue gak nyangka ya, permainan lo bagus. Jadi selama ini akting doang jadi seorang kakak buat Kate?" Leo tertawa dan menggelengkan-gelengkan kepalanya karena merasa geli dengan tingkah Rafa. "Lo b***k apa gimana? Gue cuma bilang kalau gue pacaran sama Kate itu hal yang wajar. Apa gue bilang kalau gue suka sama dia?" Perlahan-lahan Rafa melepaskan cengkraman tangannya di kaos kakaknya. "Tapi gue tau maksud lo. Kalau kalian pacaran, ya pasti karena lo mengungkapkan perasaan. Gak mungkin Kate duluan yang nyatain perasaannya." "Kalau Kate yang nyatain duluan gimana? Secara selama ini gue selalu datang saat dia butuh. Ya perasaan itu bisa tumbuh tanpa dia sadari. Atau gue mencoba menjauh kali ya? Pasti dia bakalan nyari, beda saat lo menghilang Raf. Dia malah benci sama lo, gue ngakak." Rafa mendorong Leo kuat, saat cowok itu meraih gagang pintu untuk keluar. Leo kembali berkata. "Gak ada yang salah kalau gue suka sama Kate meskipun dia pacaran sama lo. Kate cantik, baik banget, sabar, periang, dan poin pentingnya dia gak suka drama supaya mendapatkan perhatian cowok orang." Rafa kembali berbalik bertatapan dengan Leo. "Gue gak bakalan lepasin Kate. Dia akan selalu sama gue." Rafa keluar dari kamar Leo dan membanting pintu itu. Leo hanya menatap datar pintu kamarnya yang kembali tertutup.  Jika bukan Kate yang melepas, maka hubungan mereka tidak akan pernah berakhir. Leo hafal dengan karakter Rafa yang keras kepala dan tidak mau mengalah. Leo tau Rafa mencintai dua orang cewek sekaligus sekarang, dan egoisnya Rafa tidak mau melepaskan salah satu dari keduanya. Jika Rafa bukan adiknya, bisa saja Leo memukul Rafa karena dia membenci kepribadian labil seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD