"Ada banyak kegiatan yang bisa dijadikan hobi. Lantas, kenapa hobimu malah menyakiti aku?"
*****
Setelah mengikuti seleksi dan menampilkan akting terburuk. Kate segera menghampiri Kayla yang hendak keluar dari ruang teater.
Kate menarik tangan Kayla dan membawa cewek itu ke area gudang yang sepi. Kayla mengaduh kesakitan padahal Kate tidak mencengkeram ataupun melakukan hal yang menimbulkan rasa sakit, terpaksa Kate melepaskan tangan cewek hobi drama ini. Kate menatap Kayla dengan sorot malas, dan ingin segera mengatakan hal-hal yang ingin Kayla ketahui.
Kayla mengelus-elus tangannya.
"Lo kenapa sih? Kalau mau ngomong ya tinggal bilang aja. Gak usah narik-narik kayak tadi, sakit tau."
"Manja, lebay, tukang drama. Gue gak apa-apain lo, gue cuma narik tangan lo doang. Itu pun gak pakek cara kasar. Terus lo bilang sakit? Lemah banget sih lo!" Kate sengaja menyindir untuk memancing reaksi Kayla
"Kate, kok lo ngomongnya gitu banget. Lo benci sama gue, lo marah sama gue karena Rafa lebih milih gue?"
Kate menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Dia melipat tangan di depan d**a, dan menaikkan sebelah alisnya. "Udah dramanya? Mumpung kita cuma berdua, kenapa gak sama-sama nunjukin sikap asli aja?"
"Maksudnya?"
"Jangan pura-pura bodoh gitu dong sayang. Awalnya gue gak benci sama lo, gue selalu memaklumi kalau lo butuh Rafa karena kalian sahabatan. Tapi lama kelamaan sifat lo semakin ngelunjak. Semenjak di pasar malam itu gue sadar, lo gak sebaik yang gue kira, dan semua orang udah tertipu sama muka sok polos ini." Kate menunjuk wajah Kayla.
"So, Ayuk main jujur-jujuran. Gue cuma mau tau, maksud lo tiba-tiba ngajak teman sekelas buat ngumpul tepat di malam ulang tahun gue, itu apa ya? Supaya Rafa gak datang ke pesta gue, gitu kan 'cantik maksudnya?"
Tiba-tiba Kate bisa melihat raut wajah Kayla yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Cewek itu tersenyum sinis, bahkan tertawa puas.
"Ops, ketahuan. Mantan lo yang kasih tau ya? Aduh so sweetnya. Iya itu maksud gue. Lo tau gak sih, sebenarnya yang menjadi penganggu itu siapa? Ya jelas lo lah." Kayla mendorong Kate sampai kepala Kate membentur tembok.
"Semenjak lo datang ke kehidupan kita, Rafa sering curhat sama gue kalau dia suka banget sama lo, dia memuji lo tiap waktu sampai gue gak sanggup dengar lagi. Puncak tersakitnya saat kalian berdua jadian tepat di depan mata gue. Seharusnya lo tau gimana perasaan gue karena lo juga cewek Kate. Tapi lo tetap gak pernah peka sama apa yang gue rasain. Makanya gue benci sama lo."
"Lo gila! Gimana gue bisa tau sama perasaan lo. Sedangkan lo gak pernah bilang apa-apa," ucap Kate.
"Itulah kebodohan lo. Mana ada cewek sama cowok sahabatan kalau gak saling menyimpan rasa. Gue kasih tau ya sama lo. Rafa juga suka sama gue, mungkin dia gak pernah mengatakan karena takut persahabatan kami hancur."
Kate tidak percaya bahwa orang percaya diri seperti Kayla memang ada di dunia ini. "Iyakah Rafa suka sama lo? Halu kali. Lo cuma berangan-angan seperti itu supaya gak merasakan sakit hati."
Plakkk.
"Jaga mulut lo ya! Lo benar-benar sampah ya Kate. Bingungnya gue kenapa cowok suka sama lo? Padahal dari semua sisi semuanya gue yang menang. Lo pakek susuk, atau ilmu pelet apa?"
"Lo mau tau apa yang cowok suka dari gue? Setidaknya gue gak muka dua kayak lo, Kay. Makasih untuk hari ini, setidaknya gue benar-benar udah tau, kalau lo adalah salah satu manusia munafik."
Kayla menarik rambut Kate saat cewek itu hendak pergi. Kate jelas saja membalas menarik rambut Kayla tidak kalah kuat. Jika bisa, dia ingin sekali mencakar wajah Kayla sekarang.
Saat seperti ini Kayla benar-benar terlihat mengerikan. Cewek ini sangat terlihat berbeda. Raut wajah polos tak berdosa yang sering dia perlihatkan, kini berubah menjadi tokoh antagonis.
"Kate stop! Kenapa lo Jambak rambut Kayla."
Kate menatap Rafa yang berjalan semakin mendekat ke arah mereka berdua. Kayla langsung memeluk Rafa dan mengaduh kesakitan.
"Udah puas sakitin Kayla? Gue tau lo lebih kuat dari dia. Tapi bukan kayak gini cara lo. Lo marah sama Kayla? Dia gak salah. Kalau lo cemburu sama Kayla, lo bisa marah sama gue. Karena gue yang selalu berusaha ada buat Kayla. Kayla gak pernah maksa gue."
"Apa yang lo liat semuanya gak benar Raf. Lo gak tau aja gimana Kayla sebelum lo datang. Dia nampar gue, dia yang jambak gue duluan. Lo tau gue Raf, gue gak bakalan mengusik sebelum diusik."
Rafa mengangkat tangannya meminta Kate untuk berhenti berbicara. Cowok itu tidak mau mendengarkan penjelasannya.
"Sayangnya gue gak tau lo seperti apa Kate. Gue lebih kenal sama Kayla. Semua ucapan lo barusan cuma upaya pembelaan diri, kan? Gue kecewa sama tingkah lo barusan."
Kate mengontrol dirinya untuk tidak memaki Rafa. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.
"Oh gitu, terserah lo. Sekarang gue mau keluarin uneg-uneg gue meskipun lo gak mau dengar Raf. Gue kecewa karena lo bohongi gue. Lo gak usah tanya maksud gue apa. Gue udah tau semua kebohongan lo saat gak datang di pesta ulang tahun gue. Kayla gak sakit, saat itu kalian ngumpul sama teman sekelas karena cewek ini sengaja traktir. Gue kecewa Raf, sangat kecewa. Setidaknya lo jujur aja meskipun bakalan sakit juga, tapi gue masih bisa terima. Gue gak suka dibohongi, Raf."
"Kate, gue bisa jelasin semuanya."
"Gak perlu lo jelasin lagi. Semuanya udah jelas, gue gak butuh alasan apa-apa lagi. Kenapa kalian berdua gak pacaran aja? Cocok banget lho, cewek munafik sama tukang bohong. The best couple."
"Setelah gue pikir-pikir, kenapa gue harus terus berjuang sedangkan perjuangan gue sama sekali gak pernah lo hargai. Gue selalu berusaha memaklumi, mengerti, tapi kesabaran seseorang juga ada batasannya, Raf. Gue mau kita break dari hubungan ini. Sama-sama intropeksi diri untuk mencari tau kesalahan masing-masing."
"Break, tapi gak putus, kan?" tanya Rafa.
"Untuk saat ini iya seperti itu. Ke depannya gue gak tau, tergantung sikap lo sama gue seperti apa."
Kate segera pergi, dia tidak ingin bertahan dan harus melihat betapa pedulinya Rafa kepada Kayla. Sangat berbeda saat cowok itu bersamanya.
Kate lelah harus terus berjuang, sedangkan Rafa? Jangankan ikut untuk sama-sama berjuang. Cowok itu malah tidak pernah peduli dengan perjuangannya.
Sudah cukupkah Kate bertahan? Apa dia harus benar-benar melepas? Meskipun dia masih tidak sanggup melihat Rafa dengan yang lain?