Chapter 10

1004 Words
"Jika diibaratkan dengan cerita fiksi. Aku tidak tau hubungan kita itu mewakili cerita apa. Karena semuanya rumit, dan menyakitkan." ***** Kate menuruni tangga untuk segera sarapan bersama keluarganya. Namun di sana ada Rafa yang bergabung bersama papa dan mamanya. Kate yang tidak paham dengan kehadiran Rafa memutuskan untuk menghampiri Rafa dan orang tuanya. Kate menarik kursi yang berhadapan dengan Rafa. Cowok itu tersenyum dan mengatakan selamat pagi. Kate yang mendengar itu semua hanya memutar bola matanya malas. "Ngapain lo di sini, salah alamat?" tanya Kate dan mengambil sepotong roti lalu mengolesi selai cokelat. "Gue mau jemput lo." Kate buru-buru meraih segelas s**u karena tersedak dan meminumnya. "Tumbenan. Lo salah minum obat? Biasanya kalau mau jemput juga bakalan kabarin dulu dari malam." "Kate, gak boleh gitu. Tujuan Rafa kan baik," ucap mama Kate. "Iya Kate. Kan kasihan juga Rafa sudah jauh-jauh datang ke sini. Dia juga sudah minta izin sama Papa." Papa Kate ikut berbicara. Kate mengunyah roti itu sampai habis, lalu kembali berbicara. "Aku berangkat sama Kak Leo. Gak mungkin juga aku biarin Kak Leo yang udah capek-capek ke sini. Mama sama Papa tau sendiri, kalau yang selalu jemput aku ya Kak Leo. Seharusnya kalau dia mau berangkat bareng sama aku, kasih kabarnya dari semalam. Biar aku bisa nolak, dan dia gak capek-capek ke sini. "Biasanya lo juga berangkat sama Kayla. Kenapa sekarang malah nyasar ke rumah gue?" Rafa mengepalkan tangannya yang berada di atas meja. Kenapa Kate semakin menyebalkan? Maksud dari semua ucapan Kate barusan ialah Kate tidak mau berangkat bersamanya hanya karena Leo? Apa mereka sudah menjalin hubungan. Rafa menarik tangan Kate dan berpamitan kepada kedua orang tua gadis itu. Sesampainya di halaman rumah Kate. Cewek itu menyentak tangannya, dan pegangan tangan Rafa pun terlepas. "Gue gak mau berangkat sama lo. Gue harap telinga lo masih berfungsi untuk mendengarkan semua ucapan gue." Rafa bersandar di mobilnya. "Kenapa gak mau? Gue pacar lo, dan wajar aja kalau gue ngajak lo berangkat bareng. Oh, atau jangan-jangan lo udah punya hubungan sama cowok lain? Tanpa sepengetahuan gue." Kate menunjuk d**a Rafa. "Seharusnya gue yang tanya begitu sama lo Raf. Siapa yang sebenarnya ada di hati lo? Gue atau Kayla?" "Berapa kali gue harus bilang kalau Kayla cuma sahabat." "Gue gak percaya! Lo suka sama dia. Begitu juga sebaliknya. Kenapa gak jadian aja, kan udah dapat predikat couple goals di sekolah. Pasti banyak yang dukung." "Lo masih jadi pacar gue, gimana caranya gue pacaran sama cewek--" Rafa menghentikan ucapannya ketika terdengar suara klakson motor dari luar rumah Kate. Kate segera berlari, begitu juga Rafa yang ikut menyusul. "Hai Kak Leo." Leo membukakan helmnya. Dia sedikit kaget saat Rafa juga ada di sini. Leo kira Rafa sudah ke rumah Kayla. "Ngapain lo di sini?" tanya Rafa. "Jemput Kate seperti biasanya." "Lo bisa pergi sekarang. Karena Kate berangkat sama gue." Kate segera menggelengkan kepalanya. "Gak, gue berangkat sama Kak Leo." Kate segera naik ke motor Leo. "Turun gak!" "Gak!" Kate malah memeluk pinggang Leo, dan menyandarkan kepalanya di punggung cowok itu. "Turun, atau harus gue