"Terima kasih untuk semuanya. Setidaknya aku benar-benar paham. Bahwa bagian terbaik dari mencintai adalah mengikhlaskan kamu dengan yang lain."
*****
Hujan siang ini menghambat semuanya. Kate masih berdiri di gedung lantai 1 jurusan Bahasa. Banyak juga murid yang berteduh di sana, termasuk sahabatnya Vanilla.
Kate sedari tadi juga sibuk mengawasi keadaan sekitar. Siapa tau ada Rafa diantara murid-murid ini. Fokus Kate teralihkan saat Leo datang dan merangkul pundaknya.
Kate merasa tenang, meskipun nanti Rafa akan mucul. Tapi sudah ada Leo di sisinya.
"Kate, duluan ya. Gue udah dijemput," ucap Vanilla.
"Oke La, hati-hati."
"Duluan ya, Kak Leo."
Leo hanya tersenyum dan Vanilla segera pergi.
"Hari ini bukannya Kakak ada latihan ya? Kok malah pulang?"
Leo melepaskan rangkulannya, cowok itu merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, meskipun sudah dirapikan masih saja acak-acakan dan hal itu menambah aura kegantengannya.
"Hujan, kayaknya enak buat tidur. Makanya Kakak liburin latihan hari ini."
Kate mendorong pelan bahu Leo. "Dasar! Kalau ada maunya malah liburin latihan."
Leo tertawa. Sebenarnya alasan dia meliburkan jadwal hari ini karena ingin pulang bersama Kate. Dia tau bahwa Kate tidak baik-baik saja sekarang.
"Ada gosip yang beredar, katanya kamu berantem sama Kayla tadi di dekat gudang. Emang iya?" Leo memutuskan untuk bertanya. Dari gosip yang beredar, semua siswa menyalahkan Kate. Tapi Leo tau Kate melakukan itu semua pasti karena diusik terlebih dulu.
"Semua orang pasti menyalahkan aku kan Kak? Dan membela Kayla. Wajar aja sih, Kayla kesayangan semua murid di sini. Apalagi tampang lugunya bikin semua orang percaya, tapi aku udah tau sifat buruknya, dia gak sebaik itu Kak."
"Kakak percaya sama kamu Kate. Kamu gak mungkin melakukan hal itu kalau gak terhasut. Apa yang dia lakuin sama kamu?"
Kate mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Leo terlihat tidak percaya awalnya, namun setelah dipikir-pikir tingkah Kayla benar-benar sudah kelewatan.
"Makasih Kak udah percaya sama aku. Cuma Kakak sama Vanilla yang terus ada dipihak aku."
"Apa Rafa berubah akhir-akhir ini?" tanya Kate.
"Berubah gimana, Kate?"
"Sikapnya, atau tingkah dia sama Kayla. Apa ada yang berbeda?"
Leo terdiam. Sebagai kakak tidak mungkin dia mengutarakan semua keburukan Rafa. Lebih baik dirinya saja yang tau, daripada keadaan semakin rumit.
"Kakak gak bisa kasih tau kamu Kate. Kakak bakalan terus dukung kamu sama Rafa pokoknya."
Kate menghela napas pasrah. Jika Leo sudah mengatakan tidak mau bercerita, dipaksa pun cowok ini tidak akan membuka suara.
"Kenapa Kakak gak mau kasih tau? Karena Kak Leo takut nyakitin perasaan aku? Gak apa-apa kok, Kak. Aku emang udah terlanjur sakit. Sejak hubungan ini dimulai, memang cuma aku yang berjuang, sedangkan Rafa enggak sama sekali. Kehidupan Rafa hanya akan terpusat buat Kayla. Bukan aku."
"Terus, kamu mau nyerah?"
"Aku enggak tau, Kak. Bertahan terus-menerus dalam kondisi seperti ini aku juga gak bakalan sanggup. Mungkin yang diharapkan sama Rafa memang Kayla. Cuma karena mereka udah terlanjur terjebak di zona friendzone. Maka aku lah pelarian Rafa."
"Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Aku cukup sadar diri, Kak. Aku kalah dari segala aspek dibandingkan Kayla. Gak mungkin, kan. Kalau Rafa benar-benar suka aku."
"Kate apa yang kamu pikirin gak semuanya be--"
"Hujannya udah reda. Ayuk anterin aku pulang. Takutnya nanti hujannya bakalan deras lagi."
Terpaksa Leo mengikuti langkah Kate yang sudah berjalan di depannya. Dia benar-benar tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
****
Malam harinya Kate meminta izin kepada papa dan mamanya untuk keluar sebentar. Kate beralasan ingin ke minimarket, padahal Rafa meminta agar bertemu di taman.
Kate juga tidak tau kenapa tiba-tiba Rafa menelepon dan memohon untuk bertemu. Rafa berkata ingin meminta maaf. Meskipun Kate tidak yakin bahwa cowok itu benar-benar tidak akan mengulangi kesalahannya kali ini.
Kate memeluk tubuhnya ketika angin malam berembus lumayan kencang. Suasana yang baru saja selesai hujan, jelas saja menciptakan sensasi dingin.
Rafa melambaikan tangannya, cowok itu benar-benar sendiri malam ini. Tidak ada Kayla yang ikut serta dengannya.
"Udah lama?" tanya Kate berbasa-basi guna tidak menciptakan suasana mencekam.
"Baru lima menitan gue ada di sini. Lo ke sini sama siapa?"
"Sendiri, taman ini juga dekat dari rumah gue. Kenapa harus ngajakin orang lain."
Rafa memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodienya.
"Sebelumnya gue minta maaf karena sudah melakukan kesalahan besar sama lo Kate. Maaf karena tadi gue gak bisa membela lo, dan gak mau dengerin penjelasan lo. Karena seperti yang semua orang tau Kayla itu sahabat gue, dia sudah sangat gue kenal semua sifatnya."
Satu yang lo gak tau, Raf. Dia bermuka dua. Ucap Kate dalam hatinya.
"Gue gak tau ada masalah apa antara kalian berdua. Kalau cuma gara-gara gue gak datang di pesta ulang tahun lo karena gue lebih milih Kayla, kayaknya bukan itu deh masalahnya, gue juga udah sering sama Kayla dan lo gak pernah semarah tadi."
"Bentar, kata lo tadi cuma? Ternyata pesta ulang tahun gue memang gak lebih penting dibandingkan menemani Kayla berkumpul dengan teman-teman kelasan kali ya."
"Tapi gue udah ucapin happy birthday saat di sekolah, bahkan kado dari gue aja gak mau lo terima. Apa lo pikir gue gak sakit hati? Gue memaklumi Kate kalau lo lagi emosi, makanya gak mau nerima kado dari gue. Tapi lo kenapa gak mau ngerti kalau di malam itu Kayla membutuhkan gue, dan gak mungkin juga gue gak datang di acara kelasan."
"Kenapa Kayla harus tiba-tiba banget traktir kalian saat gue ulang tahun? Itu bukannya salah satu cara supaya bisa nahan lo biar gak datang ke ulang tahun gue? Lo bisa mikir gak sih Raf? Gue tau isi pikiran lo tentang Kayla semuanya berbau hal positif dan kekaguman. Tapi coba lo ingat, bukannya semua orang memiliki sifat buruk termasuk Kayla sahabat tersayang lo itu."
"Maksudnya Kayla sengaja?" tanya Rafa.
Kate tidak habis pikir dengan Rafa. Kenapa cowok ini sangat sulit percaya jika Kayla memiliki kepribadian yang sangat buruk.
Apa jika suatu hari nanti Rafa mengetahui sifat buruk Kayla, cowok itu akan menjauhinya? Sepertinya tidak akan, Rafa pasti mencoba memaklumi Kayla.
"Kalau lo punya pikiran. Lo bisa menemukan jawaban tanpa harus gue jelasin. Kayla bukan malaikat, Raf. Dia pasti punya sifat buruk, sayangnya lo aja yang gak tau. Tepatnya gak mau tau. Kenapa gitu? Karena lo gak mau ada sifat buruk buat cewek sesempurna Kayla. Gitu, kan?"
Rafa kembali terdiam. Sebelum mengeluarkan suara untuk menjawab, Kate sudah kembali berbicara.
"Kalau gak ada yang mau lo bahas lagi. Gue pamit, inti dari pembicaraan kita malam ini tetap sama aja. Selalu gue yang disalahin, dan dia yang mendapatkan pembelaan. Buang-buang waktu aja gue harus ke sini dengan cara bohongi orang tua gue segala. Permisi, gue pulang."
"Kate." Rafa menarik tangan Kate. "Ada satu hal lagi yang harus lo tau." Rafa ikut berdiri berhadapan dengan Kate.
"Gue awalnya gak berniat buat kasih tau lo secepat ini. Tapi setelah gue pikir-pikir, gak baik juga jika gue menyimpan semuanya. Karena itu semua akan menyakiti lo."
"Apa?" tanya Kate dengan mulai berpikiran yang tidak baik. Dia takut apa yang terlintas di pikirannya benar-benar menjadi nyata.
"Gue benar-benar gak enak buat bilang sama lo. Maaf banget Kate." Rafa mengacak-acak rambutnya frustasi, dia takut keputusannya salah dan akan menyesal nantinya. "Gue udah jadian sama Kayla tadi siang, dia mengutarakan perasaannya kalau dia suka sama gue melebihi sahabat. Gue juga merasakan hal yang sama. Daripada terus-menerus menyakiti lo karena waktu gue cuma buat Kayla. Gue mau hubungan ini selesai Kate."
Tubuh Kate bergetar. Ketakutannya benar-benar menjadi kenyataan. Dia meremas bagian kiri bajunya. Bibirnya bergetar, air mata jatuh tanpa permisi, tapi sesegera mungkin Kate langsung menghapusnya.
"Oh, selamat ya. Gue emang udah menduga. Bahwa sejak awal, rasa gue emang gak pernah menemukan balasan. Makasih untuk semua rasa sakit yang gue dapat selama satu tahun lebih kita pacaran, makasih udah ajarin gue buat selalu sabar meskipun kenyataan selalu mengecewakan gue. Makasih sudah memperkenalkan gue sama yang namanya patah hati. Menjalin hubungan sama lo semakin mendewasakan gue Raf, meskipun sakit."
Kate mengigit kuat-kuat bibir bawahnya agar tidak menangis.
"Kita selesai, Terima kasih sudah menjadi cowok paling banci, paling pengecut yang pernah gue kenal. Gue gak berharap lo mendapatkan karma Raf. Cuma gue mau bilang aja, karma akan selalu menemui tuannya meskipun lo lari sejauh mungkin. Semoga lo gak nyakitin Kayla kayak lo nyakitin gue ya. Gue pulang."
"Kate, gue harap lo mendapatkan cowok yang lebih baik."
"Tanpa lo bilang gue juga udah tau apa yang harus gue lakuin. Gak usah sok peduli, sikap lo itu menjijikkan."
Kate segera berjalan pulang. Kisahnya dan Rafa benar-benar usai malam ini. Kate tidak akan merasakan sakit hati karena kebanyakan bersabar, Kate tidak harus lagi menahan rasa cemburu ketika Rafa selalu menghabiskan waktu bersama Kayla. Dan Kate tidak harus mengkhawatirkan keadaan Rafa di setiap malamnya.
Semuanya sudah usai, kisah cinta yang tak pernah sesuai dengan harapannya sudah benar-benar berakhir. Bukan Kate yang mengakhiri, melainkan si pencipta rasa sakit yang menyudahi semuanya karena dia sudah menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai.
Seharusnya sejak awal Kate tidak memulai kisah ini, seharusnya Kate tidak harus jatuh cinta kepada cowok bernama Rafa Rakenandra itu. Seharusnya dia tidak perlu merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama saat MOS dulu, dan berbagai seharusnya yang Kate sesali.
Kate mengeluarkan ponselnya. Dengan suara bergetar dia berbicara.
"Aku sama Rafa udah putus, Kak."