paksa?" "Jalan Kak Leo." Leo segera melajukan motornya. Rafa berteriak emosi, Kate menjulurkan lidahnya untuk mengejek. Setidaknya dia bisa membalaskan sedikit dendam karena perlakuan Rafa selama ini. ***** Setelah istirahat Kate dan Luis menuju ruang ekskul teater untuk mengikuti seleksi peran untuk memainkan drama "Sleeping Beauty" Kate duduk di kursi yang masih kosong. Dia akan tampil di nomor urut "41" Cowok yang baru saja duduk di sebelah Kate, mengalihkan fokus cewek ini. "Eh, Daned. Lo ikut juga?" Cowok bernama Daned itu menganggukkan kepalanya. "Iya, gue dipaksa sama Rafa sih. Katanya supaya banyak aja anak kelas IPS yang ikut, biar kita terlihat aktif dan menjadi sedikit baik di mata guru." Cowok bertindik yang hobi mengunyah permen karet adalah teman satu SMP Kate, alias mantan pacar Kate juga. Namun setelah putus hubungan mereka tetap baik-baik saja. Sekarang cowok ini satu kelas dengan Rafa, dan bisa dibilang mereka sahabatan dan sangat dekat. "Lo udah putus ya sama Rafa?" "Kata siapa?" Kate berujar dengan nada tinggi. "Kenapa?" tanya Luis yang duduk di sebelah Kate. "Eh gak apa-apa. Kita cuma lagi bahas cerita pas SMP. Lo fokus aja sama hafalan teks dramanya." Daned yang menyaksikan itu semua tertawa pelan. "Jadi belum putus? Tapi kenapa gue jarang liat lo berdua, bahkan pas lo ultah kayaknya Rafa gak datang deh. Soalnya dia ngumpul sama anak kelas." "Bentar, ngumpul sama anak kelasan?" "Iya, malam itu Kayla ajak kita buat ngumpul. Dia yang bayarin, gue juga kurang paham sih dalam rangka apa. Namanya juga gratis, ya wajarlah gue ikut. Terus ada Rafa, gue jelas bingung karena malam itu lo ulang tahun. Tapi gue lupa buat nanya sama dia kenapa gak datang ke ultah lo." "Hmm, Kayla lebih penting dari gue." "Menurut gue liat sih iya. Gue gak bermaksud membuat hubungan kalian semakin rumit. Lepasin aja Rafa, jangan bikin diri lo sendiri semakin sakit hati." Kate menundukkan kepalanya dan meremas-remas tangannya. "Gue bingung, Ned. Di satu sisi gue pengen putusin, tapi gue masih gak ikhlas kalau dia sama cewek lain. Ya lo taulah gue kayak gimana." Daned menepuk-nepuk pelan puncak kepala Kate. "Gue sangat tau lo seperti apa Kate. Maaf karena dulu gue egois dan putusin lo cuma karena gue terobsesi sama kakak kelas yang bahkan gak bisa gue dapetin. Kalau ada kesempatan, gue mau sama lo lagi. Nyari cewek kayak lo ternyata susah banget. Lo cuma ada satu di dunia ini." "Kalau Rafa putusin lo juga, gue takut dia bakalan merasakan seperti yang gue rasain setelah kehilangan lo." Kate mengerjap perlahan. "Lo barusan ngomong apa? Gue takut salah dengar." Daned kembali tersenyum. "Lupain. Anggap aja barusan gue lagi ngigau. Gue ke sana dulu ya, udah dipanggil soalnya." "Oke, Daned." Setelah kepergian Daned. Kate kembali mengingat semua penjelasan yang baru saja dikatakan oleh cowok itu. Jadi Rafa berbohong kepadanya? Malam itu dia tidak bisa datang bukan karena harus mengurusi Kayla yang sakit, tetapi menemani cewek itu dan berkumpul bersama teman satu kelasnya. Lalu, apa maksud Kayla tiba-tiba mentraktir temannya tepat saat Kate berulang tahun? Biarkan Kate menemui cewek itu nanti, dan menanyakan semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD